Pembahasan Ya Arhamarrohimin

 


TUJUAN MEMBACA ISTIGHOTSAH

يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

A. Keutamaan Memperbanyak Bacaan

يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Memperbanyak bacaan يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ merupakan amalan istighotsah yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an. Kalimat ini adalah bagian dari doa Nabi Ayyub ‘alaihis salam ketika beliau menghadapi ujian dan kemudaratan yang sangat berat. Dengan penuh ketundukan dan penghambaan, Nabi Ayyub memohon pertolongan kepada Allah SWT dengan mengakui kelemahan dirinya serta menegaskan keyakinannya bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Penyayang di antara seluruh yang penyayang.

Allah SWT berfirman:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ
(QS. Al-Anbiyā’ [21]: 83–84)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Ayyub ‘alaihis salam berdoa kepada Allah SWT dengan mengucapkan kalimat yang sarat dengan pengakuan kelemahan dan pengharapan akan rahmat Allah SWT. Para ulama kemudian berbeda pendapat mengenai bentuk kemudaratan yang menimpa Nabi Ayyub ‘alaihis salam. Perbedaan pendapat tersebut dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Sebagian ulama berpendapat bahwa kemudaratan yang menimpa Nabi Ayyub ‘alaihis salam berupa penyakit berat yang menyebabkan beliau tidak mampu berdiri untuk melaksanakan shalat, sehingga beliau berdoa kepada Allah SWT dalam kondisi sangat lemah.

  2. Sebagian ulama menyatakan bahwa kemudaratan tersebut berupa pengakuan Nabi Ayyub ‘alaihis salam atas kelemahan dirinya. Pengakuan tersebut tidak bertentangan dengan sifat sabar, karena kesabaran tidak menafikan pengakuan akan ketergantungan seorang hamba kepada Tuhannya.

  3. Pendapat lain menyebutkan bahwa wahyu sempat terputus dari Nabi Ayyub ‘alaihis salam selama empat puluh hari, sehingga beliau merasakan kesedihan yang mendalam atas keadaan tersebut.

  4. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tubuh Nabi Ayyub ‘alaihis salam dipenuhi ulat akibat penyakit yang dideritanya. Ketika ulat tersebut jatuh dari dagingnya, beliau mengambilnya dan mengembalikannya ke tempat semula, sebagai bentuk kesabaran dan kerelaan menerima ujian dari Allah SWT.

  5. Dalam pendapat lain disebutkan bahwa ulat tersebut memakan hampir seluruh tubuh Nabi Ayyub ‘alaihis salam. Beliau tetap bersabar hingga ulat itu mencapai bagian yang paling vital, sehingga beliau kemudian memohon pertolongan kepada Allah SWT dengan penuh ketundukan.

  6. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Iblis membujuk istri Nabi Ayyub ‘alaihis salam agar bersujud kepadanya dengan janji kesembuhan. Hal ini membuat Nabi Ayyub ‘alaihis salam khawatir akan keimanan istrinya, sehingga beliau segera memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah SWT.

  7. Pendapat lainnya menyatakan bahwa Nabi Ayyub ‘alaihis salam mendapat celaan, hinaan, dan perlakuan tidak menyenangkan dari kaumnya akibat ujian yang menimpanya, sehingga hal tersebut menjadi bagian dari kemudaratan yang beliau rasakan.

Atas doa yang dipanjatkan Nabi Ayyub ‘alaihis salam tersebut, Allah SWT mengabarkan bahwa Dia mengabulkannya. Allah SWT menghilangkan seluruh kemudaratan yang menimpa beliau, menyembuhkannya dari penyakitnya, serta mengembalikan segala yang telah hilang darinya. Allah SWT juga mengembalikan keluarganya dan menambahkan yang semisal dengan mereka sebagai bentuk rahmat dari-Nya.

Peristiwa ini menjadi rahmat dari Allah SWT sekaligus pelajaran bagi seluruh hamba-Nya, agar senantiasa bersabar dalam menghadapi ujian serta menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT. Kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salam menjadi peringatan bagi para ahli ibadah agar tetap istiqamah, bersabar, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Penjelasan ini sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Fathul Qadīr karya Imam Asy-Syaukani, juz ketiga, halaman 250.


Keutamaan Membaca Ya Arḥamar Rāḥimīn Berdasarkan Hadis

Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مَلَكًا مُوَكَّلًا بِمَنْ يَقُولُ: يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، فَمَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا، قَالَ لَهُ الْمَلَكُ: إِنَّ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ قَدْ أَقْبَلَ عَلَيْكَ، بِالرَّحْمَةِ وَالرَّأْفَةِ وَاسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ، فَسَلْ، فَإِنَّكَ إِنْ سَأَلْتَهُ أَعْطَاكَ سُؤْلَكَ.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dan dinyatakan sahih. Keterangan ini juga disebutkan dalam Faiḍul Qadīr, juz II, halaman 609.

Hadis tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT memiliki malaikat yang secara khusus ditugaskan untuk orang yang membaca kalimat يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. Apabila seseorang membacanya sebanyak tiga kali, maka malaikat tersebut berkata kepadanya:

“Sesungguhnya Dzat Yang Maha Penyayang telah menghadap kepadamu dengan rahmat, kelembutan, dan kesiapan untuk mengabulkan doa. Maka bermohonlah, karena apabila engkau memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan memberimu apa yang engkau minta.”

Hadis ini menjadi anjuran untuk membiasakan berdoa setelah membaca يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ, terutama setelah membacanya sebanyak tiga kali.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan ayat Al-Qur’an dan hadis di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Doa Nabi Ayyub ‘alaihis salam dikabulkan oleh Allah SWT karena beliau memohon dengan menyebut kalimat يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

  2. Kemustajaban doa Nabi Ayyub ‘alaihis salam tidak hanya berlaku khusus bagi beliau, tetapi juga bagi hamba-hamba Allah lainnya. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT dengan ungkapan وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ, yang menunjukkan bahwa kisah tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh ahli ibadah.

  3. Keistimewaan bacaan يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ begitu besar, hingga Allah SWT menugaskan malaikat khusus untuk memperhatikan dan menyampaikan kabar rahmat bagi orang yang membacanya.

  4. Apabila seseorang membaca يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ sebanyak tiga kali, maka malaikat yang ditugaskan akan datang dan menyampaikan bahwa Allah SWT Yang Maha Penyayang telah menghadap kepadanya. Pada saat itu, orang tersebut dianjurkan untuk memohon kepada Allah SWT, karena permintaannya berpeluang besar untuk dikabulkan.

  5. Berdasarkan makna lahir dari hadis tersebut, dapat dipahami bahwa berdoa setelah membaca يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ sebanyak tiga kali hukumnya adalah sunnah.

Dasar Pengamalan Istighotsah Ya Arḥamar Rāḥimīn

Dari penjelasan inilah para ulama mengambil dasar amalan istighotsah dengan bacaan يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. Bacaan tersebut diulang sebanyak tiga kali pada setiap bait, dengan tujuan agar semakin banyak malaikat yang mewakili bacaan tersebut, terlebih apabila istighotsah dilakukan secara berjamaah dengan jumlah yang besar.

Susunan bacaan istighotsah tersebut antara lain sebagai berikut:

يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ

Artinya:
“Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, bebaskanlah kesusahan kaum Muslimin.”


Memperbanyak Membaca

فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ di Dalam Majelis

Memperbanyak bacaan فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ di dalam majelis istighotsah memiliki keutamaan yang besar. Kalimat ini bermakna memohon kepada Allah SWT agar membebaskan seluruh kaum Muslimin dari kesusahan dan kesempitan. Berdoa dengan mendoakan orang lain, khususnya kaum Muslimin secara umum, termasuk salah satu sebab dikabulkannya doa oleh Allah SWT.

Mendoakan Orang Tua dan Kaum Muslimin sebagai Syarat Dikabulkannya Doa

Dalam berbagai keterangan para ulama disebutkan bahwa salah satu syarat agar doa diterima oleh Allah SWT adalah mendoakan kedua orang tua dan kaum Muslimin dalam setiap doa. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Syarḥ Rātib al-Ḥaddād karya al-Ḥabīb ‘Alwī bin Aḥmad Bā‘alawī:

وَمِنْ شُرُوطِهِ الدُّعَاءُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْمُسْلِمِينَ بِخَيْرٍ فِي كُلِّ دُعَاءٍ كَمَا وَرَدَتْ فِي ذَلِكَ الْأَحَادِيثُ

Artinya, termasuk syarat dikabulkannya doa adalah mendoakan kedua orang tua dan kaum Muslimin dengan kebaikan dalam setiap doa, sebagaimana banyak diterangkan dalam berbagai hadis.
(Syarḥ Rātib al-Ḥaddād, hlm. 28)

Dengan demikian, membaca فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ dalam majelis istighotsah merupakan bentuk pengamalan dari adab dan syarat doa yang diajarkan oleh para ulama.

Keutamaan Mendoakan Sesama Muslim Tanpa Sepengetahuannya

Diriwayatkan dari Abu ad-Dardā’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ.
(HR. Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa doa seseorang untuk saudaranya sesama Muslim tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab. Pada saat itu Allah SWT menugaskan seorang malaikat yang berdiri di dekat kepalanya. Setiap kali orang tersebut mendoakan kebaikan bagi saudaranya, malaikat tersebut mengucapkan “Amin” dan mendoakan agar orang yang berdoa memperoleh kebaikan yang sama.

Kesimpulan Makna Bacaan فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ

Berdasarkan hadis tersebut, dapat dipahami bahwa membaca فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ berarti mendoakan saudara-saudara sesama Muslim yang tidak hadir di majelis tersebut. Dari doa ini dapat diambil beberapa faedah sebagai berikut:

  1. Karena orang-orang yang didoakan tidak hadir di majelis, Allah SWT mengutus malaikat sebagai wakil mereka untuk hadir di majelis tersebut. Hal ini merupakan bentuk rahmat Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.

  2. Malaikat tersebut berada di dekat orang yang berdoa dan mengucapkan doa “Amin”, sebagai bentuk permohonan agar Allah SWT mengabulkan doa tersebut.

  3. Malaikat tersebut juga mendoakan kembali orang yang berdoa dengan kalimat وَلَكَ بِمِثْلٍ, yang berarti semoga engkau juga dibebaskan dari kesusahan sebagaimana engkau mendoakan saudaramu.

Dengan demikian, memperbanyak bacaan فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ di dalam majelis istighotsah tidak hanya membawa manfaat bagi kaum Muslimin secara umum, tetapi juga menjadi sebab datangnya doa dan kebaikan bagi orang yang membacanya sendiri.


Memperbanyak Memanggil Nama Allah SWT dengan Asmā’ul Ḥusnā dan Seruan “Yā Rabbī”

Salah satu adab penting dalam istighotsah adalah memperbanyak memanggil Allah SWT dengan nama-nama-Nya yang indah (Asmā’ul Ḥusnā) serta dengan seruan penuh ketundukan seperti “Yā Rabbī”. Panggilan ini mencerminkan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan menjadi sebab kuat diterimanya doa.

Allah SWT berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
(QS. Al-A‘rāf [7]: 180)

Artinya:
“Dan Allah SWT memiliki nama-nama yang paling baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut.”

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
(QS. Al-Isrā’ [17]: 110)

Artinya:
“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Raḥmān. Dengan nama apa pun kamu menyeru, maka Dia memiliki nama-nama yang terbaik.’”

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa memanggil Allah SWT dengan Asmā’ul Ḥusnā merupakan bentuk ibadah dan doa yang diperintahkan secara langsung dalam Al-Qur’an.

Keutamaan Seruan “Yā Rabbī” dalam Doa

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
إِذَا قَالَ الْعَبْدُ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، قَالَ اللَّهُ: لَبَّيْكَ عَبْدِي، سَلْ تُعْطَ.
فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ أَرْبَعًا، قَالَ اللَّهُ: لَبَّيْكَ عَبْدِي، سَلْ تُعْطَ.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abī ad-Dunyā, Abū asy-Syaikh, dan ad-Dailamī, baik secara marfū‘ maupun mauqūf, serta dikuatkan oleh riwayat Imam al-Bazzār. Hadis ini dikutip dalam Faiḍul Qadīr, juz I, halaman 536.

Makna hadis ini menunjukkan bahwa ketika seorang hamba memanggil Tuhannya dengan seruan “Yā Rabbī” secara berulang-ulang, Allah SWT menjawab panggilan tersebut dengan penuh kasih sayang dan mempersilakannya untuk memohon, disertai janji pengabulan.

Makna Panggilan dalam Istighotsah Ya Arḥamar Rāḥimīn

Dalam istighotsah Yā Arḥamar Rāḥimīn, setiap bait dipenuhi dengan panggilan kepada Allah SWT. Panggilan ini dilafalkan dengan kekhusyukan, sebagaimana tradisi para jamaah manaqib yang duduk bersahaja, melepaskan keterikatan jasmani dan hawa nafsu, serta menghadirkan kesadaran ruhani di hadapan Allah SWT.

Makna pelepasan diri ini selaras dengan ajaran para ulama dan para wali Allah.

Syaikh ‘Abdul Qādir al-Jailānī radhiyallahu ‘anhu berkata:

قَالَ الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيُّ: لَقِيتُ آدَمَ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَانَا آدَمُ، كَيْفَ الطَّرِيقُ؟
فَقَالَ لِي: يَا بُنَيَّ، مُتْ قَبْلَ أَنْ تَمُوتَ.

Artinya:
Syaikh ‘Abdul Qādir al-Jailānī radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku bertemu Nabi Adam ‘alaihis salam, lalu aku bertanya, ‘Wahai ayah kami Adam, bagaimana jalan menuju Allah?’ Maka beliau menjawab, ‘Wahai anakku, matilah sebelum engkau mati.’”

Makna ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ، وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ
(HR. at-Tirmidzi)

Imam Aḥmad bin Ḥanbal juga meriwayatkan bahwa beliau bermimpi bertemu Tuhannya dan bertanya:

يَا إِلَهِي، كَيْفَ أَصِلُ إِلَيْكَ؟
فَقَالَ لِي: دَعْ نَفْسَكَ ثُمَّ تَعَالَ.
(al-Barīqah ‘alā Syarḥ aṭ-Ṭarīqah, hlm. 417)

Artinya:
“Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa sampai kepada-Mu?”
Allah menjawab: “Tinggalkan dirimu, kemudian datanglah kepada-Ku.”

Hikmah Zuhud dan Kesadaran Ruhani

Dalam Riyāḍuṣ Ṣāliḥīn disebutkan syair berikut:

إِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا فُطَنًا
طَلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَنَا
نَظَرُوا فِيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا
أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنًا
جَعَلُوهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوا
صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيهَا سُفُنًا

Maknanya:
Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas.
Mereka meninggalkan dunia dan takut terhadap fitnahnya.
Mereka memandang dunia, lalu mengetahui bahwa ia bukanlah tempat tinggal yang abadi.
Maka mereka menjadikan dunia sebagai samudra,
dan amal saleh sebagai perahu mereka.

Ma‘rifat Diri dan Ma‘rifat Tuhan

Imam Aḥmad bin Ḥanbal pernah ditanya tentang ungkapan:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ

Beliau menjawab:

مَنْ عَرَفَ رُوحَهُ عَرَفَ رَبَّهُ

Artinya:
“Barang siapa mengenal ruhnya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Kemudian beliau membacakan hadis:

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَتَى كُنْتَ نَبِيًّا؟
قَالَ: وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ.

(HR. Aḥmad, al-Bukhārī dalam Tārīkh-nya, aṭ-Ṭabrānī, al-Ḥākim, al-Baihaqī, dan Abū Nu‘aim)

Hadis ini menunjukkan bahwa pengenalan terhadap Allah SWT berkaitan erat dengan kesadaran ruhani yang mendalam.

Penutup Doa

وَمَا لَنَا رَبُّنَا سِوَاكَ يَا حَسْبَنَا
يَا ذَا الْعُلَى وَالْغِنَى
وَيَا قَوِيُّ يَا مَتِينُ

Artinya:
“Wahai Tuhanku, tiada Tuhan bagiku selain Engkau.
Wahai Dzat Yang mencukupi kami.
Wahai Dzat Yang memiliki keluhuran dan kekayaan.
Wahai Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh.”


MEMPERBANYAK BERDO’A

Do’a merupakan inti dari ibadah seorang hamba kepada Allah Swt. Seluruh bentuk penghambaan, baik yang lahir maupun batin, bermuara pada sikap tunduk, berharap, dan bersandar hanya kepada-Nya. Oleh karena itu, memperbanyak do’a menjadi salah satu amalan utama dalam majelis dzikir maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Do’a sebagai Inti Ibadah

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
اَلدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ
(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Makna “sumsum ibadah” adalah bahwa ibadah tidak dapat tegak tanpa do’a, sebagaimana tubuh manusia tidak dapat berdiri tanpa sumsum tulang. Dengan do’a, seorang hamba menampakkan kebutuhan, ketergantungan, dan penghambaan total kepada Allah Swt.
(Murqātul Mafātīḥ ‘alā Syarḥi Misykātil Maṣābīḥ, Juz V, hlm. 120)

Do’a adalah Amal yang Paling Mulia di Sisi Allah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ
(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ)

Do’a mengandung pengakuan kelemahan, kebutuhan, kerendahan hati, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kekuasaan Allah Swt. Keadaan inilah yang menjadikan do’a sebagai amal paling mulia, sekaligus ciri khas para kekasih dan wali-wali Allah.
(Murqātul Mafātīḥ, Juz V, hlm. 120)

Do’a Bermanfaat untuk Bala’ yang Sudah dan Belum Turun

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ … فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ
(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Do’a menjadi sebab tertolaknya bala’ dan datangnya rahmat, sebagaimana perisai menolak senjata dan air menjadi sebab tumbuhnya tanaman. Dalam do’a terkandung kehadiran hati dan rasa butuh kepada Allah, yang merupakan puncak ibadah dan dasar ma’rifat.
(Murqātul Mafātīḥ, Juz V, hlm. 122)

Setiap Do’a Pasti Dikabulkan dengan Berbagai Cara

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللهَ إِلَّا آتَاهُ اللهُ إِيَّاهَا، أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Tidak ada do’a seorang Muslim yang sia-sia, selama tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahim. Jika do’a tidak dikabulkan secara langsung, maka Allah Swt akan menggantinya dengan penolakan bala’, pengampunan dosa, atau pahala yang disimpan di akhirat.
(Al-Futūḥāt ar-Rabbāniyyah, Juz VII, hlm. 174)

Bentuk-bentuk Pengabulan Do’a

Dari hadis-hadis di atas dapat disimpulkan bahwa pengabulan do’a memiliki beberapa bentuk, antara lain:

  1. Dikabulkan secara langsung.

  2. Dikabulkan dengan penundaan waktu.

  3. Dikabulkan dengan diberi kesabaran dan keridhaan.

  4. Dikabulkan dengan dipalingkannya bala’ yang telah ditakdirkan.

  5. Dikabulkan dengan pengampunan dosa.

  6. Dikabulkan dengan pahala berlipat di akhirat.

Berdo’a Harus Disertai Keyakinan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ
(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Allah Swt tidak mengabulkan do’a yang diucapkan dengan hati lalai dan tidak sungguh-sungguh. Do’a harus diiringi keyakinan penuh, kehadiran hati, dan kesadaran bahwa seorang hamba sedang menghadap langsung kepada Tuhannya.
(Murqātul Mafātīḥ, Juz V, hlm. 125)

Meminta Segala Kebutuhan atau Menyerahkan Sepenuhnya

Hadis-hadis Nabi Saw menunjukkan dua keadaan:

a. Anjuran untuk meminta segala kebutuhan, bahkan yang paling kecil.
b. Anjuran untuk sibuk dengan dzikir dan pasrah sepenuhnya kepada Allah Swt.

Keduanya benar, tergantung kondisi batin seorang hamba. Dzikir yang disertai keyakinan dan kehadiran hati pada hakikatnya juga merupakan do’a.

Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim As.:

حَسْبِي مِنْ سُؤَالِي عِلْمُهُ بِحَالِيْ
“Cukuplah bagiku ilmu Allah tentang keadaanku.”

Perbanyak Do’a di Waktu Lapang

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشِّدَّةِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ
(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Istiqamah mendekatkan diri kepada Allah Swt di waktu lapang akan mendatangkan pertolongan-Nya di waktu sempit, sebagaimana kisah Nabi Yunus As. yang diselamatkan karena kebiasaannya bertasbih.


PENUTUP

يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Oleh karena itulah, ciri khas Jama’ah Manaqib Al-Qodiri Jember adalah selalu menutup Istighotsah dengan seruan:

يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Penutupan ini tidak sekadar lafaz, tetapi dilengkapi dengan untaian syi’ir yang sarat makna, sebagai bentuk penghambaan, pengakuan, dan penyerahan diri kepada Allah Swt., dengan wasilah kekasih-kekasih-Nya.

Syi’ir Penutup Istighotsah

بِبَرَكَةِ وَكَرَامَةِ الشَّيْخِ (هُوَ) عَبْدُ الْقَادِرِ (هُوَ) وَلِيُّ اللهِ
بِشَفَاعَةِ النَّبِيِّ (هُوَ) مُحَمَّدٌ بِإِذْنِ اللهِ وَرِضَى اللهِ

Di dalam rangkaian syi’ir ini terkandung tiga bentuk cinta, yang menjadi ruh ajaran Islam, sekaligus menjadi syi’ar utama Jama’ah Manaqib, yaitu:

  1. Cinta kepada para Wali Allah Swt.

  2. Cinta kepada Nabi Muhammad Saw.

  3. Cinta kepada Allah Swt.

Ketiga bentuk cinta ini berakar pada firman Allah Swt.:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا
(المائدة: 55)

“Sesungguhnya yang kalian cintai dan jadikan wali hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Mā’idah: 55)

Yang dimaksud dengan orang-orang beriman dalam ayat ini adalah orang-orang shalih dan para wali Allah Swt.

A. Cinta kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra.

Cinta kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. pada hakikatnya bukan cinta yang terbatas pada satu pribadi, melainkan cinta kepada seluruh wali Allah Swt., sejak Nabi Adam As. hingga hari kiamat.

Penyebutan nama:

اَلشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيُّ وَلِيُّ اللهِ

mengandung kaidah:

اَلْجُزْءُ يُرَادُ بِهِ الْكُلُّ
(yang disebut sebagian, tetapi yang dimaksud adalah keseluruhan).

Sebagaimana ungkapan:

“Jika bulan Ramadhan, santri Al-Qodiri berpuasa.”

Maknanya bukan hanya santri Al-Qodiri saja, tetapi seluruh kaum Muslimin di dunia berpuasa hingga hari kiamat.

Imam Abu Yazid Al-Busthami ra. pernah ditanya:

قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي يَزِيدَ الْبُسْطَامِيِّ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ أَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللهِ
فَقَالَ: أَحْبِبْ أَوْلِيَاءَهُ لِيُحِبُّوكَ، فَإِنَّهُ يَنْظُرُ فِي قُلُوبِهِمْ، فَلَعَلَّهُ أَنْ يَجِدَ اسْمَكَ فِي قَلْبِ وَلِيِّهِ فَيَغْفِرَ لَكَ
(القرطاس، ج 2، ص 463)

Artinya:
“Cintailah para wali Allah, agar mereka mencintaimu. Sebab Allah melihat ke dalam hati mereka. Bisa jadi Dia menemukan namamu di dalam hati salah satu wali-Nya, lalu Allah mengampunimu.”

B. Cinta kepada Nabi Muhammad Saw.

Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. mencakup cinta kepada seluruh para nabi dan rasul, para malaikat, khususnya Malaikat Muqarrabun dan para pemikul ‘Arsy, karena mereka senantiasa mendo’akan orang-orang beriman.

Terutama Rasulullah Saw., yang tetap mendo’akan umatnya meskipun telah berada di alam barzakh, sebagaimana sabda beliau:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
حَيَاتِي خَيْرٌ لَكُمْ تُحَدِّثُونَ وَيُحَدَّثُ لَكُمْ، وَوَفَاتِي خَيْرٌ لَكُمْ، تُعْرَضُ عَلَيَّ أَعْمَالُكُمْ، فَمَا رَأَيْتُ مِنْ خَيْرٍ حَمِدْتُ اللهَ عَلَيْهِ، وَمَا رَأَيْتُ مِنْ شَرٍّ اسْتَغْفَرْتُ اللهَ لَكُمْ
(رواه البزار بسند صحيح، مجمع الزوائد، ج 9، ص 24)

Artinya:
“Hidupku adalah kebaikan bagi kalian, dan wafatku pun kebaikan bagi kalian. Amal-amal kalian diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat kebaikan, aku memuji Allah, dan jika aku melihat keburukan, aku memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian.”

C. Cinta kepada Allah Swt. dengan Mencari Ridha-Nya

Cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah Swt., yang diwujudkan dengan keikhlasan total dalam ketaatan. Apabila seorang hamba telah ikhlas, maka seluruh gerak hidupnya menjadi ibadah.

Makna ini dijelaskan dalam keterangan para ulama:

“Apabila seorang hamba telah mengikhlaskan ketaatannya kepada Allah Swt., maka seluruh perbuatannya menjadi karena Allah. Ia tidak mendengar, melihat, melangkah, dan bertindak kecuali dalam ketaatan kepada-Nya, serta senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dalam segala hal.”

(Al-Qirṭās, Juz II, hlm. 477)

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. berkata:

“Demi Allah, aku tidak minum hingga dikatakan kepadaku: ‘Wahai Abdul Qadir, minumlah dengan hak-Ku.’ Aku tidak makan hingga dikatakan kepadaku: ‘Makanlah dengan hak-Ku.’ Aku dijaga dari kebinasaan. Tahun, bulan, minggu, dan hari datang memberi salam dan memberitahuku apa yang akan terjadi di dalamnya.”

Pada suatu ketika beliau berkata:

“Apabila kalian memohon kepada Allah Swt., maka mohonlah kepada-Nya dengan wasilah aku.”
(An-Nūr Al-Burhānī, hlm. 97)

Hal ini selaras dengan firman Allah Swt.:

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
(المائدة: 35)

وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
(التوبة: 119)

Dan sabda Nabi Saw.:

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
(متفق عليه)

Para arif billah berkata:

“Jadilah engkau bersama Allah. Jika engkau belum mampu, maka bersamalah dengan orang yang bersama Allah.”

Dan para ahli thariqah berkata:

“Fana’ bersama guru adalah awal dari fana’ di hadapan Allah Swt.”
(Tanwīrul Qulūb fī Mu‘āmalāti ‘Allāmil Ghuyūb, hlm. 512)


Apa Maksud “Fana’ bersama guru adalah awal dari fana’ di hadapan Allah Swt.”?

Kalimat ini bukan berarti:

  • menyembah guru ❌

  • melebur diri ke dalam diri guru ❌

  • menggantungkan hidup pada guru ❌

Tetapi bermakna tarbiyah (pendidikan ruhani).

Intinya satu:

Guru hanyalah sarana (wasilah), bukan tujuan.
Tujuan akhirnya tetap Allah Swt.

Makna “Fana’” dalam Tasawuf (biar tidak salah paham)

Dalam tasawuf Ahlussunnah, fana’ berarti:

Luluhnya ego, hawa nafsu, dan kehendak pribadi,
bukan hilangnya akal, syariat, atau kesadaran.

Bukan pingsan spiritual, bukan hilang diri, bukan kesurupan.

Fana’ = ego dikalahkan, bukan diri dihapus.

Lalu, Apa Itu “Fana’ bersama Guru”?

Makna sederhananya:

Melatih diri untuk menundukkan ego dengan bimbingan guru yang shalih.

Kenapa harus guru?
Karena ego tidak bisa melihat ego sendiri.

Praktik “Fana’ bersama Guru” dalam Kehidupan Nyata

Berikut praktiknya, konkret dan syar’i, bukan mistik aneh-aneh.

1. Mengalahkan Ego, Bukan Menghilangkan Akal

Contoh praktik:

  • Guru menasihati → kita terima walau terasa pahit

  • Guru menegur → kita diam dan muhasabah

  • Guru berbeda pendapat → kita tidak merasa paling benar

Yang “fana” di sini adalah kesombongan diri, bukan logika.

2. Mendahulukan Adab daripada Perasaan

Imam Malik berkata:

“Pelajarilah adab sebelum ilmu.”

Praktik fana’:

  • Tidak memotong ucapan guru

  • Tidak membantah dengan emosi

  • Tidak menjelekkan guru di belakang

  • Tidak membandingkan guru dengan guru lain

Ini latihan mematikan nafsu ingin menang sendiri.

3. Meniru Akhlak, Bukan Mengkultuskan

Fana’ bersama guru bukan meniru semua hal, tapi:

  • meniru akhlaknya

  • meniru cara ibadahnya

  • meniru kesederhanaannya

  • meniru kehati-hatiannya pada syariat

Kalau guru salah secara syariat, tidak diikuti.

4. Taat dalam Kebaikan, Bukan Taat Buta

Dalam tasawuf Ahlussunnah:

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah.”

Praktik fana’:

  • Melaksanakan amalan yang diajarkan guru

  • Menjaga wirid sesuai tuntunan

  • Konsisten walau malas

  • Tidak menambah-nambahi sendiri karena merasa “sudah tinggi”

Yang “fana” adalah kehendak liar, bukan kebebasan berpikir.

5. Menyerahkan Proses, Bukan Menyerahkan Akidah

Guru:

  • membimbing jalan

  • mengingatkan bahaya

  • meluruskan niat

Bukan:

  • penentu surga-neraka

  • pengganti Allah

  • sumber keselamatan

Maka fana’ bersama guru = disiplin ruhani, bukan ketergantungan batin.

Kenapa Ini Disebut “Awal dari Fana’ kepada Allah”?

Karena ego manusia terlalu besar untuk langsung “fana’ kepada Allah”.

Maka:

  1. Ego dilatih tunduk kepada bimbingan manusia shalih

  2. Setelah ego jinak → lebih mudah tunduk kepada perintah Allah

  3. Akhirnya:

    • shalat tanpa pamrih

    • taat tanpa tawar-menawar

    • ikhlas tanpa ingin dipuji

Di situlah fana’ fi Allah bermula.

Ringkasnya

“Fana’ bersama guru adalah proses pendidikan ruhani untuk menundukkan ego dan hawa nafsu melalui adab, ketaatan dalam kebaikan, serta bimbingan seorang mursyid yang shalih. Proses ini bukan tujuan akhir, melainkan pintu awal agar seorang hamba mampu tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah Swt. dengan ikhlas dan istiqamah.”


Apa Itu Ego?

Ego adalah rasa “aku” yang ingin selalu diutamakan.

Secara sederhana:

Ego = keakuan yang ingin menang, diakui, dituruti, dan dibenarkan.

Ego bukan selalu dosa, tapi kalau dibiarkan, dia jadi sumber banyak penyakit hati.

Ego dalam Bahasa Sehari-hari

Ego itu muncul ketika seseorang:

  • ingin selalu benar

  • sulit menerima nasihat

  • tidak mau disalahkan

  • ingin diakui, dipuji, dihormati

  • merasa lebih tahu, lebih suci, lebih paham

Contoh kalimat ego:

  • “Saya sudah paling benar.”

  • “Kenapa harus ikut dia?”

  • “Saya lebih pengalaman.”

  • “Pendapat saya saja yang dipakai.”

Ego dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, ego sangat dekat dengan:

  • nafsu

  • takabbur

  • ujub

  • riya’

  • hubbud dunya (cinta dunia)

Allah berfirman:

“Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.”
(QS. Al-Isra: 37)

Ego vs Diri Sejati

Penting ini 

  • Ego = keakuan palsu (dibangun oleh gengsi, ambisi, citra)

  • Diri sejati = hamba Allah yang lemah dan butuh pertolongan-Nya

Ego berkata:

“Aku mampu.”

Hati yang bersih berkata:

“Aku butuh Allah.”

Ego dalam Tasawuf

Dalam tasawuf, ego sering disebut:

  • nafs

  • ananiyyah (keakuan)

  • hijab (penghalang)

Para sufi mengatakan:

“Yang menghalangi hamba dengan Allah bukan jarak, tapi ego.”

Contoh Ego yang Halus (Ini yang Bahaya)

Ego tidak selalu kasar. Kadang halus banget:

  • Merasa paling ikhlas

  • Merasa paling tawadhu’

  • Merasa sudah tidak punya ego

Ini yang disebut:

ego spiritual

Makanya para ulama selalu takut pada dirinya sendiri, bukan pada orang lain.

Bagaimana Ego Dikendalikan?

Bukan dimusnahkan, tapi ditundukkan.

Caranya:

  1. Menerima nasihat

  2. Belajar diam saat emosi

  3. Mau mengalah

  4. Tidak haus pujian

  5. Merasa butuh Allah setiap saat

Doa Nabi ﷺ:

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau sekejap mata.”

Ringkasan Singkat

Ego adalah rasa “aku” yang ingin menang dan diutamakan.
Dalam tasawuf, ego adalah penghalang terbesar menuju keikhlasan dan kedekatan dengan Allah.

Tugas seorang hamba bukan membunuh ego, tetapi menjadikannya tunduk kepada Allah


Posting Komentar untuk "Pembahasan Ya Arhamarrohimin"