Sifat impersonal memang istilah yang cukup berat, tapi mari kita sederhanakan dengan membandingkannya dengan sesuatu yang kita temui sehari-hari: Sistem Komputer atau Hukum Alam.
Berikut adalah penjelasan agar lebih mudah dipahami:
1. Tidak Seperti "Pribadi" (Manusia)
Biasanya, kita membayangkan Tuhan itu Personal, artinya seperti "Seseorang" yang punya perasaan: bisa senang kalau dipuji, bisa iba kalau kita menangis, atau bisa "berubah pikiran" kalau kita memohon dengan sangat.
Sedangkan Impersonal artinya Tuhan dianggap sebagai Prinsip atau Hukum Tertinggi yang tidak memiliki perasaan atau emosi layaknya manusia.
2. Ibarat Mesin ATM atau Kalkulator
Bayangkan Anda menggunakan mesin ATM:
Sifatnya Impersonal: ATM tidak peduli apakah Anda orang baik, sedang sedih, atau sangat butuh uang. Jika kartu Anda benar dan PIN-nya tepat (sesuai hukum/aturannya), uang akan keluar. Jika salah, uang tidak akan keluar.
Maksudnya: Tuhan dalam pandangan ini sudah membuat "Sistem Alam" yang sangat adil. Siapa yang mengikuti aturan main (berbuat baik), dia akan selamat. Siapa yang melanggar, dia akan celaka. Tidak ada "pengecualian" karena alasan emosional.
3. Kenapa Disebut "Realitas Transenden yang Impersonal"?
Dalam teks tersebut, maksudnya adalah Tuhan itu Maha Adil karena Dia tidak "pilih kasih":
Tuhan tidak akan tiba-tiba mengubah aturan hanya untuk satu orang.
Tuhan bekerja melalui hukum sebab-akibat yang pasti.
Manusia mendapatkan hasil murni dari usahanya sendiri menggunakan daya yang sudah diberikan Tuhan di dalam dirinya (intrakosmos).
Kesimpulannya: Impersonal itu maksudnya Tuhan itu Objektif dan Pasti. Dia ibarat "Rumus Kehidupan" yang sudah final.
Ini penting bagi aliran Antroposentris agar manusia tidak hanya pasrah dan menunggu "belas kasihan" Tuhan, tetapi harus aktif bergerak karena mereka tahu bahwa hukum Tuhan itu tetap dan tidak akan berubah hanya karena kita diam saja.

Posting Komentar untuk "Maksud dari Realitas Transenden yang Intrakosmos dan Impersonal"