Soal Ujian Akhir Semester Kelas 5 A Semester Ganjil 2026

1. Andaikan Anda ditugaskan untuk mengembangkan instrumen asesmen (misalnya tes atau rubrik) guna mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran Fiqh. Bagaimana cara Anda memastikan bahwa instrumen yang dikembangkan memiliki validitas (ketepatan) dan reliabilitas (keandalan) yang tinggi? Jelaskan langkah-langkah konkret yang akan Anda lakukan, serta jenis-jenis validitas dan reliabilitas yang akan Anda uji.

2. Jelaskan pengertian penilaian formatif dan penilaian sumatif dalam konteks pembelajaran. Berikan contoh konkret penerapan masing-masing jenis penilaian tersebut pada mata pelajaran yang Anda kuasai, serta jelaskan bagaimana hasil penilaian tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

3. Dalam proses pembelajaran, terdapat tiga ranah utama yang perlu dinilai, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Sebagai seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI), berikan contoh konkret bagaimana Anda menilai masing-masing ranah tersebut dalam pembelajaran PAI. Jelaskan pula jenis instrumen penilaian yang digunakan untuk setiap ranah.

4. Penggunaan teknologi, seperti aplikasi kuis daring dan platform e-learning, semakin banyak dimanfaatkan dalam evaluasi pembelajaran. Analisislah dampak positif dan negatif penggunaan teknologi dalam evaluasi pembelajaran. Menurut Anda, apakah teknologi selalu mampu meningkatkan kualitas evaluasi pembelajaran, atau justru berpotensi menimbulkan permasalahan baru? Jelaskan pula cara memanfaatkan teknologi secara efektif dan bertanggung jawab dalam evaluasi pembelajaran.

5. Sebutkan dan jelaskan prinsip-prinsip utama evaluasi pembelajaran. Mengapa prinsip-prinsip tersebut penting untuk diperhatikan dalam setiap kegiatan evaluasi? Selain itu, jelaskan arti penting evaluasi pembelajaran secara menyeluruh, baik bagi guru, peserta didik, maupun lembaga pendidikan.

 

25 komentar untuk "Soal Ujian Akhir Semester Kelas 5 A Semester Ganjil 2026"

Achmad Fadillilah 6 Januari 2026 pukul 20.18 Hapus Komentar
1. Saya akan melakukan lima langkah yaitu:
• Menentukan tujuan dan konstruk asesmen dengan jelas
• Mengembangkan butir asesment yang sesuai
• Menguji validitas instrumen
• Menguji reliabilitas instrumen
• Merevisi dan menyempurnakan instrumen

2. penilaian formatif
Adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran dengan berlangsung dengan tujuan untuk mendapatkan umpan balik terkait kemajuan belajar siswa dan efektivitas strategi pengajaran
• Contoh penerapan ( ke dalam materi fiqih )
- pertanyaan lisan saat pembelajaran
-kuis singkat setelah penjelasan
• Contoh konkret: guru meminta siswa mempraktikkan wudhu di depan kelas lalu ;
- mengamati urutan rukun wudhu
-memberikan koreksi langsung jika ada kesalahan


Penilaian sumatif
Adalah penilaian yang dilakukan di akhir suatu unit, tema atau periode pelajaran untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi peserta didik secara keseluruhan
• Contoh penerapan ( materi iman kepada Rasulullah Saw )( aqidah )
- ulangan harian
-penilaian akhir semester
• Contoh konkret: di akhir bab, siswa mengerjakan tes tulis berisi soal tentang:
-pengertian Rasul
- nama-nama Rasul
- hikmah beriman kepada rasul

3. Penilaian ranan kognitif
• Contoh konkret: dalam pembelajaran tentang akidah Islam, siswa diharapkan dapat menjelaskan konsep tauhid, membedakan antara konsep tauhid dengan paham sesat lainnya.
• Jenis instrumen:
- uji tulis objektif dan esai
- tugas makalah atau laporan

Penilaian ranah afektif
• Contoh konkret: dalam pembelajaran tentang etika berinteraksi dengan sesama manusia siswa diharapkan menunjukkan sikap hormat terhadap teman sebaya, membantu orang yang membutuhkan dan kesadaran untuk menghindar ajaran kebencian.
• Jenis instrumen:
- observasi sikap
- daftar cek sikap diri atau penilaian teman

Penilaian ranah psikomotor
• Contoh konkret: dalam pembelajaran tentang ibadah salat siswa diharapkan dapat melaksanakan gerakan-gerakan salat dengan benar
• Jenis instrumen:
-penilaian keterampilan
- tugas proyek praktis

4. Daftar positif
• Proses penilaian yang lebih efisien
• Meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa
Dampak negatif
• Risiko kecurangan yang lebih tinggi
• Ketergantungan pada teknologi dan masalah teknis
Tidak, teknologi tidak secara otomatis meningkatkan kualitas evaluasi pembelajaran keberhasilan tergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan
• Cara memanfaatkannya adalah:
- sesuai dengan tujuan
- pastikan akses yang serasa
- berikan pelatihan dengan dukungan

5. Macam-macam prinsip
• Prinsip validitas: evaluasi harus mampu mengukur apa yang harus diukur
• Prinsip reliabilitas: hasil evaluasi harus konsisten dan dapat dipercaya
• Prinsip objektif: penilaian dilakukan sesuai kriteria yang dijelaskan
• Prinsip tujuan yang jelas: Setiap kegiatan evaluasi memiliki tujuan spesifik
• Prinsip kelayakan: evaluasi harus praktis dan dapat dilaksanakan dengan perkembangan waktu
• Prinsip konstruktif: digunakan untuk memberikan umpan balik

Arti penting secara keseluruhan
• Bagi guru
- mengevaluasi efektivitas pembelajaran
- mengidentifikasi kebutuhan siswa
• Bagi siswa
- mendapatkan umpan balik tentang kemajuan belajar
- meningkatkan motivasi dan tanggung jawab belajar
• Bagi lembaga pendidikan
-mengevaluasi kualitas kurikulum
- mengambil kebijakan pendidikan
Siti Sofiyah 6 Januari 2026 pukul 20.20 Hapus Komentar
1.
Apabila saya ditugaskan untuk mengembangkan instrumen asesmen guna mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran Fikih, maka langkah awal yang saya lakukan adalah menentukan tujuan dan indikator berpikir kritis yang ingin dicapai, seperti kemampuan menganalisis masalah fikih, menilai dalil, serta menarik kesimpulan hukum secara logis. Instrumen disusun berdasarkan kompetensi pembelajaran dan materi yang diajarkan, kemudian dibuat dalam bentuk soal uraian atau rubrik penilaian berbasis kasus. Untuk memastikan validitas, instrumen dikonsultasikan kepada ahli (expert judgment) agar sesuai dengan isi materi dan konstruk berpikir kritis. Selanjutnya, instrumen diuji coba kepada siswa untuk melihat ketepatan butir soal. Reliabilitas instrumen diuji melalui konsistensi hasil penilaian, baik dengan uji statistik maupun kesesuaian skor antar penilai. Dengan cara ini, instrumen yang digunakan dapat menghasilkan data yang akurat dan dapat dipercaya.
2.
Penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk memantau perkembangan belajar siswa dan memperbaiki proses pembelajaran. Dalam pembelajaran PAI, penilaian formatif dapat berupa kuis singkat, tanya jawab, atau refleksi setelah pembelajaran berlangsung. Hasil penilaian ini digunakan guru untuk mengetahui kesulitan siswa dan menyesuaikan metode pembelajaran. Sementara itu, penilaian sumatif dilakukan pada akhir pembelajaran atau akhir semester untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa secara keseluruhan. Contohnya adalah ulangan akhir bab atau ujian akhir semester PAI. Hasil penilaian sumatif digunakan sebagai dasar penentuan nilai akhir dan evaluasi keberhasilan pembelajaran.
3.
Dalam pembelajaran PAI, penilaian dilakukan pada tiga ranah utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ranah kognitif berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi PAI, seperti hukum-hukum fikih, yang dapat dinilai melalui tes tertulis. Ranah afektif berkaitan dengan sikap dan perilaku keagamaan siswa, seperti kedisiplinan dalam beribadah dan kejujuran, yang dinilai melalui observasi dan jurnal sikap. Adapun ranah psikomotor berkaitan dengan keterampilan praktik ibadah, seperti wudhu dan shalat, yang dinilai melalui penilaian praktik menggunakan rubrik. Dengan menilai ketiga ranah ini, pembelajaran PAI menjadi lebih utuh dan menyeluruh.
4.
Penggunaan teknologi dalam evaluasi pembelajaran memberikan dampak positif maupun negatif. Secara positif, teknologi memudahkan guru dalam melaksanakan evaluasi karena lebih efisien, cepat, dan hasil penilaian dapat langsung diketahui. Selain itu, teknologi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Namun, di sisi lain, penggunaan teknologi juga berpotensi menimbulkan masalah seperti kecurangan, ketergantungan pada jaringan internet, serta kesenjangan akses bagi siswa yang tidak memiliki perangkat. Oleh karena itu, teknologi tidak selalu menjamin peningkatan kualitas evaluasi pembelajaran. Agar efektif dan bertanggung jawab, teknologi harus digunakan sebagai alat bantu dengan perencanaan yang matang, pengawasan yang baik, serta dikombinasikan dengan evaluasi secara langsung.
5.
Prinsip-prinsip utama dalam evaluasi pembelajaran meliputi validitas, reliabilitas, objektivitas, keadilan, keberlanjutan, dan menyeluruh. Prinsip-prinsip ini penting diperhatikan agar hasil evaluasi benar-benar menggambarkan kemampuan siswa secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Evaluasi pembelajaran memiliki peran yang sangat penting karena bermanfaat bagi guru sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki pembelajaran, bagi siswa untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dirinya, serta bagi lembaga pendidikan sebagai dasar peningkatan mutu pendidikan. Dengan evaluasi yang dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, kualitas pembelajaran dapat terus ditingkatkan.
Hanifah Nimas Utari 6 Januari 2026 pukul 20.21 Hapus Komentar
1. Pengembangan instrumen asesmen berpikir kritis Fiqh
Langkah yang dilakukan: (1) menyusun indikator berpikir kritis sesuai KD Fiqh, (2) membuat kisi-kisi soal/rubrik, (3) validasi ahli (guru/dosen) untuk validitas isi, (4) uji coba instrumen, (5) analisis hasil uji untuk melihat validitas empiris dan reliabilitas (misalnya dengan Alpha Cronbach).
Jenis validitas: validitas isi dan konstruk.
Jenis reliabilitas: reliabilitas internal (konsistensi).
2. Penilaian formatif dan sumatif
Penilaian formatif adalah penilaian selama proses pembelajaran untuk memperbaiki pembelajaran (contoh: kuis singkat, tanya jawab, refleksi).
Penilaian sumatif adalah penilaian di akhir pembelajaran untuk menentukan capaian hasil belajar (contoh: UTS/UAS).
Hasil penilaian digunakan guru untuk memperbaiki metode, materi, dan strategi pembelajaran.
3. Penilaian kognitif, afektif, dan psikomotor dalam PAI
Kognitif: pengetahuan siswa (tes tulis/lisan tentang materi PAI).
Afektif: sikap dan nilai (observasi sikap religius, jurnal sikap).
Psikomotor: keterampilan praktik (penilaian praktik wudhu, shalat, atau membaca Al-Qur’an dengan rubrik).
4. Dampak penggunaan teknologi dalam evaluasi pembelajaran
Dampak positif: penilaian cepat, praktis, dan menarik.
Dampak negatif: kecurangan, ketergantungan teknologi, dan kendala jaringan.
Teknologi tidak selalu meningkatkan kualitas evaluasi jika tidak dirancang dengan baik.
Pemanfaatan efektif dilakukan dengan pengawasan, variasi metode, dan penggunaan teknologi secara bijak.
5. Prinsip-prinsip evaluasi pembelajaran
Prinsip utama: objektif, valid, reliabel, adil, dan berkesinambungan.
Prinsip ini penting agar penilaian akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Evaluasi penting untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran, meningkatkan mutu pendidikan, dan sebagai dasar pengambilan keputusan bagi guru, siswa, dan lembaga.
Robit hilman 6 Januari 2026 pukul 20.22 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Zainatul Millah Nim 2309601017 6 Januari 2026 pukul 20.27 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Febi Anggraini (2309601065) 6 Januari 2026 pukul 20.29 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Holifatul Hasanah Nim: 2309601049 6 Januari 2026 pukul 20.31 Hapus Komentar
1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Berpikir Kritis Fikih
Langkah-langkah:
Menentukan indikator berpikir kritis, seperti kemampuan analisis, evaluasi, dan pemecahan masalah dalam konteks fikih.
Menyusun kisi-kisi dan soal berbasis kasus.
Meminta penilaian ahli (guru atau pakar).
Melakukan uji coba soal dan perbaikan.
Jenis validitas yang diuji:
Validitas isi
Validitas konstruk
Jenis reliabilitas yang diuji:
Reliabilitas internal (konsistensi soal)
Reliabilitas antarpenilai (khusus untuk instrumen rubrik)
2. Penilaian Formatif dan Sumatif
Penilaian Formatif
Penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung.
Contoh: kuis singkat, tanya jawab, dan tugas harian.
Manfaat: memperbaiki proses pembelajaran.
Penilaian Sumatif
Penilaian yang dilakukan di akhir pembelajaran.
Contoh: ulangan akhir bab atau semester.
Manfaat: menentukan nilai akhir siswa.
3. Penilaian Ranah dalam Pembelajaran PAI
Ranah Kognitif
Menilai pengetahuan agama.
Instrumen: tes tulis fikih.
Ranah Afektif
Menilai sikap dan akhlak.
Instrumen: observasi sikap.
Ranah Psikomotor
Menilai keterampilan ibadah.
Instrumen: praktik wudu atau salat menggunakan rubrik penilaian.
4. Teknologi dalam Evaluasi Pembelajaran
Dampak Positif:
Efisiensi dan kecepatan penilaian
Umpan balik langsung
Variasi bentuk evaluasi
Data dan analisis yang akurat
Aksesibilitas dan fleksibilitas
Dampak Negatif:
Potensi kecurangan akademik
Ketimpangan akses teknologi
Penilaian kurang menyentuh aspek afektif dan psikomotor
Ketergantungan berlebihan pada sistem
Masalah teknis
Cara Memanfaatkan Teknologi secara Efektif dan Bertanggung Jawab:
Menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran
Mengombinasikan dengan penilaian non-digital
Merancang soal yang menuntut berpikir tingkat tinggi
Memperhatikan keadilan dan akses
Melakukan pengawasan dan penanaman etika digital
Meningkatkan kompetensi digital guru.
5. Prinsip-prinsip Utama dalam Evaluasi Pembelajaran
A. Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran
Validitas
Evaluasi harus mengukur apa yang seharusnya diukur sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Reliabilitas
Hasil evaluasi harus konsisten dan dapat dipercaya apabila digunakan berulang kali.
Objektivitas
Penilaian harus bebas dari unsur subjektivitas penilai dan didasarkan pada kriteria yang jelas.
Keadilan
Evaluasi tidak boleh merugikan atau menguntungkan pihak tertentu dan harus berlaku sama bagi semua peserta didik.
Keterpaduan (Komprehensif)
Evaluasi harus mencakup seluruh aspek pembelajaran, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor.
B. Pentingnya Memperhatikan Prinsip-prinsip Evaluasi
Hasil evaluasi benar-benar mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya.
Keputusan pendidikan dapat diambil secara tepat dan akurat.
Proses penilaian berjalan secara adil dan profesional.
C. Pentingnya Evaluasi Pembelajaran
Bagi Guru
Membantu memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Bagi Siswa
Membantu mengetahui kemampuan, kemajuan, dan kekurangan dalam belajar.
Bagi Sekolah/Lembaga Pendidikan
Menjadi dasar untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan.
Zainatul Millah Nim 2309601017 6 Januari 2026 pukul 20.34 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
ZULFA SALSABILA AZIZAH Nim: 2309601048 6 Januari 2026 pukul 20.34 Hapus Komentar

1. Pengembangan Instrumen Berpikir Kritis (Mata Pelajaran Fiqh)
Untuk memastikan instrumen memiliki validitas (ketepatan) dan reliabilitas (keandalan) yang tinggi dalam mengukur berpikir kritis pada materi Fiqh, langkahnya adalah:

Langkah Konkret:

Kisi-kisi Instrumen: Menyusun kisi-kisi berdasarkan indikator berpikir kritis (seperti menganalisis dalil, mengevaluasi perbedaan pendapat/ikhtilaf, dan pemecahan masalah kasus kontemporer).

Expert Judgment: Meminta ahli materi (Dosen/Guru Senior Fiqh) dan ahli evaluasi untuk menelaah butir soal.

Uji Coba (Pilot Test): Melakukan uji coba pada sekelompok siswa untuk melihat apakah butir soal bisa dipahami dengan baik.

Jenis Validitas yang Diuji: * Validitas Isi (Content Validity): Memastikan soal mencakup seluruh materi Fiqh yang diajarkan.

Validitas Konstruk: Memastikan soal benar-benar mengukur kemampuan "berpikir kritis", bukan sekadar hafalan.

Jenis Reliabilitas yang Diuji: Menggunakan Internal Consistency (seperti rumus Alpha Cronbach untuk rubrik atau Kuder-Richardson untuk tes pilihan ganda) untuk melihat konsistensi skor antar butir soal.

2. Penilaian Formatif dan Sumatif
Penilaian Formatif: Dilakukan selama proses pembelajaran untuk memberikan umpan balik segera bagi guru dan siswa.

Contoh (Materi Tajwid): Guru memberikan kuis singkat atau observasi saat siswa membaca Al-Qur'an di tengah pelajaran.

Pemanfaatan: Guru bisa langsung memperbaiki metode mengajar jika banyak siswa yang salah paham.

Penilaian Sumatif: Dilakukan di akhir periode (semester/bab) untuk menentukan keberhasilan atau nilai akhir.

Contoh: Ujian Akhir Semester (UAS) tertulis mengenai seluruh materi PAI dalam satu semester.

Pemanfaatan: Sebagai dasar penentuan kenaikan kelas atau kelulusan dan evaluasi efektivitas kurikulum secara luas.

3. Penilaian Tiga Ranah dalam PAI
Sebagai guru PAI, berikut adalah instrumen yang digunakan:

Ranah Contoh Kegiatan Jenis Instrumen
Kognitif Pemahaman tentang sejarah Islam atau hukum waris. Tes tertulis (Pilihan ganda, esai) atau lisan.
Afektif Sikap sopan santun (adab) dan kedisiplinan beribadah. Lembar observasi sikap, jurnal harian, atau penilaian diri (self-assessment).
Psikomotor Praktik tata cara wudhu, shalat, atau menyembelih hewan. Tes unjuk kerja (performance test) dengan rubrik penilaian.
4. Dampak Teknologi dalam Evaluasi
Dampak Positif: Efisiensi waktu (koreksi otomatis), hasil instan (real-time feedback), dan meningkatkan keterlibatan siswa melalui gamifikasi (seperti Kahoot/Quizizz).

Dampak Negatif: Potensi kecurangan (tab baru/AI), kesenjangan akses internet, dan berkurangnya kedalaman analisis jika hanya menggunakan soal pilihan ganda.

Apakah selalu meningkatkan kualitas? Tidak selalu. Teknologi hanyalah alat. Jika soal yang dibuat buruk, teknologi hanya mempercepat distribusi soal yang buruk tersebut.

Cara Efektif & Bertanggung Jawab: Gunakan platform yang memiliki fitur "Lockdown Browser" untuk ujian serius, variasikan dengan tugas proyek digital, dan tetap lakukan pengawasan manusia secara ketat.

5. Prinsip Utama Evaluasi Pembelajaran
Prinsip-Prinsip: 1. Objektif: Penilaian harus adil, tidak subjektif. 2. Terpadu: Bagian tak terpisahkan dari kegiatan belajar. 3. Holistik (Menyeluruh): Menilai semua aspek (kognitif, afektif, psikomotor). 4. Kontinu (Berkesinambungan): Dilakukan secara terus-menerus.

Mengapa Penting? Tanpa prinsip ini, hasil evaluasi tidak akan mencerminkan kemampuan asli siswa dan bisa merugikan masa depan mereka.

Arti Penting Evaluasi:

Bagi Guru: Mengetahui sejauh mana keberhasilan mengajar.

Bagi Siswa: Mengetahui kelemahan dan kekuatan dalam belajar.

Bagi Lembaga: Sebagai dasar pengambilan kebijakan sekolah dan pemetaan kualitas pendidikan.

Muhammad Nur Faqih 6 Januari 2026 pukul 20.36 Hapus Komentar
Berikut jawaban formal dan singkat sesuai permintaan:


---

1. Pengembangan Instrumen Asesmen Berpikir Kritis Fiqh
Untuk memastikan validitas dan reliabilitas instrumen asesmen berpikir kritis dalam mata pelajaran Fiqh, langkah yang dilakukan adalah: (1) menetapkan indikator berpikir kritis (menganalisis dalil, membandingkan pendapat ulama, dan menarik kesimpulan hukum), (2) menyusun kisi-kisi soal atau rubrik sesuai kompetensi, (3) melakukan validasi ahli (expert judgment), (4) uji coba instrumen kepada siswa, dan (5) analisis hasil uji coba.
Validitas yang diuji meliputi validitas isi, validitas konstruk, dan validitas empiris. Reliabilitas diuji melalui konsistensi hasil, seperti reliabilitas internal (misalnya Alpha Cronbach) atau reliabilitas antarpenilai untuk rubrik.

2. Penilaian Formatif dan Sumatif
Penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran, contohnya kuis singkat atau tanya jawab materi wudu. Penilaian sumatif dilakukan pada akhir pembelajaran untuk menilai capaian belajar, seperti ujian akhir bab tentang ibadah salat.
Hasil penilaian formatif digunakan untuk perbaikan strategi mengajar, sedangkan penilaian sumatif digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar dan evaluasi program pembelajaran.

3. Penilaian Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor dalam PAI
Ranah kognitif dinilai melalui tes tertulis atau lisan, misalnya soal tentang hukum puasa. Ranah afektif dinilai melalui observasi sikap, seperti kedisiplinan dan kejujuran dalam beribadah, menggunakan lembar observasi. Ranah psikomotor dinilai melalui praktik, misalnya praktik wudu atau salat, menggunakan rubrik penilaian kinerja.

4. Penggunaan Teknologi dalam Evaluasi Pembelajaran
Penggunaan teknologi memberikan dampak positif berupa efisiensi, umpan balik cepat, dan peningkatan motivasi belajar. Namun, dampak negatifnya antara lain potensi kecurangan, ketergantungan teknologi, dan kesenjangan akses. Teknologi tidak selalu meningkatkan kualitas evaluasi jika tidak dirancang dengan baik. Oleh karena itu, teknologi harus dimanfaatkan secara proporsional, terencana, dan disertai pengawasan serta etika akademik.

5. Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran dan Urgensinya
Prinsip utama evaluasi pembelajaran meliputi objektivitas, validitas, reliabilitas, keadilan, keterbukaan, dan berkesinambungan. Prinsip-prinsip ini penting agar evaluasi menghasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Evaluasi pembelajaran bermanfaat bagi guru untuk memperbaiki pembelajaran, bagi siswa untuk mengetahui capaian belajar, dan bagi lembaga pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan.
Indah lestari Nim: 2309601034 6 Januari 2026 pukul 20.37 Hapus Komentar
Evaluasi Pembelajaran PAI dan Teknologi
Percakapan dengan Gemini
Jawablah pertanyaan di atas ini dengan baik dan benar

Berikut adalah jawaban lengkap dan terstruktur untuk pertanyaan-pertanyaan dalam lembar evaluasi tersebut:

1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Berpikir Kritis (Fiqh)
Untuk memastikan instrumen memiliki kualitas tinggi, berikut adalah langkah-langkahnya:

Langkah Konkret:

Analisis Kurikulum: Menentukan KD (Kompetensi Dasar) yang relevan dengan aspek analisis (misal: perbedaan pendapat mazhab).

Penyusunan Kisi-kisi: Membuat indikator berpikir kritis (analisis, evaluasi, inferensi).

Telaah Pakar (Expert Judgment): Meminta ahli materi Fiqh dan ahli evaluasi untuk memeriksa kesesuaian soal.

Uji Coba Terbatas: Melakukan tes pada sekelompok kecil siswa untuk melihat keterbacaan soal.

Jenis Validitas yang Diuji: Validitas Isi (apakah soal sesuai materi) dan Validitas Konstruk (apakah soal benar-benar mengukur kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar hafalan).

Jenis Reliabilitas: Menggunakan Internal Consistency (seperti rumus Alpha Cronbach) untuk memastikan stabilitas jawaban antar butir soal.

2. Penilaian Formatif vs Sumatif
Penilaian Formatif: Penilaian saat proses pembelajaran berlangsung untuk memperbaiki metode mengajar dan memberi umpan balik.

Contoh (Matematika): Kuis singkat di akhir materi pecahan untuk melihat siapa yang belum paham sebelum lanjut ke materi berikutnya.

Penilaian Sumatif: Penilaian di akhir periode (semester/bab) untuk menentukan keberhasilan atau kelulusan siswa.

Contoh (Matematika): Ujian Akhir Semester (UAS).

Manfaat Hasil: Hasil formatif digunakan untuk perbaikan instan (remedial/pengayaan), sedangkan hasil sumatif digunakan untuk pemetaan kualitas sekolah dan pelaporan nilai rapor.

3. Penilaian Tiga Ranah dalam PAI
Sebagai guru PAI, berikut adalah instrumen yang digunakan:

Ranah Contoh Penilaian Jenis Instrumen
Kognitif Pemahaman tentang rukun Islam atau sejarah nabi. Tes tertulis (Pilihan Ganda atau Uraian).
Afektif Sikap jujur, disiplin, dan kesantunan dalam kelas. Lembar Observasi atau Penilaian Diri (Self-assessment).
Psikomotor Praktik tata cara wudhu atau salat jenazah. Lembar Ceklis (Checklist) atau Rubrik Praktik.
4. Dampak Teknologi dalam Evaluasi
Dampak Positif: Efisiensi waktu (koreksi otomatis), data real-time, dan tampilan yang lebih menarik (gamifikasi).

Dampak Negatif: Potensi kecurangan (tab baru/AI), kesenjangan akses internet, dan berkurangnya kedalaman analisis jika hanya mengandalkan soal pilihan ganda otomatis.

Apakah selalu meningkatkan kualitas? Tidak selalu. Teknologi hanyalah alat. Jika soal yang dimasukkan buruk, hasilnya pun buruk (garbage in, garbage out).

Cara Efektif: Menggunakan platform yang mendukung Proctoring (pengawasan), mengombinasikan soal reflektif yang tidak bisa dijawab oleh AI, serta memastikan kesiapan infrastruktur.

5. Prinsip Utama Evaluasi Pembelajaran
Prinsip-prinsip: Objektif (tidak memihak), Adil, Terpadu (bagian dari pembelajaran), Terbuka (kriteria nilai diketahui siswa), dan Berkesinambungan.

Pentingnya Prinsip Ini: Agar hasil evaluasi dapat dipercaya (akuntabel) dan tidak merugikan masa depan siswa.

Arti Penting Evaluasi:

Bagi Guru: Bahan refleksi untuk memperbaiki cara mengajar.

Bagi Siswa: Mengetahui sejauh mana kemajuan belajarnya.

Bagi Lembaga: Dasar pengambilan keputusan untuk kebijakan kurikulum dan sarana prasarana.
Fela Rusdiyanti Nim: 2309601036 6 Januari 2026 pukul 20.37 Hapus Komentar
1. Apabila saya di berikan tanggung Jawab untuk Merancang alat penilaian (tes atau rubrik) guna untuk Mengukur keterampilan berpikir kritis siswa dalam

Mata Pelajaran fikih. Strategi yg saya gunakan adalah Memastikan bahwa alat Penilalan tersebut selaras dengan tujuan Pembelajaran, Mencer Minkan Karakteristik berpikir serta menghasilkan hasıl yg akurat dan konsisten.

Agar siswa berpikir kritis dalam mata Pelajaran fıkıh dapat terukur dengan tepat. Alat yg dipilih sebaiknya tidak berupa Soal hafalan, tetapi Menuntut siswa untuk berpikir Mendalam, Oleh karena itu bentuk Penilalan yg digunakan soal uralan berbasis kasus dan rubrik penilalan.

2. Penilaian formatif adalah Penilaian yg di lakukan selama proses pembela-Jaran berlangsung dengan tujuan memantau belajar siswa dan memberi kar umpan balik.

contoh konkret nya guru Memberikan kuis setelah selesal Membahas Materi wudhu, untuk Mengetahui pemahaman siswa. Jika siswa masih belum faham maka guru akan Mengulang Penjelasan atau Mempraktikannya.

Secara langsung. hasıl Penelitiannya untuk memperbaiki strategi mengajar.

Penilaian sumatif yaitu penilaian yg dilakukan di akhir pembelajaran (Semester) untuk Mengetahui kemampuan siswa Secara keseluruhan.

contoh konkret nya guru Memberikan sual ujian yg berisi soal uralan dan pilihan ganda. Nilal nya di gunakan untuk dasar penentuan nilai rap ot. hasil penelitian nya mengevaluasi keberhasilan program Pembelajaran.

3.(1) Ranah kognitif (pengetahuan) berkaitan dengan kemampuan berpikir siswa seperti memahami pembelajaran PAI.

contoh konkret materi sulat, guru menilai kemampuan siswa Memahami Pengertian syarat rukun dan hikmah sulat.

instrumen Menggunakan kuiÅŸ atau ulangan harian.

(2) Ranah Afektif (Sikap dan nilai) berkaitan dengan sikap keagamaan, akhlak dan nilai-nilal islam yg tercermin dalam periloku siswa. contoh Menilai sikap disiplin dan kejujuran saat mengikuti pembelajaran. instrumen Menggunakan Menilai perilaku siswa.

(3)Ranah Psikomotor (Keterampilan) berkaitan dengan kemampuan Praktik atau Keterampilan Ibadah dan aktivitas Keagamaan.

contoh mempraktekan wudhu dan sulat sesual tuntunan yg benar. instrumen Teks praktik

4. • Dampak positif penggunaan teknologi dalam evaluasi Pembelajaran. Penilalan da pat dilakukan Secara otomatis, sehingga guru Menghemat waktu dalam koreksi dan rekap nilai.

• Dampak negatif Penggunaan teknologi dalam evaluasi Pembelajaran.

Sangguan Jaringan atau sistem enor dapat Mempengaruhi keadilan penilaian. Teknologi tidak selalu otomatis meningkatkan kualitas evaluasi Pembelajaran Jika digunakan tanpa perencanaan yg Matang teknologi Justru dapat Menimpulkan Masalah baru seperti ketidak adılan dan penilaian yg tidak valid.

caranya Menggunakan teknologi sesuai tujuan pembelajaran dan karakteristil Siswa.

5.(1) Valid : evaluasi harus mengukur apa yg seharusnya di ukur sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pentingnya agar hasil penilaian benar-benar Mencermin kan kemampuan siswa yg sebenarnya.

(2) objektif: Penilaian harus bebas dari unsur subjektivitas penilaian.

Pentingnya: Menjamin keadilan dan kejujuran dalam menilai hasil belajar Siswa.

(3) Adil: evaluasi tidak merugikan atau Menguntungkan siswa tertentu dan Memperhatikan Perbedaan individu.

Penting Memberikan kesempatan yg sama kepada seluruh siswa.

(4) Mendidik: evaluası harus mendorong Motivasi belajar dan perbaikan diri. Penting agar evaluag, tidak menjadı alat Menakutkan, tapi sarana belajar.

• Bagi guru: Mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran.

• Bagi siswa: Memotivasi untuk belajar lebih baik.

• Bagi lembaga pendidikan: Menjadi bahan evaluası Mutu pendidikan.
Muhammad Nur Faqih 6 Januari 2026 pukul 20.38 Hapus Komentar
1. Pengembangan Instrumen Asesmen Berpikir Kritis Fiqh
Untuk memastikan validitas dan reliabilitas instrumen asesmen berpikir kritis dalam mata pelajaran Fiqh, langkah yang dilakukan adalah: (1) menetapkan indikator berpikir kritis (menganalisis dalil, membandingkan pendapat ulama, dan menarik kesimpulan hukum), (2) menyusun kisi-kisi soal atau rubrik sesuai kompetensi, (3) melakukan validasi ahli (expert judgment), (4) uji coba instrumen kepada siswa, dan (5) analisis hasil uji coba.
Validitas yang diuji meliputi validitas isi, validitas konstruk, dan validitas empiris. Reliabilitas diuji melalui konsistensi hasil, seperti reliabilitas internal (misalnya Alpha Cronbach) atau reliabilitas antarpenilai untuk rubrik.

2. Penilaian Formatif dan Sumatif
Penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran, contohnya kuis singkat atau tanya jawab materi wudu. Penilaian sumatif dilakukan pada akhir pembelajaran untuk menilai capaian belajar, seperti ujian akhir bab tentang ibadah salat.
Hasil penilaian formatif digunakan untuk perbaikan strategi mengajar, sedangkan penilaian sumatif digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar dan evaluasi program pembelajaran.

3. Penilaian Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor dalam PAI
Ranah kognitif dinilai melalui tes tertulis atau lisan, misalnya soal tentang hukum puasa. Ranah afektif dinilai melalui observasi sikap, seperti kedisiplinan dan kejujuran dalam beribadah, menggunakan lembar observasi. Ranah psikomotor dinilai melalui praktik, misalnya praktik wudu atau salat, menggunakan rubrik penilaian kinerja.

4. Penggunaan Teknologi dalam Evaluasi Pembelajaran
Penggunaan teknologi memberikan dampak positif berupa efisiensi, umpan balik cepat, dan peningkatan motivasi belajar. Namun, dampak negatifnya antara lain potensi kecurangan, ketergantungan teknologi, dan kesenjangan akses. Teknologi tidak selalu meningkatkan kualitas evaluasi jika tidak dirancang dengan baik. Oleh karena itu, teknologi harus dimanfaatkan secara proporsional, terencana, dan disertai pengawasan serta etika akademik.

5. Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran dan Urgensinya
Prinsip utama evaluasi pembelajaran meliputi objektivitas, validitas, reliabilitas, keadilan, keterbukaan, dan berkesinambungan. Prinsip-prinsip ini penting agar evaluasi menghasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Evaluasi pembelajaran bermanfaat bagi guru untuk memperbaiki pembelajaran, bagi siswa untuk mengetahui capaian belajar, dan bagi lembaga pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan.
Devina 6 Januari 2026 pukul 20.40 Hapus Komentar
Nama :Devina Zanuardita Alivia
Nim : 2409601091

(1) Langkah-langkah konkret yang saya lakukan
a. Tentukan tujuan yang jelas
Misalnya kita ingin mengukur kemampuan siswa dalam menganalisis hukum fiqih pada kasus-kasus tertentu.
b. Buat soal atau rubrik yang sesuai
Misalnya berikan studi kasus dan minta siswa untuk menganalisisnya.
c. Uji coba instrumen
Coba tes atau rubrik uji ke sekelompok siswa terlebih dahulu untuk melihat apakah instrumennya berfungsi dengan baik.
d. Analisis hasil uji coba
Lihat apakah soal tersebut benar-benar mengukur kemampuan berpikir kritis dan apakah hasilnya konsisten.
Jenis-jenis Validitas
Validitas isi
Soal-soal kita buat benar-benar mencakup materi yang ingin diukur.
Validitas konstruk
Memastikan bahwa soal benar-benar mengukur konsep yang dimaksud.
Validitas empiris
Ini dilihat dari data hasil uji coba.
Jenis-jenis Reliabilitas
Reliabilitas internal
Soal-soal dalam tes harus memberikan hasil yang konsisten.
Reliabilitas antar penilai
Penilaian antar guru harus sama yang menilai tugas yang sama.
(2) Penilaian Formatif dan Sumatif
Formatif
Penilaian saat proses belajar.
Contoh:
Kuis singkat
Tanya jawab
Tugas harian
Manfaat:
Memperbaiki pembelajaran
Sumatif
Penilaian di akhir pembelajaran.
Contoh:
Ulangan akhir bab/semester
Manfaat:
Menentukan nilai akhir
(3) Ranah Penilaian
a. Ranah kognitif
Pengetahuan agama
Contoh:
Tes tertulis fiqih
Instrumennya:
Tes tulis sederhana atau pilihan ganda
b. Ranah afektif
Sikap / keterampilan
Contohnya:
Siswa menunjukkan sikap atau disiplin
Instrumennya:
Guru mengamati dan mencatat perilaku siswa
c. Ranah psikomotor
Praktik
Instrumennya:
Guru mengamati langsung dan memastikan siswa melakukan langkah yang benar
(4) Dampak penggunaan teknologi
Dampak positif penggunaan teknologi:
Efisien dan cepat
Akses mudah
Interaktif dan menarik
Dampak negatif:
Resiko curang
Ketimpangan akses
Kurang personal
(5) Prinsip-prinsip utama dalam evaluasi pembelajaran
a. Validitas
Evaluasi harus mengukur hal yang memang ingin kita ketahui.
b. Reliabilitas
Hasil evaluasi harus konsisten dan dapat diandalkan.
c. Objektivitas
Evaluasi harus adil dan tidak dipengaruhi oleh bias guru.
d. Adil dan merata
Evaluasi harus diberikan secara merata.
e. Berkesinambungan
Evaluasi tidak hanya dilakukan sekali, tapi secara terus-menerus.
Arti penting evaluasi pembelajaran
Bagi guru: Memperbaiki pembelajaran
Bagi siswa: Mengetahui kemampuan
Bagi sekolah: Meningkatkan mutu pendidikan
Yesieka Kurnia Safarani 6 Januari 2026 pukul 20.43 Hapus Komentar
1. Untuk memastikan instrumen asesmen memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.
Langkah- langkah
- Menentukan tujuan dan indikator berpikir kritis
Misalnya: kemampuan menganalisis dalil fiqh, mengevaluasi perbedaan pendapat ulama, dan memecahkan masalah fiqh
- Menyusun kisi-kisi instrumen
Kisi-kisi memuat kompetensi, indikator berpikir kritis, bentuk soal (esai/studi kasus), dan level kognitif (analisis, evaluasi, kreasi).
-Menyusun butir soal atau rubrik penilaian
Contoh: soal studi kasus tentang zakat/ pembagiannya siapa saja yang mendapat zakat
-uji coba instrumen
-menganalis hasil uji coba
-revisi instrumen

2.Penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk memantau kemajuan belajar siswa. sementara Penilaian sumatif dilakukan di akhir pembelajaran untuk mengetahui pencapaian hasil belajar.
Contoh penerapan formatif, kuis singkat tentang rukun dan syarat sholat setelah pembelajaran di setiap pertemuan
Contoh penerapan asesmen sumatif: ujian di akhir semester ataupun pertengahan semester
3.- Ranah kognitif, menilai pemahaman siswa tentang konsep pai instrumen: tes tertulis
- Ranah Afektif, mengukur sikap siswa terhadap ajaran islam. Instrumen: lembar observasi/jurnal sikap
- Ranah psikomotorik, mengukur kemampuan siswa dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pai. Instrumen: rubrik penilaian praktik
4. Dampak Penggunaan Teknologi dalam Evaluasi Pembelajaran
a. Dampak Positif
Proses penilaian lebih cepat dan efisien
Hasil penilaian lebih objektif
Meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa
b. Dampak Negatif
Potensi kecurangan akademik
Ketergantungan pada teknologi
Kesenjangan akses teknologi antar siswa
c. Apakah Teknologi Selalu Meningkatkan Kualitas Evaluasi?
Tidak selalu. Teknologi hanya alat, kualitas evaluasi tetap bergantung pada desain instrumen dan kompetensi guru.
a. Pemanfaatan Teknologi secara Efektif dan Bertanggung Jawab
- Mengombinasikan evaluasi daring dan luring
-Menyusun soal berbasis HOTS
-Menanamkan etika dan kejujuran akademik
-Memastikan akses yang adil bagi seluruh siswa
5.Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran dan Pentingnya
a. Prinsip-prinsip Evaluasi
Valid: mengukur apa yang seharusnya diukur
Reliabel: hasil penilaian konsisten
Objektif: bebas dari subjektivitas penilai
Adil: tidak merugikan pihak tertentu
Berkelanjutan: dilakukan secara terus-menerus
Transparan: kriteria penilaian jelas dan terbuka
b. Pentingnya Prinsip Evaluasi
Prinsip-prinsip ini menjamin bahwa evaluasi menghasilkan data yang akurat, dapat dipercaya, dan bermanfaat.
c. Arti Penting Evaluasi Pembelajaran
Bagi guru: bahan refleksi dan perbaikan pembelajaran
Bagi siswa: mengetahui capaian dan kekurangan belajar
Bagi lembaga pendidikan: dasar peningkatan mutu pendidikan dan pengambilan kebijakan
Robit hilman 6 Januari 2026 pukul 20.49 Hapus Komentar
1. Mengembangkan Instrumen Asesmen untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam Mata Pelajaran Fiqh

Untuk mengembangkan instrumen asesmen yang memiliki validitas dan reliabilitas tinggi, saya akan melakukan langkah-langkah berikut:

- Definisi Konsep: Mendefinisikan kemampuan berpikir kritis dalam konteks Fiqh dan menentukan indikator-indikator yang akan diukur.
- Pengembangan Instrumen: Mengembangkan instrumen asesmen yang sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditentukan, seperti tes tertulis, proyek, atau presentasi.
- Validitas Konten: Menguji validitas konten instrumen dengan meminta pendapat ahli Fiqh dan pendidikan untuk memastikan bahwa instrumen mengukur apa yang seharusnya diukur.
- Validitas Konstruk: Menguji validitas konstruk instrumen dengan melakukan analisis faktor untuk memastikan bahwa instrumen mengukur konsep yang diinginkan.
- Reliabilitas: Menguji reliabilitas instrumen dengan melakukan uji coba pada sampel siswa dan menghitung koefisien reliabilitas, seperti Cronbach Alpha.
- Uji Coba: Melakukan uji coba instrumen pada sampel siswa untuk memastikan bahwa instrumen dapat diaplikasikan dengan baik.

Jenis-jenis validitas yang akan diuji:

- Validitas konten
- Validitas konstruk
- Validitas kriteria

Jenis-jenis reliabilitas yang akan diuji:

- Reliabilitas internal (Cronbach Alpha)
- Reliabilitas inter-rater (kesepakatan antara penilai)

2. Penilaian Formatif dan Penilaian Sumatif

- Penilaian Formatif: Penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk memantau kemajuan siswa dan memberikan umpan balik untuk meningkatkan pembelajaran. Contoh: memberikan kuis singkat di awal pelajaran untuk memantau pemahaman siswa tentang materi sebelumnya.
- Penilaian Sumatif: Penilaian yang dilakukan pada akhir proses pembelajaran untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Contoh: ujian akhir semester untuk mengevaluasi pemahaman siswa tentang materi yang telah dipelajari.

Hasil penilaian dapat dimanfaatkan untuk:

- Meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menyesuaikan strategi pembelajaran
- Memberikan umpan balik kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka
- Mengevaluasi efektivitas kurikulum dan program pembelajaran

3. Menilai Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor dalam Pembelajaran 👨

- Ranah Kognitif: Menilai kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep PAI, seperti tes tertulis atau kuis.
- Ranah Afektif*: Menilai sikap dan nilai-nilai siswa, seperti observasi atau penilaian diri.
- Ranah Psikomotor*: Menilai kemampuan siswa dalam melakukan praktik ibadah, seperti shalat atau wudu.

Instrumen penilaian yang digunakan:

- Tes tertulis atau kuis untuk ranah kognitif
- Observasi atau penilaian diri untuk ranah afektif
- Penilaian praktik untuk ranah psikomotor

4. Dampak Penggunaan Teknologi dalam Evaluasi Pembelajaran

Dampak positif:

- Meningkatkan efisiensi dan efektivitas evaluasi
- Meningkatkan aksesibilitas evaluasi
- Meningkatkan kemampuan analisis data

Dampak negatif:

- Mengandalkan teknologi dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis
- Masalah keamanan dan privasi data
- Ketergantungan pada teknologi dapat mengurangi kemampuan manual

Cara memanfaatkan teknologi secara efektif dan bertanggung jawab:

- Menggunakan teknologi untuk meningkatkan evaluasi, bukan menggantikan kemampuan manual
- Memastikan keamanan dan privasi data
- Menggunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuan analisis data

5. Prinsip-Prinsip Utama Evaluasi Pembelajaran

- Validitas: Evaluasi harus mengukur apa yang seharusnya diukur.
- Reliabilitas: Evaluasi harus konsisten dan dapat diandalkan.
- Objektivitas: Evaluasi harus bebas dari bias dan subjektivitas.
- Komprehensif: Evaluasi harus mencakup semua aspek yang relevan.
- Transparansi: Evaluasi harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kahfie Hidayatu Ilman 6 Januari 2026 pukul 20.51 Hapus Komentar
1. Kalau saya ditugaskan membuat instrumen asesmen untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Fiqh, langkah pertama yang saya lakukan adalah membuat kisi-kisi soal yang jelas, kemudian mencocokkan setiap butir soal dengan indikator untuk mengukur validitas. Sedangkan untuk menguji reliabilitas, saya akan melakukan uji reliabilitas dengan menghitung koefisien reliabilita untuk melihat konsistensi hasil penilaian.
2. Penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi. Contoh : guru memberi kuis singkat atau hanya tanya jawab setelah membahas materi. Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan di akhir pembelajaran untuk menilai hasil belajar secara keseluruhan. Contoh : Ujian akhir bab fiqih tentang shalat
3. Ranah kognitif (pengetahuan) Dinilai dari pemahaman siswa terhadap materi, misalnya materi rukun shalat atau hikmah puasa. Ranah afektif (sikap) Dinilai dari sikap religius dan perilaku siswa, misalnya sikap sopan, disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab saat pembelajaran PAI. Ranah psikomotorik (keterampilan) Dinilai dari kemampuan praktik, misalnya praktik wudu atau shalat sesuai tuntunan.
4. Menurut saya, teknologi tidak selalu otomatis meningkatkan kualitas evaluasi. Teknologi hanyalah alat; kualitas evaluasi tetap ditentukan oleh tujuan, instrumen, dan cara guru menggunakannya. Agar efektif dan bertanggung jawab, guru perlu memilih platform yang sesuai, membuat soal yang bermakna, mengombinasikan evaluasi daring dan luring, serta memastikan kejujuran dan keadilan dalam penilaian.
5. Prinsip utama evaluasi :
- Valid → penilaian harus sesuai dengan tujuan dan materi yang diajarkan.
- Objektif → penilaian dilakukan secara adil, tidak dipengaruhi subjektivitas guru.
- Adil → semua siswa mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama.
- Berkelanjutan → evaluasi dilakukan terus-menerus, bukan hanya di akhir.
- Transparan → kriteria dan hasil penilaian jelas bagi siswa.
Pentingnya evaluasi
- Bagi guru, evaluasi membantu mengetahui keberhasilan metode mengajar.
- Bagi siswa, evaluasi membantu mengetahui kemampuan dan kekurangannya.
- Bagi lembaga pendidikan, evaluasi menjadi bahan perbaikan mutu dan kebijakan pendidikan.
Figiyatul Atifah 6 Januari 2026 pukul 20.53 Hapus Komentar
Nama : Figiyatul Atifah
NIM : …
Prodi : PAI
Mata Kuliah : Evaluasi Pembelajaran PAI
Dosen Pengampu : Fikri Farihah, M.Pd.I
Hari/Tanggal : Rabu, 07 Januari 2026

Jawaban
Saya akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1.Menentukan indikator berpikir kritis
Menentukan secara jelas indikator berpikir kritis dalam Fiqh.

Menyusun kisi-kisi soal
Menyusun kisi-kisi soal berbasis kasus dan rubrik penilaian.

Menjamin Validitas Instrumen
1. Validitas Isi (Content Validity)

Mengacu pada CP/KI-KD atau capaian pembelajaran

Meminta expert judgment (guru PAI/dosen) untuk menilai kesesuaian indikator, materi, dan butir soal

Melakukan revisi instrumen berdasarkan saran ahli

2. Validitas Konstruk (Construct Validity)

Memastikan setiap butir soal mengukur aspek berpikir kritis

Bukan sekadar hafalan hukum

Mengelompokkan soal berdasarkan aspek berpikir kritis

3. Validitas Empiris (Validitas Butir)

Mengujicobakan instrumen kepada siswa

Menganalisis hasil uji coba

Memperbaiki atau menghapus butir soal yang tidak valid

2.Menjamin Reliabilitas Instrumen
1. Reliabilitas Internal

Menghitung konsistensi antar soal

Menggunakan Alpha Cronbach

2. Reliabilitas Antarpenilai

Menggunakan rubrik penilaian yang jelas dan operasional

Melibatkan dua atau lebih penilai

3. Reliabilitas Tes Ulang

2.Mengadministrasikan tes pada waktu yang berbeda

Membandingkan hasil tes pertama dan kedua

3. Penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran langsung Penilaian sumatif penilaian yang dilakukan di akhir Suatu unit pembelajaran PTS ataupun UAS

4. Dampak Penggunaan Teknologi dalam Evaluasi Pembelajaran
Dampak Positif

Efisiensi dan kecepatan

Umpan balik instan

Pengelolaan data yang lebih baik

Dampak Negatif

Kesenjangan akses teknologi

Ketergantungan teknologi

Masalah teknis

Cara memanfaatkannya (pemanfaatan):

Menjamin keadilan akses bagi seluruh siswa

Menyesuaikan penggunaan teknologi dengan tujuan dan karakteristik materi

5. Prinsip-prinsip Utama dalam Evaluasi Pembelajaran
Validitas

Reliabilitas

Objektivitas

Keadilan

Keterpaduan

Kontinuitas

Praktis dan ekonomis

Arti Penting Evaluasi Pembelajaran
Bagi Guru

Menjadi dasar perbaikan metode dan strategi mengajar

Bagi Siswa

Mengetahui capaian belajar dan kekurangan diri
Zainatul Millah Nim 2309601017 6 Januari 2026 pukul 20.55 Hapus Komentar
1. Langkah-langkah
a. Menentukan indikator berpikir kritis, seperti menganalisis kasus fiqh dan memberi alasan hukum.
b. Berpikir kritis.
c. Menyusun kisi-kisi dan soal sesuai kompetensi.
d. Meminta penilaian (validator/ahli).
e. Uji coba soal dan perbaikan.
Jenis validitas yang diuji:
Validitas isi
Validitas konstruk
Validitas empiris
Reliabilitas yang diuji:
Reliabilitas internal
Reliabilitas antar penilai
2. Penilaian Formatif dan Sumatif
Penilaian formatif adalah penilaian saat proses belajar.
Contoh: tanya jawab, kuis singkat.
Manfaatnya: guru memperbaiki metode, siswa mengetahui kekurangan.
Penilaian sumatif adalah penilaian di akhir pembelajaran.
Contoh: UTS, UAS fiqh, proyek akhir praktik ibadah.
Manfaatnya: nilai rapor dan evaluasi keberhasilan program.
3. Ranah Penilaian
a. Kognitif (Pengetahuan)
Contoh: memahami hukum shalat jamak dan qashar.
Instrumen penilaian: tes tertulis (pilihan ganda, uraian).
b. Afektif (Sikap)
Contoh: sikap disiplin shalat dan kejujuran.
Instrumen penilaian: lembar observasi, jurnal sikap, penilaian diri.
c. Psikomotor (Keterampilan)
Contoh: praktik wudhu dan shalat.
Instrumen penilaian: rubrik unjuk kerja/praktik.
4. Penggunaan Teknologi dalam Evaluasi pembelajaran
Dampak positif:
Penilaian lebih cepat dan efisien
Menarik dan interaktif
Dampak negatif:
Risiko kecurangan
Ketergantungan teknologi
Cara memanfaatkan:
Disesuaikan dengan tujuan pembelajaran
Dikombinasikan dengan penilaian lain
5. Prinsip Utama Evaluasi
a. Valid: sesuai tujuan pembelajaran.
b. Reliabel: hasil konsisten.
c. Objektif: bebas dari subjektivitas.
d. Adil: tidak merugikan siswa.
e. Berkelanjutan: dilakukan terus-menerus.
f. Menyeluruh: mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik
Pentingnya evaluasi pembelajaran
Bagi guru: mengetahui efektifitas pembelajaran
Bagi siswa : mengetahui kemajuan dan kekurangan
Bagi lembaga : dasar peningkatan mutu pendidikan
Febi Anggraini (2309601065) 6 Januari 2026 pukul 20.56 Hapus Komentar
1. Langkah konkret:
1. Menentukan indikator berpikir kritis Fiqh (analisis hukum, argumentasi dalil, pemecahan masalah kasus).
2. Menyusun butir soal/rubrik berbasis kasus
(studi kasus fiqhiyah)
3. Validasi ahli (guru Fiqh/dosen PAI) untuk menilai kesesuaian isi.
4. Uji coba instrumen ke siswa.
5. Analisis hasil uji coba.
- Jenis validitas:
- Validitas isi: kesesuaian soal dengan kompetensi Fiqh.
- Validitas konstruk: soal benar-benar mengukur berpikir kritis, bukan hafalan.
- Validitas empiris berdasarkan hasil uji coba.
- Jenis reliabilitas:
- Reliabilitas internal (konsistensi antar soal).
- Reliabilitas antar penilai (untuk rubrik esai/kinerja).

2. Penilaian Formatif & Sumatif:
- Formatif: saat proses belajar
- Contoh: kuis, tanya jawab Fiqh → untuk perbaikan pembelajaran.
- Sumatif: akhir pembelajaran
- Contoh: ujian akhir, proyek → untuk nilai akhir.

3. Penilaian Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor PAI:
- Kognitif (pengetahuan)
- Contoh: tes tertulis tentang hukum puasa.
- Instrumen: pilihan ganda, esai, studi kasus.
- Afektif (sikap)
- Contoh: sikap jujur saat praktik ibadah.
- Instrumen: observasi, jurnal sikap, penilaian diri.
- Psikomotor (keterampilan)
- Contoh: praktik wudu dan salat.
- Instrumen: rubrik penilaian praktik.

4. Teknologi dalam Evaluasi:
- Positif: cepat, menarik, efisien.
- Negatif: kecurangan, akses tidak merata.
- Solusi: gunakan sesuai tujuan dan diawasi.

5. Prinsip & Pentingnya Evaluasi:
- Prinsip: objektif, valid, adil, berkelanjutan.
- Manfaat:
- Guru: perbaiki pembelajaran
- Siswa: tahu kemampuan
- Sekolah: tingkatkan mutu
Devina 6 Januari 2026 pukul 20.58 Hapus Komentar
Nama: Devina Zanuardita Alivia
Nim : 2409601091

1.  Langkah-langkah konkret yang saya lakukan

a. Tentukan tujuan yang jelas
Misalnya kita ingin mengukur kemampuan siswa dalam menganalisis hukum fiqih pada kasus-kasus tertentu.
b. Buat soal atau rubrik yang sesuai
Misalnya berikan studi kasus dan minta siswa untuk menganalisisnya.
c. Uji coba instrumen
Coba tes atau rubrik uji ke sekelompok siswa terlebih dahulu untuk melihat apakah instrumennya berfungsi dengan baik.
d. Analisis hasil uji coba
Lihat apakah soal tersebut benar-benar mengukur kemampuan berpikir kritis dan apakah hasilnya konsisten.
Jenis-jenis Validitas
Validitas isi
Soal-soal kita buat benar-benar mencakup materi yang ingin diukur.
Validitas konstruk
Memastikan bahwa soal benar-benar mengukur konsep yang dimaksud.
Validitas empiris
Ini dilihat dari data hasil uji coba.
Jenis-jenis Reliabilitas
Reliabilitas internal
Soal-soal dalam tes harus memberikan hasil yang konsisten.
Reliabilitas antar penilai
Penilaian antar guru harus sama yang menilai tugas yang sama.

2.  Penilaian Formatif dan Sumatif
Formatif
Penilaian saat proses belajar.
Contoh:
Kuis singkat
Tanya jawab
Tugas harian
Manfaat:
Memperbaiki pembelajaran
Sumatif
Penilaian di akhir pembelajaran.
Contoh:
Ulangan akhir bab/semester
Manfaat:
Menentukan nilai akhir

3. Ranah Penilaian
a. Ranah kognitif
Pengetahuan agama
Contoh:
Tes tertulis fiqih
Instrumennya:
Tes tulis sederhana atau pilihan ganda
b. Ranah afektif
Sikap / keterampilan
Contohnya:
Siswa menunjukkan sikap atau disiplin
Instrumennya:
Guru mengamati dan mencatat perilaku siswa
c. Ranah psikomotor
Praktik
Instrumennya:
Guru mengamati langsung dan memastikan siswa melakukan langkah yang benar

4. Dampak penggunaan teknologi
Dampak positif penggunaan teknologi:
Efisien dan cepat
Akses mudah
Interaktif dan menarik
Dampak negatif:
Resiko curang
Ketimpangan akses
Kurang personal

5. Prinsip-prinsip utama dalam evaluasi pembelajaran
a. Validitas
Evaluasi harus mengukur hal yang memang ingin kita ketahui.
b. Reliabilitas
Hasil evaluasi harus konsisten dan dapat diandalkan.
c. Objektivitas
Evaluasi harus adil dan tidak dipengaruhi oleh bias guru.
d. Adil dan merata
Evaluasi harus diberikan secara merata.
e. Berkesinambungan
Evaluasi tidak hanya dilakukan sekali, tapi secara terus-menerus.
Arti penting evaluasi pembelajaran
Bagi guru: Memperbaiki pembelajaran
Bagi siswa: Mengetahui kemampuan
Bagi sekolah: Meningkatkan mutu pendidikan
Khusnul Dewi Khotimah. Nim 2309601013 6 Januari 2026 pukul 21.00 Hapus Komentar
1. Langkah-langkah nya yaitu :
a. Menentukan konstruk dan indikator
b. Penyusunan kisi-kisi instrumennya
c. Menyusun butir soal-soal atau rubriknya
d. Uji instrumennya
Jenis validitas yaitu :
a). Validitas isi
b). Validitas konstruk
c). Validitas empiris
Jenis reliabilitas yaitu :
a). Reliabilitas konsistensi internal
b). Reliabilitas antar penilai
c). Reliabilitas tes ulang

2. Penilaian formatif: penilaian yang di lakukan selama proses pembelajaran berlangsung, tujuannya yaitu untuk mengetahui siswa terkait pemahaman materinya.
Contoh penerapannya yaitu : tata cara wudhu.
Penilaian sumatif : Penilaian yang di lakukan di akhir unit pembelajaran yaitu di akhir semester. tujuannya yaitu untuk menentukan tingkat pencapaian kompetensi siswa.
contoh penerapannya yaitu : sholat berjamaah dengan praktiknya. adapun pemanfaatannya yaitu untuk menentukan nilai akhir siswa.

3. Penilaian kognitif adalah penilaian pengetahuan, kemampuan.
contoh dalam pembelajaran PAI yaitu iman kepada malaikat Allah. instrumen penilaiannya yaitu pilihan ganda, isian singkat.
Penilaian afektif adalah penilaian sikap, nilai dan perilaku keagamaan.
contoh dalam pembelajaran PAI akhlak terpuji. instrumen penilaiannya melalui observasi sikap, penilaian diri.
Penilaian psikomotor adalah kemampuan praktik dan keterampilan siswa.
contoh dalam pembelajaran PAI yaitu praktik wudhu. instrumen penilaiannya melalui tes praktik.

4. Dampak positif penggunaan teknologi dalam evaluasi pembelajaran yaitu :
Data akan lebih akurat dan terdokumentasi, umpan balik lebih cepat.
Dampak negatifnya yaitu : ketimpangan akses teknologi, risiko kecurangan akademik.
Apakah teknologi meningkatkan kualitas evaluasi? tidak selalu.
Cara memanfaatkan teknologi yaitu menyesuaikan teknologi dengan tujuan penilaian, menjaga etika dan kejujuran akademik.

5. Prinsip utama dalam evaluasi pembelajaran yaitu valid, reliabel, objektif, adil.
Prinsip evaluasi penting karena menjamin keakuratan dan keadilan hasil penilaian, mencegah kesalahan penilaian yang merugikan siswa.
Ahmad Ikrar Bakti Islamsyah 6 Januari 2026 pukul 21.07 Hapus Komentar
1. Langkah-langkah Konkret yang akan dilakukan
• Menentukan dan Menetapkan Konstruk yang Diukur.
• Kisi-kisi disesuaikan dengan: cp dan tp, kognitif anak pada materi fiqih yang diajarkan.
• Analisis jenis-jenis validitas yang akan digunakan valitidas konstruk, memastikan instrumen benar-benar mengukur kemampuan berpikir kritis bukan hanya hafalan

2. Penilaian Formatif dan sumatif
• penilaian formatif: proses pembelajaran yang dilakukan selama proses pembelajaran contoh tes lisan pada peserta didik dan ulangan harian
• Penilaian sumatif proses pembelajaran yang dilakukan di akhir pembelajaran contoh ulangan akhir semester pada sekolah.

3. penilaian kognitif, penilaian afektif dan penilaian psikomotorik
• penilaian kognitif contohnya tes uraian tentang materi PAI yang dijelaskan dengan instrumen tes tertulis uraian dan pilihan ganda
• penilaian afektif contohnya tanggung jawab menjalankan ibadah dengan instrumen observasi sikap siswa
• Penilaian psikomotorik contohnya praktik seperti wudhu salat sesuai tuntutan dengan instrumen lembar observasi praktik.

4. Dampak positif
• Hemat waktu dan tenaga
• Data hasil evaluasi tersimpan otomatis
• Meningkatkan motivasi belajar
Dampak negatif
• Potensi kecurangan
• Ketergantungan teknologi

5. Prinsip-prinsip evaluasi
• Valid: mengukur yang seharusnya diukur
• Reliabel: hasil konsisten
• Adil: tidak ada diskriminatif
• Transparan: jelas dan terbuka
• penting evaluasi bagi guru menilai keefektifan pembelajaran dan perbaikan strategi mengajar
• bagi siswa mengetahui kelebihan dan kekurangan belajar serta meningkatkan motivasi dan disiplin
• bagi lembaga pendidikan menjamin mutu pendidikan dan pengambilan keputusan yang tepat sesuai kebijakan akademik
Muhammad Ali Syifa' (2309601027) 6 Januari 2026 pukul 22.02 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Muhammad Ali Syifa' (2309601027) 6 Januari 2026 pukul 22.07 Hapus Komentar
1. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:
- menentukan indikator berpikir kritis pada mapel fiqh
- menyusun kisi-kisi soal atau rubrik
- menguji validitasnya, mulai dari segi isi, konstruk, dan empiris
- menguji reliabilitas nya untuk melihat konsistensi hasil

Jenis validitas seperti: validitas isi (melihat apakah isi sesuai dengan yang dipelajari selama ini); validitas konstruk (apakah dapat membuat siswa berpikir kritis); validitas empiris (diuji secara statistik).
Jenis reliabilitas seperti: uji cronbach alpha (untuk reliabilitas internal) atau reliabilitas antar penguji (pada rubrik)

2. penilain formatif adalah penilaian selama proses belajar (setiap pertemuan atau setiap selesai 1 bab). contoh: kuis, tanya jawab, atau penilaian harian pada mapel PAI. Penilaian formatif digunakan untuk mengetahui kesulitan siswa sejak awal dan ditindak lanjuti untuk memperbaiki cara mengajar.

Penilaian sumatif adalah penilaian di akhir pembelajaran (setiap akhir semester atau periode pembelajaran seperti tengah semester). contoh: UTS, UAS mapel PAI, ataupun ujian praktik fiqh. penilaian sumatif digunakan sebagai dasar laporan hasil belajar dan harus saling melengkapi antara penilaian formatif dan sumatif agar pembelajaran tidak hanya ber-orientasi pada hasil akhir, melainkan proses.

3. Kognitif (pengetahuan). Contoh: Tes tulis berupa soal pilihan ganda ataupun esai sebagai instrumennya. Saya akan menilai aspek kognitif menggunakan instrumen di atas, dimana di uji validitas (isi, konstruk, dan empiris) dan uji reliabilitas terlebih dahulu.

Afektif (sikap). Saya akan menilai aspek ini dengan mengamati (observasi) di kelas dan menilai bagaimana sikap dari masing-masing siswa. Yang dinilai meliputi akhlak religius dan sikap disiplin-tanggung jawab pada ibadah hariannya. Instrumennya menggunakan lembar observasi ataupun pedoman wawancara.

Psikomotorik (keterampilan). Saya akan menilai keterampilan praktik ibadah secara nyata, seperti wudhu, sholat, dan lain sebagainya. Serta menggunakan rubrik penilaian praktik sebagai instrumennya.

4. Dampak positif: cepat dan praktis, menarik dan interaktif, serta hasilnya langsung muncul.

Dampak negatif: ketergantungan terhadap teknologi, terdapat potensi dan resiko kecurangan, serta tidak semua siswa memiliki kesempatan sama dalam mengakses teknologi.

Teknologi tidak selalu meningkatkan kualitas, terlebih ketika tidak digunakan dengan bijak. Bahkan bisa menimbulkan masalah baru, karena itu solusinya agar memanfaatkan teknologi secara efektif dan bertanggung jawab dalam evaluasi pembelajaran yaitu dengan mengombinasikan evaluasi online dan offline, serta menggunakan teknologi hanya sekadar alat bantu saja, bukan yang utama.

5. Prinsip evaluasi (seingat saya): Objektif (tidak pilih kasih/mandang orang berdasarkan pendapat pribadi (subjektif)); adil, yaitu berlaku bagi semua dan berkesempatan yang sama bagi seluruh siswa; valid, yaitu tepat; reliabel (konsisten hasilnya); berkesinambungan (dijadikan evaluasi dan ada tindak lanjutnya); dan transparan (terbuka).

Pentingnya evaluasi pembelajaran, yaitu:
Bagi guru: memperbaiki pembelajaran
Bagi siswa: mengetahui kemampuan diri
Bagi sekolah: meningkatkan mutu pendidikan