Pembicara: Muhammad Rusydi
Editor: Asisten Artificial Intelegence
Pada masa kini, dunia maya menyediakan beragam kemudahan, baik dalam bidang keilmuan, keislaman, maupun berbagai perspektif keilmuan yang bersifat multidisipliner dan interdisipliner. Hampir seluruh sumber pengetahuan tersedia secara digital: dapat dibaca, disimak, didengarkan, dan diakses dengan mudah melalui berbagai platform.
Namun demikian, persoalan paling penting dalam konteks akademik hari ini bukan sekadar soal kemudahan akses informasi, melainkan soal etika pengelolaan pengetahuan. Praktik copy-paste yang patut dikritisi bukanlah pemindahan data dari satu ruang digital ke ruang digital lainnya—dari internet ke laptop, dari cloud ke gawai, dari satu platform ke platform lain. Praktik semacam itu hanyalah perpindahan antar dunia maya, tanpa proses keilmuan yang bermakna.
Dalam perspektif akademik yang etis, layak, sopan, terhormat, dan berakhlak, copy-paste yang benar justru adalah pemindahan pengetahuan dari dunia maya ke dunia nyata. Artinya, berbagai sumber ilmu yang tersedia di web, kecerdasan buatan, buku digital, kitab digital, maupun platform seperti Maktabah Syamilah berbasis daring, harus ditransformasikan ke dalam realitas manusia: ruang diskusi, ruang belajar, dan ruang pembentukan diri.
Dunia nyata adalah dunia manusia berdialog, berdiskusi, memahami, dan berproses menjadi pribadi yang lebih baik—selangkah demi selangkah. Inilah perjuangan akademik hari ini: memastikan bahwa pengetahuan digital tidak berhenti sebagai data, tetapi menjelma menjadi kesadaran, pemahaman, dan tindakan nyata.
Jika dikaitkan dengan gagasan Society 4.0 dan Society 5.0, saat ini berkembang pandangan bahwa masyarakat 5.0 adalah masyarakat yang hidup berdampingan dengan teknologi. Teknologi tidak lagi sekadar alat yang dimanfaatkan, melainkan telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Konsekuensinya, seluruh proses keilmuan—kognitif, intelektual, dan reflektif—yang hadir dalam bentuk teknologi digital harus benar-benar tersalurkan kepada manusia sebagai subjek utama.
Dalam konteks pembelajaran di perguruan tinggi, kondisi ini menuntut mahasiswa tidak hanya mengakses informasi secara mudah, tetapi juga menyerap, membaca secara kritis, menelusuri referensi, menjelaskan, mendiskusikan, dan mencatatnya dalam ruang nyata. Dengan demikian, benar-benar terjadi proses pemindahan ilmu dari dunia maya ke dunia nyata manusia itu sendiri.
Sebagaimana kaidah klasik menyebutkan, al-‘ilmu fī aṣ-ṣudūr lā fī as-suṭūr —ilmu itu berada di dalam dada, bukan di dalam lembaran kertas. Dalam konteks kekinian, sering saya sampaikan di kelas: al-‘ilmu fī al-qalb lā fī internet . Ilmu bukanlah apa yang tersimpan di gawai atau laptop, melainkan apa yang meresap ke dalam diri manusia, dipahami oleh akal, dihayati oleh hati, dan diamalkan dalam kehidupan nyata. Di sanalah letak ilmu yang sesungguhnya.
Saya sering menyampaikan, baik di kelas S1 maupun S2, bahwa hari ini tidak ada lagi alasan “tidak tahu”. Ketika seorang mahasiswa ditanya lalu menjawab tidak tahu, jawaban semacam itu pada konteks kekinian sudah tidak layak digunakan. Apa yang belum diketahui hari ini pada dasarnya dapat segera ditelusuri melalui berbagai sumber: mesin pencari, basis data digital, hingga kecerdasan buatan. Hampir seluruh informasi pengetahuan umum telah tersedia dan mudah diakses.
Pengecualian tentu ada, khususnya pada ilmu-ilmu agama yang bersumber dari wahyu, bukan semata-mata produk akal (‘aqli). Dalam wilayah ini, teknologi dan kecerdasan buatan belum sepenuhnya mampu menggantikan peran otoritas keilmuan; tetap diperlukan rujukan kepada para ahli dan tradisi keilmuan yang otentik. Namun, di luar ranah tersebut—pada persoalan-persoalan analisis, pengetahuan empiris, dan intelektual—alasan “tidak tahu” pada dasarnya sudah kehilangan relevansinya.
Konsekuensinya, metode pembelajaran di kelas juga harus berubah. Pola tugas kelompok yang selama ini dianggap lazim sudah tidak lagi memadai, bahkan sudah tidak relevan karena terbukti hanya sebagian yang aktif sisanya tetap pasif. Dalam konteks kemudahan akses informasi yang begitu luas, pendekatan yang lebih tepat justru adalah tugas individual . Setiap mahasiswa harus bertanggung jawab secara personal untuk menelusuri referensi, mencari pengetahuan melalui internet, mencatatnya, lalu menjelaskan apa yang telah ia temukan. Sedangkan mahasiswa yang lain harus menyimak, memahami, mengkritisi, dan membuat pertanyaan, juga melalui bantuan internet seperti AI dan semacamnya.
Proses itu tidak berhenti pada pencarian informasi semata. Mahasiswa perlu mencatat temuan-temuannya, menyimak penjelasan teman lain yang membahas topik serupa, kemudian mengkritisi dan mendiskusikannya secara argumentatif. Di sinilah proses intelektual yang sesungguhnya berlangsung: membaca, memahami, mencatat, menjelaskan, mendengar, dan menguji gagasan. Semua proses ini dapat dilakukan dengan mudah melalui bantuan dunia maya; AI dan lainnya.
Dengan pendekatan semacam ini, perkuliahan tidak lagi menjadi aktivitas formalitas belaka. Terlebih dalam perkuliahan daring, mahasiswa tidak dibiarkan sekadar hadir secara administratif—duduk santai, bahkan berbaring sambil mengikuti kelas. Pendidikan harus kembali pada esensinya, yakni mendidik, membentuk cara berpikir, sikap ilmiah, bermental akademisi, dan tanggung jawab intelektual.
Inilah perubahan cara pandang yang perlu diperjuangkan dalam pendidikan tinggi hari ini: dari sekadar pengajaran menuju pembelajaran yang benar-benar menghidupkan daya pikir mahasiswa sebagai subjek ilmu dan menginternalisasikannya dalam dunia nyata. Allahu A'lam bi al-shawab
.png)
Posting Komentar untuk " Dunia Maya dan Dunia Nyata dalam Dunia Akademik"