Soal UAS Tarbiyatul Manaqib Kelas 1 G

 

 

1.Anda telah berpartisipasi dalam Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, baik secara langsung di Pesantren Al-Qodiri atau melalui platform virtual. Lakukan analisis mendalam terhadap susunan acara Dzikir Manaqib tersebut, mulai dari pembukaan hingga penutupan. Identifikasi dan uraikan secara sistematis setiap tahapan acara, termasuk bacaan-bacaan yang dilantunkan di setiap sesi. Evaluasi bagaimana setiap elemen dalam susunan acara tersebut berkontribusi pada pengalaman spiritual dan pemahaman peserta terhadap ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

2.Ada tiga macam tawasul yang utama dan disepakati sebagian besar ulama, yaitu: (1) Tawasul dengan Amalan Saleh (seperti bersedekah, berselawat); (2) Tawasul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah (seperti menyebut Allah sebagai "Ar-Rahman" saat meminta rahmat); dan (3) Tawasul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup (meminta orang saleh untuk mendoakan kita). Jelaskan ketiga jenis tawasul ini secara mendalam, termasuk dalil-dalil yang mendukungnya, contoh-contoh praktisnya, serta adab-adab yang perlu diperhatikan dalam melakukannya.

3.Partisipasi dalam majelis manaqib seringkali didorong oleh keinginan untuk memperoleh barokah. Lakukan analisis mendalam terhadap konsep barokah dalam Islam, meliputi definisi, sumber-sumber, dan manifestasinya dalam kehidupan. Telaah motivasi individu dalam mencari barokah melalui majelis manaqib. Evaluasi dampak nyata dari keyakinan terhadap barokah terhadap perilaku sosial, ekonomi, dan spiritual individu dan masyarakat.

4.Analisislah perbedaan pandangan yang berkembang di tengah umat Islam terkait Shalawat Nariyah, yang oleh sebagian kalangan dipandang sebagai amalan yang memiliki keutamaan dalam melancarkan rezeki, membuka pintu kebaikan, mengabulkan hajat, serta menjadi wasilah pelepas kesusahan sehingga dikenal pula dengan sebutan Shalawat Tafrijiyah. Di sisi lain, terdapat kelompok yang menolak praktik tersebut dengan alasan tertentu dan bahkan menganggapnya sebagai bentuk bid‘ah. Berdasarkan uraian tersebut, jelaskan alasan yang melatarbelakangi sikap kelompok yang mendukung dan kelompok yang menentang Shalawat Nariyah. Selanjutnya, analisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan pandangan tersebut, khususnya yang berkaitan dengan perbedaan pemahaman terhadap konsep bid‘ah dan tawassul. Akhiri jawaban Anda dengan kesimpulan kritis yang mencerminkan sikap moderat dan bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.


58 komentar untuk "Soal UAS Tarbiyatul Manaqib Kelas 1 G"

Baharudin Yusuf Habibi 11 Januari 2026 pukul 06.06 Hapus Komentar
Nama : Baharudin Yusuf Habibi
Kls : 1G
Nim : 251269047
Matkul : Tarbiyatul Manaqib
Pengampu Dosen : Fikri Farikhin, M. Pd. I
Tugas : UAS Semester 1

1. Struktur dan Makna Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
a. Pembukaan (basmalah, hamdalah, shalawat)
Membangun suasana sakral dan menghadirkan kyai/guru sebagai pusat sanad spiritual.
b. Tawassul dan istighatsah
Menghubungkan jamaah dengan jaringan spiritual para nabi dan wali, menumbuhkan kesadaran bahwa doa bersifat kolektif dan bersanad.
c. Dzikir dan shalawat
Berfungsi sebagai tazkiyatun nafs(penyucian jiwa) dan pemusatan hati kepada Allah.
d. Pembacaan manaqib
Menanamkan teladan akhlak, keikhlasan, dan kezuhudan Syekh Abdul Qadir sebagai model insan kamil.
e. Doa penutup
Puncak spiritual, karena hati telah disiapkan secara ruhani.
Seluruh rangkaian ini membentuk pengalaman spiritual yang utuh: membersihkan jiwa, menanamkan teladan, dan menguatkan harapan kepada Allah.

2. Tiga Bentuk Tawassul
a. Tawassul dengan amal saleh
Seperti sedekah dan shalat. Dalilnya kisah tiga orang di gua (HR. Bukhari-Muslim).
b. Tawassul dengan Asmaul
Berdasarkan QS. Al-A’raf: 180, berdoa dengan menyebut nama dan sifat Allah.
c.Tawassul dengan doa orang saleh
Seperti sahabat meminta Nabi atau Umar meminta Abbas berdoa saat kemarau.
Adab tawassul: tetap meyakini bahwa hanya Allah yang mengabulkan, tawassul hanya sebagai perantara.

3. Barokah dalam Majelis Manaqib
Barokah adalah bertambahnya kebaikan dari Allah,
Majelis manaqib diyakini menghadirkan barokah karena berisi: dzikir, shalawat, doa, keteladanan wali
Dampaknya:
a. Spiritual:iman lebih kuat
b. Sosial:akhlak lebih baik
c. Ekonomi:hidup terasa cukup dan tenang

4. Perbedaan Pandangan tentang Shalawat Nariyah
a. Pendukung:
Menganggapnya sebagai dzikir dan shalawat yang sah serta sarana mendekatkan diri kepada Allah.
b. Penolak:
Khawatir terjadi keyakinan berlebihan seolah shalawat itu sendiri menjamin terkabulnya hajat.
c. Akar perbedaan:
Perbedaan pemahaman tentang bid’ah dan tawassul
d. Sikap moderat:
Shalawat Nariyah boleh diamalkan sebagai dzikir, selama diyakini bahwa yang memberi manfaat hanyalah Allah, bukan bacaan itu sendiri.
Vadilatul Hasanah 12 Januari 2026 pukul 03.34 Hapus Komentar
Nama: Vadilatul Hasanah
Kelas: 1G
NIM: 2509661041
Prodi: Hukum Keluarga Islam
Matkul: Tarbiyatul Manaqib

Bagian 1
1. Pembukaan majelis:
a). sambutan & ta’zim, berisi salam kpd jama’ah, kata tertib, serta niat bersama mengikuti majelis, fungsi spiritual (menyatukan niat semua peserta, mempererat persaudaraan, dan menciptakan ketenangan batin).
b). basmalah & tahlil awal majelis mempunyai makna: menyandarkan seluruh rangkaian dzikir kpd Allah agar acara menjadi berkah.

• Sholawat Nabi:
a). Sholawat Nariyah fungsi mengangkat hati menuju keadaan spiritual lebih halus, menghadirkan kecintaan kpd Rasul, membuka tabir hati utk menerima makna dzikir.

• Dzikir utama & Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani:
a). Dzikir multijayer, dzikir bin sanad tradisi Qadiriyah.
b). Manaqib (kisah kewalian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani).

• Dzikir khusus/penutup
• Do’a akhir majelis

2. a). Tawassul dengan amalan shaleh, memohon kpd Allah dg sebab amal shaleh yg pernah dilakukan, baik oleh diri sendiri maupun orang lain (sedekah, puasa, dzikir, bersholawat atas Nabi ﷺ).
• Para ulama membolehkan tawassul ini berdasar pd firman Allah: “…dan berbuat baiklah (kpd orang tua, kerabat, anak yatim & orang miskin), & ucapkanlah kpd dirimu perkataan yg baik…” (Q.S. Al-Baqarah: 83) & Do’a Nabi Muhammad saw: “Wahai Allah aku mohon dg segala amal shaleh yg aku lakukan”.
• Contoh praktik: saat berdo’a agar dikabulkan hajat, kamu berkata: “Ya Allah, aku mohon dg sedekah yg telah aku keluarkan & dg sholawat kpd Nabi Muhammad agar Engkau kabulkan hajatku.”
• Adab: niat tawassul hanya kpd Allah, amalan itu adlh sebab, bukan yg berkuasa, dan jangan meyakini sedekah/sholawat sbg pihak yg mengabulkan.

b). Tawassul dengan Asmaul Husna & sifat Allah, adlh memohon kpd Allah dg menyebut nama-Nya yg mulia & sifat-Nya yg agung (spt menyebut ar-Rahman ketika meminta rahmat, Al-Ghaffar meminta ampun).
• Para ulama menyatakan bahwa menyebut Asmaul Husna itu cara paling utama dlm berdo’a. “Dan Tuhanmu Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat…” sehingga kita memohon ampunan kepada-Nya.
• Contoh: “Ya Allah, Ya Rabbal ‘Alamin, dengan segala ampunan-Mu (Al-Ghaffar) ampuni dosa kami yg telah lalu & yg akan datang.”
• Adab: kenali nama & sifat yg disebut, berdzikir dg khusyuk & yakin.

c). Tawassul melalui orang shaleh yg masih hidup, meminta orang yg masih hidup & dikenal shaleh untuk mendo’akan kita kpd Allah.
• Dalil yg mendukung: para sahabat sering saling minta di do’akan, Nabi bersabda: “Do’a seorang muslim utk saudaranya adlh mustajab (dikabulkan).” H.R. Muslim.
• Contoh: datang kpd kiai untuk minta di do’akan agar nilai ujian baik.
• Adab: minta secara baik dan sopan, sadar bahwa yg punya kekuatan hanya Allah.

Vadilatul Hasanah 12 Januari 2026 pukul 03.34 Hapus Komentar
Nama: Vadilatul Hasanah
Kelas: 1G
NIM: 2509661041
Prodi: Hukum Keluarga Islam
Matkul: Tarbiyatul Manaqib

Bagian 2

3. Barokah adalah bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair). Sumber barokah adlh Allah swt.
a). Barokah dr Allah langsung: rezeki, ilmu, keluarga, pekerjaan.
b). — dari amal shaleh: dzikir, sholawat, sedekah, puasa, membaca al-qur’an.

c). Barokah dr orang shaleh: do’a, teladan, & keberadaan, orang shaleh sering dianggap sbg wasilah munculnya barokah.

Dalam Islam, barokah adlh Rahmat Allah yg nyata dalam kehidupan yg dijaga dengan tauhid yg benar, ibadah yg ikhlas, akhlak mulia, usaha yg halal.

4. Sholawat Nariyah dikenal luas di kalangan umat Islam, khususnya di dunia tasawuf & pesantren sbg sholawat yg dibaca dengan jumlah tertentu biasanya 4444 kali.
Disebut juga sholawat Tafrijiyah, yg berarti melepaskan kesempitan.

• Argumen pendukung utama:
a). sholawat sbg do’a
b). pengalaman spiritual (tajribah).

• Pandangan tentang tawassul, sholawat Nariyah dipahami sbg tawassul dg amal shaleh, tauhid tetap terjaga karena Allah adlh satu-satunya yg mengabulkan do’a.

• Pandangan kelompok yg menentang sholawat Nariyah (Salafi-tekstualis):
a). tidak ada contoh spesifik dr Nabi
b). kekhawatiran penyimpangan aqidah
c). penolakan terhadap konsep bid’ah hasanah.

Sikap yg perlu dikembangkan: tidak saling menyalahkan, tidak merasa paling benar, menghormati khilafiyah mu’tabarah, menguatkan tauhid, akhlak dan ukhuwah.

Perdebatan ttg sholawat Nariyah tidak semata-mata berkisar pd lafadz sholawat itu sendiri, melainkan pd perbedaan manhaj dalam memahami agama. Perbedaan metodologi dalil: kelompok pro mengandalkan riwayat lemah (dha’if) & karomah sufi, sementara kontra bersikap tekstualis pd hadits mutawatir. Interpretasi konsep bid’ah (sbg kemungkinan hasanah vs hasanah), sumber tawassul (via makhluk vs Allah semata) memperlebar jurang, dipengaruhi latar mazhab (sufi vs salafi). Sikap moderat menghargai ikhtilaf sbg rahmat, mendorong fokus pd sholawat Nabawi yg mutawatir sambil menghindari fanatisme demi persatuan umat.
Muhammad aliyuddin asshiddiqi 12 Januari 2026 pukul 03.47 Hapus Komentar
1. Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan tradisi keagamaan yang telah mengakar kuat di lingkungan pesantren dan masyarakat Islam tradisional, khususnya dalam lingkup Ahlussunnah wal Jama’ah. Kegiatan ini tidak sekadar ritual spiritual, tetapi juga sarana pendidikan akhlak dan penguatan nilai-nilai tasawuf.
Acara manaqib umumnya diawali dengan pembukaan dan tawassul. Tawassul dilakukan dengan menyebut Nabi Muhammad SAW, para sahabat, para ulama, serta secara khusus Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Praktik ini didasarkan pada pemahaman bahwa orang-orang saleh memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Dalil umum yang sering dijadikan dasar adalah QS. Al-Ma’idah ayat 35 yang memerintahkan umat Islam untuk mencari wasilah (perantara) dalam mendekatkan diri kepada Allah. Secara spiritual, tahap ini berfungsi menyiapkan batin peserta agar lebih khusyuk dan rendah hati.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan dzikir dan wirid, seperti istighfar, tahlil, dan shalawat. Dzikir merupakan perintah langsung dari Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 41. Pengulangan dzikir secara kolektif menciptakan suasana religius yang mendalam, membantu peserta mengosongkan hati dari kesibukan duniawi dan menghadirkan kesadaran akan kehadiran Allah SWT.
Tahap inti adalah pembacaan manaqib, yaitu kisah perjalanan hidup, keilmuan, akhlak, dan karamah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam perspektif pendidikan Islam, pembacaan manaqib berfungsi sebagai media keteladanan (uswah hasanah). Peserta tidak hanya mengenal sosok wali Allah, tetapi juga belajar nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, tawakal, dan kecintaan kepada Allah. Hal ini sejalan dengan konsep tarbiyah ruhaniyah dalam tasawuf.
Acara kemudian ditutup dengan doa penutup, yang dipanjatkan secara berjamaah. Doa ini menjadi puncak spiritual karena seluruh rangkaian dzikir dan pembacaan manaqib bermuara pada permohonan kepada Allah SWT. Dengan susunan yang sistematis tersebut, Dzikir Manaqib berperan penting dalam membentuk kesadaran spiritual, memperkuat iman, serta menanamkan kecintaan terhadap ulama dan tradisi Islam.
2.Tawassul dalam Islam dipahami sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui perantara yang dibenarkan syariat. Mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jama’ah membagi tawassul ke dalam tiga bentuk utama.
Pertama, tawassul dengan amal saleh. Dalil utamanya adalah hadis tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua (HR. Bukhari dan Muslim). Mereka bertawassul dengan amal terbaik yang pernah dilakukan, lalu Allah mengabulkan doa mereka. Contoh praktiknya adalah bersedekah atau membaca shalawat sebelum berdoa. Adab dalam tawassul ini adalah keikhlasan dan tidak menjadikan amal sebagai alat untuk menyombongkan diri.
Kedua, tawassul dengan Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah. Hal ini berdasarkan QS. Al-A’raf ayat 180 yang memerintahkan berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang indah. Misalnya, menyebut “Ya Al-Ghaffar” ketika memohon ampunan. Tawassul ini menegaskan prinsip tauhid karena fokus sepenuhnya tertuju kepada Allah SWT.
Ketiga, tawassul dengan doa orang saleh yang masih hidup. Praktik ini telah dilakukan sejak masa Nabi Muhammad SAW, ketika para sahabat meminta Rasulullah untuk mendoakan mereka. Setelah wafatnya Nabi, para sahabat juga meminta doa kepada orang-orang saleh lainnya. Adab penting dalam tawassul ini adalah tidak meyakini bahwa orang saleh tersebut memiliki kekuatan independen, melainkan hanya sebagai perantara doa.
Ketiga bentuk tawassul ini menunjukkan bahwa Islam tidak menutup ruang pendekatan spiritual, selama tidak keluar dari prinsip tauhid.
Muhammad aliyuddin asshiddiqi 12 Januari 2026 pukul 03.58 Hapus Komentar
3. Barokah secara bahasa berarti bertambah dan berkembang dalam kebaikan. Dalam Islam, barokah merupakan karunia Allah SWT yang dapat diberikan kepada waktu, tempat, orang, dan amal tertentu. Dalil tentang barokah antara lain terdapat dalam QS. Al-A’raf ayat 96 yang menyebutkan bahwa ketaatan akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi.
Majelis manaqib diyakini sebagai salah satu sarana memperoleh barokah karena di dalamnya terdapat dzikir, shalawat, doa, dan majelis ilmu. Motivasi individu mengikuti majelis ini biasanya bukan semata-mata materi, tetapi juga ketenangan batin dan keselamatan hidup.
Dampak keyakinan terhadap barokah terlihat dalam berbagai aspek kehidupan. Secara spiritual, individu menjadi lebih rajin beribadah. Secara sosial, tumbuh sikap saling menghormati dan solidaritas. Secara ekonomi, barokah diwujudkan dalam rasa cukup, bukan sekadar banyaknya harta.
Dengan demikian, barokah bukan konsep abstrak, melainkan nilai hidup yang memengaruhi perilaku individu dan masyarakat
4. Shalawat Nariyah dipandang oleh sebagian ulama dan masyarakat sebagai amalan yang memiliki fadhilah besar, terutama dalam menghadapi kesulitan hidup. Pendukungnya berargumen bahwa shalawat ini termasuk doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, yang secara substansi tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebaliknya, kelompok yang menolak Shalawat Nariyah berpendapat bahwa amalan ini tidak memiliki dasar hadis sahih secara tekstual dan dikhawatirkan mengandung unsur bid’ah. Perbedaan ini berakar pada perbedaan pendekatan terhadap konsep bid’ah. Ulama Aswaja mengenal konsep bid’ah hasanah, sementara kelompok lain memahami semua bid’ah sebagai sesat.
Sikap yang bijak adalah menghormati perbedaan pendapat dan tidak mudah menghakimi praktik keagamaan orang lain.
5. Perdebatan Shalawat Nariyah pada dasarnya bersumber dari perbedaan metodologi dalam memahami dalil. Kelompok pro menekankan substansi doa, tradisi ulama, dan pengalaman spiritual. Sementara kelompok kontra menekankan dalil tekstual dan kehati-hatian dalam ibadah.
Perbedaan konsep bid’ah, tawassul, dan otoritas ulama menjadi faktor utama. Oleh karena itu, perbedaan ini seharusnya disikapi dengan pendekatan ilmiah dan sikap moderat agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah umat Islam.
MOH AINUR ROFIQ 12 Januari 2026 pukul 04.49 Hapus Komentar
NAMA :MOH AINUR ROFIQ
KELAS :1 G
PRODI :EKONOMI SYARIAH
NIM :2509629036

1.Dzikir manakip syech abdul qodir aljailani adalah amalan yang spiritual yang disusun secara bertahap untuk membangun kekusyuan, ketawadhuan, dan keteladanan akhlaq, susunan acaranya yaitu:a.pembukaan, diawali dengan niat, salam dan tawassul kepada Rasulullah SAW , para sahabat, ulama serta Syekh Abdul Qodir aljailani.B.pembacaan ayat alquran,biasanya surat al-fatihah, yasin dan ayat² pilihan. C, dikir dan sholawat , yaitu istigfar , tahlil, tasbih, dan solawat. D, Pembacaan manakip Syekh Abdul Qodir aljailani, berisi kisah² keteladanan, karomah dan akhlaq beliau. E, doa dan penutup
2.a. Tawassul dengan amal saleh
Seperti sedekah dan shalat. Dalilnya kisah tiga orang di gua (HR. Bukhari-Muslim).
b. Tawassul dengan Asmaul
Berdasarkan QS. Al-A’raf: 180, berdoa dengan menyebut nama dan sifat Allah.
c.Tawassul dengan doa orang saleh
Seperti sahabat meminta Nabi atau Umar meminta Abbas berdoa saat kemarau.
Adab tawassul: tetap meyakini bahwa hanya Allah yang mengabulkan, tawassul hanya sebagai perantara.
3. Barokah adalah bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair). Sumber barokah adlh Allah swt.
a). Barokah dr Allah langsung: rezeki, ilmu, keluarga, pekerjaan.
b). — dari amal shaleh: dzikir, sholawat, sedekah, puasa, membaca al-qur’an.

c). Barokah dr orang shaleh: do’a, teladan, & keberadaan, orang shaleh sering dianggap sbg wasilah munculnya barokah.

Dalam Islam, barokah adlh Rahmat Allah yg nyata dalam kehidupan yg dijaga dengan tauhid yg benar, ibadah yg ikhlas, akhlak mulia, usaha yg halal.
4.Shalawat Nariyah dipandang oleh sebagian ulama dan masyarakat sebagai amalan yang memiliki fadhilah besar, terutama dalam menghadapi kesulitan hidup. Pendukungnya berargumen bahwa shalawat ini termasuk doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, yang secara substansi tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebaliknya, kelompok yang menolak Shalawat Nariyah berpendapat bahwa amalan ini tidak memiliki dasar hadis sahih secara tekstual dan dikhawatirkan mengandung unsur bid’ah.Ulama Aswaja mengenal konsep bid’ah hasanah, sementara kelompok lain memahami semua bid’ah sebagai sesat.
Sikap yang bijak adalah menghormati perbedaan pendapat dan tidak mudah menghakimi praktik keagamaan orang lain.
5.Perdebatan Shalawat Nariyah pada dasarnya bersumber dari perbedaan metodologi dalam memahami dalil. Kelompok pro menekankan substansi doa, tradisi ulama, dan pengalaman spiritual. Sementara kelompok kontra menekankan dalil tekstual dan kehati-hatian dalam ibadah.
Perbedaan konsep bid’ah, tawassul, dan otoritas ulama menjadi faktor utama. Oleh karena itu, perbedaan ini seharusnya disikapi dengan pendekatan ilmiah dan sikap moderat agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah umat Islam.
Agus malik madani 12 Januari 2026 pukul 06.00 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Leni Faiqotul Hikmah 12 Januari 2026 pukul 06.20 Hapus Komentar
Nama : Leni Faiqotul Hikmah
Mapel : Tarbiyatul Manaqib
Prodi : Ekonomi Syariah
NIM : 2509629017
Kelas : I-G

1. (1) Pembacaan istighosah
Kontribusi Spiritual : - Mengalihkan fokus dari keresahan pribadi kepada kebesaran ilahi, - Menanamkan kepercayaan dan tawakal melalui pendekatan batin bahwa pertolongan bukan hanya dari manusia, tetapi dari Allah melalui syafa’at para wali yang dicintai, - Menjadi gerbang awal khusyuk menyiapkan para jamaah masuk ke tahap meditasi (muroqobah)
(2) Muroqobah 3x diawali dengan tawasul
Kontribusi Spiritual : - Membantu para jamaah menyingkirkan distraksi duniawi, fokus pada kehadiran dzat Allah SWT dalam diri diri, - Pengulangan sampai 3x memfasilitasi kondisi khusyuk dan rileks (mirip meditasi batin yang memusatkan kesadaran), - Meningkatkan rasa kedekatan pribadi dengan Tuhan.
(3). Doa
Kontribusi Spiritual : - Menjadi sarana untuk menyalurkan perasaan dan kesadaran batin setelah melakukan muroqobah, - Para jamaah mengubah ketenangan dan kesadaran hati menjadi doa serta permohonan yang nyata kepada Allah SWT, - Menguatkan sikap berserah dan bergantung langsung kepada Allah, bukan hanya kepada wali dan guru.
(4). Pembacaan Dzikir Manaqib + Ceramah
Kontribusi Sosial & kognitif : - Para jamaah mendapat pemahaman yang lebih dalam tentang makna setiap doa dan bacaan, bukan sekedar pengulangan lafadz, - Alunan dzikir secara kolektif memupuk perasaan kebersamaan (ukhuwah) dan kekhusyukan bersama, - Ceramah yang mendalam membantu peserta menerjemahkan pengalaman batin menjadi panduan untuk memperbaiki akhlak, kehidupan sosial, dan hubungan dgn Tuhan.
(5). Sholat hajat
Kontribusi Spiritual : - Menutup acara dengan ibadah yang bersifat langsung kepada Allah SWT, tanpa perantara, - Menyatukan kembali pengalaman dzikir batin dan pemahaman ceramah menjadi aksi ibadah yang konkret, - Memberi rasa pulang batin yang tenang dan terarah.
Rangkaian acara ini mengalir dari ketenangan batin (istighosah → muroqobah) ke permohonan, pemahaman dan tindakan nyata (doa → ceramah → sholat). setiap tahap saling menguatkan :

1. Istighosah dan Muroqobah menyiapkan batin peserta
2. Doa menyalurkan batin yang sudah tenang menjadi permohonan yang terarah
3. Dzikir manaqib & ceramah memadukan penghayatan dan pengetahuan, bukan hanya sekedar ritual tetapi refleksi mendalam
4. Sholat hajat menutup dgn ibadah formal yang mengukuhkan kembali hubungan langsung kepada Allah.

* Secara keseluruhan, susunan ini tidak hanya memperkuat pengalaman ritual tetapi juga memperdalam pemahaman ajaran syekh Abdul Qadir Al-jailani sebagai sarana untuk memperbaiki kualitas spiritual, moral dan kesadaran para jamaah.
Leni Faiqotul Hikmah 12 Januari 2026 pukul 06.23 Hapus Komentar
2. Tawassul adalah cara mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui perantara syar’i yang disepakati ulama’ Ahlussunnah.
Ada 3 macam tawassul:

1) Tawassul dengan amalan shaleh
Jenis tawassul ini dilakukan dengan menyebut amal kebaikan yang pernah dilakukan sendiri sebagai perantara saat berdoa, seperti sedekah, sholat sunnah, puasa sebagai permohonan dalam pengabulan hajat. Dalilnya yaitu Hadits riwayat bukhari muslim tentang pemuda yang terperangkap di goa, masing masing menyebut amal shalihnya seperti birrul walidain, sedekah. Contoh : “Ya Allah, dengan sedekah yang pernah aku keluarkan kepada fakir miskin / si fulan, kabulkan hajatku.”
Adabnya yaitu cenderung ikhlas menyebut amal terbaik, memulai doa dengan syukur dan sholawat Nabi serta yakin sepenuhnya kepada Allah SWT.

2) Tawassul dengan Asmaul Husna
Tawassul ini dengan menyebut Nama-nama Allah SWT seperti ya Rahman untuk meminta kasih sayang dll. Dalilnya : “Dan bagi Allah-lah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Nama-nama yang baik itu” (QS. Al-A’raf : 180).
Contohnya : “Ya Allah Yarohim, ampunilah dosaku dengan rahmatMu yang luas.”
Adabnya yaitu penting memahami makna Asmaul Husna, menghubungkannya tepat dengan kebutuhan, dan tidak menjadikannya jimat semata, tapi bagian doa hati yg tulus.

3) Tawassul dengan doa orang saleh yang masih hidup
Meminta orang shaleh yang masih hidup mendoakan kita secara langsung, karena doanya lebih mustajab disisi Allah SWT. Dalilnya yaitu banyak praktek sahabat meminta Nabi SAW untuk mendoakan mereka. Seperti dalam hadits riwayat tirmidzi tentang tawassul di zaman Nabi, serta pada QS. al-maidah : 35 yang memerintahkan mencari wasilah (perantara kebaikan). Contohnya : meminta orang tua atau ulama berdoa “Ya Allah, kabulkan doa fulan ini untukku.” Adabnya : menghormati orang shaleh tersebut, meminta dengan sopan tanpa memaksa, memilih yang dikenal shalihnya, dan tetap berdoa sendiri tanpa bergantung total.
3. Barokah didefinisikan sebagai kebaikan yang langgeng, bertambah dan melimpah dari Allah SWT mencakup aspek material maupun spiritual.
Sumber utamanya Allah dan Al-qur’an (QS Al-mulk : 1) serta nabi SAW, doa orang shaleh. Manifestasinya tampak pada kehidupan yang produktif, rezeki halal berkembang, hubungan harmonis dan ketakwaan meningkat.
Motivasi di majelis Manaqib : individu mencari barokah melalui sholawat dan kisah waliyyullah untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharap limpahan rahmat spiritual yang mempengaruhi rezeki dan keselamatan.
Dampak nyata :
Sosial : Meningkatkan solidaritas, gotong royong
Ekonomi : Dorong etos kerja halal, sedekah, hindari riba
Spiritual : Perkuat iman, taubat, amal sunnah
4.Sholawat Nariyah didukung kelompok Sufi /Khalidiyah sebagai bid’ah hasanah, keutamaannya berdasarkan pengalaman karomah syaikh dan ulama seperti imam Al-Qurthubi serta syekh ad-Daynury. Pendukung Sholawat Nariyah juga disebut Tafrijiyah memandangnya sebagai amalan mustajab untuk melancarkan rezeki, mengabulkan hajat, dan pelepasan kesusahan berdasarkan riwayat dari syaikh Abu hasan Asy-Syadzili. Kelompok penentang menolaknya sebagai bid’ah karena teksnya tidak bersumber langsung dari nabi SAW dan berpotensi menyerupai syirik melalui pemahaman tawasul yg salah.
Alasan Pro dan Kontra
Pendukung berargumen dari pengalaman karomah dan konteks tasawuf, melihatnya sebagai bentuk tawassul yang sah melalui Nabi. Penentang menyoroti ketiadaan dalil shahih dan risiko bid’ah dhalalah (inovasi sesat) yang menyimpang dari sunnah. Perbedaan muncul dari interpretasi bid’ah (pro: bid’ah hasanah yg bermafhum syar’i; kontra: segala tambahan adalah haram) dan tawasul (pro: boleh via nabi hidup/meninggal; kontra: hanya via Allah langsung).
5.Akar masalah terletak pada perbedaan metodologi dalil: kelompok pro mengandalkan riwayat weak (dhaif) dan karomah sufi, sementara kontra bersikap tekstualis pada hadis mutawatir. Interpretasi konsep bid’ah (sebagai kemungkinan hasanah vs haram semata) dan tawasul (via makhluk vs Allah semata) memperlebar jurang, dipengaruhi latar mazhab (Sufi vs salafi)
Agus malik madani 12 Januari 2026 pukul 06.37 Hapus Komentar
Nama: agus malik madani
Kelas:1 G
NIM: 2509629008
Prodi : ekonomi syariah
Dosen pengampu: Fikri Farikhin,M.Pd .I
Matkul : tarbiyatul manaqib


1.Dzikir manaqib Syaikh Abdul Qodir Al Jailani merupakan sebuah tradisi atau tradisi spiritual yang berkembang luas dikalangan ahlussunah,khususnya dalam lingkungan pesantren dan torekat qodiriyah.kegiatan ini tidak sekedar ritual dzikir.tetapi juga sarana pendidikan rohani, penanaman nilai akhlak dan teladan ulama', adapun susunan acara sebagai berikut: pembukaan dan ya arhamarrohimin,biasanya pasti diawali dengan basmalah ,hamdalah ,dan tawasul bertujuan untuk membersihkan niat dan hati rohani dan menghadirkan kesadaran bahwa seluruh aktivitas diniatkan karena ALLAH SWT. Tawasul kepada Rosulullah dan para shohabat ,ulama salaf dan khususnya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani juga tak lupa jamaah yang selalu Istiqomah ikut manaqib,pembacaan dzikir dan wirid,doa penutup,dzikir inti yang menjadi ciri khas manaqib, pembacaan manaqib harus mempunyai sanad yang jelas dan benar.
2.tawasul dengan amal Soleh
definisi : ber tawasul dengan menyebut amal baik yang di lakukan karena ALLAH SWT
Contoh: bersedekah, berbakti kepada orang tua dan sholawat
Hadis: tiga sahabat yang terjebak dalam goa(HR.Buhori dan Muslim
Tawasul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah
Definisi: membaca ya Allah AR Rohmah AR Rohim
Contoh: seperti membaca Asmaul Husna dan berserah diri kepada Allah SWT
Hadis: Qs - Al a' rof ' 180
Tawasul dengan orang shaleh yang masih hidup
Hadis: umar bin khatab bertawasul melalui doa Abas bin Abdul Mutholib
Contoh: meminta doa kepada guru, kiai atau pun orang tua

3 barokah adalah suatu kebaikan ilahi yang di mana setiap kita menjalankan hal baik kepada guru maupun orang yang alim yang bertambah pahala.
Barokah bisa menjadikan hidup kita selalu senantiasa tidak gelisah.barokah adalah nikmat karunia dari Tuhan yang membawa kebaikan pertumbuhan dan keberlimpahan yang di tandai dengan bertambahnya kebaikan(ziyadatul Khoir). bertambahnya kebaikan seperti sesuatu yang sedikit menjadi banyak atau bernilai lebih seperti makanan yang cukup untuk banyak orang atau amal yang dilipat gandakan

4.bagi setiap manusia pasti ada rasa suka maupun tidak. Karena takdir manusia berbeda beda . Ada yang menganggap sholawat nariyah sebagai bentuk doa dan juga ada yang menganggap Redaksi dan keyakinan tertentu tidak ber sumber dan Rosulullah . Faktor penyebab lainnya. Yakni munculnya firqah dalam Islam yang mempunyai kepercayaan masing masing
Cara menyikapi perbedaan tersebut yaitu dengan menghargai setiap perbedaan antara masing masing kelompok dari mengedepankan persatuan umat.

5.akar Masalah utama dalam perbedaan sholawat nariyah yakni kontroversi tidak terletak pada sholawat semata tetapi pada perbedaan epistemologi keagamaan,cara memahami dalil dan tradisi dan sikap terhadap otoritas ulama dan praktik ke agamaan,perbedaan pandangan merupakan keniscayaan dalam Islam. Sikap terbaik adalah menjaga kemurnian tauhid sekaligus menghargai tradisi ulama ,perbedaan sholawat nariyah lebih condong dikarenakan perbedaan cara pandang dalam memahami dan mengamal kan ajaran agama dalam konteks tradisi keagamaan di Indonesia dan bukan perbedaan dalam keyakinan dasar agama(akidah)
Anonim 12 Januari 2026 pukul 06.56 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Mamluatur Rohmah 12 Januari 2026 pukul 07.21 Hapus Komentar
Mamluatur Rohmah
250966 2038

1.) Pada kegiatan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang berlangsung di Al-Qodiri satu Jember, Jalan Manggar, Gebang, saya menganalisis susunan acara tersebut yang mana tawassul dan yang ke dua sambutan yang langsung di sampaikan oleh:
1. Lora Umar
2. Lora Taufiq
3. Lora Padi

Untuk sesi acara selanjutnya adalah pembacaan Mahallul Qiyam yang dipimpin oleh Hadroh Al-Qodiri Putra, selanjutnya menyampaikan profil Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang mana hal ini disampaikan oleh Lora Umar. Untuk acara selanjutnya yaitu sholat hajat dan yang terakhir Penutupan/Doa Bersama yang langsung disampaikan oleh Kyai Haji Ahmad Muzakky Syah.Adapun evaluasi elemen dalam susunan acara tersebut, berkonsentrasi pada pengakuan spiritual dan pemahaman peserta terhadap agama Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, seperti kehidupan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, perjuangannya dan kehidupannya. Seperti contoh kehidupannya dalam sebuah kisah disebutkan bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pernah mengungkap seseorang yang hendak mencuri di dalam rumahnya hingga menjadi seorang ulama yang Gerilya dan juga pada elemen susunan acara tersebut dapat meningkatkan pengalaman spiritual dan pembelajaran peserta terhadap personal yang dimiliki oleh Kyai Haji Ahmad Muzakky Syah yang mana disebutkan Gerilya.
2.) Tiga Macam Tawassul Utama
1. Tawassul dengan Amalan Saleh
Merupakan usaha pribadi dengan mengerjakan amalan Saleh (shalat sunah, sedekah) sebagai sarana untuk mendapatkan ridho Allah. Contohnya: berpuasa sunnah sebelum meminta hajat. Adab ketika dengan ridho dan fidah menyongsongkan amalan dan kita harus yakin bahwa amalan shalih menjadi bukti kesungguhan hati diri kita yang Allah ridhoi untuk menerima permohonan kita. Diri yang mendekati antara hamba kepada Rasulullah saw. “Amalan itu sesuai dengan niatnya” (H.R Bukhari dan Muslim).
2. Tawassul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah
Mengingat nama-nama dan sifat Allah yang sesuai dengan hajat. Setiap Asmaul Husna dan sifat Allah memiliki makna tertentu, sehingga menyebutkannya dengan pembacaan bersama akan membuka pintu rahmat dan keberkahan. Dalilnya diambil dari Al-Qur’an surat Thaha ayat 8: “Dan sesungguhnya pada nama-nama Allah lah kamu harus bertakwa contoh menyebut "Ar Rahman" Saat meminta rahmat. Adab memahami sifat tersebut tidak menyalah gunakan dengan tujuan yang tidak baik.
3. Tawassul dengan Doa Orang Saleh
Meminta doa dari orang yang shaleh (ulama, kyai, keluarga) karena mereka dianggap lebih dekat dengan Allah. Rasulullah saw bersabda: “Doa orang shaleh dicerna (diterima) dan adalah doa yang diperbolehkan.” (H.R. Tirmidzi).
Contoh: Meminta doa dari guru setelah acara dzikir. Adab: Hormati orang tersebut, tidak menjadikan mereka sebagai objek penyembahan. 

3.) Konsep Barokah dalam Manaqib
1. Definisi
Barokah adalah keberkahan dari Allah yang membuat sesuatu menjadi lebih baik, baik dalam materi maupun spiritual.
2. Sumber
Berasal dari keshalihan beribadah, penghormatan kepada Syekh Abdul Qadir, dan kebersamaan dalam ibadah.
3. Manifestasi
- Perbaikan perilaku sosial (lebih peduli sesama)
- Perbaikan ekonomi (rejeki yang halal dan melimpah)
- Perbaikan spiritual (lebih konsisten berdzikir)
4. Evaluasi
Dampaknya terlihat pada perubahan sikap individu yang lebih positif, namun perlu dihindari pandangan yang menganggap barokah sebagai “maharaja” yang bisa dicari semata dengan usaha pribadi saja.
4.) Perbedaan Pandangan tentang Sholawat Nariyah
1. Alasan Pendukung
Menganggapnya sebagai amalan yang dapat membuka keberkahan dan melepaskan kesusahan, dengan dasar beberapa dalil dan tradisi turun-temurun.
2. Alasan Penentang
Menilai praktiknya tidak sesuai dengan kaidah fikih (tidak dibenarkan), karena tidak ada dasar yang jelas dalam Al-Qur’an dan Hadis yang sahih, serta berpotensi menyimpang dari ajaran utama Islam.
3. Faktor Penyebab Perbedaan
Perbedaan interpretasi dalil, pemahaman tentang konsep tawassul, dan latar belakang tradisi lokal.
Mamluatur Rohmah 12 Januari 2026 pukul 07.25 Hapus Komentar
4. Kesimpulan
Perlu sikap moderat dengan mengacu pada kaidah fikih yang benar, menghargai perbedaan, dan fokus pada esensi ibadah yang utama.

5) Penyebab Perbedaan Pandangan Sholawat Nariyah:

a) Pemikiran Utama
Perbedaan dalam cara menafsirkan dalil agama dan konsep keagamaan dasar.

b) Interpretasi Dalil

- Pro: Mengacu pada dalil yang menegaskan keutamaan sholawat dan doa kepada orang shaleh.

- Kontra: Menekankan pada dalil yang mengarahkan untuk meneladani sunnah Rasulullah SAW tanpa menambah atau mengurangi amalan.

c) Konsep Keagamaan

- Pro: Menekankan pada dimensi mistis dan hubungan erat dengan para wali Allah.

- Kontra: Lebih fokus pada kepatuhan terhadap ajaran yang jelas dan tidak mengizinkan praktik yang tidak memiliki dasar yang kuat.
NAMA: SHERLY EKA NUR AGUSTIN PRODI:KPI NIM:2509662039 12 Januari 2026 pukul 08.13 Hapus Komentar
PART 1
1.Tawasul ini adalah memohon kepada Allah dengan sebab amal saleh yang pernah dilakukan, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain — seperti sedekah, puasa, zikir, dan berselawat kepada Nabi Muhammad SAW
Saat berdoa agar dikabulkan hajat, kamu berkata:
“Ya Allah, aku mohon dengan sedekah yang telah aku keluarkan dan dengan berselawat kepada Nabi ﷺ agar Engkau kabulkan hajatku.”Ini adalah memohon kepada Allah dengan menyebut Nama-Nya yang mulia dan sifat-Nya yang agung (Asmaul Husna), seperti menyebut Ar-Rahman ketika meminta rahmat, Al-Ghaffar ketika memohon ampunan, dan sebagainya.“Ya Allah, Ya Ghaffar, ampuni dosa kami yang telah lalu dan yang akan datang. Adabnya:
> Kenali makna nama-nama yang disebut.
> Jangan menyebut nama Allah yang bertentangan dengan makna tauhid.
> Berdzikir dengan khusyuk dan yakin bahwa hanya Allah yang mendengar dan mengabulkan.
>.Tawasul melalui doa orang-orang saleh yang masih hidup
Meminta orang yang masih hidup dan dikenal saleh untuk mendoakan kita kepada Allah — artinya kita meminta agar mereka berdoa kepada Allah untuk hajat kita.Contoh:
“Pak Ustadz, mohon doakan saya agar lulus ujian besok.”
Orang saleh tersebut mendoakan:
“Ya Allah, permudahkan urusan saudara kami ini…
2. a] Sambutan dan Ta’zim
Biasanya dipimpin oleh pimpinan majelis, pembimbing, atau mursyid.
Berisi salam kepada jamaah, tata tertib, serta niat bersama mengikuti majelis.
Fungsi Spiritual:
Menyatukan niat semua peserta, memfokuskan perhatian, dan menciptakan kesiapan batin.
b]. Basmalah & Tahiyatul-Majelis

Bacaan diawali dengan:
Bismillahirrahmanirrahim
Thahiyatul majelis (doa pembukaan tertentu)
Makna:
Menyerahkan seluruh rangkaian dzikir kepada Allah, agar acara menjadi berkah dan diterima.
#Shalawat Nabi
~shalwat nariyah/shalawat munjiyah/shalawat badar
biasanya dilantunkan secara berjamaah sbelum masuk dzikir utama shalawat yang memuji nabi Muhammad SAW & memohon syafaatnnya.
#Dzikir utama & manaqib syekh abdul qodir aljaelani
dzikir dengan beragam lafadz biasanya berupa pelantunan dzikir lailahaillallah,ataghfirullah,allahumma shalli ala muhammad.
#Pembacaan manaqib yg tujuannya memperdalam koneksi dengan Allah melalui pengulangan asmanya.
TAHAPAN & BACAAN.
pembacaan ratib atau hizib,pujian thariqah,dzikir khusus tharekat qodiriyah seperti lantunan laa ila ha illallah atau Allah,Allah,Allah scara berjamaah
#Penutup
biasanya ditutup dengan bacaan tahli singkat,dan ditutup dengan doa bersama.
evaluasi setiap elemen membentuk pengalaman spiritual
*Pembukaan ----> menyiapkan hati
*Shalawat nabi ----> menempatkan hati pada cinta rosu
*Dzikir utama -----> menempatkan hati pada dzikir ilahi
*Manaqib ----> meneladani teladan spiritual
*Doa akhir -----> menutup dengan rahmat
3.Definisi Barokah Secara bahasa, barokah (بركة) berarti bertambahnya keberkahan, yakni bertambahnya kebaikan, manfaat, dan rahmat yang tidak selalu dapat diukur secara kuantitatif. Dalam terminologi Islam, barokah adalah karunia Allah Yang Maha Kaya yang memberikan keluasaan, kebermanfaatan, dan kebaikan pada sesuatu baik kuantitas maupun kualitas — melebihi apa yang tampak secara logika atau materi.
Karakteristik Barokah:
✔ Tidak selalu tampak nyata secara materi
✔ Memberi manfaat luas, berkelanjutan, dan lestari
✔ Tidak terbatas pada satu individu saja
✔ Sering datang melalui sebab yang tampak sederhana
Dalam ajaran Islam, barokah selalu bersumber dari Allah SWT. Tidak ada selain Allah yang memberi barokah.
Barokah Melalui Amalan Saleh

NAMA: SHERLY EKA NUR AGUSTIN PRODI:KPI NIM:2509662039 12 Januari 2026 pukul 08.13 Hapus Komentar
PART 2
Amalan yang dianjurkan dapat menjadi sebab datangnya barokah: Dzikir,Shalawat,Sedekah,Puasa sunnah,Membaca Al-Qur’an.Doa, teladan, dan keberadaan orang saleh sering dianggap sebagai wasilah (sebab) munculnya barokah dalam kehidupan orang lain.
Manifestasi Barokah dalam Kehidupan Sehari-hari
a.) Spiritual
✔ Kedekatan kepada Allah
✔ Ketentraman hati
✔ Kekuatan dalam menghadapi ujian
Barokah spiritual membuat seseorang:Lebih sabar,Lebih syukur,Lebih tawakal
Sosial:
✔ Hubungan yang harmonis dengan orang lain
✔ Dihormati masyarakat
✔ Dipercaya karena amanah
Ekonomi
✔ Rezeki yang melimpah dengan cara yang halal
✔ Urusan finansial yang terasa ringan
✔ Produksi dan usaha yang berkah
Motivasi Individu Mencari Barokah melalui Majelis Manaqib
a. Harapan Kedekatan dengan Allah
b.Memperoleh Ketentraman Hati
c.Menguatkan Harapan dan Tawakal
Seseorang yg umumnya berasal dan tradisi Ahlusunnah wal jamaah biasanya berprinsip Segala bentuk sholawat kepada nabi adalah Ibadah yg dianjurkan selamat Selama tidak bertentang dengan
aqidah & syariat Sedangkan kelompok lain yang berpandangan menentang shalawat nariyah Umumnya berasal dari Pendekatan salafi tekstualis mereka beragunen bahwa nabi tidak
Pernah mengajarkan redaksi sholawat nariyah maka dianggap tidak memiliki dalil khusus,dan sebagian menilai redaksi tertentu berpotensi disalah pahami
Mereka membatasi tawassul pada nama dan sifat Allah amal shaleh sehingga shalawat nariyah dianggap berpotensi mnjadi bentuk tawassul yg tidak diajarkan secara eksplisit
Perbedaan Pemahaman Tawassul.
Pendukung: Tawassul sbgai wasilah, bukan sumber kekuatan
Penentang: khawatir tawassul berkembang ke arah kultus & ketergantungan Simbolik
Kesimpulan kritis & moderat.
a>Shalawat nariyah bukan rukun agama& bukan kewajiban tetapi politik ibadah yang lahir dari tradisi Spritual umat islam
b>Kelompok pendukung tidak dapat langsung dituduh menyimpang selama, tetap meyakini Allah Satu satunya pemberi manfaat
c>kelompok penentang juga memiliki dasar kehati hatian aqidah yg patut dihormati.
Perbedaan ini bukan perbedaan pada pokok iman melainkan pada: metodologi. Pundekatan, dan kehati hatian
5) Perdebatan tentang Sholawat nariyah bukan tentang Shalawat nariyah itu sendiri, melainkan Soal cara memahami agama Ada 4 penyebab utama: perbedaan metodologi dalam memahami dalil, perbedaan konsep bid'ah, perbedaan (konsep pemahaman tawasul & sebab akibat spritual, perbedaan
sikap terhadap tradisi pengalaman religius.
Perbedaan mendasar dalam interprestasi Argumen keagamaan.
#Perbedean metodologi istidlal
Kelompok pro : fokus pada substansi ibadah bukan bentuk teknisnya
kontra: fokus pada bentuk ibadah bukan efek atau tujuannya.
#Perbedaan konsep bidah
klompok pro : Shalawat nariyah dianggap bidah hasanah / bukan bidah krena isinya doa dan sholawat. " kontra: lebihh menekankan aspek.
Kesimpulan & kritis: perdebatan Shalawat nariyah pda hakikatnya mencerminkan perbedaan
paradigma dlam beragama bukan sekedar perbedaan hukum praktis.
klompok pro:
berangkat dari pendekatan inklusif historis dan maslahat oriented. Sementara klompok Kontra menekankan kemurnian ibadah, kehati hathan teologis dan kepatuhan tekstual.
Tugas uas manaqib 12 Januari 2026 pukul 10.18 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Tugas uas manaqib 12 Januari 2026 pukul 10.21 Hapus Komentar
Nama : faiz ramzi ramadani
Nime : 2509658002
prodi : akuntansi syariah


1. Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani diawali dengan pembukaan berupa niat, tawasul, dan bacaan Al-Fatihah, yang menyiapkan hati peserta. Dilanjutkan dzikir, shalawat, dan pembacaan manaqib yang menanamkan keteladanan akhlak, zuhud, dan tawakal beliau. Doa penutup menguatkan harapan dan penghambaan kepada Allah. Setiap tahap membangun kekhusyukan, kedekatan spiritual, serta pemahaman nilai tasawuf Syekh Abdul Qadir.
2. Tawasul meliputi: (a) dengan amal saleh sebagai bentuk ikhtiar dan keikhlasan; (b) dengan Asmaul Husna sebagai pengagungan sifat Allah; (c) dengan doa orang saleh hidup sebagai bentuk saling mendoakan. Ketiganya didukung dalil dan harus dilakukan dengan adab tawadhu’ dan keyakinan kepada Allah.
3. Barokah adalah bertambahnya kebaikan. Majelis manaqib menjadi sarana mencari barokah melalui dzikir dan teladan wali, berdampak pada ketenangan batin, solidaritas sosial, dan etika hidup.
4. Perbedaan pandangan Shalawat Nariyah dipicu perbedaan pemahaman bid’ah dan tawasul. Pendukung melihatnya sebagai wasilah doa, penolak menilainya tanpa dalil khusus. Sikap moderat diperlukan.
5.Akar perdebatan Shalawat Nariyah terletak pada perbedaan interpretasi dalil, konsep bid’ah, dan metode beragama antara tekstual dan kontekstual.
Fathorrohman 12 Januari 2026 pukul 10.46 Hapus Komentar
Nama: fathorrohman
Kelas: 1G
Nim: 2509661046
Prodi: HKI
Dosen pengampu: Fikri farikhin, M.Pd.i
Tugas: UAS semester 1
Bagian 1
1.Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Pesantren Al-Qodiri (Jember) maupun dalam format virtual—merupakan ritual spiritual yang memiliki struktur baku, sarat makna teologis, sufistik, dan edukatif.
A. Pembukaan (Iftitah)
Isi Tahapan:
Salam pembuka
Tawassul (kepada Nabi Muhammad ﷺ, para sahabat, wali, ulama, khususnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani)
Pembacaan Al-Fatihah
B. Pembacaan Dzikir dan Wirid
Isi Tahapan:
Istighfar (minimal 3 atau 100 kali)
Shalawat Nabi
Kalimat thayyibah (Lā ilāha illā Allāh)
Asmaul Husna
C. Pembacaan Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
D. Mau‘izhah atau Tausiyah
E. Doa Penutup

2. A. Tawasul dengan Amalan Saleh
Pengertian: Memohon kepada Allah dengan menyebut amal saleh yang pernah dilakukan sebagai bentuk pengharapan rahmat-Nya.
Dalil: Hadis tiga orang yang terjebak di gua (HR. Bukhari dan Muslim), di mana masing-masing bertawasul dengan amal salehnya hingga batu penutup gua bergeser.
Contoh Praktis:
“Ya Allah, dengan sedekah yang pernah aku lakukan karena-Mu, kabulkanlah doaku.”
Bertawasul dengan shalat, puasa, atau birrul walidain.
Adab:
Ikhlas
Tidak ujub
Mengakui bahwa amal diterima semata karena rahmat Allah.

B. Tawasul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah
Pengertian: Berdoa dengan menyebut nama atau sifat Allah yang sesuai dengan permohonan.
Dalil:
“Dan milik Allah Asmaul Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.”
(QS. Al-A‘raf: 180)
Contoh Praktis:
Memohon ampun dengan menyebut Al-Ghafur
Memohon rezeki dengan menyebut Ar-Razzaq
Memohon kasih sayang dengan menyebut Ar-Rahman
Adab:
Memahami makna nama Allah

C. Tawasul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup
Pengertian: Meminta orang yang dikenal saleh dan dekat kepada Allah untuk mendoakan kita.
Dalil:
Para sahabat meminta Rasulullah ﷺ mendoakan mereka.
Umar bin Khattab bertawasul dengan doa Abbas bin Abdul Muththalib saat istisqa’ (HR. Bukhari).
Contoh Praktis:
Meminta doa kepada orang tua, kiai, atau guru yang saleh.
Meminta doa orang yang sedang safar atau dalam kondisi mustajab.
Adab:
Tidak meyakini orang tersebut memiliki kekuatan mandiri
Tetap berdoa langsung kepada Allah
Menghormati dan tidak memanfaatkan kesalehan orang lain secara berlebihan.
Fathorrohman 12 Januari 2026 pukul 10.48 Hapus Komentar
Bagian 2
3. A. Definisi Barokah dalam Islam
Secara etimologis, barokah berarti an-namā’ wa az-ziyādah (bertambah dan berkembang). Secara terminologis, barokah adalah:
Kebaikan ilahiah yang menetap dan bertambah, meskipun secara kasat mata tampak sedikit.
Barokah bukan sekadar kuantitas (banyaknya harta, umur panjang), tetapi kualitas kebaikan yang menghasilkan manfaat luas dan berkelanjutan.

B. Sumber-Sumber Barokah
Dalam perspektif Islam, barokah bersumber dari Allah SWT semata, namun dianugerahkan melalui sebab-sebab tertentu:
Iman dan Taqwa
“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A‘raf: 96)
Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an disebut sebagai kitābun mubārak (QS. Shad: 29).
Waktu dan Tempat Tertentu
Lailatul Qadar
Masjid, Makkah, Madinah
Orang-Orang Saleh dan Majelis Dzikir
Barokah hadir melalui kedekatan dengan orang-orang yang dekat kepada Allah (QS. At-Taubah: 119).

C. C. Manifestasi Barokah dalam Kehidupan
Barokah termanifestasi dalam berbagai dimensi kehidupan:
Spiritual
Hati tenang
Ibadah terasa ringan
Istiqamah dalam ketaatan
Sosial
Hubungan harmonis
Munculnya solidaritas dan empati
Tumbuhnya adab dan akhlak kolektif
Ekonomi
Rezeki cukup meskipun tidak melimpah
Harta membawa manfaat dan ketenteraman
Terhindar dari konflik akibat materi

D. Motivasi Individu Mencari Barokah melalui Majelis Manaqib
Motivasi tersebut dapat dianalisis dalam tiga lapisan:
Motivasi Spiritual
Mendekatkan diri kepada Allah
Meneladani wali Allah
Mencari ketenangan batin

E. Dampak Keyakinan terhadap Barokah
Dampak Positif:
Meningkatkan etos ibadah dan akhlak
Memperkuat solidaritas sosial
Menumbuhkan sikap tawakal dan sabar
Potensi Distorsi (Jika Tidak Dibimbing):
Ketergantungan simbolik tanpa amal nyata
Reduksi agama menjadi “alat pemenuhan hajat”
Oleh karena itu, peran ulama sangat penting untuk meluruskan orientasi barokah agar tetap berbasis iman dan amal.

4. A. Gambaran Umum Shalawat Nariyah
Shalawat Nariyah (atau Tafrijiyah) adalah shalawat yang berisi permohonan kepada Allah agar:
Dilapangkan kesulitan
Dikabulkan hajat
Dibukakan pintu kebaikan
Ia dikenal luas di kalangan Ahlussunnah wal Jama‘ah dan sering dibaca secara berjamaah dengan bilangan tertentu.
B. Pandangan Kelompok yang Mendukung
Alasan Utama:
Dalil Umum Keutamaan Shalawat
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR. Muslim)
Kaidah Fiqh
Al-ashlu fil ad‘iyah al-ibahah (asal doa adalah boleh)
Tidak ada larangan shalawat dengan redaksi tertentu
Pengalaman Empiris-Spiritual
Diamalkan ulama dan wali
Dirasa membawa ketenangan dan solusi
Isi Tidak Bertentangan dengan Akidah
Tetap memohon kepada Allah, bukan kepada Nabi

C. Pandangan Kelompok yang Menentang
Alasan Utama:
Tidak Ada Dalil Khusus dari Nabi
Redaksi dan bilangan tidak pernah dicontohkan secara eksplisit
Kekhawatiran Bid‘ah
Dipahami sebagai bid‘ah dalam ibadah mahdhah
Kritik terhadap Redaksi
Frasa yang dianggap berpotensi multitafsir jika tidak dipahami secara teologis.

D. Faktor Penyebab Perbedaan Pandangan
Perbedaan Definisi Bid‘ah
NU dan mayoritas ulama: bid‘ah hasanah dan sayyi’ah
Salafi: seluruh bid‘ah dalam ibadah tertolak
Perbedaan Pendekatan Ushul Fiqh
Tekstual (harfiah)
Kontekstual dan maqashidi
Perbedaan Pemahaman Tawasul
Sebagian menerima tawasul dengan Nabi sebagai doa
Sebagian membatasi hanya pada yang eksplisit dicontohkan
Latar Sosial dan Pendidikan Keagamaan
Pesantren vs kajian puritan

E. Kesimpulan Kritis dan Sikap Moderat
Perbedaan pandangan tentang Shalawat Nariyah adalah ikhtilaf fiqhiyyah, bukan persoalan akidah. Sikap bijak yang seharusnya dikedepankan adalah:
Tidak mudah membid‘ahkan amalan yang memiliki dasar umum syariat
Tidak memaksakan amalan kepada yang tidak meyakini
Menghormati tradisi yang dijalankan mayoritas ulama muktabar
Menjaga tauhid sebagai orientasi utama
Firdaus 12 Januari 2026 pukul 19.40 Hapus Komentar
Nama Muhammad virdaus Risal hidayah
Nim 2509629023
Prodi Ekonomi syariah
Dosen pengampu Fikri farikhin M.pd.i
Tugas UAS semester i
Bagian 1
1. Analisis Mendalam Susunan Acara DzikirManaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang dilaksanakan di Pesantren Al-Qodiri—baik secara langsung maupun virtual—merupakan sebuah ritual keagamaan yang tersusun secara sistematis, memiliki landasan teologis, historis, dan pedagogis. Susunan acara ini tidak bersifat seremonial semata, melainkan dirancang untuk membentuk pengalaman spiritual (dzauq ruhani) sekaligus pemahaman nilai-nilai tasawuf yang diajarkan oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
a. Pembukaan (Iftitah Majelis)
Acara diawali dengan:
Basmalah
Pembacaan niat
Salam dan tawasul pembuka
Pembukaan ini berfungsi sebagai tahyi’ah ruhiyah(persiapan spiritual), yakni mengalihkan kesadaran peserta dari urusan duniawi menuju suasana ibadah. Niat dan tawasul awal menegaskan bahwa dzikir dilakukan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan mengkultuskan tokoh.
b. Tawasul
Tawasul biasanya dilakukan dengan menyebut:
Nabi Muhammad ﷺ
Para sahabat
Para wali dan ulama
Secara khusus Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Tawasul ini mencerminkan konsep ittishal al-sanad ruhani, yakni kesinambungan spiritual umat dengan generasi saleh sebelumnya.
Kontribusi spiritual dan pemahaman:
Menguatkan kesadaran historis dan spiritual Islam
Menanamkan sikap tawadhu’ dan penghormatan kepada pewaris ilmu dan amal
c. Pembacaan Surat-Surat Al-Qur’an
Biasanya meliputi:
Al-Fatihah
Yasin
Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas
Al-Qur’an menjadi fondasi utama sebelum masuk ke dzikir dan manaqib, menegaskan bahwa seluruh rangkaian bersumber dari wahyu.
d. Dzikir dan Shalawat
Dzikir yang dibaca antara lain:
Istighfar
Tahlil (La ilaha illallah)
Shalawat kepada Nabi ﷺ
Dzikir dilakukan secara berjamaah dengan irama tertentu untuk menyatukan hati dan fokus spiritual.
e. Pembacaan Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Bagian inti acara, berisi:
Kisah kelahiran
Keilmuan
Akhlak
Karomah
Nasehat-nasehat beliau
Manaqib tidak bertujuan menampilkan keajaiban semata, tetapi memberi teladan akhlak dan istiqamah.Kontribusi pemahaman ajaran Syeikh Abdul Qadir:
Menanamkan nilai zuhud, tawakal, kejujuran, dan keberanian menegakkan kebenaran
Menguatkan konsep tasawuf yang selaras dengan syariat
F. Doa Penutup
Doa dipimpin oleh kiai atau mursyid dengan permohonan:
Ampunan dosa
Keselamatan dunia–akhirat
Keberkahan melalui wasilah orang-orang saleh.
g. Penutupan
Diakhiri dengan:
Hamdalah
Salam
Penutupan menandai kembalinya peserta ke kehidupan dunia dengan membawa nilai-nilai spiritual yang diperoleh.
2. Penjelasan Tiga Jenis Tawasul yang Disepakati Mayoritas Ulama
a. Tawasul dengan Amalan Saleh
Pengertian:
Menjadikan amal saleh sebagai perantara untuk memohon kepada Allah.
Dalil:
Hadis tentang tiga orang yang terjebak dalam gua, masing-masing bertawasul dengan amal salehnya (HR. Bukhari dan Muslim).
Contoh
Bertawasul dengan sedekah saat memohon kelapangan rezeki
Bertawasul dengan shalawat ketika meminta syafaat
b. Tawasul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah
Pengertian:
Memohon kepada Allah dengan menyebut nama atau sifat-Nya yang sesuai dengan permintaan.
Dalil:
“Dan milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan nama-nama itu.”
(QS. Al-A’raf: 180)
Contoh
“Ya Rahman, rahmatilah kami”
“Ya Ghafur, ampunilah dosa kami”
c. Tawasul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup
Pengertian:
Meminta orang saleh untuk mendoakan kita kepada Allah.
Dalil:
Para sahabat meminta Rasulullah ﷺ mendoakan mereka
Umar bin Khattab bertawasul dengan doa Abbas bin Abdul Muthalib (HR. Bukhari)
Contoh
Meminta kiai atau ulama mendoakan
Memohon doa orang tua.
Firdaus 12 Januari 2026 pukul 20.23 Hapus Komentar
Bagian 2
3.Analisis Konsep Barokah dalam Islam dan Relevansinya dalam Majelis Manaqib
A. Pengertian dan Definisi Barokah dalam Islam
Secara etimologis, kata barokah (البركة) berasal dari akar kata baraka–yabruku yang bermakna tetap, bertambah, dan berkembang.
Para ulama mendefinisikan barokah sebagai:
“Tsubût al-khair al-ilâhî fî asy-syai’”
(tetapnya kebaikan Ilahi pada sesuatu).
B. Sumber-Sumber Barokah dalam Islam
Dalam ajaran Islam, barokah memiliki sumber yang jelas dan teologis, antara lain:
1. Allah SWT sebagai sumber utama barokah
Seluruh bentuk barokah berasal dari kehendak Allah:
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1)
2. Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an disebut sebagai kitabun mubârak(QS. Shad: 29). Sunnah Nabi ﷺ juga menjadi sumber barokah melalui pengamalan nilai-nilainya.
3. Waktu dan tempat tertentu
Seperti malam Lailatul Qadar, bulan Ramadhan, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi.
4.Orang-orang saleh dan majelis ilmu/dzikir
Barokah hadir melalui doa, keteladanan, dan pengaruh spiritual orang-orang saleh, bukan pada zat mereka, tetapi pada kedekatan mereka kepada Allah.
D. Motivasi Individu Mencari Barokah melalui Majelis Manaqib
1.Motivasi spiritual
Keinginan mendekatkan diri kepada Allah melalui dzikir dan shalawat.
2. Motivasi teladan moral
Kisah hidup Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani memberi inspirasi akhlak, istiqamah, dan zuhud.
E. Dampak Keyakinan terhadap Barokah
1. Dampak Spiritual
Meningkatkan keimanan dan ketawakkalan kepada Allah
Membentuk sikap sabar, ikhlas, dan optimis
Menguatkan kesadaran akan keterbatasan manusia
2. Dampak Sosial
Mendorong sikap hormat kepada ulama dan orang saleh
Memperkuat solidaritas sosial dan ukhuwah
Menumbuhkan budaya adab, tawadhu’, dan kebersamaan
4.Analisis Perbedaan Pandangan Ulama dan Umat Islam tentang Shalawat Nariyah (Shalawat Tafrijiyah)
A. Pengertian dan Posisi Shalawat Nariyah dalam Tradisi Islam
Shalawat Nariyah—yang juga dikenal sebagai Shalawat Tafrijiyahadalah redaksi shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ yang berkembang dalam tradisi keislaman, khususnya di kalangan ulama tasawuf dan masyarakat Ahlussunnah wal Jama’ah. Shalawat ini sering diamalkan dengan keyakinan memiliki keutamaan sebagai wasilah pembuka kesulitan (tafrīj al-kurūb), pelancar rezeki, dan pengabul hajat.
B. Pandangan Kelompok yang Mendukung Shalawat Nariyah
Kelompok yang mendukung pengamalan Shalawat Nariyah umumnya berangkat dari kerangka berpikir fiqhiyyah–tasawufiyyahdengan argumen sebagai berikut:
1. Prinsip Keumuman Perintah Bershalawat
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
2. Shalawat sebagai Doa
Shalawat Nariyah dipahami sebagai doa kepada Allah, bukan permohonan kepada Nabi sebagai dzat yang memberi manfaat.
3. Kaidah Bid’ah Hasanah
Kelompok pendukung mengacu pada pandangan ulama seperti Imam an-Nawawi dan al-‘Izz ibn Abdus Salam yang membagi bid’ah ke dalam lima hukum (wajib, sunnah, mubah, makruh, haram).
C. Pandangan Kelompok yang Menolak Shalawat Nariyah
Kelompok yang menolak Shalawat Nariyah umumnya berpijak pada pendekatan tekstual–salafi dengan alasan berikut:
1. Tidak Ada Dalil Spesifik dari Nabi ﷺ
2. Pemahaman Bid’ah sebagai Satu Kesatuan
Kelompok ini memahami bid’ah sebagai:
“Kullu bid’atin dhalalah”
(Setiap bid’ah adalah sesat)
4. Penolakan terhadap Tawasul dalam Bentuk TertentuKelompok ini hanya menerima tawasul dengan:
Asmaul Husna
Amal saleh pribadi
dan menolak tawasul dengan dzat Nabi ﷺ atau orang saleh, baik hidup maupun wafat.
D. Faktor-Faktor Penyebab Perbedaan Pandangan
1. Perbedaan Konsep Bid’ah
2. Perbedaan Pemahaman Tawasul
3. Latar Belakang Sosio-Kultural
Nama : Dewi Wulandari Kls : 1G Nim : 2509629001 Matkul : Tarbiyatul Manaqib Pengampu Dosen : Fikri Farikhin, M. Pd. I Tugas : UAS Semester 1 12 Januari 2026 pukul 20.42 Hapus Komentar
1. Analisis susunan acara dzikir manaqib syeikh abdul qodir al – jailani.
Tradisi manaqib di pesantren al – qodiri biasanya memiliki struktur yang sistematis untuk membangun suasana spiritual.
• Pembukaan (tawasul) : mengirimkan al fatihah kepada nabi muhammad SAW,keluarga,sahabat,para wali (khususnya syeikh abdul qodir al – jailani) & para guru. Ini berfungsi sebagai “penyambung” ruhani agar jamaah merasa terhubung dengan mata rantai keilmuan.
• Pembacaan ayat suci al – quran : memberikan dasar keberkahan firman allah sebelum memulai ritual.
• Pembacaan teks manaqib : berisi riwayat hidup , kesalehan, dan karomah syeikh abdul qodir al – jailani . tujuannya adalah i tidal ( mengambil pelajaran ) agar jamaah termotivasi meniru kesalehan beliau.
• Dzikir & istighosah : inti dari kegiatan ini adalah permohonan ampun & pengagungan nama Allah ( asmaul husna).
• Doa penutup : merangkum semua hajat jamaah .
• Pembacaan manaqib memberikan pemahaman bahwa kedekatan dengan Allah bisa dicapai melalui disiplin ibadah dan akhlak mulia , sebagaimana dicontohkan oleh syeikh.

2. Tiga macam tawasul yang disepakati . Tawasul adalah menggunakan perantara dalam berdoa agar lebih dikabulkan oleh Allah.
• Tawasul dengan amal saleh : menyebutkan amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas ( contoh : sedekah tersembunyi ) saat berdoa . dalilnya adalah hadis tentang tiga orang yang terjebak didalam gua.
• Tawasul dengan asmaul husna : memanggil Allah dengan nama-nya yang sesuai dengan hajat ( misal : “ ya rozzaq” saat meminta rezeki). Dalil : Qs . al -araf 180.
• Tawasul dengan doa orang saleh ( masih hidup) : meminta kyai / orang tua mendooakan kita . Dalil : para sahabat sering meminta nabi SAW untuk mendoakan hujan/ kesembuhan.
• Adab : harus tetap meyakini bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa , sedangkan perantara hanya sarana ( wasilah).
3. Konsep barokah dalam islam
Barokah diartikan sebagai ziyadatul khair ( bertambahnya kebaikan )
• Sumber : ketaatan kepada Allah , makanan yang halal , silaturrahmi, & memuliakan guru/ ulama.
• Manifestasi : bukan sekedar jumlah yang banyak, tapi kecukupan dan ketenangan harta yang sedikit tapi barokah akan membawa manfaat besar , sedangkan harta banyak tanpa barokah akan habi sia-sia .
• Motivasi di majelis manaqib : individu mencari barokah karena keyakinan bahwa tempat berkumpulnya orang saleh adalah tempat turunnya rahmat.
• Dampak nyata : secar sosial , ini memperkuat solidaritas ( gotong royong ) secara ekonomi , mendorong etika bisnis yang jujur : secara spiritual , menciptakan stabilitas emosi.
Nama : Dewi Wulandari Kls : 1G Nim : 2509629001 Matkul : Tarbiyatul Manaqib Pengampu Dosen : Fikri Farikhin, M. Pd. I Tugas : UAS Semester 1 12 Januari 2026 pukul 20.48 Hapus Komentar
4. Analisis perdebatan sholawat nariyah , sholawat nariyah sering menjadi titik perdebatan karena redaksinya dianggap sebagian orang mengandung unsur kesyirikan sementara bagi prndukungnya adalah bentuk sastra cinta kepada nabi .
• Pandangan para pendukung , menganggapnya sebagai wasilah dan pengakuan atas posisi nabi muhammad sebagai pembawa rahmat yang membantu melepaskan kesulitan .
• Pandangan para penentang menganggapnya beberapa isi dari sholawat tersebut mengandung unsur syirik karena seolah – olah menyandarkan kekuasaan kepada makhluk , bukan Allah ,mereka juga mengkategorikan nya sebagai bid’ah karena tidak ada teksnya secara langsung dari nabi.
• Analisis faktor : perbedaan ini berakar pada pemahaman tentang tauhid dan wasilah.kelompok moderat melihat niat jamaah adalah tetap menyembah Allah , sementara kelompok tekstualitas terpaku pada lafadz akhiir.
• Dari kesimpulan diatas menghargai perbedaan pendapat, bagi yang mengenalkan niatnya kepada Allah melalui kemuliaan nabi, bagi yang tidak setuju akan menentang tidak perlu mencela karena masing – masing memiliki landasan ulama.
5. Perbedaan tentang sholawat nariyah bukan tentang sholawat nariyah itu sendiri. Melainkn soal cara memahami agama. Ada 4 penyebab utamanya : perbedaan metodologi dalam memahami dalil, perbedaan konsep bid’ah , perbedaan pemahaman tawasul sebab akibat spiritual. Perbedaan sikap terhadap tradisi pengalaman religius .kelompok pro menekankan substansi do’a dan manfaat spiritual. Kelompok kontra menekankan kehati-hatian agar ibadah tetap murni sesuai contoh nabi,perbedaan ini adalah khilafiyah ( perbedaan pendapat ) yang tidak seharusnya memecah umat . sikap terbaik adalah toleran, saling menghormati,dan fokus pada tujuan utama ibadah,mendekatkan diri kepasa Allah.
Rafi'i Khoirul Ihsan 12 Januari 2026 pukul 22.26 Hapus Komentar
Nama: Rafi'i Khoirul Ihsan
Nim: 2509629026
Kelas: 1G

1. Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Dzikir Manaqib diawali dengan pembukaan dan tawasul kepada Rasulullah SAW, para sahabat, ulama, dan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani sebagai pengantar spiritual. Tahap ini meluruskan niat dan menumbuhkan kesadaran sanad keilmuan dan ruhani.
Selanjutnya dibacakan dzikir, shalawat, dan tahlil untuk membersihkan hati, kemudian pembacaan manaqib yang berisi kisah keteladanan, keikhlasan, dan perjuangan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Acara ditutup dengan doa bersama sebagai puncak pengharapan. Susunan ini membentuk pengalaman spiritual yang mendalam dan memperkuat nilai tasawuf dalam diri peserta.
2. Tiga Jenis Tawasul yang Disepakati Ulama
Pertama, tawasul dengan amalan saleh, seperti sedekah dan bakti kepada orang tua, sebagaimana hadits tiga orang di dalam gua. Kedua, tawasul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah, berdasarkan perintah Al-Qur’an untuk berdoa dengan nama-nama Allah. Ketiga, tawasul dengan doa orang saleh yang masih hidup, sebagaimana praktik para sahabat.
Ketiga tawasul ini dibolehkan dengan adab utama berupa keikhlasan dan keyakinan bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa, sedangkan perantara hanyalah wasilah.
3. Konsep Barokah dan Majelis Manaqib
Barokah adalah bertambahnya kebaikan dan manfaat yang bersumber dari Allah. Barokah dapat hadir melalui amal saleh, dzikir, doa, serta majelis ilmu dan dzikir seperti manaqib.
Keyakinan terhadap barokah mendorong peningkatan spiritual, sikap sosial yang baik, serta etos hidup yang lebih tenang dan optimis. Majelis manaqib menjadi sarana memperkuat iman sekaligus membentuk perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari.
4. Perbedaan Pandangan tentang Shalawat Nariyah
Pendukung Shalawat Nariyah memandangnya sebagai bentuk doa dan shalawat yang memiliki keutamaan selama tidak bertentangan dengan akidah. Penolaknya menganggap amalan tersebut tidak memiliki contoh langsung dari Nabi SAW dan dikhawatirkan termasuk bid‘ah.
Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan pemahaman tentang bid‘ah dan tawasul. Sikap moderat menuntut umat Islam untuk saling menghormati perbedaan ijtihad, menjaga akidah, dan menghindari sikap saling menyalahkan demi menjaga persatuan umat.
Uut nur farida 12 Januari 2026 pukul 22.58 Hapus Komentar
Nama : Uut Nur Farida
Kelas : 1-G
Prodi : ekonomi syariah
NIM : 2509629002
Dosen Pengampu : Fikri Farikhin M.Pd
Hari/tanggal : sabtu 10 Januari 2026
Mata Kuliah : tarbiyatul manakib

1). Susunan acara dzikir manaqib syekh abdul qadir al-jailani umumnya melibatkan
beberapa susunan acara yaitu diantaranya adalah, pembukaan biasanya dimulai dengan
pembacaan tawasul dan fatihah kepada nabi muhammad saw para sahabat, syekh
abdul qadir al jaelani, memohon keberkahan dan kelancaran acara . Pembacaan manaqib merupakan inti acara dimana riwayat hidup akhlaq dan karomah syekh abdul qodir al jailani dibacakan (Seringkali dari kitab tertentu seperti Nurul Burhan atau ( ujainud dani) Dzikr dan Shalawat disertai dengan lantunan kalimah Thayibiah, tasbih dan sholawat kepada nabi. Doa penutup acara di akhiri dengan doa bersama yang di pimpin oleh seorang ulama atau sesepuh. Memohon agar segera hajat di kabulkan, dosa di ampuni dan barokah manaqib di terima
2). Tawasul adalah praktik mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan perantara
yang memiliki tiga macam utama yang disepakati sebagian besar ulama diantaranya adalah tawasul dengan amalan shaleh tawasul ini menggunakan amalan ibadah yang pernah dilakukan sebagai perantara doa . Hadis tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua dan berdoa " Ya Allah dengan sedekah yang hamba lakukan kemarin sembuhkanlah peyakit hamba" adabnya di lakukan dgn ikhlas meyakini bahwa adanya Allah yang mengabulkan doa

3) . Konsep Barokah dalam Islam adalah karunia ilahi berupa kebaikan yang
berlimpah, langgeng, dan bertumbuh, yang menjadi motivasi kuat partisipasi dalam majelis Barokah secara bahasa berarti bertambah, tumbuh. Adapun sumber utama datangnya barokah ialah berasal
dari Allah swt dan dapat di peroleh melalui ketaatan ibadah. Barokah dalam aspek spiritual (dapat berupa ketentraman hati dan lainnya),
ekonomi (kecukupan rezeki meski sedikit jumlahnya) sosial (kehormatan keluarga),dan motivasi individu
Nama :Elita Rahmadita 12 Januari 2026 pukul 23.14 Hapus Komentar
Nama : Elita Rahmadita
Nim : 2509629003
Prodi :Ekonomi Syariah
Kelas :1G
Matkul : Tarbiatul manaqib
1. Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani biasanya disusun secara sistematis, dimulai dari pembukaan berupa niat, tawasul, dan pembacaan basmalah serta shalawat. Tahap ini berfungsi menata hati peserta agar ikhlas, khusyuk, dan menghadirkan kesadaran bahwa ibadah yang dilakukan semata-mata untuk Allah SWT. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan dzikir, tahlil, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang bertujuan membersihkan hati, menenangkan jiwa, serta mendekatkan diri kepada Allah.
Tahap inti berupa pembacaan manaqib, yaitu kisah-kisah keteladanan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang mengajarkan nilai tawakal, zuhud, kesabaran, dan keikhlasan. Penutup biasanya diisi dengan doa bersama yang berisi permohonan ampunan, keberkahan, dan kebaikan dunia akhirat. Seluruh rangkaian ini berkontribusi membangun pengalaman spiritual peserta sekaligus memperdalam pemahaman mereka terhadap ajaran tasawuf dan akhlak mulia Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

2. Tawasul dengan amal saleh adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui perbuatan baik seperti sedekah, puasa, dan shalawat. Dalilnya terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits yang menegaskan bahwa amal saleh dapat menjadi sebab terkabulnya doa. Contohnya adalah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua, lalu berdoa dengan menyebut amal saleh mereka hingga Allah memberikan pertolongan.
Tawasul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah dilakukan dengan menyebut nama Allah sesuai dengan hajat yang diminta, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 180. Adapun tawasul dengan doa orang saleh yang masih hidup dilakukan dengan meminta didoakan oleh orang yang dikenal ketaatannya. Dalam praktiknya, tawasul harus dilakukan dengan adab yang baik, keyakinan bahwa Allah satu-satunya pemberi manfaat, serta tidak meyakini perantara memiliki kekuatan mandiri.
Nama :Elita Rahmadita 12 Januari 2026 pukul 23.15 Hapus Komentar
Elita Rahmadita
Part 2

3. Barokah dalam Islam berarti kebaikan yang bertambah dan membawa manfaat luas, baik secara lahir maupun batin. Sumber barokah berasal dari Allah SWT, dan dapat diperoleh melalui ketaatan, doa, ilmu, serta kebersamaan dengan orang-orang saleh. Majelis manaqib menjadi salah satu sarana mencari barokah karena di dalamnya terdapat dzikir, doa, dan pengingatan kepada Allah serta para wali-Nya.
Motivasi individu mengikuti majelis manaqib umumnya untuk memperoleh ketenangan hati, kelancaran rezeki, dan kekuatan spiritual. Keyakinan terhadap barokah berdampak nyata pada perilaku sosial seperti meningkatnya sikap sabar, dermawan, dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Secara ekonomi dan spiritual, barokah mendorong individu hidup lebih berkah, sederhana, dan penuh rasa syukur.

4. Kelompok yang mendukung Shalawat Nariyah memandangnya sebagai bentuk shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang memiliki keutamaan, seperti melapangkan rezeki dan menghilangkan kesulitan. Mereka berlandaskan pada kaidah umum anjuran bershalawat dan pengalaman para ulama serta masyarakat yang merasakan manfaat spiritualnya. Shalawat ini juga dikenal sebagai Shalawat Tafrijiyah karena diyakini sebagai wasilah pembuka kesulitan.
Sementara itu, kelompok yang menentang beranggapan bahwa Shalawat Nariyah tidak memiliki dalil khusus dari Nabi dan dikhawatirkan mengandung unsur bid’ah. Perbedaan ini muncul karena perbedaan pemahaman terhadap konsep bid’ah dan tawasul. Sikap yang bijak adalah menghormati perbedaan pendapat, tidak saling menyalahkan, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

5. Akar permasalahan perdebatan Shalawat Nariyah terletak pada perbedaan metode dalam memahami dalil dan praktik keagamaan. Kelompok pro lebih menekankan pada kaidah umum syariat, pengalaman ulama, dan maslahat umat, sementara kelompok kontra berpegang pada prinsip kehati-hatian dalam ibadah yang harus memiliki dalil spesifik.
Perbedaan ini juga berkaitan dengan konsep bid’ah, di mana sebagian ulama membaginya menjadi bid’ah hasanah dan sayyi’ah, sedangkan yang lain menolaknya secara mutlak. Oleh karena itu, perbedaan pandangan ini seharusnya disikapi dengan sikap saling menghargai, tidak mudah menyesatkan, dan mengedepankan persatuan umat Islam.
Zalfa Zahiya Putri Anwar 12 Januari 2026 pukul 23.19 Hapus Komentar
Nama: zalfa Zahiya Putri Anwar
Prodi: KPI
Nim : 2509662027
Kelas : 1G

1. Susunan acara dzikir manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani umumnya dimulai dengan pembukaan dan niat, dilanjutkan tawasul, pembacaan ayat Al-Qur’an, dzikir dan shalawat, pembacaan manaqib, kemudian doa penutup.Setiap tahapan memiliki makna spiritual yang saling berkaitan. Tawasul berfungsi sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, dzikir dan shalawat membersihkan hati serta menenangkan jiwa, sementara pembacaan manaqib bertujuan meneladani akhlak dan perjuangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.Evaluasi pengalaman spiritual menunjukkan bahwa rangkaian ini membantu peserta mencapai kekhusyukan, memperkuat iman, serta menumbuhkan kecintaan kepada ulama dan ajaran tasawuf yang berorientasi pada pembinaan akhlak.

2. Mayoritas ulama sepakat atas kebolehan tawasul dalam tiga bentuk utama, yaitu:
A.Tawasul dengan amal saleh, seperti sedekah dan shalawat, karena amal tersebut merupakan bentuk ketaatan langsung kepada Allah.
B.Tawasul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah, sebagaimana dianjurkan dalam Al-Qur’an.
C.Tawasul dengan doa orang saleh, baik yang masih hidup maupun melalui keberkahan orang saleh yang telah wafat, dengan keyakinan bahwa yang memberi manfaat tetap Allah semata.
Zalfa Zahiya Putri Anwar 12 Januari 2026 pukul 23.20 Hapus Komentar
(part 2)
3. Motivasi utama individu mengikuti majelis manaqib adalah mencari barokah, ketenangan batin, dan peningkatan spiritual. Barokah dipahami sebagai kebaikan yang bertambah dan membawa manfaat dalam kehidupan.
Dampak nyata dari keyakinan terhadap barokah terlihat pada perubahan perilaku sosial dan spiritual, seperti meningkatnya semangat ibadah, sikap tawadhu’, kepedulian sosial, serta etika dalam bermasyarakat. Secara ekonomi dan sosial, individu menjadi lebih jujur, sabar, dan bertanggung jawab.
4. Perbedaan pandangan terkait Shalawat Nariyah muncul karena perbedaan metode pemahaman teks keagamaan. Sebagian ulama menganggapnya sebagai amalan yang sah karena berisi doa dan shalawat kepada Nabi. Sementara kelompok lain menolaknya dengan alasan kehati-hatian dalam ibadah dan menganggapnya berpotensi bid‘ah jika diyakini memiliki kekuatan khusus di luar ketentuan syariat.Faktor penyebab perbedaan ini meliputi latar belakang mazhab, pendekatan fikih dan tasawuf, serta perbedaan konsep bid‘ah dan tawasul. Sikap moderat yang bijak adalah saling menghormati perbedaan, tidak mudah menghakimi, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.
5. Analisis kritis perdebatan Shalawat Nariyah
Perdebatan Shalawat Nariyah disebabkan oleh perbedaan interpretasi dalil dan konsep ibadah. Kelompok pro memandang shalawat ini sebagai bentuk doa dan ekspresi cinta kepada Nabi yang dibolehkan selama tidak bertentangan dengan akidah.
Kelompok kontra menilai perlunya kehati-hatian agar tidak mengaitkan shalawat dengan keyakinan tertentu yang tidak memiliki dasar syar‘i yang kuat.Perbedaan mendasar terletak pada metode
Uut nur farida 12 Januari 2026 pukul 23.21 Hapus Komentar
Motivasi individu mencari barokah melalui majelis maulid karena selain bahwa majelis tersebut adalah tempat berkumpulnya orang shalih. Dampak nyatanya dapat mendorong sikap optimis dan menjauhi malas.

4 ).Perbedaan pandangan mengenai sholawat nariyah pada interpretasi dari dua konsep keagamaan. Kelompok yang mendukung sholawat nariyah meyakini keutamaan nya sebagai wasilah alasannya mereka berargumen bahwa sholawat diperintah dalam al quran dan memiliki banyak manfaat.

5 ).Perbedaan mendasar konsep bid’ah sebagian golongan yang prodgini menggunakan kaidah ushul fiqih bahwa segala sesuatu dalam ibadah pada dasarnya boleh kecuali ada larangan spesifik. Konsep tawasul yg prodgini memandang rendah sholawat nariyah sebagai bentuk tawasul yg sah melalui keilmuan nabi.
Webhost Information 12 Januari 2026 pukul 23.21 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
PROFIL KAMI 12 Januari 2026 pukul 23.31 Hapus Komentar
Nama : MOH RIYAN ADI SAPUTRA
NIM : 2509662004
PRODI : KPI

1. Analisis Sistematika Acara Dzikir Manaqib
Sistematika Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Pesantren Al-Qodiri
merupakan sebuah protokoler spiritual yang terukur. Tahapan acara dimulai dengan
Intensi dan Purifikasi, yakni penataan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah (lillahbillah), yang diikuti dengan pertobatan atas dosa-dosa lahiriah dan batiniah. Secara prosedural, rangkaian ini melibatkan Amaliah Syariat seperti Sholat Sunnah Libirril Walidain (bakti orang tua) dan Sholat Hajat Elemen pembacaan biografi tokoh (Manaqib Nurul Burhani) berfungsi sebagai katalisator inspiratif bagi jamaah untuk meneladani ketakwaan Syeikh. Setiap sesi bacaan, mulai dari Istighotsah hingga Tahlil , memberikan kontribusi psikologis berupa ketenangan batin, sementara secara teologis memperkuat pemahaman bahwa permohonan hajat duniawi maupun ukhrawi harus tetap bermuara langsung kepada Allah SWT melalui keberkahan wasilah yang dipilih.

2. Klasifikasi dan Urgensi Tawassul
Dalam perspektif teologi Islam yang moderat, terdapat tiga kategori tawassul yang
diimplementasikan:
a. Tawassul dengan Amal Saleh: Dilakukan melalui perantaraan ibadah pribadi, seperti sholat sunnah dan dzikir yang termaktub dalam kitab ini.
b. Tawassul dengan Asmaul Husna: Penggunaan nama-nama Allah yang agung, seperti dalam seruan Ya Arhamar Rohimin dan Ya Hayyu Ya Qoyyum.
c. Tawassul dengan Doa Orang Saleh: Memohon kepada Allah dengan menyertakan kedudukan mulia Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di sisi-Nya. Adab yang paling krusial adalah larangan memohon langsung kepada Syeikh posisi beliau hanyalah sebagai pemberi syafaat dan perantara barokah atas izin Allah.

3. Konsep dan Manifestasi Barokah
Barokah diartikan sebagai Ziyadatul Khair, yakni bertambahnya nilai kebaikan dalam sesuatu. Dalam majelis manaqib, motivasi utama individu adalah mendapatkan kedekatan (taqarrub) kepada Allah SWT. Keyakinan terhadap barokah memiliki dampak nyata secara spiritual berupa keistiqomahan dalam beribadah. Secara sosial, keyakinan ini mampu membangun kohesi masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai kesalehan kolektif, sebagaimana anjuran untuk melakukan dzikir bersama secara istiqomah di pesantren.

4. Diskursus Mengenai Shalawat Nariyah
Perbedaan pandangan terkait Shalawat Nariyah (Shalawat Tafrijiyah) berakar pada interpretasi kebahasaan. Kelompok yang mendukung memandangnya sebagai wasilah yang mujarab untuk membuka pintu kebajikan dan kelaparan rezeki, dengan memahami redaksi "melepaskan ikatan" sebagai bentuk permohonan agar Nabi menjadi sebab perantara bantuan Allah. Sebaliknya, kelompok yang menentang biasanya menggunakan pendekatan literal-tekstual yang mengkhawatirkan adanya celah kesyirikan (Sadd adzDzari'ah). Sikap yang moderat adalah memahami bahwa selama akidah pengamal tetap meyakini Allah sebagai subjek tunggal pemberi manfaat, maka shalawat tersebut adalah bentuk penghormatan dan perantara yang diperbolehkan.

5. Akar Permasalahan dan Kesimpulan Kritis
Akar permasalahan polemik tersebut terletak pada perbedaan metodologi dalam memahami dalil dan konsep wasilah serta bid'ah. Kelompok pro-manaqib menggunakan paradigma "Bid'ah Hasanah" dan tawassul yang luas, sedangkan kelompok kontra menggunakan standar "Bid'ah Dhalalah" yang lebih restriktif. Kesimpulan kritisnya, keberagaman pendapat ini harus disikapi dengan toleransi intelektual (tasamuh). Penggunaan Kitab I’anatul Ikhwan sebagai panduan secara tegas telah memasang "pagar akidah" agar jamaah tidak terjerumus pada kesyirikan, sehingga praktik ini tetap berada dalam koridor tauhid yang benar.
Webhost Information 12 Januari 2026 pukul 23.40 Hapus Komentar
Nama : Jelila Nurdiana
NIM : 2509662006
PRODI : KPI

1. Analisis Struktur Acara Dzikir Manaqib
Struktur Dzikir Manaqib dalam Kitab I'anatul Ikhwan disusun secara hierarkis
untuk mengantarkan pengamal pada kondisi spiritual yang optimal:
A. Tahap Purifikasi (Pembukaan): Dimulai dengan niat ikhlas, taubat nasuha atas dosa tujuh anggota badan (lisan, mata, telinga, tangan, kaki, perut, kemaluan), dan pembersihan hadas. Secara psikologis, ini memposisikan peserta pada kondisi "fakir" di hadapan Allah.
B. Tahap Koneksi (Wasilah): Melalui Istighotsah, Sholat sunnah, dan pembacaan Al-Fatihah (Tawassul) kepada Rasulullah, Sahabat, dan Syeikh Abdul Qadir AlJailani. Ini membangun jembatan spiritual melalui barokah para kekasih Allah.
C. Tahap Inti (Manaqib & Muroqobah): Pembacaan riwayat hidup Syeikh (Nurul Burhani) dan Muroqobah (konsentrasi hajat). Evaluasinya, pembacaan riwayat wali bukan sekadar dongeng, melainkan teladan ketakwaan yang meningkatkan motivasi spiritual peserta.
D. Tahap Penutup: Diakhiri dengan Sholat Witir dan doa penutup untuk memantapkan iman. Keseluruhan elemen ini berkontribusi pada pemahaman bahwa kedekatan kepada wali adalah sarana menuju kedekatan kepada Sang Khalik.

2. Tiga Macam Tawassul yang Utama
Berdasarkan argumentasi ilmiah yang sejalan dengan kitab:
A. Tawassul dengan Amal Saleh: Seperti yang dicontohkan melalui Sholat sunnah Libirril Walidain dan sedekah. Dalilnya adalah kisah tiga orang yang terjepit di gua dalam Hadis Bukhari-Muslim.
B. Tawassul dengan Asmaul Husna: Menggunakan nama-nama Allah seperti "Ya Arhamar Rohimin" atau "Ya Karim Ya Rahim" dalam doa . Hal ini sesuai perintah Al-A'raf: 180.
C. Tawassul dengan Doa Orang Saleh (Tawassul bi Dzati/Barokah): Memohon langsung kepada Allah dengan perantaraan barokah Syeikh Abdul Qadir AlJailani. Adab yang sangat ditekankan adalah tidak dibenarkan meminta langsung kepada Syeikh, melainkan tetap kepada Allah melalui perantaraan (wasilah) kedudukan beliau di sisi Allah

3. Konsep Barokah dalam Islam
A. Definisi: Barokah berarti Ziyadatul Khair (bertambahnya kebaikan).
B. Analisis: Dalam majelis manaqib, barokah bersumber dari Allah yang dititipkan pada amal saleh dan para kekasih-Nya. Manifestasinya dalam kehidupan adalah ketenangan batin, kemudahan rezeki, dan keistiqomahan ibadah. Motivasi individu mencari barokah melalui manaqib adalah untuk mempercepat terkabulnya hajat duniawi dan ukhrawi melalui perantara yang dicintai Allah.

4. Perbedaan Pandangan Terkait Shalawat Nariyah
A. Kelompok Pendukung: Memandang shalawat ini sebagai wasilah yang efektif karena mengandung pujian atas kesempurnaan Rasulullah sebagai sebab dilepaskannya kesulitan.
B. Kelompok Penentang: Menilai ada unsur syirik atau bid'ah pada kalimat seperti "melepaskan ikatan" yang seolah-olah atribut Allah diberikan kepada Nabi.
C. Faktor Penyebab: Perbedaan dalam memahami bahasa sastra Arab (Majaz vs Hakiki). Pendukung memandangnya sebagai Majaz Aqli (Nabi sebagai sebab, Allah sebagai aktor), sementara penentang memandangnya secara tekstualliteral.


5. Akar Permasalahan dan Kesimpulan Kritis
Akar permasalahannya terletak pada perbedaan interpretasi konsep Wasilah dan
Bid'ah.
A. Analisis Kritis: Pihak kontra cenderung memakai pendekatan Sadd adz-Dzari'ah (menutup celah kesyirikan), sedangkan pihak pro memakai pendekatan Tawasul yang telah dipraktikkan ulama salaf.
B. Kesimpulan Moderat: Kita harus bijak memahami bahwa perbedaan ini adalah khilafiyah ijtihadiyah. Selama pengamal meyakini bahwa hanya Allah yang memberi manfaat dan mudarat seperti yang ditegaskan dalam Kitab I’anatul Ikhwan maka tuduhan syirik menjadi tidak relevan.
Muhammad Zaenuri 13 Januari 2026 pukul 06.24 Hapus Komentar
Nama : Muhammad Zaenuri
Nim :2509661048
Matkul : Tarbiyatul manaqib
Dosen pengampu : Fikri farikhin M. Pd. I
1) Analisis struktur acara dzikir manaqib
Struktur dzikir Manaqib dalam kitab i'anatul ikhwan disusun secara hierarkis untuk mengantarkan pengamal pada kondisi spiritual yang optimal.
(a) Tahap purifikasi (pembukaan), di mulai dengan niat ikhlas dan taubat nasuha atas dosa seluruh anggota badan (lisan, mata, telinga, tangan, kaki,perut,kemaluan) dan pembersihan hadas. Secara psikologis ini memposisikan peserta pada kondisi fakir di hadapan Allah.
(b) Tahap kondisi (koneksi/wasilah) melalui istighosah, wasilah dan tawassul.
(c) Tahap inti (Manaqib muroqobah) membangun jembatan spiritual melalui barokah pada kekasih Allah
(d) Tahap penutup di akhiri dengan sholat witir dan doa penutup untuk memantapkan iman.

(2) Tiga macam tawassul yang utama
Berdasarkan argumentasi ilmiah yang sejalan dengan kitab :
(a) tawassul dengan amal sholeh : seperti yang di contohkan di dalam sholat libirril walidain dan sedekah. Dalilnya adalah kisah 3 orang yang terjepit dalam goa dalam hadis Bhukori muslim.
(b) Tawassul dengan Asmaul husna : menggunakan nama nama Allah seperti qosidah "ya arhamar rohimin" dalam doa hal ini sesuai perintah al a'raf.
(c) Tawassul dengan do'a orang sholeh ( tawassul /biddzati ) barokah memohon langsung kepada Allah dengan perantara barokah. Dalam hal ini adab sangat di tekankan.

(3) konsep barokah dalam islam
Definisi : barokah berarti Ziayadatul khoir ( bertambahnya kebaikan )
Analisis : dalam Majlis Manaqib barokah bersumber dari Allah yang dititipakan pada amal sholeh dan para kekasihnya. Menifestasinya dalam kehidupan adalah ketenangan batin, kemudahan rezeki dan keistiqomahan ibadah. Motivasi individu dalam mencari barokah melalui Manaqib untuk mempercepat terkabulnya do'a.

(4) perbedaan pandangan terkait shalawat nariyah
Kelompok pendukung : memandang shalawat ini sebagai wasilah yang efektif karena mengandung pujian atas kesempurnaan rosulullah sebab di lepaskannya kesulitan.
Kelompok penentang : menilai ada unsur syirik atau bid'ah pada kalimat seperti " melepas ikatan" yang seolah olah atribut Allah di berikan pada nabi.
Faktor penyebab : perbedaan dalam memahami sastra bahasa sastra Arab ( majaz/hakiki) pendukung memandangnya sebagai majaz aqli, sementara penentang memandangnya secara tekstual literal.

(5) akar permasalahan dan kesimpulan kritis
Akar permasalahannya terletak pada perbedaan interpretasi konsep wasilah dan bid'ah.
Analis kritis : pihak kontra cenderung memakai pendekatan Saad ad dzariyah (penutup celah kesyirikan ) , sedangkan pihak pro memakai pendekatan tawassul yang telah di praktikan ulama' salaf.
Kesimpulan moderat : kita harus bijak memahami bahwa perbedaan ini adalah khalifah ijtihadiah.
Ayu halimatuz zuhro 13 Januari 2026 pukul 07.00 Hapus Komentar
Nama: Ayu halimatuz zuhro
Nim: 2509661030
Prodi: Hukum Keluarga Islam
Matkul: Tarbiyah manaqib
Dosen pengampu: Fikri farihin M. Pd, i
1. Dzikir Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani biasanya dibuka dengan pembacaan basmalah, tawassul kepada Rasulullah, para sahabat, para wali, dan khususnya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, terutama surat Yasin, al-Waqi’ah, al-Mulk, atau ayat tertentu yang berkaitan dengan rahmat dan ampunan. Setelah itu, dibacakan riwayat hidup (manaqib) Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yaitu cerita keteladanan beliau dalam ibadah, akhlak, perjuangan dakwah, karamah, dan pengabdian kepada umat. Di setiap sesi sering diselingi selawat Nabi, dzikir tahlil, takbir, istighfar, dan doa-doa thariqah Qadiriyyah. Bagian puncak biasanya adalah doa bersama, permohonan barakah, serta tawassul kepada Allah melalui jasa para wali dan salihin. Setiap elemen acara memiliki fungsi spiritual: pembukaan menyiapkan hati, pembacaan Al-Qur’an sebagai sumber rahmat, manaqib sebagai inspirasi keteladanan, dzikir sebagai pembersih hati, dan doa penutup sebagai ungkapan tawakkal. Melalui rangkaian tersebut peserta tidak hanya merasakan ketenangan batin, tetapi juga memperoleh pemahaman historis dan spiritual mengenai ajaran Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yaitu penguatan tauhid, adab, cinta kepada Rasulullah, dan semangat ibadah.
2. Tawassul secara umum berarti mendekatkan diri kepada Allah dengan perantara sesuatu yang dicintai-Nya. Para ulama Ahlus Sunnah membagi tawassul menjadi tiga bentuk utama. Pertama, tawassul dengan amal saleh, seperti sedekah, salat sunnah, dan birrul walidain. Dalil kuatnya adalah hadis tiga orang yang terperangkap dalam gua, lalu masing-masing bertawassul dengan amal saleh mereka, hingga batu terbuka — ini diriwayatkan sahih dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Kedua, tawassul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah, misalnya memohon ampun dengan nama Allah “al-Ghafur” atau meminta rahmat dengan nama “ar-Rahman”, sebagaimana firman Allah dalam QS. al-A’raf: 180 tentang berdoa dengan Asmaul Husna. Ketiga, tawassul dengan doa orang saleh yang masih hidup, seperti sahabat yang meminta doa Rasulullah atau seseorang meminta didoakan oleh wali atau guru. Dalilnya, para sahabat meminta doa kepada Nabi ketika turun hujan atau saat kesulitan, dan Nabi pun mendoakan mereka. Adapun adab tawassul antara lain menjaga akidah bahwa yang memberi manfaat hanyalah Allah, tidak meyakini perantara memiliki kekuatan mandiri, membaca doa dengan rendah hati, tidak berlebihan dalam pengagungan manusia, serta tetap menjaga adab kepada Rasulullah, para wali, dan orang saleh.
Ayu halimatuz zuhro 13 Januari 2026 pukul 07.03 Hapus Komentar
Nama: Ayu halimatuz zuhro
Nim: 2509661030
Prodi: Hukum Keluarga Islam
Matkul: Tarbiyah manaqib
Dosen pengampu: Fikri farihin M. Pd, i
PART II
3. Keikutsertaan seseorang dalam majelis manaqib sering didorong oleh harapan memperoleh barokah. Dalam Islam, barokah dipahami sebagai kebaikan yang tetap dan bertambah, baik secara lahir maupun batin. Sumber barokah utama adalah Allah, sedangkan sebab-sebabnya dapat melalui Al-Qur’an, amal saleh, orang saleh, tempat ibadah, dan majelis dzikir. Majelis manaqib dianggap sebagai tempat turunnya ketenangan dan rahmat sebagaimana hadis tentang majelis dzikir yang dikelilingi malaikat dan diliputi sakinah. Secara psikologis, barokah memengaruhi ketenangan jiwa, semangat ibadah, optimisme, dan motivasi kebaikan; secara sosial, majelis ini memperkuat ukhuwah, solidaritas, tradisi sedekah, dan kepedulian kepada sesama; secara spiritual, ia memperdalam rasa kedekatan kepada Allah, kecintaan kepada Rasulullah, serta penghormatan kepada para wali. Keyakinan kepada barokah tidak berarti meninggalkan usaha lahir, tetapi justru menguatkan ikhtiar dengan dimensi batin, karena barokah dimaknai sebagai pertolongan Allah yang menyertai usaha manusia.
4. Shalawat Nariyah dipandang sebagian kalangan sebagai amalan yang memiliki keutamaan, melapangkan rezeki, menghilangkan kesulitan, dan menjadi wasilah terkabulnya hajat, sehingga ada yang menyebutnya Shalawat Tafrijiyyah. Mereka yang mendukung biasanya berdalil pada keumuman perintah bershalawat kepada Nabi dalam QS. al-Ahzab: 56, keutamaan memperbanyak selawat dalam hadis-hadis sahih, serta pengalaman spiritual para ulama dan santri bahwa selawat membawa ketenangan dan jalan keluar. Di sisi lain, kelompok yang menolak menganggap penentuan bilangan tertentu, pahala tertentu, atau klaim kepastian terkabulnya hajat tanpa dalil sahih sebagai bid’ah dalam penetapan tata cara ibadah. Perbedaan ini muncul karena perbedaan sudut pandang dalam memahami bid’ah: sebagian melihatnya secara ketat pada aspek format dan lafaz, sementara sebagian lain melihat substansinya selama tidak bertentangan dengan syariat dan akidah. Faktor lain adalah perbedaan latar pendidikan, lingkungan pesantren atau non-pesantren, otoritas guru, dan corak pemikiran keagamaan (salafi-tasawuf). Sikap terbaik adalah moderat: menghormati amalan selawat yang jelas memiliki dasar umum, menghindari klaim berlebihan mengenai kepastian hasil, tidak mudah menyesatkan sesama Muslim, dan mengedepankan akhlak serta persatuan umat.
5. Akar permasalahan perdebatan Shalawat Nariyah pada dasarnya terletak pada cara memahami dalil dan konsep bid’ah. Kelompok yang pro menekankan bahwa membaca selawat apa pun pada hakikatnya adalah ibadah yang dianjurkan secara umum tanpa harus ada teks khusus dari Nabi, selama isinya memuliakan Rasulullah dan tidak bertentangan dengan akidah. Mereka menilai pengalaman para ulama, keberkahan majelis, dan ketenangan hati sebagai bagian dari hikmah amalan. Sementara kelompok yang kontra keberatan pada penetapan fadhilah tertentu, jumlah bacaan tertentu, atau klaim jaminan terkabulnya hajat yang tidak memiliki dalil sahih. Perbedaan juga disebabkan oleh perbedaan metode beragama: skripturalis-tekstual yang menuntut dalil rinci pada setiap praktik ibadah, dan tradisional-tasawuf yang lebih menerima amalan yang berkembang selama tidak melanggar syariat. Inti persoalannya bukan pada selawat itu sendiri, tetapi pada penetapan status hukum dan cara berdalil. Sikap yang bijak adalah memahami bahwa selawat kepada Nabi pasti bernilai ibadah, meninggalkan klaim berlebihan, tidak merendahkan kelompok lain, serta menempatkan perbedaan sebagai ranah ijtihad ulama, bukan sebagai alasan perpecahan.
M Faruq Rofiqi 13 Januari 2026 pukul 08.26 Hapus Komentar
Nama : M Faruq Rofiqi
Kls : 1G
Nim : 2509629007
Matkul : Tarbiyatul Manaqib
Pengampu Dosen : Fikri Farikhin, M. Pd. I
Tugas : UAS Semester 1
1. Pelaksanaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Kegiatan manaqib di pondok pesantren Al Qodiri Jember diselenggarakan dengan beberapa tahapan:
Pembukaan: Dimulai dengan pembacaan Surat Al-Fatihah dan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Inti Acara: Pembacaan manaqib (biografi dan kisah teladan) Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang bertujuan untuk menginspirasi peserta.
Selawat dan Zikir: Diadakan di sela-sela atau setelah pembacaan manaqib untuk meningkatkan suasana ibadah.
Doa Bersama dan Penutup: Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh ustadz dan ditutup dengan salam.
2.Tawassul berarti mengambil perantara (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Teks ini menjelaskan tiga jenis tawassul:
Tawassul dengan Amal Saleh: Menggunakan perbuatan baik yang telah dilakukan sebagai perantara doa. Contohnya adalah berdoa setelah bersedekah. Adabnya adalah ikhlas dan hanya menggunakan amalan yang benar-benar diridhai Allah.
Tawassul dengan Asmaul Husnah dan Sifat Allah: Berdoa dengan menyebut nama-nama atau sifat-sifat Allah yang Agung. Contohnya adalah menyebut "Ya Rahman" saat meminta rahmat.
Tawassul dengan Orang Saleh yang Masih Hidup: Meminta orang yang dianggap saleh atau wali untuk mendoakan. Contohnya adalah meminta ulama di majelis manaqib untuk mendoakan.
3.Barokah adalah anugerah Allah yang memberikan kebaikan berlipat ganda, yang berdampak pada individu dan masyarakat. Definisi barokah berarti bertambahnya kebaikan dan sumber utamanya adalah Allah SWT.
4) Perbedaan pandangan terhadap sholawat Nariyah bersumber dari perbedaan interpretasi dalil dan konsep bid'ah dan tawassul.
Kelompok pendukung memandang Sholawat Nariyah memiliki keutamaan besar dalam melancarkan rezeki dan mengabaikan hukum dasarnya. Mereka berpatokan pada pengalaman empiris dan pandangan ulama yang membolehkan tawassul, bahkan dengan nama syaikh atau orang sholeh.
Kelompok menentang menganggap sholawat tersebut bid'ah, yaitu inovasi dalam ibadah yang tidak ada dasarnya dari Nabi. Mereka menetapkan tawassul dalam bentuk tertentu, meragukan sanad, dan berpendapat bahwa semua yang baru (bid'ah) itu sesat.
Kesimpulannya menyikapi perbedaan ini dengan bijak adalah menghargai pandangan yang beragam, fokus pada substansi ibadah, dan persatuan umat, serta menghindari perdebatan yang hanya memecah belah.
5) Akar permasalahan utama adalah perbedaan mendasar dalam interpretasi dalil dan konsep keagamaan
Akar permasalahannya terletak pada perbedaan mendasar dalam interpretasi dalil dan konsep keagamaan. Kelompok pro sering menggunakan dalil umum tentang keutamaan sholawat dan tawassul, sementara kelompok kontra menekankan pada ketersediaan dalil spesifik dari Al-Qur'an atau Hadist Shohih untuk Sholawat Nariyah secara khusus.
Perbedaan mendasar terkait bid'ah terletak pada definisi dan ruang lingkup bid'ah itu sendiri, apakah mencakup segala hal baru dalam agama (bid'ah sayyi'ah/dhalalah) ataukah hanya yang bertentangan dengan syariat (bid'ah hasanah).
Terkait tawassul, perdebatan muncul dari perbedaan pandangan tentang bentuk tawassul yang diperbolehkan, seperti tawassul dengan orang sholeh, baik hidup atau yang sudah meninggal.
Sikap moderat menyikapi adanya ruang khilaf (perbedaan pendapat) dalam masalah furu'iyah (cabang agama) dan mendorong dialog konstruktif serta saling menghormati di kalangan umat Islam. Jadi, sholawat Nariyah terfokus pada perbedaan fundamental dalam penafsiran dalil dan konsep keagamaan, terutama terkait definisi bid'ah dan hukum berijtihad.
Muhammad Faiqun Nadhori 13 Januari 2026 pukul 08.39 Hapus Komentar
Nama: Muhammad Faiqun Nadhori
NIM : 2509629004
Prodi : ekonomi syariah
KLS : 1G

1. Analisis Susunan Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Dzikir Manaqib disusun sistematis: pembukaan (niat, tawasul, Al-Fatihah) membangun kesiapan spiritual; isi (dzikir, shalawat, pembacaan manaqib) menanamkan keteladanan akhlak, zuhud, dan tauhid Syekh Abdul Qadir; penutup (doa) menginternalisasi nilai tawakkal dan harapan rahmat Allah. Setiap tahap memperkuat pengalaman spiritual sekaligus pemahaman ajaran tasawuf Ahlussunnah wal Jama’ah.
2. Tiga Jenis Tawasul
(1) Tawasul dengan amal saleh: berdasar hadis tiga orang di gua, sah dan disepakati.
(2) Tawasul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah: berdasar QS. Al-A’raf: 180.
(3) Tawasul dengan doa orang saleh yang hidup: dicontohkan para sahabat.
Adabnya: ikhlas, tidak meyakini selain Allah sebagai pemberi manfaat, dan mengikuti tuntunan syariat.
3. Konsep Barokah dalam Majelis Manaqib
Barokah adalah keberkahan Allah yang melipatgandakan manfaat. Sumbernya: iman, amal saleh, dzikir, dan kebersamaan dengan orang saleh. Majelis manaqib menjadi media spiritual untuk menumbuhkan motivasi religius, memperbaiki akhlak, memperkuat solidaritas sosial, dan membentuk perilaku ekonomi yang jujur dan beretika.
4. Perbedaan Pandangan tentang Shalawat Nariyah
Kelompok pendukung memandang Shalawat Nariyah sebagai dzikir dan wasilah yang sah karena berisi shalawat dan doa. Kelompok penentang menolaknya karena dianggap tidak bersumber eksplisit dari Nabi dan dikhawatirkan bid’ah. Perbedaan dipicu oleh perbedaan pemahaman tentang bid’ah hasanah dan konsep tawasul. Sikap moderat menuntut saling menghormati dalam ranah khilafiyah.
5. Akar Perdebatan Shalawat Nariyah
Akar masalah terletak pada perbedaan metodologi istinbath dalil dan pemahaman bid’ah. Kelompok pro menekankan substansi dan kaidah umum syariat, sedangkan kontra berfokus pada literalitas dalil. Perdebatan ini bersifat furu’iyah, sehingga harus disikapi dengan toleransi, ilmiah, dan menjaga ukhuwah Islamiyah.
Iradaatul Izza 13 Januari 2026 pukul 16.39 Hapus Komentar
nama: Iradatul Izza
nim:2509629037
prodi:ekonomi syariah

1. susunan acara dzikir manaqib syeikh abdul qodir Al-jailani melibatkan beberapa acara yaitu diantaranya adalah: pembukaan, biasanya dimulai dengan pembacaan tawasul dan fatihah kepada nabi muhammad SAW., para sahabat, dan syeikh Abdul Qodir Al-jailani. Memohon keberkahan dan kelancaran acara, pembacaan manaqib merupakan inti acara dimana riwayat hidup, akhlaq, dan karomah syeikh Abdul Qodir Al- jailani dibacakan(seringkali dari kitab tertentu seperti nulul burhan atau lijainud dani), dzikir dan sholawat di selingi dengan lantunan kalimar tayyibah seperti tahlil, tasbih, tahmid dan sholawat kepada nabi. doa penutup, acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang ulama atau sesepuh, memohon agar segala hajat dikabulkan, dan diampuni, dan barokah manaqib di terima.
2. Tawasul adalah praktik mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan perantara yang memiliki tiga macam utama yang disepakati oleh sebagian besar ulama, diantaranya adalah tawasul dengan amalan sholeh, tawasul ini menggunakan amal ibadah yang pernah dilakukan sebagai perantara doa. Hadis tentang tiga orang yang terperangkap didalam gua dan berdoa dengan perantara amal sholeh mereka(h.r. bukhari & muslim). Contohnya "seseorang berdoa "ya allah dengan sedekah yang hamba lakukan kemarin, sembuhkanlah penyakit hamba" ". Adabnya dilakukan dengan ikhlas, meyakini bahwa hanya allah yang mengabulkan doa. Tawasul dengan asmaul husna dan sifat allah adalah tawasul yang memohon kepada allah dengan menyebut nama-nama dan sifatnya yang mulia, dalilnya adalah (surah al-a'raf:180) contohnya menyebut nama allah sebagai arrahman saat meminta rahmat, adabnya memilih nama atau sifat allah yang sesuai dengan permohonan yang diajukan. Tawasul dengan doa orang sholeh yang masih hidup, ini dilakukan dengan meminta orang yang diyakini sholeh dan dekat dengan Allah, dalilnya ada pada(h.r. bukhari & muslim) praktik para sahabat yang meminta nabi mendoakan mereka, contohnya meminta seorang kiyai untuk mendoakan kesuksesan adabnya meminta dengan sopan dan yakin bahwa doanya dikabulkan memalui perantara tersebut.
3. Konsep barokah dalam islam adalah karunia ilahi berupa kebaikan yang berlimpah, langgeng, dan bertumbuh yang menjadi motivasi kuat partisipasi dalam majlis. Barokah secara bahasa berarti bertambah, tumbuh, atau langgengnya kebaikan. Adapun sumber-sumber utama datangnya barokah yaitu berasal dari Allah SWT. dan dapat di peroleh melalui ketaatan ibadah. barokah termanifestasi dalam aspek spiritual(dapat berupa ketentraman hati), ekonomi(kecukupan rezeki meski sedikit jumlahnya), sosial(keharmonisan keluarga) motivasi individu "mencari barokah melalui dzikir manaqib karena yakin bahwa majelis tersebut adalah tempat berkumpulnya orang-orang sholeh". Dampak nyatanya mendorong sikap qonaah dan menjauhi riba.
4. Perbedaan pandangan mengenai sholawat nariah berakar pada interpretasi dalil dan konsep keagamaan. Kelompok yang mendukung sholawat nariyah meyakini keutamaannya sebagai wasilah, alasannya mereka berargumen bahwa sholawat diperintah dalam (Q.S. al-ahzab: 56) dan memiliki banyak manfaat. Kelompok yang menantang terhadap konsep bid'ah dan tawasul. Kesimpulan kritis, fokus pada asensi sholawat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada nabi.
5. perbedaan mendasar konsep bid'ah sebagian yang pro dengan ini, menggunakan kaidah ushul fiqih bahwa segala sesuatu dalam ibadah pada dasarnya boleh kecuali ada larangan spesifik atau membagi bid'ah menjadi hasanah, yang kontra berpegang pada prinsip bahwa ibadah ada dasarnya dari nabi. Konsep tawasul yang pro dengan ini, memandang redaksi sholawat nariyah sebagai bentuk tawasul yang sah melalui keilmuan nabi, yang kontra dengan ini membatasi tawasul hanya yang di kerjakan nabi.
Siti nurhalisa 13 Januari 2026 pukul 20.50 Hapus Komentar
Nama : siti nurhalisa
Prodi : akuntansi syariah
Nim :2509658004
1.)tahapan dan struktur acara
Acara ini terbagi menjadi 5 fase utama
A.pembukaan dan tawassul
Acara di mulai dengan pembukaan ummul kitab (alfatihan)yang di tunjukan kepada nabi muhammad,keluarga dan sahabat para wali,(khususnya kyai syah abdul qodir aljailani)serta para guru dan keluhuran para jamaah.
•bacaan utama:al fatihah berulang kali dengan niat khusus
B.pembacaan ayat suci al quran dan istiqosah
Sesi ini melibat kan permohonan ampun yang mendalam,jamaah di ajak untuk menyadari kelemahan diri di hadapan sang pencipta.
•bacaan utama: istigfar,bacaan tauhid(lailahaillallah)
C.pembacaan kitab manaqib
Inilah sesi sentral dimana riwayat hidup,karomah,dan ajaran syeh abdul qodir al jailani,biasanya terdiri dari beberapa ban (babun)
•bacaan utama:teks manaqib ynag menjelaskan tentang ke sholihan,keteguhan ibadah,dan kadar mawanan syeh di sela sela serta sholawat puitis
D.mauidzah hasanah
Penyampaian pesan moral dan penjelasan atas nilai nilai yang terkandung dalam manaqib
E.doa penutup dan musyafahah
Acara di akhiri dengan doa yang sangat khusuk,seringkali ditangisi oleh jamaah,memohon kebaikan dan hajat dunia dan akhirat
•>analisis intribusi elemen terhadap pengalaman spiritual
•almosfer kolektif:suara ribuan orang yang melantungkan zikir secara sikron menciptakan resonansi yang memperkuat kekhusukan
•simbolisme manaqib:pembacaan riwayat hidup syeh berfungsi sebagai jembatan.
2.) 1 tawasul dengan amal sholeh
Tawassul ini di lakukan dengan menyebut amal kebaikan yang telah kita kerjakan secara ikhlas sebagai "pembuka"sebelum memohon sesuatu kepada allah
Dalil: hadis populer tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua
Contoh praktis: yaallah demi kecintaanku kepada rasulmu dan sholawat yang aku baca ,sembuhkan lah pentakitku
Adab: pastikan amal teesebut di lakukan dengan ikhlas (bukan riya)
2.tawassul dengan asmaul husna atau sifat allah
Ini adalah bentuk tawassul yang paling tinggi tingkatannya karena langsung memuji allah dengan nama nama nya yang agung sesuai dengan hajat yang di ingin kan
Dalil : hanya milik allah asmaul husna maka bermohonlah kepadanya dengan menyebut asmaul husna itu
•contoh praktis: ya qowiyyu(maha kuat) kuatkanlah hatiku dengan melewati ujian ini
•adab: menghadirkan rasa pengagungan dan kerendahan hati saat menyebut nama nama tersebut
3.tawassul dengan doa orang orang yang masih hidup
Tawassul ini di lakukan dengan meminta seseorang yang di anggap bertakwa atau dekat dengan allah untuk mendoakan kita kepada allah
•Dalil: kisah para sahabat yang meminta di doakan kepada nabi muhammad saw saat beliau masih hidup
•contoh praktis: mendatangi guru,orang tua,atau ulama'yang berkata: wahai ustad,mohon doa kan saya agar anak saya menjadi anak yang sholeh
•adab: jangan berlebihan dalam mengangungkan orang teesebut
3.)konsep barokah dalam islam
Secara itimelogi,barokah berasal dari kata baraka yang berarti "nikmat"atau "pertambahan" dalam terminologi islam,barokah didefinisikan sebagai qiyadatul khoir atau bertambahnya kebaikan
•>sumber sumber barokah
•al quran
•waktu dan tempat
•sosok saleh
•amal saleh
•> maniestasi dalam kehidupan
Barokah sering kali disalah pahami hanya sebagai penambahan kuantitas (misalnya bertambah nya uang)
Hafidatur Rohmaniyah 13 Januari 2026 pukul 20.51 Hapus Komentar
Nama: Hafidatur Rohmaniyah
Nim: 2509658003
Prodi: Akuntansi syariah
Mata kuliah: Tarbiyah manaqib
Kelas: 1G

1.Secara umum dzikir Manaqib biasanya memiliki tahapansebagai berikut:
a. Pembukaan: Dimulai dengan pembukaan, al-fatihah, istighfar dan solawat untuk memulai acara dengan khidmat
b. Tawassul: membaca doa perantara yang ditujukan kepada nabi Muhammad Saw, para sahabat, dan khususnya Syaikh Abdul Qadir Jailani untuk memohon keberkahan dan kemudahan acara
c. Pembacaan Manaqib: membaca riwayat hidup , akhlak mulia, karamah Syaikh Abdul Qadir Jailani. Sesi ini bertujuan untuk menginspirasi peserta dan meningkatkan cinta kepada beliau
d. Dzikir dan sholawat: melantunkan kalimat² thoyyibah (seperti tahlil, tahmid, tasbih) dan solawat secara bersamaan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Nabi Muhammad Saw.
e. Doa penutup: Membaca doa sebagai penutup acara, memohon ampunan, Keberkahan dan semua hajat terkabulkan.
Setiap elemen ini berkontribusi pada pengalaman spiritual Dengan menciptakan suasana yang kondusif untuk refleksi, inspirasi dan koneksi spiritual, serta memperkuat pemahaman peserta terhadap ajaran dan teladan Syaikh Abdul Qadir Jailani.
2.👣Tawassul dan amal saleh
Dilakukan dengan menyebutkan amal kebajikan yang pernah dilakukan secara ikhlas karena Allah, semata mata untuk memohon agar doa terkabul.
a. Dalil pendukung: Dalil pertama adalah kisah seseorang yang terjebak dalam gua yang tertutup batu besar, masing²dari mereka berdoa dan bertawakal kepada Allah dengan amal saleh terbaik yang pernah dilakukan dan mengabulkan doa mereka dengan menggeser baru tersebut secara bertahap, kisah ini diriwayatkan dalam hadits sohih oleh imam Bukhori dan muslim.
b. Contoh perilaku: seseorang yang sedang sakit parah berdoa: "ya Allah, jika sedekah yang hamba berikan bulan lalu tulis karenamu, sembuhkanlah hamba dari penyakit ini".
c. Adab: keyakinan harus tetap bahwa Allah yang mengabulkan doa, amal salih,hanyalah sarana yang di syari'atkan.
👣 Tawassul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah
a. Dalil pendukung: Allah berfirman dalam QS.al -a'raf ayat 180: "Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama nama yang terbaik) maka bermohonlah kepadanya dengan menyebutkan Asmaul Husna.
b. Contoh perilaku: saat memohon ampunan berdoa: " Ya Allah, ya Rahman,ya rahim (yang maha pengasih dan maha penyayang) ampunilah dosa hamba".
c. Adab: memilih nama/sifat Allah yang sesuai dengan konteks doa(contohnya memohon kesembuhan dengan menyebut asy-syafi).
👣 Tawassul dengan doa orang saleh yang masih hidup
a. Dalil pendukung: dicontohkan oleh sahabat nabi ketika terjadi musim kemarau panjang, Umar bin Khattab meminta al-abbas bin Abdul Muthalib untuk memimpin salat istisqa'.
b. Contoh perilaku: seorang anak meminta orang tua nya: "ayah/ibu,mohon doakan semoga ujian saya lancar dan mendapat hasil yang baik.
c. Adab: orang yang meminta doa harus meyakini bahwa pengabulan doa tetap dari Allah semata.
3.Secara etimologis, barokah berasal dari bahasa arab yang berarti nikmat, pertumbuhan/keberlanjutan.
📌barokah diperoleh dari ketaatan pada ajaran Al-Qur'an dan Sunnah dan amalan² tertentu seperti:
a. Iman dan taqwa
b. Mencari Rezeki halal
c. Menjaga hubungan. silaturrahmi
d. Sedekah dan keistimewaan
e. Bersyukur dan berdoa
f. Membaca Alquran dan sholat.
Manifestasi dalam kehidupan:
a. Spiritual: merasakan ketenangan jiwa
b. Sosial: memiliki hubungan yang harmonis
c. Ekonomi: Harta yang sedikit merasa cukup.
d. Waktu: mampu menyelesaikan tugas dengan waktu yang singkat dan terasa produktif
📌 Motifasi individu dalam mencari barokah melalui majlis Manaqib.
Partisipasi dalam Manaqib Diperoleh dari keyakinan bahwa individu²tersebut adalah saluran keberkahan dari Allah. Motivasi pertamanya bersifat afektif dan spiritual bukan semata-mata rasional peserta berharap dapat:
a. Mendapatkan kehadiran spiritual
b. Ngalap barokah
c. Memperkuat jaringan sosial keagamaan.
📌Dampak nyata keyakinan terhadap barokah
Menumbuhkan sifat saling tolong menolong, kepercayaan, layanan sukarela dalam komunitas, hal ini mempererat solidaritas sosial.
Siti nurhalisa 13 Januari 2026 pukul 20.51 Hapus Komentar
Nama:siti nurhalisa
Nim 2509658004
Produ: akuntansi syariah
•> motivasi individu dalam majelis manaqib
Motivasi utama jamaah mengikuti manaqib adalah tabarruk (mengambil barokah) secara psikologi dan teologis motivasi ini mencangkup
• tawassul
• keteladanan (uswah)
•koneksi spiritual
•> dampak nyata keyakinan terhadap barokah
-dampak spiritual
Meningkatkan optinisme dan resielensi (daya tahan) mental seseorang yang mengejar barokah cenderung lebih ikhlas karena fokusnya ridho allah, bukan hanya sekedar hasil materi yang nampak
-dampak sosial
Keinginan menjaga barokah mendorong individu untuk bersikap santun(adab)kepada guru,orangtua,dan sesama karena maksiat diyakini karena dampak mengambil barokah
-dampak ekonomi: penyenggalaan majelis sering kali menggerakkan ekonomi lokal(pedagangkecil,transportasi,dan lagistik)
4.-argumen kelompok yang mendukung
Kelompok ini umumnya berasal dari karangan tradisionalis atau pengikut paham ahluh sunnah waljamaah yang memandang sholawat bukan hanya bacaan formal ,melainkan sarana tabarruk (mengambil berkah)
-argumen kelompok yang menentang
Kelompok ini,sering kali di identifikasi dengan paham salafi atau pemurniaan,ajaran,menolak praktik ini karena beranggap pertentangan dengan prinsip dasar ibadah
-analisis faktor pengebab perbedaan
Akar dari pendapat ini terletak pada perbedaan paradigma dalam memahami dua konsep kunci
•konsep bidah
•konsep tawassul
5.)akar permasalahan
Puhak kontra menafsirkan kata "bihi"(dengan dia/nabi)sebagai bentuk penyandaran perbuatan (penciptaan/pemberian manfaat)kepada makhluk mereka menganggap preduksi ini mengandung unsur syirik karena melepaskan kesulitan dan mengabulkan hajat adalah atoritas mutlak allah
-nabi sebagai pencipta manfaat itu sendiri
-perbedaan interprerasi dalil dankonsep keagamaan
-pandangan pro: tauhid uluhiyah dan tasawuf menekankan pada mahabbah (cinta) meyakini bahwa memuliakan nabi adalah bagian dari memuliakan allah
-pandangan kontra:tauhid uluhitah dan rubuhiyah menekankan pada pemurnian ibadah khawatir penggunaan kata kata yang berlebihan dapat menjerumuskan pada kesyrikan
Hafidatur Rohmaniyah 13 Januari 2026 pukul 20.51 Hapus Komentar
4.📌 Alasan kelompok mendukung
kelompok yang mendukung pembacaan solawat nariyah berargumen berdasarkan prinsip fadhail al-a'mal dan pengalaman empiris
a. Keutamaan dan manfaat
b. Tawassul yang diperbolehkan
c. Bidah hasanah
📌 alasan kelompok menentang
Kebanyakan orang yang menolak solawat nariyah sering kali dari kalangan yang menekankan interprestasi tekstual, mendasarkan penolakan mereka pada kekhawatiran akan sinkretisme dan kemurnian ibadah.
a. Keutamaan dalil spesifik
b. Definisi bid ah yang ketat
c. Risiko syirik
5. Akar permasalahan perdebatan Shalawat Nariyah terletak pada perbedaan metodologi dalam menafsirkan batasan tauhid dan penggunaan bahasa dalam ibadah. Berikut adalah analisis perbedaan mendasar antara kedua pandangan tersebut:
1. Interpretasi Redaksi "Tanhalu bihil 'uqadu" (Terurainya Ikatan)
2. Konsep Tawassul
3. Klasifikasi Bid'ah dalam ibadah
akar permasalahannya bukanlah pada keutamaan bersholawat itu sendiri,melainkan pada standar penentuan kemusyrikan. pihak kontra sangat berhati hati dalam menjaga kemurnian tauhid agar tidak terjatuh pada pengkultusan individu,sedangkan pihak pro lebih menekankan pada aspek kecintaan(mahabbah) kepada nabi sebagai sarana spiritual untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta
Tri Kurnia Afiyanti 13 Januari 2026 pukul 20.58 Hapus Komentar
nama: Tri Kurnia Afiyanti
nim: 2509629024
prodi: ekonomi syariah


1. ●pembukaan
•Doa pembuka: memohon keberkahan dan ridho Allah swt.
•sholawat nariyah: memperkenalkan suasana spiritual, memuji nabi muhammad saw. dan memohon pertolongan
•pembacaan surah yasin/tahlil(opsional): mengirimkan pahala kepada para arwah, termasuk syekh abdul qadir al-jaylani.
●pembacaan manaqib (inti acara)
•pengantar: biasanya disampaikan oleh pemimpin majlis (untuk kh. ach muzakki syah di alqodiri) tentang pentingnya syekh abdul qadir al-jaylani sebagai sulthanul auliya' (pemimpin para wali)
•pembacaan kitab manaqib: menceritakan fiografis, akhlak, ajaran dan karomah beliau secara kronologis
•hikmah/tausiyah: pemimpin majlis menjelaskan makna spiritual dari kisah -kisah yang di bacakan,menghubungkannya dengan kehidupan sehari hari dan ajaran tasawuf (mengenal allah, zuhud, tawakkal)
●Dzikir dan wirid (peneguhan spiritual)
•asmaul husna: memperkenalkan nama baik allah swt
•tahlil&istigfar: memohon ampunan dan mengagungkan allah swt
•dzikir khusus(contoh:ya sayyidi, ya rasulullah, dzikir asmaul husna, dzikir sufi),memperkuat hubungan dengan allah melalui pengulangan namanya atau kalimat toyyibah.
•memperbanyak sholawat kepada nabi
●penutup
•doa penutup:memohon agar amal ibadah di terima,hajat di kabulkan, dan ilmu bermanfaat
•pembacaan tahlil/doa khusus syeikh(ratib): menutup dengan penghormatan tertinggi kepada syeikh.
• salam penutup: mengakhiri majlis dengan salam dan ucapan terima kasih
~Evaluasi konstribusi pada pengalaman spiritual
a. pengenalan dan kecintaan pada wali
b. penguatan tauhid dan tasawuf
c. ketenangan dan kekuatan spiritual
d. teladan
e.persatuan
Tri Kurnia Afiyanti 13 Januari 2026 pukul 21.00 Hapus Komentar
2.A.Tawasul jenis ini dilakukan dengan menyebutkan amal kebajikan yang pernah dilakukan secara ikhlas karena Allah, semata-mata untuk memohon agar doa dikabulkan.
•Dalil Pendukung: Dalil utama adalah kisah tiga orang yang terjebak dalam gua yang tertutup batu besar. Masing-masing dari mereka berdoa dan bertawasul kepada Allah dengan amal saleh terbaik yang pernah mereka lakukan (berbakti kepada orang tua, menjauhi maksiat, dan amanah dalam mengelola harta), dan Allah mengabulkan doa mereka dengan menggeser batu tersebut secara bertahap. Kisah ini diriwayatkan dalam hadis sahih oleh Imam Bukhari dan Muslim.
• Contoh Praktis: Seseorang yang sedang sakit parah berdoa: "Ya Allah, jika sedekah yang hamba berikan bulan lalu tulus karena-Mu, sembuhkanlah hamba dari penyakit ini." Seorang anak berdoa setelah berbakti kepada orang tua: "Ya Allah, dengan perantaraan bakti hamba kepada kedua orang tua hamba karena mengharap rida-Mu, mudahkanlah urusan hamba hari ini."
• Adab: Amal yang disebutkan harus dilakukan dengan ikhlas, semata-mata untuk Allah SWT. Keyakinan harus tetap bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa, amal saleh hanyalah sarana yang disyariatkan.
B.Tawasul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah Tawasul ini berarti berdoa dengan menyebut nama-nama atau sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna yang relevan dengan permohonan. •Dalil Pendukung: Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf ayat 180: "Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asmaul Husna itu..."Rasulullah SAW juga mengajarkan doa dengan menyebut sifat Allah, seperti dalam hadis: "Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri (Ya Hayyu Ya Qayyum), hanya dengan Rahmat-Mu lah aku ber-istighatsah (memohon pertolongan), luruskanlah seluruh urusanku..." (HR. An-Nasa'i dan Al-Hakim)
•Contoh Praktis: Saat memohon ampunan, berdoa: "Ya Allah, Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), ampunilah dosa-dosa hamba." Saat memohon rezeki, berdoa: "Ya Allah, Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki), berikanlah hamba rezeki yang halal dan berkah."
•Adab: Memilih nama atau sifat Allah yang sesuai dengan konteks doa (misalnya, memohon kesembuhan dengan menyebut Asy-Syafi). Dilakukan dengan penuh pengagungan dan keyakinan akan keagungan Allah.
C. Tawasul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup Tawasul ini dilakukan dengan cara meminta orang yang dianggap saleh, berilmu, atau memiliki kedudukan baik di sisi Allah yang masih hidup untuk mendoakan kita.
• Dalil Pendukung: Praktik ini dicontohkan oleh para sahabat Nabi. Ketika terjadi musim paceklik (kemarau panjang), Umar bin Khattab RA meminta Al-Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi SAW yang masih hidup) untuk memimpin doa salat istisqa (doa meminta hujan). Umar berkata, "Ya Allah, dahulu kami bertawasul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi-Mu (ketika beliau masih hidup), dan kini kami bertawasul kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami." Hal ini menunjukkan kebolehan tawasul dengan doa orang saleh yang masih hidup.
•Contoh Praktis: Seorang anak meminta orang tuanya: "Ayah/lbu, mohon doakan agar ujian saya lancar dan mendapat hasil terbaik." Seorang murid meminta gurunya/ulama: "Wahai Ustaz/Kiai, mohon doakan agar saya istiqamah dalam menuntut ilmu." •Adab: Orang yang dimintai doa harus masih hidup. Tawasul melalui orang yang telah meninggal dunia, ruhnya, atau kuburannya tidak disyariatkan dan dapat mengarah pada kesyirikan dalam pandangan sebagian ulama. Orang yang meminta doa harus meyakini bahwa pengabulan doa tetap berasal dari Allah semata, sementara
Tri Kurnia Afiyanti 13 Januari 2026 pukul 21.01 Hapus Komentar
3. Secara etimologis, "barokah" berasal dari bahasa Arab yang berarti nikmat, pertumbuhan, atau keberlanjutan. Dalam terminologi agama, barokah adalah masuknya kebaikan ilahi ke dalam sesuatu, menjadikannya sumber manfaat yang langgeng baik di dunia maupun di akhirat.

Sumber-sumber Barokah:
Satu-satunya sumber barokah adalah Allah SWT, dan tidak ada makhluk yang dapat memberikannya secara mandiri. Barokah diperoleh melalui ketaatan kepada ajaran Al-Qur'an dan sunnah serta amalan tertentu seperti:
a.Iman dan Takwa
b.Mencari Rezeki Halal
c.Menjaga Hubungan Silaturahmi
d.Sedekah dan Kedermawanan
e.Bersyukur dan Berdoa
f.Membaca Al-Qur'an dan Shalat

~Manifestasi dalam Kehidupan:
Barokah termanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan, bukan hanya dalam kuantitas harta:
a.Spiritual
b.Sosial
c.Ekonomi
d.Waktu

~Motivasi Individu dalam Mencari Barokah melalui Majelis Manaqib
Partisipasi dalam majelis manaqib (pembacaan riwayat hidup orang-orang saleh, seperti syekh atau ulama besar) didorong oleh keyakinan bahwa individu-individu tersebut adalah saluran (perantara) keberkahan dari Allah. Motivasi utamanya bersifat afektif dan spiritual, bukan semata-mata rasional. Peserta berharap dapat:
a.Mendapatkan Kehadiran Spiritual
b.Ngalap Berkah
c.memperkuat jaringan sosial keagamaan

~Dampak nyata terhadap keyakinan barokah
a.perilaku sosial
b.perilaku ekonomi
c.perilaku spiritual
4.faktor-faktor penyebab perbedaan, dan kesimpulan kritis yang moderat:

~Alasan Kelompok yang Mendukung
Kelompok yang mendukung pembacaan Shalawat Nariyah berargumen berdasarkan prinsip fadhail al-a'mal (keutamaan amalan) dan pengalaman empiris (living hadith).
a.Keutamaan dan Manfaat
b.Tawassul yang Diperbolehkan
c.Bid'ah Hasanah

~Alasan Kelompok yang Menentang
Kelompok yang menolak Shalawat Nariyah, sering kali dari kalangan yang menekankan interpretasi tekstual, mendasarkan penolakan mereka pada kekhawatiran akan sinkretisme dan menjaga kemurnian ibadah.
a.Ketiadaan Dalil Spesifik
b.Definisi Bid'ah yang Ketat
c.Risiko Syirik
5. Akar permasalahan perdebatan Shalawat Nariyah terletak pada perbedaan metodologi dalam menafsirkan batasan tauhid dan penggunaan bahasa dalam ibadah. Berikut adalah analisis perbedaan mendasar antara kedua pandangan tersebut:
1. Interpretasi Redaksi "Tanhalu bihil 'uqadu" (Terurainya Ikatan)
2. Konsep Tawassul
3. Klasifikasi Bid'ah dalam ibadah
akar permasalahannya bukanlah pada keutamaan bersholawat itu sendiri,melainkan pada standar penentuan kemusyrikan. pihak kontra sangat berhati hati dalam menjaga kemurnian tauhid agar tidak terjatuh pada pengkultusan individu,sedangkan pihak pro lebih menekankan pada aspek kecintaan(mahabbah) kepada nabi sebagai sarana spiritual untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta
Amama cahaya ningrat 14 Januari 2026 pukul 02.05 Hapus Komentar


Nama : Amana Cahaya Ningrat
Kelas : 1G
NIM : 2509662019
Prodi : KPI

1.) Susunan acara dzikir manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Secara umum diawali dengan pembukaan dan diakhiri dengan penutup. Dengan tahapan inti yang bervariasi tergantung pada tradisi lokal atau tarekat, namun biasanya:
Tahapan acara dan bacaan:
a. Pembukaan
Dimulai dengan pembacaan tawassul atau hadiah (mengirimkan bacaan Al-Fatihah, surat-surat pendek seperti Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Qadr, dan Al-Insyirah) yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, ahlul bait, para sahabat, guru mursyid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, dan seluruh kaum muslimin.
b. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an
Pelantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk membuka acara secara spiritual.
c. Pembacaan manaqib
Sesi utama di mana riwayat hidup, kisah teladan, dan karomah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dibacakan dari kitab manaqib tertentu (misalnya Jawahirul Ma’ani karya K.H. Ahmad Muzakki Syah). Pembacaan ini biasanya diselingi dengan bacaan shalawat dan doa di setiap fasal atau bagiannya.
d. Tahlil dan doa
Pembacaan kalimat tauhid (tahlil) dan doa bersama untuk memohon ampunan, rahmat, dan keberkahan.
Setiap elemen dalam susunan acara berkontribusi pada pengalaman spiritual dan pemahaman peserta.
2.) Tawassul dengan amalan shaleh
Tawassul jenis ini dilakukan dengan menjadikan amal ibadah atau ketaatan yang pernah dilakukan secara ikhlas sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah SWT.
a. Dalil dasar tawassul ini adalah kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis shahih. Mereka memohon pertolongan Allah dengan menyebut amal saleh terbaik yang pernah mereka lakukan (bakti kepada orang tua, menjauhi maksiat karena takut kepada Allah, dan menunaikan hak pekerja), dan Allah mengabulkan doa mereka.
b. Contoh praktis:
Mengawali doa dengan redaksi seperti:
“Ya Allah, dengan sedekah yang hamba berikan ini hamba memohon …”
atau
“Ya Allah, karena hamba telah menunaikan … maka kabulkanlah hajat hamba.”
c. Adab
Amalan yang disebutkan haruslah sesuatu yang dilakukan murni karena Allah dan bukan untuk pamer. Tawassul ini dilakukan untuk memperindah cara berdoa, bukan untuk mengandalkan amalan semata.
Amama cahaya ningrat 14 Januari 2026 pukul 02.06 Hapus Komentar
3).Sumber utama barokah adalah Allah SWT yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan merupakan sumber segala kebaikan. Barokah dapat dimanifestasikan melalui berbagai cara antara lain:
a. Ketaatan dan menjauhi maksiat
Menjaga ketaatan kepada Allah adalah kunci utama untuk memperoleh keberkahan.
b. Berbakti kepada orang tua dan menyambung silaturahmi
Perbuatan baik ini termasuk amalan yang dapat mendatangkan barokah.
c. Memperbanyak istighfar dan sedekah
Amalan-amalan saleh seperti bersedekah, bershalawat, dan memperbanyak doa dapat menjadi sarana untuk memperoleh barokah.
d. Waktu dan tempat tertentu
Al-Qur’an diturunkan pada malam yang diberkahi (Lailatul Qadr), menunjukkan adanya keberkahan yang terkait dengan waktu. Majelis ilmu dan majelis manaqib juga menjadi sarana turunnya keberkahan.
Dampak keyakinan memiliki dampak nyata dalam beberapa aspek, yaitu:
Spiritual → mendorong individu untuk lebih taat beribadah dan berdoa (ngalap berkah) serta menjauhi hal-hal yang tidak berkah.
Sosial ekonomi → juga mendorong atau memotivasi sikap qana’ah (merasa cukup), berbagi, dan menghindari perilaku serakah, karena meyakini rezeki yang berkah lebih utama daripada yang banyak tapi tidak berkah.
Perilaku → menumbuhkan sikap moderat dalam menyikapi perbedaan pendapat dan lebih fokus pada substansi kebaikan.
4.) Penting untuk menyikapi perbedaan ini secara moderat dan bijak
Akar permasalahannya seringkali pada perbedaan metodologi penetapan hukum (ushul fiqh) dan interpretasi dalil, bukan pada pokok keimanan. Sikap terbaik adalah menghormati pandangan yang berbeda, fokus pada substansi ibadah, dan menyadari bahwa ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam Islam adalah sebuah keniscayaan yang telah ada sejak lama.
5.) Akar permasalahan utama yang menyebabkan shalawat thariyah menjadi perdebatan adalah perbedaan mendasar dalam interpretasi dalil dan konsep keagamaan.
a. Perbedaan penafsiran dalil
Keumuman vs kekhususan dalil.
Kelompok pendukung menggunakan dalil-dalil umum tentang keutamaan bershalawat dan tawassul. Kelompok penentang menuntut adanya dalil spesifik yang memerintahkan bacaan shalawat thariyah dengan redaksi dan jumlah tertentu.
b. Validitas sumber dan pengalaman
Pendukung bersandar pada pengalaman empiris (mujarrab) dan riwayat ulama tertentu (seperti Syekh Al-Qurtubi).
Penentang lebih menekankan pada sanad hadis yang kuat dan menolak bersandar pada pengalaman pribadi sebagai dasar hukum.
c. Perbedaan secara konsep keagamaan
Konsep bid’ah → ini sebagai titik perdebatan terbesar, apakah bid’ah itu hanya dholalah (sesat) secara mutlak atau terbagi menjadi hasanah dan sayyi’ah (baik dan buruk).
→ Konsep tawassul dan syirik
Perbedaan pandangan tentang batas-batas tawassul yang diperbolehkan. Penentang khawatir redaksi shalawat seperti kalimat yang mengindikasikan ketergantungan penuh kepada Nabi bisa meluncur pada syirik (menyekutukan Allah). Pendukung menafsirkan redaksi tersebut sebagai bentuk kecintaan dan permohonan melalui perantaraan, bukan permohonan langsung kepada Nabi sebagai Tuhan.
Nama : Revi Riyatul Hasanah NIM : 2509629020 Prodi : ES Kelas : 1G 1.Tahapan acara a. Sebelum membaca dzikir manaqib, diawali dengan membaca istighfar, dsb. یاحی یقیوم برحمتك استغیث ... الی اخره 14 Januari 2026 pukul 03.11 Hapus Komentar
Nama : Revi Riyatul Hasanah
NIM : 2509629020
Prodi : ES
Kelas : 1G
1.Tahapan acara
a. Sebelum membaca dzikir manaqib, diawali dengan membaca istighfar, dsb.
یاحی یقیوم برحمتك استغیث ... الی اخره
b. Sholat sunnah hajat diawali dengan niat :
اصلي سنة لنیل الحوائج رکعتین (اماماً / مأموماً) لله تعالي
c. Membaca istighfar & meminta ampun dosa kedua orang tua, para guru, dan kaum muslimin, muslimat & diri sendiri
d. Membaca al-fatihah ditujukan pada nabi Muhammad S.A.W, para wali, dan lain², sbb :
الى حضرة النبى المصطفى محمد صلى الله عليه وسلم وعلى اله وصحبه الی اخره...
e. Membaca muqorobah 3 kali diawali dengan tawasul, sbb :
ببركة وبحرمة سلطان الاولیاء الی اخره...
f. Membaca do'a, sbb :
الهی انت مقصودي ... الی اخره
g. Membaca surah al-ikhlas 100 kali
h. Membaca manaqib (nurul burhan) oleh seorang atau orang yang lain & membaca dzikir dibawah ini, sbb :
اللهم صل وسلم على سيدنا ومولانا محمد الی اخره...
i. Sholat hajat
j. Melakukan muqorobah diawali dengan tawasul
k. Membaca sholawat munjiyat dan berdo'a sendiri
l. Membaca dzikir dibawah ini :
لا اله الا انت ... (7x)
یا الله ... (100x) } الی اخره
حسبنا الله ... (313x)
ربنا تقبل منا ...
m. Membaca nazam, sbb :
عباد الله رجال الله الی اخره...
n. Sholat witir
o. Membaca kalimat tauhid (tahlil)
p. Membaca do'a manaqib, sbb :
اللهم وبجاهه اختم حیاتنا الی اخره...
Semua elemen dalam manaqib berkontribusi dalam pengalaman spritual para jama'ah.
2.Tawasul secara bahasa berarti perantara atau wasilah u. mendekatkan diri kepada Allah SWT. Para ulama bersepakat bahwa ketiga jenis tawasul di bawah ini disyariatkan (Masyhur)
a. Tawasul Dengan Amal Sholeh
Tawasul ini dilakukan dengan menjadikan amal kebajikan yang telah dikerjakan secara ikhlas sebagai perantara do'a dikabulkan.
Dalil : Q.S. Al-Maidah 35
Contoh : Seseorang berdo'a "Ya Allah, jika sedekah yang aku keluarkan kemarin benar² ikhlas karenamu, maka sembuhkanlah penyakitku"
Adab : Amal yang dijadikan tawasul harus benar-benar dilakukan hanya karena Allah dan sesuai syari'at
b. Tawasul dengan asmaul husna dan sifat Allah
Tawasul ini dilakukan dengan menyebut nama Allah yang mulia atau sifat-sifatnya yang sesuai dengan hajat yang diminta
Dalil : Q.S. Al-A'raf : 180
Contoh : seseorang mengucapkan "ya razzaq, berikan aku rezeki yg halal"
Adab : Memilih nama Allah yang sesuai dengan konteks do'a (seperti Ya Razzaq saat memohon rezeki)
c. Tawasul dengan do'a orang sholeh yang masih hidup
Meminta bantuan orang yang dianggap dekat dengan Allah u. turut mendo'akan kita kepada Allah.
Dalil : dicontohkan oleh para sahabat nabi untuk dimintakan do'a (misal: do'a minta hujan). Setelah nabi wafat, Umar bin khattab bertawasul melalui do'a abbas bin abdul muthalib (paman nabi) saat terjadi kekeringan (H.R. Bukhari)
Contoh : Mendatangi seorang guru (kyai) dan berkata "ustad, mohon do'anya untuk kesembuhan anak saya".
Adab : Tidak menganggap orang sholeh tersebut sebagai pemberi manfaat secara mandiri, melainkan hanya sebagai perantara kepada Allah
=> Adab² umum dalam berdo'a:
Ikhlas dan yakin
Menghadirkan hati
Tidak melampaui batas
Memilih waktu mustajab.4. Dalam menyikapi perbedaan ini, diperlukan sikap wasatiyyah (moderat):
Saling menghargai (tasamuh): Memahami bahwa perbedaan ini berada dalam ranah dalam furu'iyyah, bukan pada pokok aqidah yang paling mendasar
Mengutamakan persatuan: Tidak mudah menyesatkan atau mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan redaksi do'a
5.Akar permasalahan yang menyebabkan shalawat nariyah menjadi perdebatan dikalangan umat islam bukan sekedar masalah bacaan, melainkan perbedaan mendasar dalam metodologi pemahaman dalil dan pandangan terhadap konsep tauhid serta wasilah
MUHAMMAD ROCKY MUAMMAM 14 Januari 2026 pukul 04.12 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
MUHAMMAD ROCKY MUAMMAM 14 Januari 2026 pukul 04.18 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
MUHAMMAD ROCKY MUAMMAM 14 Januari 2026 pukul 04.20 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
MUHAMMAD ROCKY MUAMMAM 14 Januari 2026 pukul 04.20 Hapus Komentar
1. Diawali diawali salam pengantar dan doa pembuka tahap ini berfungsi menata niat menenangkan hati dan memusatkan perhatian jamaah agar siap mengikuti majelis dengan khusyuk b pembacaan Alquran ayat-ayat Alquran dibacakan sebagai landasan utama fungsinya menyucikan batin dan menegaskan bahwa seluruh rangkaian dzikir berakar pada kalamullah c tembih atau pengingat berisi peringatan spiritual agar jamaah sadar akan tujuan majelis dan meneladani jalan para wali sampai membentuk memutus keterikatan duniawi dan memperkuat kesadaran rohani di tawasul dan dzikir awal jamaah bertawasul kepada Allah dengan menyebut nabi Muhammad dan syekh Abdul Qodir Jaelani sebagai teladan spiritual tahap ini memperdalam kehusukan dan rasa keterhubungan batin pembacaan manaqib merupakan inti acara berisi kisah keutamaan akhlak dan perjuangan syekh Abdul Qodir Al Jaelani fungsinya memberi inspirasi keteladanan serta menumbuhkan kecintaan kepada Allah melalui contoh nyata kehidupan wali tausiah penjelasan singkat untuk mengaitkan manaqib dengan kehidupan sehari-hari oke penutup dengan shalawat dan doa diakhiri dengan shalawat dan doa berfungsi menenangkan batin memohon keberkahan dan mengunci pengalaman spiritual agar berlanjut dalam perilaku sehari-hari

2. Rasul dengan amalan Saleh a pengertian tawasul dengan amalan Saleh adalah menjadikan amalan-amalan kebaikan yang pernah atau sedang dilakukan sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah ketika berdoa dengan keyakinan bahwa amal tersebut diterima oleh Allah dan menjadi sebab dikabulkannya doa hakikatnya memohon kepada Allah bukan kepada amal itu sendiri b dalil-dalil hadits shahih tentang tiga orang dalam gua hadis riwayat Bukhari dan Muslim 3 orang terjebak dalam gua lalu masing-masing bertawasul dengan amal sholeh birrul walidain menjaga diri dari zina menunaikan amanah dengan jujur tawasul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah pengertian itu bertawasul dengan menyebut nama-nama Allah atau Asmaul Husna atau sifat-sifatnya yang sempurna yang sesuai dengan permohonan yang diminta dalil-dalil Alquran surat al-a'raf ayat 180 dan milik Allah Asmaul Husna maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu ayat ini adalah perintah langsung untuk berdoa dengan Asmaul Husna tawas ketiga tawasul dengan doa orang Sholeh yang masih hidup pengertian yaitu meminta orang yang dikenal oleh alim dan berwibawa untuk mendoakan kita dengan keyakinan bahwa doanya lebih mustajab sementara yang mengabulkan tetap Allah semata dalilnya para sahabat minta doa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau masih hidup hadits tentang Umar bin Khattab yang meminta doa Abbas bin Abdul Muthalib saat hadis riwayat Bukhari dahulu kami bertawakal dengan nabi kamu sekarang kami bertawasul dengan paman nabi kami semua bentuk tawasul ini sepakat bahwa yang diminta hanya Allah tawasul hanya wasilah atau perantara tidak ada unsur syirik selama tidak menyangkutkan Allah Rasul bukan sekedar ritual tetapi ada spiritual yang mencerminkan kerendahan hati pengakuan kelemahan diri dan keyakinan penuh kepada Allah
MUHAMMAD ROCKY MUAMMAM 14 Januari 2026 pukul 04.21 Hapus Komentar
3. Majelis manaqib yang berisi zikir doa dan bacaan kisah wali Allah dipahami sebagai sarana tazki atau nafas atau penyucian jiwa media menghadirkan teladan kesalehan wasilah memperkuat hubungan dengan Allah peserta berharap barokah melalui dzikir kedudukan rahmat Allah dari dimensi psikologis kebutuhan akan ketenangan batin harapan di tengah kesulitan hidup rasa aman melalui kebersamaan spiritual majelis berfungsi sebagai ruang terapi spiritual kolektif dari dimensi identitas bagi banyak komunitas manaqib adalah warisan ulama dan pesantren identitas keislaman tradisional atau ahlussunnah Wal jamaah sarana transmisi nilai lintas generasi barokah dipahami bukan hanya individu tetapi komunal dan kultural evaluasi dampak keyakinan terhadap barokah dampak terhadap perilaku spiritual dampak positif meningkatkan semangat ibadah konsistensi zikir dan doa rasa rendah hati dan tawakal catatan kritis perlu diluruskan agar tidak menggantikan usaha dan ikhtiar barokah bukan jaminan instan tetapi proses ketaatan dampak terhadap perilaku sosial positif menguatkan solidaritas jamaah mendorong akhlak mulia menjaga keharmoni sosial majelis manaqib sering menjadi simpul sosial yang mengikat masyarakat menjadi damai dampak terhadap perilaku ekonomi positif etos kerja berbasis kejujuran menghindari rezeki haram kesadaran bahwa cukup lebih penting daripada banyak namun jika tidak disertai pemahaman yang benar ada risiko-sikap pasif atau paragraf karena itu ulama menekankan barokah meninggalkan usaha

4. Kelompok yang mendukung pendukung sholawat nariyah memandang sholawat nariyah sebagai bagian amalan sholawat secara umum dianjurkan dalam Islam mereka berpegang pada kaidah bahwa selawat kepada nabi shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang sah meskipun redaksinya tidak secara eksplisit diajarkan nabi selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan akidah shalawat nariyah juga dipahami sebagai Rasul yakni menjadikan nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai wasilah memohon pertolongan Allah serta didukung oleh pengalaman spiritual atau tajwidya para ulama dan umat yang merasakan manfaatnya karena fungsinya sebagai pelepas kesusahan ia juga disebut salat tahrijjah kelompok yang menentang penolak sholawat nariyah beralasan bahwa sholawat tersebut tidak memiliki dalil khusus dalil Alquran dari Alquran maupun hadis shahih dengan redaksi dan tata cara tertentu misalnya bilangan khusus mereka khawatir praktik ini bidah terlebih jika diyakini memiliki keutamaan tertentu tanpa dasarnya selain itu sebagai berpotensi menimbulkan pemahaman keliru tentang tawasul jika tidak dijelaskan dengan benar faktor penyebab perbedaan perbedaan pandangan ini terutama disebabkan oleh perbedaan definisi bidah apakah bidah hanya yang bertentangan dengan syariat atau semua yang tidak dicontohkan secara eksplisit perbedaan pandangan tentang Rasul apakah Rasul shallallahu alaihi wasallam dan dan sholawat tertentu dibolehkan atau harus dibatasi pada dalil literal perbedaan metode istighfar hukum antara pendekatan tekstual dan pendekatan yang juga mempertimbangkan kaidah umum serta praktik ulama
MUHAMMAD ROCKY MUAMMAM 14 Januari 2026 pukul 04.22 Hapus Komentar
5. Akar utama perbedaan sholawat nariyah terletak pada perbedaan metodologi dalam memahami dalil dan konsep ibadah kelompok pro dan kontra tidak berbeda dalam tujuan mendekatkan diri kepada Allah tetapi berbeda dalam cara menilai keabsahan amalan perbedaan interpretasi dalil kelompok pendukung berpijak dalam dalil umum tentang anjuran berselawat serta praktik lama dan kaidah bahwa ibadah boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan syariat sebaliknya kelompok penentang menurut dalil khusus dan eksklusif terkait redaksi jumlah dan keutamaan sholawat nariyah perbedaan konsep Dia pendukung memahami bid'ah sebagai hal yang bertentangan dengan syariat sehingga selawat dengan reaksi baru tetap sah penentang mewarnai bid'ah sebagai segala bentuk ibadah yang tidak dicontohkan secara langsung oleh nabi meskipun substansinya baik perbedaan pandangan tentang Rasul pendukung menerima Rasul melalui nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai wasilah yang dibenarkan sedangkan penantang khawatir tawasul tertentu dapat mengarah kepada penyimpangan akidah jika tidak memiliki dasar nas yang tegas
Ridwan 14 Januari 2026 pukul 09.28 Hapus Komentar
Nama : Moch Ridwan
Nim : 2509629038
Prodi : ekonomi syariah
1.Diawali diawali salam pengantar dan doa pembuka tahap ini berfungsi menata niat menenangkan hati dan memusatkan perhatian jamaah agar siap mengikuti majelis dengan khusyuk b pembacaan Alquran ayat-ayat Alquran dibacakan sebagai landasan utama fungsinya menyucikan batin dan menegaskan bahwa seluruh rangkaian dzikir berakar pada kalamullah c tembih atau pengingat berisi peringatan spiritual agar jamaah sadar akan tujuan majelis dan meneladani jalan para wali sampai membentuk memutus keterikatan duniawi dan memperkuat kesadaran rohani di tawasul dan dzikir awal jamaah bertawasul kepada Allah dengan menyebut nabi Muhammad dan syekh Abdul Qodir Jaelani sebagai teladan spiritual.
2.1 tawasul dengan amal sholeh
Tawassul ini di lakukan dengan menyebut amal kebaikan yang telah kita kerjakan secara ikhlas sebagai "pembuka"sebelum memohon sesuatu kepada allah
Dalil: hadis populer tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua
Contoh praktis: yaallah demi kecintaanku kepada rasulmu dan sholawat yang aku baca ,sembuhkan lah pentakitku
Adab: pastikan amal teesebut di lakukan dengan ikhlas (bukan riya)
2.tawassul dengan asmaul husna atau sifat allah
Ini adalah bentuk tawassul yang paling tinggi tingkatannya karena langsung memuji allah dengan nama nama nya yang agung sesuai dengan hajat yang di ingin kan
Dalil : hanya milik allah asmaul husna maka bermohonlah kepadanya dengan menyebut asmaul husna itu
•contoh praktis: ya qowiyyu(maha kuat) kuatkanlah hatiku dengan melewati ujian ini
•adab: menghadirkan rasa pengagungan dan kerendahan hati saat menyebut nama nama tersebut
3.tawassul dengan doa orang orang yang masih hidup
Tawassul ini di lakukan dengan meminta seseorang yang di anggap bertakwa atau dekat dengan allah untuk mendoakan kita kepada allah
•Dalil: kisah para sahabat yang meminta di doakan kepada nabi muhammad saw saat beliau masih hidup
•contoh praktis: mendatangi guru,orang tua,atau ulama'yang berkata: wahai ustad,mohon doa kan saya agar anak saya menjadi anak yang sholeh
•adab: jangan berlebihan dalam mengangungkan orang teesebut.
3.Keikutsertaan seseorang dalam majelis manaqib sering didorong oleh harapan memperoleh barokah. Dalam Islam, barokah dipahami sebagai kebaikan yang tetap dan bertambah, baik secara lahir maupun batin. Sumber barokah utama adalah Allah, sedangkan sebab-sebabnya dapat melalui Al-Qur’an, amal saleh, orang saleh, tempat ibadah, dan majelis dzikir. Majelis manaqib dianggap sebagai tempat turunnya ketenangan dan rahmat sebagaimana hadis tentang majelis dzikir yang dikelilingi malaikat dan diliputi sakinah. Secara psikologis, barokah memengaruhi ketenangan jiwa, semangat ibadah, optimisme, dan motivasi kebaikan; secara sosial, majelis ini memperkuat ukhuwah, solidaritas, tradisi sedekah, dan kepedulian kepada sesama; secara spiritual, ia memperdalam rasa kedekatan kepada Allah, kecintaan kepada Rasulullah, serta penghormatan kepada para wali.
4.Diskursus Mengenai Shalawat Nariyah
Perbedaan pandangan terkait Shalawat Nariyah (Shalawat Tafrijiyah) berakar pada interpretasi kebahasaan. Kelompok yang mendukung memandangnya sebagai wasilah yang mujarab untuk membuka pintu kebajikan dan kelaparan rezeki, dengan memahami redaksi "melepaskan ikatan" sebagai bentuk permohonan agar Nabi menjadi sebab perantara bantuan Allah. Sebaliknya, kelompok yang menentang biasanya menggunakan pendekatan literal-tekstual yang mengkhawatirkan adanya celah kesyirikan (Sadd adzDzari'ah).
5.Penyebab Perbedaan Pandangan Sholawat Nariyah:

a) Pemikiran Utama
Perbedaan dalam cara menafsirkan dalil agama dan konsep keagamaan dasar.

b) Interpretasi Dalil

- Pro: Mengacu pada dalil yang menegaskan keutamaan sholawat dan doa kepada orang shaleh.

- Kontra: Menekankan pada dalil yang mengarahkan untuk meneladani sunnah Rasulullah SAW tanpa menambah atau mengurangi amalan.

c) Konsep Keagamaan

- Pro: Menekankan pada dimensi mistis dan hubungan erat dengan para wali Allah.

M.HAFAS AL BUSTI 18 Januari 2026 pukul 06.37 Hapus Komentar
M.HAFAS AL BUSTI
2509661050
HKI
1.Analisis Acara Manaqib
Urutan: Pembukaan (Tawasul) Pembacaan Al-Qur'an,Pembacaan Manaqib (Biografi Syeikh),Dzikir Bersama Doa Penutup.
Tujuan: Mengenalkan keteladanan Syeikh Abdul Qadir agar jamaah terinspirasi memperbaiki akhlak dan meningkatkan kedekatan spiritual kepada Allah.
2.Tiga Macam Tawasul
Amal Saleh: Berdoa dengan menyebut kebaikan yang pernah dilakukan (Contoh: Sedekah).
Asmaul Husna: Memanggil nama-nama indah Allah (Contoh: "Ya Razzaq, berilah rezeki").
Doa Orang Saleh: Meminta orang yang masih hidup dan taat untuk mendoakan kita.
Adab: Ikhlas, tidak memaksa, dan yakin hanya Allah yang mengabulkan doa.
3 Konsep Barokah
Definisi: Bertambahnya kebaikan dalam segala hal.
Sumber: Mutlak dari Allah.
Motivasi: Mencari ketenangan batin dan kemudahan hidup melalui wasilah orang saleh.
Dampak: Mendorong perilaku sosial yang lebih santun dan etika kerja yang jujur karena mencari rida Allah, bukan sekadar materi.
4.Perbedaan Pandangan Shalawat Nariyah
Kelompok Pro: Menganggapnya sebagai bentuk cinta kepada Nabi dan tawasul agar doa cepat dikabulkan.
Kelompok Kontra: Menganggapnya bid'ah atau khawatir pada redaksinya yang dianggap berlebihan dalam memuji Nabi.
Sikap Moderat: Menghargai perbedaan. Yang mengamalkan harus tetap menjaga akidah (tetap menyembah Allah), yang tidak mengamalkan tidak perlu menghujat.
5.AkarPermasalahan(Pro & Kontra)Akar
Masalah: Perbedaan cara menafsirkan bahasa (tekstual vs kiasan) dan perbedaan definisi tentang mana yang termasuk "bid'ah sesat" dan mana "bid'ah baik" (hasanah).
Interpretasi: Pihak kontra sangat ketat pada dalil yang harus ada contohnya dari Nabi, sedangkan pihak pro lebih longgar selama tujuannya adalah dzikir dan pujian.
Mustakim 18 Januari 2026 pukul 08.09 Hapus Komentar
Nama: Mustakim
Nim:2509629025
Prodi:Es




1. Analisis Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Langkah-langkah:
Pembukaan: Biasanya dimulai dengan bacaan ta’awudz dan basmalah, dilanjutkan dengan salam kepada Nabi Muhammad SAW dan pengantar dzikir.
Tahapan inti:
Dzikir Asmaul Husna / Shalawat: Membaca nama-nama Allah atau shalawat untuk meningkatkan ketenangan batin.
Bacaan Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani: Cerita hidup, amal, dan karomah beliau untuk memotivasi peserta.
Dzikir bersama / munajat: Bacaan bersama untuk memusatkan hati kepada Allah.
Penutupan: Doa, harapan, dan salam penutup.
Evaluasi kontribusi setiap elemen:
Dzikir & Shalawat: Membantu peserta merasakan ketenangan, mendekatkan hati kepada Allah, serta membangun spiritualitas.
Cerita Manaqib: Memberikan pemahaman praktik tasawuf dan akhlak, menumbuhkan motivasi mengikuti jejak ulama.
Doa Penutup: Memperkuat ikatan spiritual dan refleksi pribadi.
Kesimpulan: Struktur dzikir manaqib bertujuan menyatukan hati peserta, memperdalam pengetahuan tentang Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, dan membangun pengalaman spiritual yang utuh.
2. Tiga macam Tawasul
Tawasul dengan Amalan Saleh
Dalil: QS. Al-Maidah: 35 → Berbuat baik untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Contoh praktik: Bersedekah, berzikir, shalawat.
Adab: Niat ikhlas, tidak berlebihan, fokus pada Allah.
Tawasul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah
Dalil: QS. Al-A’raf: 180 → Memanggil Allah dengan nama-nama-Nya yang indah.
Contoh praktik: Memohon rahmat dengan menyebut “Ar-Rahman” atau “Al-Ghafur”.
Adab: Memahami makna nama Allah, menghayati ketundukan.
Tawasul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup
Dalil: QS. Al-Insan: 2 → Meminta doa dari orang saleh diperbolehkan sebagai perantara.
Contoh praktik: Meminta doa guru, ulama, atau orang yang shalih.
Adab: Menghormati, tidak berlebihan, tidak menyekutukan Allah.
3. Analisis konsep Barokah dalam majelis manaqib
Definisi: Berkah = pertolongan Allah yang memberikan kebaikan lahir dan batin.
Sumber: Amal saleh, dzikir, doa, ilmu, dan orang saleh.
Manifestasi: Kesehatan, rezeki lancar, ketenangan hati, hubungan sosial harmonis.
Motivasi individu: Mencari barokah untuk hidup lebih berkah secara spiritual, sosial, dan ekonomi.
Evaluasi dampak nyata:
Sosial: Hubungan antar manusia lebih harmonis.
Ekonomi: Rezeki lebih lancar.
Spiritual: Iman meningkat, hati tenang.
4. Perbedaan pandangan Shalawat Nariyah
Kelompok mendukung:
Keutamaan: Mempermudah rezeki, pengabulan hajat, pelepas kesusahan.
Alasan: Berdasarkan amalan sunnah dzikir dan doa.
Kelompok menolak:
Alasan: Menganggap bid’ah, tidak ada dalil langsung dari Nabi SAW.
Faktor perbedaan: Perbedaan tafsir dalil, pemahaman bid’ah, dan tradisi ulama.
Kesimpulan kritis:
Moderat: Memahami bahwa amalan tersebut bermanfaat bagi spiritualitas jika niat benar, tapi harus tetap menjaga prinsip tauhid.
5. Akar perdebatan Shalawat Nariyah
Akar masalah: Perbedaan interpretasi dalil dan konsep bid’ah.
Pro: Berdasarkan tawasul, shalawat dan niat baik, dianggap mendorong spiritualitas.
Kontra: Tidak ada riwayat sahih dari Nabi SAW, khawatir menjadi amalan baru (bid’ah).
Analisis kritis: Perbedaan ini mencerminkan dinamika ijtihad dalam Islam. Pendekatan bijak adalah melihat niat, manfaat, dan kesesuaiannya dengan prinsip aqidah.