Soal UAS Tarbiyatul Manaqib PIAUD

 


1.Anda telah berpartisipasi dalam Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, baik secara langsung di Pesantren Al-Qodiri atau melalui platform virtual. Lakukan analisis mendalam terhadap susunan acara Dzikir Manaqib tersebut, mulai dari pembukaan hingga penutupan. Identifikasi dan uraikan secara sistematis setiap tahapan acara, termasuk bacaan-bacaan yang dilantunkan di setiap sesi. Evaluasi bagaimana setiap elemen dalam susunan acara tersebut berkontribusi pada pengalaman spiritual dan pemahaman peserta terhadap ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

2.Ada tiga macam tawasul yang utama dan disepakati sebagian besar ulama, yaitu: (1) Tawasul dengan Amalan Saleh (seperti bersedekah, berselawat); (2) Tawasul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah (seperti menyebut Allah sebagai "Ar-Rahman" saat meminta rahmat); dan (3) Tawasul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup (meminta orang saleh untuk mendoakan kita). Jelaskan ketiga jenis tawasul ini secara mendalam, termasuk dalil-dalil yang mendukungnya, contoh-contoh praktisnya, serta adab-adab yang perlu diperhatikan dalam melakukannya.

3.Partisipasi dalam majelis manaqib seringkali didorong oleh keinginan untuk memperoleh barokah. Lakukan analisis mendalam terhadap konsep barokah dalam Islam, meliputi definisi, sumber-sumber, dan manifestasinya dalam kehidupan. Telaah motivasi individu dalam mencari barokah melalui majelis manaqib. Evaluasi dampak nyata dari keyakinan terhadap barokah terhadap perilaku sosial, ekonomi, dan spiritual individu dan masyarakat.

4.Analisislah perbedaan pandangan yang berkembang di tengah umat Islam terkait Shalawat Nariyah, yang oleh sebagian kalangan dipandang sebagai amalan yang memiliki keutamaan dalam melancarkan rezeki, membuka pintu kebaikan, mengabulkan hajat, serta menjadi wasilah pelepas kesusahan sehingga dikenal pula dengan sebutan Shalawat Tafrijiyah. Di sisi lain, terdapat kelompok yang menolak praktik tersebut dengan alasan tertentu dan bahkan menganggapnya sebagai bentuk bid‘ah. Berdasarkan uraian tersebut, jelaskan alasan yang melatarbelakangi sikap kelompok yang mendukung dan kelompok yang menentang Shalawat Nariyah. Selanjutnya, analisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan pandangan tersebut, khususnya yang berkaitan dengan perbedaan pemahaman terhadap konsep bid‘ah dan tawassul. Akhiri jawaban Anda dengan kesimpulan kritis yang mencerminkan sikap moderat dan bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.


52 komentar untuk "Soal UAS Tarbiyatul Manaqib PIAUD"

inawaroh999@gmail.com 10 Januari 2026 pukul 15.11 Hapus Komentar
Nama : inawaroh
Nim : 2509648085
1. Analisis Susunan Acara Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
Pembukaan: Dimulai dengan pembacaan Ummul Kitab (Al-Fatihah) untuk Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an: Memberikan dasar religius dan ketenangan awal.
Tawasul/Hadhrah: Pengiriman doa kepada para guru dan ulama untuk menyambung sanad spiritual.
Pembacaan Manaqib: Pembacaan riwayat hidup dan karamah Syeikh Abdul Qadir sebagai teladan kesalehan.
Dzikir & Shalawat: Inti acara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah.
Doa Penutup: Memohon keberkahan dan pengabulan hajat.
Evaluasi: Setiap tahapan berkontribusi membangun mahabbah (cinta) kepada orang saleh dan memperkuat keyakinanbahwa ketakwaan mendatangkan pertolongan Allah.
2. Tiga Macam Tawasul yang Disepakati
Amal Saleh: Bertawasul melalui kebaikan yang dilakukan (contoh: sedekah). Dalil: Kisah tiga orang yang terjebak di gua (HR. Bukhari & Muslim).
Asmaul Husna: Memanggil nama Allah yang sesuai dengan hajat (contoh: "Ya Razzaq, berilah rezeki"). Dalil: QS. Al-A'raf: 180.
Doa Orang Saleh yang Hidup: Meminta didoakan oleh ulama/orang bertakwa yang masih hidup. Dalil: Para sahabat meminta doa hujan kepada Abbas ra. (Paman Nabi).
Adab: Harus ikhlas, rendah hati, dan tetap meyakini bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa (bukan perantara tersebut).
3. Konsep Barokah dalam Islam
Definisi: Ziyadatul Khair (bertambahnya kebaikan).
Sumber: Ketaatan kepada Allah, kedekatan dengan Al-Qur'an, dan penghormatan kepada orang saleh.
Motivasi di Manaqib: Mencari ridha Allah melalui wasilah kemuliaan wali-Nya agar hidup lebih tenang dan tercukupi.
Dampak: Membentuk perilaku sosial yang dermawan, ekonomi yang jujur (tidak hanya mengejar kuantitas), dan ketangguhan spiritual individu.
4. Perbedaan Pandangan Shalawat Nariyah
Kelompok Mendukung: Memandang teksnya sebagai metafora (majas) dan bentuk pujian tinggi kepada Nabi sebagai wasilah rahmat Allah.
Kelompok Menolak: Khawatir pada redaksi yang dianggap berlebihan (ghuluw) dan potensi syirik jika tidak dipahami dengan benar sebagai wasilah.
Akar Perbedaan: Perbedaan dalam mendefinisikan Bid'ah (apakah semua yang baru itu sesat atau ada bid'ah hasanah) dan batasan Tawassul.
Sikap Moderat: Menghargai perbedaan pendapat, tidak mudah mengafirkan, dan fokus pada niat memuliakan Rasulullah tanpa melanggar prinsip tauhid.
5. Akar Permasalahan Debat Shalawat Nariyah
Akar masalahnya terletak pada interpretasi bahasa (semantik) dan metodologi hukum:
Pro: Memahami teks secara kontekstual dan teologis (Nabi adalah sebab antara/wasilah atas izin Allah).
Kontra: Memahami teks secara tekstual/literal (khawatir hak prerogatif Tuhan dianggap berpindah ke makhluk).
Inti: Konflik antara pendekatan Sadd adz-Dzari'ah (menutup celah kesesatan) dengan pendekatan Tabarruk (mengambil berkah).
Ahlus saadah 10 Januari 2026 pukul 16.11 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hosnaini 10 Januari 2026 pukul 16.13 Hapus Komentar
Nama :Hosnaini
Nim. :2509648089
​1. Analisis Susunan Acara Dzikir Manaqib Al-Qodiri
​Susunan acara di Al-Qodiri dirancang untuk membangun koneksi spiritual secara bertahap:
​Pembukaan dan Tawasul: Dimulai dengan menghadiahkan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani untuk menyambung sanad ruhani.
​Pembacaan Ayat Suci & Shalawat: Menghadirkan ketenangan hati melalui kalam Allah dan pujian kepada Rasul.
​Inti Manaqib: Pembacaan sejarah dan karamah Syeikh untuk menanamkan keteladanan akhlak dan kecintaan pada wali Allah.
​Dzikir dan Doa: Puncak acara untuk membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) dan memohon hajat kepada Allah.
​Evaluasi: Kegiatan ini berkontribusi pada pengalaman spiritual dengan memadukan aspek kognitif (biografi) dan emosional (dzikir) bagi jamaah.
​2. Jenis-Jenis Tawasul
​Amal Saleh: Menggunakan kebaikan sendiri (seperti sedekah atau shalawat) sebagai wasilah.
​Dalil: Hadits mutawatir tentang tiga orang yang terjebak dalam gua; mereka selamat setelah bertawasul dengan amal bakti kepada orang tua, sifat amanah, dan kesucian diri.
​Adab: Melatih kejujuran diri terhadap kualitas ibadah yang dilakukan.
​Asmaul Husna: Bertawasul dengan memuji Allah menggunakan nama-nama-Nya yang indah dan sesuai dengan permohonan.
​Dalil: QS. Al-A'raf ayat 180: "Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu".
​Contoh: Berdzikir menyebut Asma Allah saat merasa kesulitan ekonomi.
​Tawasul Orang Sholeh: Meminta orang yang dianggap memiliki kedekatan dengan Allah (seperti ulama) untuk memohon doa bagi kita.
​Dalil: Praktik sahabat mendatangi Rasulullah untuk didoakan saat musibah; serta QS. An-Nisa ayat 64 yang mengisyaratkan doa Rasulullah membawa ampunan Allah.
​Contoh: Sowan ke kediaman ulama untuk memohon doa agar keluarga diberikan keistiqomahan.
​Adab: Ketulusan akidah, ikhlas, hormat, berprasangka baik, dan kesesuaian.
​3. Konsep Barokah dalam Kehidupan
​Barokah adalah ziyadatun khair (bertambahnya kebaikan).
​Sumber: Ketaatan kepada Allah, memuliakan Al-Qur'an, dan menghormati para wali.
​Manifestasi: Ketenangan batin, kebermanfaatan harta, dan kemudahan dalam beribadah.
​Dampak: Membangun pribadi yang dermawan, jujur dalam berekonomi, dan penuh rasa syukur.
​4. Perdebatan Shalawat Nariyah
​Perdebatan berakar pada perbedaan interpretasi teks antara aspek bahasa dan akidah:
​Kelompok Pendukung: Memandang redaksinya sebagai kiasan untuk memuliakan Nabi sebagai wasilah terbesar dalam memohon kepada Allah.
​Kelompok Penentang: Menilai ungkapan di dalamnya bersifat berlebihan (ghuluw) dan berisiko syirik karena dianggap menyandarkan kekuasaan kepada selain Allah.
​Solusi: Diperlukan sikap moderat dengan mengedepankan rasa hormat tanpa saling mengkafirkan; menjaga kemurnian akidah bahwa Allah adalah penguasa mutlak, sementara shalawat adalah bentuk mahabbah.
​5. Akar Permasalahan Shalawat Nariyah
​Akar masalah terletak pada perbedaan metodologi interpretasi antara makna kiasan dan liberal terhadap diksi "tanhalu bihil 'uqodu":
​Pihak Pro: Memahaminya sebagai tawasul melalui keberkahan Nabi (Allah sebagai pelaku hakiki).
​Pihak Kontra: Menilainya sebagai ghuluw yang menyandarkan kekuasaan Tuhan kepada makhluk.
​Tiga Aspek Perbedaan:
​Konsep Bid'ah: Pro menggunakan kategori bid'ah hasanah, kontra menganggap inovasi ibadah adalah sesat.
​Tawasul: Pro memperluas tawasul pada kedudukan Nabi, kontra membatasinya pada Asmaul Husna, amal saleh, dan doa orang hidup.
​Dalil: Pro berpegang pada dalil umum dan tradisi ulama, kontra menuntut dalil khusus dan eksplisit.
​Kesimpulan: Masalah terletak pada perbedaan perspektif bahasa dan batasan teologis, bukan pengingkaran terhadap esensi shalawat itu sendiri.
Ahlus saadah 10 Januari 2026 pukul 16.14 Hapus Komentar
Nama : Ahlus Sa’adah
Kelas : 1E
NIM : 2509648064

1. SUSUNAN ACARA DZIKIR MANAKIB

• Membaca istighocah ya arhamar rohimin يَا أَرْحَـمَ الرَّاحِمِينْ
• Sholat libiril walidain
• Membaca lstighfar
• Membaca al fatihah di tujukan kpda nabi muhammad para wali dan ulama’
• Muroqobah 3 kali di awali tawassul.... . بِبَرَكَةِ وَكَرَمَةِ سُلْطَانِ الْأَوْلِيَاءِ الشَّيْخ عَبْدِ الْقَادِرِ الجِيلَاتِي
• Membaca Do'a
• Membaca Surat al-ikhlas
• Membaca Manakib(nurul burhani)
• Sholat hajat
• Mulakukan muroqobah
• Membaca Dzikir
• Membaca Nadzham.... عباد الله رجال الله
• Membaca Kalimat tauhid (Tahlil)
• Membaca doa manakib

*Analisis.
Tujuan membaca istighosah يَا أَرْحَـمَ الرَّاحِمِينْ Nabi ayyub As, Do'anya di kabulkan oleh allah swt karena menyebut يَا أَرْحَـمَ الرَّاحِمِينْ kemustajaban nabi ayyub bukan hanya berlaku untuk nabi ayyub tapi juga pada lainnya karena ada perkataan وذكر العباديت . Sholat Libiril walidain, Sholat sunnah dengan mencantumkan tujuan sholat karena ingin menggapai kemustajaban yang maksimal. Di lanjutkan dengan Membaca stighfar.Dari Amirul mu'minin Ali bin Abi thalib berkata sebaik baiknya doa adalah istighfar yang bersamaan dngn taubat. Membaca Surat Al-Fatihah Membacanya bertujuan untuk mencari ridha allah SWT. Muroqobah dilakukan 3 kali diawali tawashul , Baru memohon yang menjadi hajat kita dengan khusyu’. Lalu Membaca do'a....... اليه أنتمَقْصُودِى وَرِضَاكَ مَطْلُوبِي. Membaca Surat al-ikhlas. sebagai ungkapan rasa Syukur, dan memohon pertolongan kepada allah. Kemudian Membaca manakib Sebagai upaya untuk melimpahkan kebaikan dari allah bertujuan untuk dijadikan teladan bagi Pembacanya dan juga mengharap barokah dan menjadi perantara untuk dekat dengan allah.Dan melaksanakan Sholat hajat. Abu dardak berkata, Aku mendengar rosulullah bersabda barang siapa yang berwudhu' yang di sempurnakan lalu sholat dua rokaat maka allah memberi yang ia minta baik kontan maupun tertunda.

2. Tawasul Dengan Amal Shaleh
Yaitu menjadikan amal sholeh yang telah dilakukan sebagai sebab/wasilah agar do'a di kabulkan allah.
Dalil : kisah Orang terjebak di goa (hadish shokih riwayat bakhori muslim)
Tiga orang laki-laki terjebakak dalam goa besar. Masing- masing berdo'a dengan menyebut amal sholeh mereka.
Contoh praktis : “ya allah dngn amalan sholat malamku yang engkau ridhoi Sembuhkanlah Penyakitku
Adab : Amal harus Ikhlas tidak boleh riya' , tidak meyakini amal itu dikabutton. yang mengabulkan melainkan allah, tidak menyombongkan amal.
*Tawasul dengan Asmaul husna.
Yaitu Berdoa dengan menyebut nama allah yang sesuai hajat misal untuk meminta ampun (الرزق) untuk minta rezeki. ا(لْغَفَر)
Dalil : (QS. Al-A'raf : 180)
Contoh praktis : “ya allah, ya rahman, ya rahim, turunkan ketenangan pada hati kami”
Adab: Menyebut nama allah dengn penuh keyakinan, Menghadirkan rasa pengagungan.
*Tawasul dngn doa orang shalen yang masih hidup.
yaitu meninta meminta doa kpda orang shaleh, guru agama dan ulama’.
Dalil : Hadist usman bin Hunaif (riwayat Tirmidzi).
Seorang buta meminta do'a kepada nabi, allah lalu mengembalikan PengLihatannya.
Contoh : meminta clo'a kepada kiyai/guru.
Adab : tidak memaksa, tidak menyakini mereka yang mengabulkan melainkan Allah SWT . dan meminta doa untuk kebaikan.
Ahlus saadah 10 Januari 2026 pukul 16.15 Hapus Komentar
3. Barokah dapat diartikan ziyadatul khoir / bertambahnya kebaikan.

Barokah bukan sekedar banyaknya rezeki, tetapi nilai manfaat baik berupa ketenangan kemudahan.
Sumber: Sumber utama yaitu allah swt. rosulullah saw, al-Qur'an, waktu dan tempat (ramadhan,masjid, tanggal 10 muharram - 10 dzulhijjah) amal (sedekah, dikir, sholat malam...) dan juga Orang sholeh.
Menifestasi Barokah dalam kehidupan: Rezeki sedikit tapi Cukup, keluarga rukun, Usaha kecil tapi berkembang . Motifasi Individu : Mencari ketenangan, memperoleh barokah dari kegiatan manakib, juga ingin Qobul hajat. Dampak yakin Terhadap Barokah : ibadah menjadi lebih istiqamah, hati lebih sabar dan Mudah bertaubat, Ekonomi menjadi lebih teratur, cukup,Mengurangi konflik sosial, saling membantu.


4. Sholawat Nariyah menimbulkan perbedaan pandangan.

Kelompok pendukung menganggap sholawat nariyah sebagai amalan yang baik karena termasuk bentuk sholawat kepada nabi Muhammad SAW. Dan memiliki kandungan do'a serta di amalkan para ulama'
Kelompok Penolak Menilai sholawat nariyah tidak di contohkan langsung Oleh nabi Muhammad dan di khawatirkan termasuk bid'ah dalam ibadah
Kesimpulan : Perbedan Pendapat tentang sholawat nariyah muncul karena Perbedaan kaidah bid'ah , perbedaan pemaknaan tawasul dan lain sebagainya. Sikap kita menghormati Praktik Sholawat nariyah tersebut

5. Akar Perbedaan sholawat nariyah terletak pada perbedaan Interpretasi dalil, pemahaman tentang bid'ah & konsep tawasul. Yang mendukung berpegang pada dalil serta memahami bid'ah hasanah.
dan yang menolak beranggapan bahwa ibadah harus memiliki contoh langsung dari nabi. Perbedaan pemahaman tawasul yaitu dipandang sebagai wasilah yang di bolehkan/di khawatirkan melampaui batas. perbedaan ini bersifat ijtihadiyah. sehingga sikap yang tepat adalah bersikap bijak, moderat, & saling menghormati.
Tri puji lestari 10 Januari 2026 pukul 16.30 Hapus Komentar
Nama : Tri Puji Lestari
Nim : 250 964 8082
Mata kuliah : Tarbiyatul Manaqib
Dosen Pengampu : Bapak Fikri Farikhin, M.Pdi


1. Tata cara Dzikir manaqib :
1). Sebelum membaca dzikir manaqib diawali dengan membaca istighotsah.
2). Sholat sunnah libiril walidain.
3). Membaca istighfar untuk memintakan ampun dosa kedua orang tua, para guru dan kaum muslimin, khususnya untuk diri kita masing-masing.
4). Membaca Al-Fatihah ditunjukkan kepada Nabi Muhammad S.A.W, para wali dan ulama.
5). Melakukan muradabah tiga kali diawali dengan tawasul kepada Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, kepada Nabi Muhammad S.A.W.
6). Membaca doa.
7). Membaca surat Al-Ikhlas 100 kali.
8). Manaqib (Nurul Burhani) oleh seorang / dua orang yang lain dzikir
9). Sholat hajat.
10). Melakukan muradabah.
11). Membaca sholawat munjiat dan berdo’a sendiri.
12). Membaca Dzikir
13). Membaca Nadzham
14). Sholat witir
15). Membaca kalimat tahlil
16). Doa manaqib

2. 1. Pengertian tawasul dengan amal
Adalah memohon kepada Allah dengan menyebutkan amal kebaikan yang pernah dilakukan secara ikhlas sebagai perantara agar doa dikabulkan.
Dalil : Kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua yang tertutup batu besar (HR. Bukhori & Muslim).
Contoh Praktis : “Ya Allah, jika aku memberi sedekah kemarin murni karena mengharap ridha-Mu maka mudahkanlah urusanku hari ini.”

2. 2. Pengertian tawasul dengan asmaul husna
Adalah : Bentuk tawasul yang paling tinggi tingkatannya yaitu memuji Allah dengan nama-namanya yang mulia sesuai dengan hajat yang diminta.
Dalil Utama : “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna” (QS. Al-A’raf ayat 180).
Contoh Praktis : Ingin ampunan ya Ghaffar (Maha Pengampun), ampunilah dosaku.
2. 3. Tawasul dengan doa orang sholeh yang masih hidup.
Meminta orang yang dianggap dekat dengan Allah (soleh / bertakwa) untuk mendoakan kita kepada Allah.
Dalil Utama : Para sahabat meminta Nabi mendoakan agar turun hujan (istisqo’) HR. Bukhari.
Contoh Praktis : Mendatangi guru, orang tua, atau ulama dan berkata
“Mohon do’akan saya agar istiqomah dan lulus ujian.”
Adab-adab dalam bertawakal
1). Ikhlas dan tauhid
2). Kesesuaian amal
3). Menyebut Nama
4). Menghindari ghuluw / berlebihan
5). Kerendahan hati

3. Dampak sosial
• Solidaritas : Majelis manaqib menciptakan kohesi sosial, orang-orang dari berbagai kelas ekonomi duduk berdampingan, menciptakan rasa persaudaraan / ukhuwah.
• Filantropi : Budaya sedekah dalam majelis (seperti menyediakan makanan) menggerakkan sirkulasi sosial dimana yang mampu membantu yang membutuhkan.
Dampak Ekonomi
• Etos kerja : Meskipun terkadang disalah pahami sebagai fatalisme, konsep barokah yang benar justru mendorong etos kerja.
• Ekonomi lokal : Penyelenggaraan majelis besar seringkali menghidupkan UMKM disekitar lokasi (pedagang kaki lima, transportasi dll).
Dampak spiritual Individu cenderung memiliki tingkat resiliensi (ketahanan) yang tinggi.


4. Perdebatan mengenai sholawat Nariyah
merupakan salah satu dialektika paling klasik dan mendalam di nusantara. Akar permasalahannya bukan sekedar perbedaan “suka atau tidak suka”, melainkan berakar pada metodologi interpretasi tauhid dan batasan definisi ibadah.
Berikut analisis kritis mengenai akar permasalahan dan perbedaan mendasar diantara kedua belah pihak.
• Akar Permasalahan : Redaksi “tanhalul bihil uqod’”.
• Akar konfliknya ada pada penafsiran kata “bihi” (dengan-Nya / melalui-Nya).
• Pihak Kontra (Salafi / Wahabi).
• Pihak Pro (Nahdliyin / Sufi).

5. Dalam menyikapi perbedaan ini, diperlukan sikap tasamuh (toleransi) yang didasari oleh pemahaman yang luas:
1). Memahami akar bahasan
2). Menghindari vonis ekstrem
3). Prioritas umat
Sikap moderat yang paling bijak adalah menghormati pilihan masing-masing.
Silahkan mengamalkan bagi yang meyakini kebenarannya dengan tetap menjaga adab,
dan silahkan meninggalkan bagi yang merasa ragu demi kehati-hatian (wara’).
Tanpa harus saling menyesatkan.

marhatuss888@gmail.com 10 Januari 2026 pukul 17.39 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Norma Dwi Hakimah Husseina 10 Januari 2026 pukul 18.04 Hapus Komentar
Nama : Norma Dwi Hakimah Husseina
NIM : 2509648057
Mata kuliah : tarbiyatul manaqib
Dosen pengampu : bapak fikri farihin, M. PD. I

PART 1

1.) Kegiatan manaqib bukan sekedar pembacaan biografi tokoh suci, melainkan
sebuah kegiatan yang sudah tertata dan dirancang untuk membangun
koneksi spiritual dan mengambil pelajaran hidup dari para kekasih Allah.
Setiap tahapan kegiatannya memiliki makna dan filosofinya tersendiri.
Analisis Susunan acara Dzikir manaqib oleh Abdul Qadir Al-Jalani
yang ada di Al-Qodiri sbg berikut;

- biasa sebelum membaca dzikir manaqib, diawali dengan membaca
Istighotsah : berfungsi sebagai pembersih jiwa agar jama'ah siap menerima hikmah
- dan dilanjutkan dengan melakukan sholat Sunnah Libburil walidain
dengan niat (أُصَلِّي سُنَّةَ لِبَرِّ الوَالِدَيْنِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا (مَأْمُومًا) لِلَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرُ
- kemudian membaca Istighfar untuk memintakan ampun dosa kedua
orang tua, para guru dan kaum muslimin, khususnya untuk diri
kita masing - masing, dengan bacaan Istighfar ; kegiatan ini sudah
sangat jelas untuk meminta pengampunan kepada kita dan kaum
Muslimin
- Dan kegiatan selanjutnya Membacakan Al-Fatihah didugukan kepada
Nabi Muhammad saw, para wali dan ulama dan lain-lain
- melakukan Muroqobah tiga kali diawali dengan tawasshul
(Muroqobah tersebut dilakukan sebanyak 3x, setiap selesai muroqobah
membaca Surat Al-Fatihah 33 kali )
- membaca do'a
يا إلهي أنتَ مَقْصُودِي وَرِضَاكَ مَطْلُوبِي إلهي عِلْمُكَ كَافٍ عَنْ سُؤَالِي أَلْفِضْ لِي خِفْضَ
الْفَائِضَةِ سُؤَالاً وَلَا حَرَجًا كَفِي عَنْ عَمَالِي الْكَرْهَى خِفْضَ الْفَائِضَةِ عَمَالًا وَحَصِّلْ
حَافِي خَصِيْرِي
- membaca Surat Al-Ikhlas 100 kali
- membaca Manaqib (Nurul Burhani) oleh seorang atau dua orang
yang lain membaca dzikir
- sholat hajat dengan niat
أُصَلِّي سُنَّةَ لِفَضَائِلِ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا (مَأْمُومًا) لِلَّهِ تَعَالَى
- melakukan muroqobah diawali dengan tawassul
- membaca Dzikir
- membaca nasyam
- sholat witir
- membaca kalimat tauhid (Tahlil)
- membaca doa manaqib

2.) jenis-jenis tawassul

- Amal shaleh : bertawassul dengan keikhlasan amal yang pernah dilakukan
Dalil : “hadits tentang 3 orang yang terjebak di gua”
Contoh : “Ya Allah, jika sedekah ku kemarin ikhlas karena-Mu,
mudahkanlah urusanku.”
- Asmaul Husna : menggunakan nama-nama Allah yang relevan dengan hajat
Dalil : QS. Al-A’raf : 180
Contoh : “Ya Razzag (Maha pemberi rezeki ), berilah aku rezeki
yang berkah.”
- orang saleh Hidup : meminta didoakan oleh orang yang dianggap dekat
dengan Allah. Dalil : sahabat meminta Nabi Muhammad
saw berdoa minta hujan
Contoh : mendatangi kyai atau guru untuk memohon
didoakan agar lulus ujian
Adab tawassul : harus menyadari bahwa hanya Allah yang mengabulkan
doa ; perantara hanyalah sebab (wassilah), bukan pemberi
manfaat secara mandiri

3.) - Zirodatul Khair (Bertambahnya kebaikan), sesuatu yang barulah mungkin
secara fisik menang terlihat sedikit, namun manfaatnya sangatlah
luas dan membawa ketenangan dalam jiwa

- bersumber dari : Allah swt. melalui Al-Qur’an, tempat suci (Mekkah/
Madinah), malam Lailatul Qadar) dan juga orang-orang saleh.
- evaluasi : dampak nyata pada kehidupan ; secara sosial : dapat mem-
pererat silaturahmi antar jama’ah. Secara ekonomi : tumbuhnya UMKM
disebutkan acara ngaji (pasar kaget/pasar malam). Secara spiritual :
Menimbulkan rasa-rasa positif dan ketenangan jiwa dalam menghadapi
kehidupan.
Qisnawiyah 10 Januari 2026 pukul 18.14 Hapus Komentar
1). Dzikir manaqib syekh Abdul Qodir Al-Jailani merupakan salah satu praktik spiritual dalam Islam yg bertujuan memperkuat keimanan, kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, serta meneladani akhlak para wali Allah. Susunan acara dzikir manaqib umumnya disusun secara sistematis dari pembukaan hingga penutupan agar peserta mengalami proses spiritual yg bertahap.
Diawali dg pembukaan berupa salam, pembacaan niat dan tawasul kepada Nabi Muhammad saw, para sahabat, ulama, khususnya syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Tawasul berfungsi sebagai pengantar spiritual untuk menghubungkan hati peserta dg Allah melalui perantaraan orang-orang shaleh.
Berikutnya adalah pembacaan dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an seperti istighfar, sholawat dan surat-surat pilihan. Bacaan ini bertujuan untuk membersihkan hati dan menenangkan jiwa sehingga peserta lebih siap menerima nilai-nilai spiritual.
Selanjutnya dibacakan pembacaan manaqib, yaitu kisah perjalanan hidup, keilmuan dan karomah syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Bagian ini berfungsi sebagai sarana edukasi dan keteladanan agar peserta memahami ajaran tasawuf, keikhlasan dan kedekatan beliau kepada Allah.
Kemudian dilanjutkan dg doa bersama yg menjadi puncak spiritual. Pada tahap ini peserta mengharapkan keberkahan dan pertolongan dari Allah dg penuh kekhusyukan.
Penutupan biasanya diakhiri dg sholawat dan salam. Secara keseluruhan setiap unsur dalam susunan acara berkontribusi dalam membentuk pengalaman spiritual yg mendalam serta memperkuat pemahaman peserta terhadap ajaran syekh Abdul Qodir Al-Jailani.
2). Tawasul dg amal shaleh : adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui perbuatan baik seperti sedekah, puasa dan sholawat. Dalilnya terdapat dalam hadits tentang tiga orang yg terjebak di dalam gua, dimana masing2 bertawasul dg amal shaleh mereka hingga Allah memberi jalan keluar. Contoh penerapannya adalah berdoa setelah sedekah dengan niat mengharap ridha Allah. Adabnya adalah ikhlas dan tidak menyombongkan diri.
Tawasul dg Asmaul Husna dan sifat Allah : tawasul ini dilakukan dg menyebut nama dan sifat Allah yg sesuai dg hajat yg di mohon. Dalilnya terdapat dalam Al-Qur’an surat al A’raf ayat 180. Contohnya menyebut Allah sebagai Al-Ghafur saat memohon ampunan. Adabnya adalah memahami makna nama Allah yg disebut dan berdoa dg penuh khusyuk.
Tawasul dg doa orang shaleh yg masih hidup : tawasul ini dilakukan dg meminta orang shaleh untuk mendoakan kita. Dalilnya dapat di temukan dalam praktik para sahabat yg meminta doa Rasulullah saw dan orang2 shaleh. Adabnya adalah tidak meyakini bahwa orang tersebut memiliki kekuatan selain kehendak Allah.
3). Konsep barokah dalam Islam berarti bertambahnya kebaikan dan manfaat dari sesuatu yg di berikan Allah. Barokah tidak selalu diukur secara materi tetapi juga ketenangan, kebermanfaatan, dan keberlanjutan.
Sumber barokah berasal dari Allah swt, Al-Qur’an, dan Rasulullah saw, amal shaleh, serta waktu dan tempat yg di muliakan. Manifestasi barokah dapat terlihat dalam kehidupan pribadi, keluarga, ekonomi dan sosial.
Motivasi mengikuti majelis manaqib seringkali di landasi keinginan memperoleh barokah melalui doa, dzikir, dan keteladanan wali Allah. Keyakinan terhadap barokah dapat berdampak positif seperti meningkatkan etos kerja, kepedulian sosial dan kedekatan spiritual, namun jika tidak di sertai pemahaman yg benar pencarian barokah bisa bergeser menjadi sikap pasif atau fatalistik. Oleh karena itu keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal sangat di perlukan.
Norma Dwi Hakimah Husseina 10 Januari 2026 pukul 18.14 Hapus Komentar
Nama : Norma Dwi Hakimah Husseina
NIM : 2509648057
Mata kuliah : tarbiyatul manaqib
Dosen pengampu : bapak fikri farihin, M. PD. I
PART 1
1.) Kegiatan manaqib bukan sekedar pembacaan biografi tokoh suci, melainkan sebuah kegiatan yang sudah tertata dan dirancang untuk membangun koneksi spiritual dan mengambil pelajaran hidup dari para kekasih Allah. Setiap tahapan kegiatannya memiliki makna dan filosofinya tersendiri. Analisis Susunan acara Dzikir manaqib oleh Abdul Qadir Al-Jalani yang ada di Al-Qodiri sebagai berikut;

- Biasa sebelum membaca dzikir manaqib, diawali dengan membaca Istighotsah : berfungsi sebagai pembersih jiwa agar jama'ah siap menerima hikmah

- Dan dilanjutkan dengan melakukan sholat Sunnah Libburil walidain dengan niat (أُصَلِّي سُنَّةَ لِبَرِّ الوَالِدَيْنِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا (مَأْمُومًا) لِلَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرُ

- Kemudian membaca Istighfar untuk memintakan ampun dosa kedua orang tua, para guru dan kaum muslimin, khususnya untuk diri kita masing-masing, dengan bacaan Istighfar ; kegiatan ini sudah sangat jelas untuk meminta pengampunan kepada kita dan kaum Muslimin

- Dan kegiatan selanjutnya Membacakan Al-Fatihah didugukan kepada Nabi Muhammad saw, para wali dan ulama dan lain-lain

- Melakukan Muroqobah tiga kali diawali dengan tawasshul (Muroqobah tersebut dilakukan sebanyak 3x, setiap selesai muroqobah membaca Surat Al-Fatihah 33 kali)

- Membaca do'a:
يا إلهي أنتَ مَقْصُودِي وَرِضَاكَ مَطْلُوبِي إلهي عِلْمُكَ كَافٍ عَنْ سُؤَالِي أَلْفِضْ لِي خِفْضَ الْفَائِضَةِ سُؤَالاً وَلَا حَرَجًا كَفِي عَنْ عَمَالِي الْكَرْهَى خِفْضَ الْفَائِضَةِ عَمَالًا وَحَصِّلْ حَافِي خَصِيْرِي

- Membaca Surat Al-Ikhlas 100 kali

- Membaca Manaqib (Nurul Burhani) oleh seorang atau dua orang, yang lain membaca dzikir

- Sholat hajat dengan niat:
أُصَلِّي سُنَّةَ لِفَضَائِلِ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا (مَأْمُومًا) لِلَّهِ تَعَالَى

- Melakukan muroqobah diawali dengan tawassul

- Membaca Dzikir

- Membaca nasyam

- Sholat witir

- Membaca kalimat tauhid (Tahlil)

- Membaca doa manaqib

2.) Jenis-jenis tawassul:

- Amal shaleh : bertawassul dengan keikhlasan amal yang pernah dilakukan. Dalil : “hadits tentang 3 orang yang terjebak di gua”. Contoh : “Ya Allah, jika sedekah ku kemarin ikhlas karena-Mu, mudahkanlah urusanku.”

- Asmaul Husna : menggunakan nama-nama Allah yang relevan dengan hajat. Dalil : QS. Al-A’raf : 180. Contoh : “Ya Razzag (Maha pemberi rezeki ), berilah aku rezeki yang berkah.”

- Orang saleh Hidup : meminta didoakan oleh orang yang dianggap dekat dengan Allah. Dalil : sahabat meminta Nabi Muhammad saw berdoa minta hujan. Contoh : mendatangi kyai atau guru untuk memohon didoakan agar lulus ujian.

Adab tawassul : harus menyadari bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa ; perantara hanyalah sebab (wassilah), bukan pemberi manfaat secara mandiri

3.) - Zirodatul Khair (Bertambahnya kebaikan), sesuatu yang barulah mungkin secara fisik menang terlihat sedikit, namun manfaatnya sangatlah luas dan membawa ketenangan dalam jiwa.

- Bersumber dari : Allah swt. melalui Al-Qur’an, tempat suci (Mekkah/Madinah), malam Lailatul Qadar) dan juga orang-orang saleh.

- Evaluasi : dampak nyata pada kehidupan ; secara sosial : dapat mempererat silaturahmi antar jama’ah. Secara ekonomi : tumbuhnya UMKM disebutkan acara ngaji (pasar kaget/pasar malam). Secara spiritual : Menimbulkan rasa-rasa positif dan ketenangan jiwa dalam menghadapi kehidupan.
Norma Dwi Hakimah Husseina 10 Januari 2026 pukul 18.19 Hapus Komentar
Nama : Norma Dwi Hakimah Husseina
NIM : 2509648057
Mata kuliah : tarbiyatul manaqib
Dosen pengampu : bapak fikri farihin, M. PD. I
PART 2
4.) Terdapat dialektika antara kelompok yang mengamalkan dan yang menentang:

- Kelompok Mendukung (Pro) : menganggapnya sebagai tafriju’l kurub (Menghilangkan kesusahan), mereka menakarai redaksi “tan hallu bihil ‘uqba (terlepas ikatan dengannya) menyurut pada kebaikan Nabi Muhammad sebagai wasilah, bukan Nabi sebagai tuhan.

- Kelompok menentang (Kontra), menganggapnya bid'ah karena tidak ada di zaman nabi dan khawatir mengundang unsur kestifikan kekafiran seolah-olah nabi yang memberikan manfaat/mudharat secara mandiri.

- Sikap moderat : Kita harus saling menghormati. Bagi yang mengamalkan pastikan akidah tetap terjaga (Allah adalah penentu tunggal). Bagi yang tidak mengamalkan, tidak perlu menghujat secara Muslim, karena dasar kecintaan pada Nabi adalah titik temu keduanya.

5.) Akar permasalahan dari perdebatan shalawat nariyah adalah perbedaan Metodologi interpretasi (Manhaj) :

- Interpretasi Dalil : Apakah sebuah teks harus murni ma'thur (Dari Al-Qur'an/Hadis) atau boleh Ghairu Ma'tsur (Susunan ulama') selama (sinerja) baik.

- Konsep tawassul : Batas antara menghormati kedudukan nabi (Wasilah) dengan pengultusan yang berlebihan.

- Definisi Bid'ah : Apakah Semua yang baru itu sesat (Kulla muhdatsatin Bid'ah secara Mutlak), atau ada Bid'ah Hasanah (Munas) yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat).

Masalah ini adalah masalah furu'iyyah (Cabang), bukan ushul (Pokok akidah). Kedewasaan dalam bagaimana menuntut kita untuk memahami alasan orang lain Sebelum menghakimi
marhatuss888@gmail.com 10 Januari 2026 pukul 18.28 Hapus Komentar
Nama : Marhatus Sholihah
Nim : 2509648059

PART 1
Analisis Majelis Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani & Fenomena Shalawat Nariyah
1. Analisis Susunan Acara Manaqib Syekh Abdul Qadir
A. Pembukaan (Tawassul/Hadrah):

Acara: Pengiriman doa kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, para wali, khususnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani serta para guru (masyayikh).

Bacaan: Surat Al-Fatihah yang ditujukan kepada daftar penerima tawassul.

Fungsi: Menghubungkan ruhani peserta dengan silsilah keilmuan dan spiritual (Sanad).

B. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an:

Seringkali dipilih ayat-ayat yang berkaitan dengan kewalian atau ketaqwaan (umumnya Surah Al-Fath).

C. Pembacaan Puji-pujian dan Shalawat:

Sesi ini berfungsi untuk menghangatkan hati peserta dengan kecintaan kepada Nabi dan para wali.

D. Inti Acara: Pembacaan Kitab Manaqib:

Pembacaan biografi yang biasanya terbagi dalam beberapa bab (khitan atau pasal).

Isi: Menceritakan silsilah, kelahiran, masa menuntut ilmu, karamah (kemuliaan), hingga wafatnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Selingan: Di antara bab biasanya diselingi lantunan kalimat thayyibah atau bait syair "Ya sayyidi Ya Rasulullah".

E. Dzikir Bersama (Talqin Dzikir):

Puncak aktivitas batin adalah dzikir jahr (keras) maupun sirr (tersembunyi).

Bacaan: Kalimat Laa ilaha illallah dengan ritme yang teratur.

F. Do’a dan Penutup:

Do’a khusus manaqib yang memohon keberkahan (tabarruk) atas pembacaan riwayat wali Allah tersebut.

2. Jenis-Jenis Tawassul dan Adabnya
Berikut adalah penjelasan mengenai tiga jenis tawassul yang disepakati beserta contoh praktisnya:

1. Tawassul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah:

Jenis tawassul paling tinggi tingkatannya. Kita menyebut nama-nama Allah yang mulia sebelum menyampaikan hajat (QS. Al-A'raf: 180).

Contoh: "Ya Allah, Ya Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), berilah keberkahan pada usahaku."

2. Tawassul dengan Amal Shaleh:

Didasarkan pada hadits shahih tentang tiga orang yang terjepit di dalam gua. Mereka menyebutkan satu amal paling ikhlas yang pernah dilakukan agar Allah menolong mereka.

Contoh: Seseorang berdoa dalam hati setelah bersedekah atau membantu orang tua: "Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa sedekah ini murni karena mengharap ridha-Mu, maka angkatlah penyakit keluargaku."

3. Tawassul dengan Doa Orang Shaleh yang Masih Hidup:

Terjadi ketika kita mendatangi seseorang yang dikenal karena ketaqwaannya dan meminta mereka untuk mendoakan kita kepada Allah.

Contoh: Mendatangi guru atau orang tua: "Ustadz, mohon doakan saya agar ujian saya besok berkah."

Adab-adab Bertawassul:

Keyakinan Tauhid: Harus yakin sepenuhnya bahwa hanya Allah-lah yang memberi manfaat dan mudharat; wasilah hanyalah sarana.

Ikhlas: Jika bertawassul dengan amal shaleh, pastikan amal tersebut benar-benar ikhlas.

Hadir Hati (Tadharru’): Menunjukkan rasa butuh yang amat sangat kepada Allah saat menyebutkan wasilah tersebut.

3. Konsep Barakah dalam Islam
Definisi: Secara etimologi berasal dari kata baraka yang berarti "nikmat" atau "pertambahan". Dalam terminologi Islam, barakah didefinisikan sebagai ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).

Sumber: Barakah bersumber sepenuhnya dari Allah SWT (Al-Mubarak), namun dialirkan melalui berbagai wasilah (perantara) yang diridhai-Nya, seperti:

Waktu: Sepertiga malam terakhir, hari Jumat, bulan Ramadhan.

Tempat: Masjid, Makkah, Madinah.

Sosok/Figur: Para Nabi dan ahli warisnya (ulama/wali) karena kedekatan mereka pada Sang Pencipta.
marhatuss888@gmail.com 10 Januari 2026 pukul 18.31 Hapus Komentar
PART 2
4. Analisis Kelompok Pendukung dan Penentang (Shalawat Nariyah)
A. Kelompok Pendukung (Afirmasi - Tradisionalis)
Aspek Teologis (Tawassul): Meyakini bahwa meminta kepada Allah dengan menyebut kemuliaan Nabi Muhammad adalah hal yang dianjurkan. Frasa "segala ikatan terlepas" dipahami sebagai bentuk majas (metafora) kekuatan doa.

Aspek Historis & Empiris: Shalawat ini disusun oleh ulama besar (Syekh Ahmad At-Tazi) dan telah diamalkan secara turun-temurun dengan hasil psikologis dan spiritual berupa ketenangan.

Landasan Dalil: Berpegang pada perintah umum untuk bershalawat dalam Al-Qur'an (QS. Al-Ahzab: 56).

B. Kelompok Penentang (Negasi - Puritan)
Kekhawatiran Syirik (Ghuluw): Menyoroti redaksi secara tekstual yang dianggap menyandarkan kekuasaan Tuhan (melepaskan kesulitan) kepada makhluk (Nabi).

Ketiadaan Dalil (Ghairu Mashurah): Karena tidak berasal langsung dari Nabi, mereka menganggapnya sebagai tambahan dalam agama yang tidak memiliki dasar hadits shahih.

5. Akar Perbedaan Interpretasi
Konflik Teks vs Konteks: Masalah semantik pada kalimat "...yang dengannya (Nabi) dilepaskan segala ikatan". Apakah Nabi sebagai agen utama (syirik) atau sebagai perantara (tawassul)?

Definisi Bid’ah:

Pro: Membedakan antara Bid'ah Hasanah (baik) dan Dhalalah (sesat). Selama isinya doa baik, maka diperbolehkan.

Kontra: Menganggap semua perkara baru dalam ibadah adalah sesat (Kullu bid'atin dhalalah).

Logika Tauhid:

Tradisionalis: Menekankan aspek Mahabbah (cinta) dan mengakui adanya perantara (wasilah).

Puritan: Menekankan aspek Ittiba’ (kepatuhan formal) dan hubungan langsung antara hamba dan Allah tanpa perantara.

Kesimpulan Kritis & Sikap Moderat
Akar permasalahan adalah perbedaan "kacamata" dalam melihat hubungan antara makhluk (Nabi) dan Khalik (Allah).

Sikap Bijak: Menyadari bahwa kelompok yang membaca Shalawat Nariyah tidak berniat menyembah Nabi, melainkan memuliakannya. Di sisi lain, kelompok yang melarang tidak berniat membenci shalawat, melainkan ingin menjaga kemurnian tauhid.

Moderasi Beragama: Dalam masalah furu’iyyah (cabang), kebenaran seringkali bersifat relatif. Kita harus mengedepankan Ukhuwah (persaudaraan) di atas segalanya. Niat adalah kunci; selama rukun iman dan islamnya sama, kita adalah saudara.
Dela Sonia putri 10 Januari 2026 pukul 18.34 Hapus Komentar
Nama : Dela Sonia Putri
Nim : 2509648061
​1. Dzikir Managib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani
​Dzikir Managib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani seringkali dilaksanakan, seperti pembacaan ratib di pondok pesantren Al-Qodiri pada hari Kamis malam Jumat. Maulid merupakan kegiatan spiritual yang bertujuan membangun pemahaman mendalam (Ma'rifat) dan pengalaman praktis ajaran Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani.
​Elemennya dan fungsi dalam pendidikan spiritual antara lain:
​a). Pembukaan / Hikmah: Mempersiapkan mental dan niat (sirrat ulaha) dan hijrah hati untuk menerima ajaran dan mengubah diri.
​b). Identifikasi dan Klasifikasi: Mengajarkan pemahaman konsep-konsep inti yang benar, misalnya: Aqidah dan Fiqih untuk mengikhlaskan ketaatan.
​c). Ijazah dan Tawasul: Memperoleh sanad/otoritas keilmuan dan memulai praktik mendekatkan diri kepada Allah.
​d). Tahlil, Do'a, dan Bacaan praktis: Inti dari praktik ibadah yang melatih istiqomah (konsistensi) dan mujahadah (perjuangan spiritual).
​Kontribusinya adalah seluruh elemen ini berkontribusi pada pembinaan spiritual yang terstruktur yang memastikan memiliki pemahaman teoritis serta pengalaman praktis yang memadai.
​2.Tawasul adalah sarana (wasilah) yang digunakan umat Islam untuk memohon hajat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
​Macam-macam Tawasul:
​1.)Tawasul dengan Amal Sholeh, yakni memohon kepada Allah dengan menyebutkan amal kebajikan yang pernah kita lakukan sebagai perantara.
​2.)Tawasul dengan Asmaul Husna / Sifat-Sifat Allah, yakni memohon dengan menyebut nama, Allah / Sifat-Sifat Allah dengan permohonan tersebut. Misalnya: Memanggil Ya Rahman untuk meminta rahmat.
​3.) Tawasul dengan do'a orang sholeh (yang hidup), yakni meminta agar orang sholeh, ulama, atau kyai yang masih hidup mendo'akan kita.
​Kajian tawasul umumnya diterima secara luas karena didukung oleh dalil dan syara' dan memiliki contoh praktik (sunnah) yang kuat.
​3. Partisipasi Majelis Managib dan Konsep Barokah
​Konsep Inti:
​Barokah (Keberkahan): Secara harfiah berarti pertambahan, peningkatan, dan penetapan kebaikan pada sesuatu. Barokah membuat hasil dari amal/rezeki yang sedikit terasa mencukupi dan bermanfaat.
​Motivasi: Partisipasi dalam Majelis Managib didorong oleh keinginan untuk memperoleh barokah dari Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani dan para ulama melalui sanad.
​Dampak Nyata (Evaluasi): Menekankan bahwa keyakinan terhadap barokah dapat mengubah realitas hidup, antara lain:
​Perilaku: Lebih rajin beribadah dan menjauhi larangan.
​Sosial / Ekonomi: Merasa cukup, lebih dermawan, dan tenang dalam menghadapi kesulitan ekonomi (merasa rezeki dimurahkan).
​Spiritual: Peningkatan kedekatan dengan Allah, ketenangan hati, dan pemahaman yang lebih terhadap ajaran Islam.
Halimatus sakdiyah 10 Januari 2026 pukul 18.35 Hapus Komentar
Nama : Halimatus Sakdiyah
NIM : 2509648079
Part 1
1.Dzikir manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan salah satu tradisi spiritual dalam Islam yang berfungsi memperkuat iman, kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, serta meneladani akhlak para wali Allah. Susunan acara dzikir manaqib disusun secara sistematis dari pembukaan hingga penutupan agar para jamaah menghayati proses spiritual yang bertahap.
- Diawali dengan pembukaan berupa salam, pembacaan niat, dan tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, ulama, khususnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Tawassul berfungsi sebagai pengantar spiritual untuk menghubungkan hati para jamaah dengan Allah SWT melalui perantaraan orang-orang shalih.
- Selanjutnya dzikir dan ayat-ayat Al-Qur'an seperti istighfar, shalawat dan surat-surat pilihan. Bacaan ini bertujuan untuk membersihkan hati dan menenangkan jiwa sehingga peserta lebih siap menerima ilmu.
- Kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang menjadi puncak spiritual. Pada proses ini para jamaah mengharapkan keberkahan dan pertolongan dari Allah SWT dengan penuh kekhusyukan.
- Penutupannya biasanya diakhiri dengan shalawat dan salam. Secara keseluruhan, setiap unsur dalam susunan acara berkontribusi dalam bentuk pengalaman spiritual yang mendalam serta memperkuat pemahaman para jamaah terhadap ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
2.Tiga macam Tawassul
- Tawassul Bi Asmaillah (dengan nama dan sifat Allah).Tawassul ini dilakukan dengan menyebut nama dan sifat Allah yang sesuai dengan hajat yang dimohon. Dalilnya terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf ayat 180. Contohnya menyebut Allah sebagai Al-Ghaffar saat memohon ampunan. Adabnya adalah memahami makna nama Allah yang disebut dan berdo'a dengan penuh khusyuk.
- Tawassul Bi A'mal Shalih (dengan amal saleh).Mendekatkan diri kepada Allah melalui perbuatan baik seperti sedekah, puasa, dan shalawat. Dalilnya terdapat dalam hadist tentang tiga orang yang terjebak didalam gua, dimana masing-masing bertawassul dengan amal saleh mereka hingga Allah memberi jalan keluar. Contoh penerapannya berdo'a setelah sedekah dengan niat mengharap kepada Allah. Adabnya adalah ikhlas dan tidak menyombongkan diri.
- Tawassul Bi Syaikhin (dengan Do'a Orang Shaleh yang masih hidup).Tawassul ini dilakukan dengan meminta orang shaleh untuk mendoakan kita. Dalilnya dapat ditemukan dalam praktik para sahabat yang meminta Do'a Rasulullah SAW dan orang-orang saleh. Adabnya adalah tidak meyakini bahwa orang tersebut memiliki kekuasaan selain kehendak Allah
3.Konsep barokah dalam Islam berarti bertambahnya kebaikan dan manfaat dari sesuatu yang diberikan Allah. Barokah tidak selalu diukur secara materi tetapi juga ketenangan, kemanfaatan, dan keberlanjutan. Sumber barokah berasal dari Allah SWT, Al-Qur'an, dan Rasulullah SAW, amal shaleh, serta waktu dan tempat yang dimuliakan. Manifestasi barokah dapat terlihat dalam kehidupan pribadi, keluarga, ekonomi dan sosial.Motivasi mengikuti majelis manaqib seringkali dilandasi keinginan memperoleh barokah melalui do'a, dzikir, dan keteladanan para wali Allah. Keyakinan terhadap barokah dapat berdampak positif seperti meningkatkan kepedulian sosial dan kedekatan spiritual, namun jika tidak disertai pemahaman yang benar pencarian barokah bisa bergeser menjadi sikap pasif. Oleh karena itu keseimbangan antara ikhtiar dan tawakkal sangat diperlukan.
aminatun mirfaqoh 10 Januari 2026 pukul 18.36 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Dela Sonia putri 10 Januari 2026 pukul 18.37 Hapus Komentar
Nama : Dela Sonia Putri
Nim : 2509648061

​4. Analisis Perbedaan Pandangan tentang Sholawat Nariyah dan Tawasul
​Kelompok Pro (Mendukung Tawasul): Melihat tawasul, misalnya Sholawat Nariyah, sebagai sarana yang disyari'atkan untuk mencapai hajat dan kemudahan rezeki.
​Kelompok Kontra (Menolak Tawasul / Bid'ah): Melihat tawasul yang tidak berasal dari dalil eksplisit (terutama tawasul pada orang yang sudah wafat) sebagai bid'ah (inovasi dalam ibadah) yang harus ditinggalkan.
​Penyebab Terjadinya Perpecahan / Perbedaan antara lain:
​1. Perbedaan Tafsir Dalil: Masing-masing pihak berbeda dalam menafsirkan hadist tentang bid'ah. Kelompok Pro menerima konsep bid'ah hasanah sedangkan Kontra (Salfiah) menghalalkan.
​2. Pemahaman Konsep Tawasul: Perbedaan mendasar terletak pada apakah tawasul selain yang tiga utama adalah cara yang sah atau justru termasuk perbuatan yang berlebihan dalam agama (ghuluw).
​Sikap Ideal dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat: Mengakui dan menghormati adanya perbedaan pandangan (ikhtilaf) dalam masalah furu'iyah (cabang agama) seperti tawasul dan bentuk dzikir tanpa perlu saling menyalahkan (tabdi') atau mengkafirkan dengan fokus pada prinsip utama, toleransi praktik, dan mengedepankan persatuan umat.
​5. Akar Permasalahan Perdebatan di Kalangan Umat Islam
​Akar permasalahan perdebatan di kalangan umat Islam antara lain:
​1. Perbedaan Interpretasi Dalil (Manhaj Fath): Yakni masing-masing kelompok memiliki metodologi (manhaj) sendiri dalam menafsirkan Al-Qur'an dan Sunnah, menghasilkan kesimpulan hukum yang berbeda.
​2. Ketidaksepakatan Konsep Keagamaan: Khususnya pada konsep bid'ah (apakah semua inovasi itu sesat, atau ada bid'ah hasanah?) dan tawasul (apakah tawasul melalui perantara adalah syirik/syari'at?).
​3. Konflik Identitas Kelompok: Perdebatan seringkali didorong oleh fanatisme mazhab dan upaya pemurnian ajaran (salafiyah) versus pelestarian tradisi (Asy'ariyah/Aswaja) yang membuat kedua pihak sulit mencapai titik temu.
​Solusi: Memerlukan dialog terbuka yang memposisikan perbedaan sebagai kekayaan khazana h Islam (ikhtilaf), bukan sebagai sumber perpecahan, dengan fokus pada akhlak dan persatuan.
umikulsumprasetia@gmail.com 10 Januari 2026 pukul 18.38 Hapus Komentar
Nama: Umi Kulsum
NIM: 2509648086
1. Analisis Acara Dzikir Manaqib
Bergantung pada pengalaman pribadi dan analisis peserta terhadap acara dzikir Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.
2. Jenis-Jenis Tawasul
a. Tawasul dengan Amalan Sholeh: Dilakukan dengan menjadikan amal ibadah atau ketaatan yang pernah dilakukan sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah.
b. Tawasul dengan Asmaul Husna dan Sifat-sifat Allah: Bentuk tawasul yang paling utama dan dianjurkan, yaitu memohon kepada Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah atau sifat-sifat-Nya yang sempurna.
c. Tawasul dengan Doa Orang Sholeh yang Masih Hidup: Dilakukan dengan cara meminta seseorang yang diyakini kesalehannya (ulama, orang alim, ahli ibadah) untuk mendoakan kita kepada Allah SWT.
3. Konsep Barokah
Barokah adalah kebaikan yang banyak dan abadi, baik secara material maupun spiritual yang sumbernya berasal dari Allah SWT.
Definisi Barokah:
Secara etimologis, barokah berasal dari bahasa Arab yang berarti nikmat, tetap/bertambah, dan berkembangnya sesuatu.
Sumber-sumber Barokah:
Sumber utama barokah berasal dari Allah SWT semata. Allah melimpahkan barokah melalui berbagai sarana:
Al-Qur'an dan Hadits.
Ketaatan dan kelakuan (perbuatan baik).
Tempat dan waktu tertentu.
Orang shaleh / Ulama.
Manifestasi barokah dalam kehidupan: Aspek material, aspek spiritual, serta aspek waktu dan usia.
4. Analisis Perbedaan Pandangan Mengenai Shalawat Nariyah
Perbedaan pandangan ini berakar pada perbedaan metodologi dalam memahami sumber hukum Islam, khususnya terkait konsep bid'ah dan tawasul.
A. Analisis Faktor Perbedaan Pandangan:
Perbedaan pemahaman konsep bid'ah.
Perbedaan pemahaman konsep tawasul.
B. Alasan Kelompok Pendukung dan Penentang:
Kelompok Pendukung:
Keutamaan dan manfaat empiris.
Diperbolehkan tawasul.
Menganggapnya sebagai Bid'ah Hasanah.
Kelompok Penentang:
Tidak ada dalil shahih.
Khawatir syirik (tawasul terlarang).
Menganggap sebagai Bid'ah Dhalalah.
5. Akar Permasalahan Shalawat Nariyah
Akar permasalahan yang menyebabkan Shalawat Nariyah menjadi perdebatan di kalangan umat Islam terletak pada perbedaan mendasar dalam interpretasi dalil, terutama terkait konsep bid'ah, tawasul, dan batasan pengagungan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Halimatus sakdiyah 10 Januari 2026 pukul 18.39 Hapus Komentar
Nama : Halimatus Sakdiyah
NIM : 2509648079
Part : 2
4.Perbedaan pandangan tentang shalawat Nariyah.
- Kelompok pendukung shalawat Nariyah memandangnya sebagai bentuk shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung do'a kebaikan dan pelepasan kesulitan. Mereka berpegang pada keumuman perintah bershalawat dalam Al-Qur'an dan kaidah bahwa do'a yang baik diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat.
- Kelompok penentang menilai shalawat Nariyah sebagai amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan sahabat, serta mengandung unsur tawassul yang berlebihan.
- Perbedaan muncul karena pemahaman tentang konsep bid'ah. Sebagian ulama membagi bid'ah menjadi hasanah dan dhalalah, sementara yang lain menolak pembagian tersebut. Perbedaan pandangan tentang tawassul juga menjadi faktor utama.Sikap moderat yang bijak ialah saling menghormati perbedaan pendapat, tidak menyesatkan dan menjaga kesatuan umat.
5.Akar permasalahan polemik shalawat Nariyah terletak pada perbedaan metodologi dalam memahami dalil dan tradisinya. Kelompok pro menggunakan pendekatan kontekstual dan kaidah umum syariat, sedangkan kelompok yang kontra lebih menekankan praktik yang memiliki dalil eksplisit dari Rasulullah SAW.
- Perbedaan interpretasi terhadap konsep bid'ah dan tawassul menjadi faktor utama yang melahirkan pro dan kontra. Oleh karena itu dialog ilmiah yang terbuka, sikap tawadhu', dan saling menghormati menjadi kunci dalam menyikapi perbedaan ini secara dewasa dan konstruktif.
Khusnul khatimah 10 Januari 2026 pukul 18.45 Hapus Komentar
Nama: Khusnol Hotimah
NIM: 2509648066
Kelas: 1E
​I. Struktur Acara Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
​Susunan ini mengikuti struktur tradisional tarekat Qadiriyah yang dirancang untuk menciptakan suasana khusyuk dan penuh barokah. Setiap elemen membangun pengalaman bertahap dari persiapan hati hingga puncak pencerahan.
​Tata Cara Dzikir Manaqib:
​Istighotsah: Diawali dengan membaca doa permohonan tolong kepada Allah.
​Sholat Sunnah Libirril Walidain: Sholat sunnah untuk berbakti kepada kedua orang tua.
​Istighfar: Memohon ampunan untuk diri sendiri, orang tua, guru, dan kaum muslimin.
​Al-Fatihah: Ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, para wali, dan ulama.
​Muroqobah (3x): Diawali dengan tawasul kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dan Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 33 kali.
​Doa Maksud: Membaca doa "Ilahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi...".
​Membaca Surah Al-Ikhlas (100x).
​Pembacaan Manaqib (Nurul Burhani): Dibacakan oleh satu atau dua orang, sementara yang lain membaca dzikir selawat.
​Sholat Hajat.
​Muroqobah Lanjutan: Diawali kembali dengan tawasul.
​Selawat Munjiyat dan Doa Sendiri.
​Dzikir Tambahan: Membaca Tasbih Nabi Yunus (7x) dan "Ya Hayyu Ya Qoyyum" (100x).
​Nadham: Membaca syair-syair pujian "Ibadallah rijalallah...".
​Sholat Witir.
​Kalimat Tauhid (Tahlil): Membaca "Laa ilaha illallah" sebanyak 180 kali.
​Doa Manaqib: Sebagai penutup rangkaian acara.
​II. Konsep Tawasul dalam Islam
​Tawasul adalah perantara dalam berdoa yang disepakati oleh mayoritas ulama Ahlussunnah berdasarkan dalil Al-Qur'an dan Sunnah.
​Tawasul Amalan Saleh: Menggunakan amal kebaikan pribadi yang dilakukan secara ikhlas (seperti berbakti kepada orang tua) sebagai wasilah agar doa dikabulkan, merujuk pada kisah tiga pemuda yang terperangkap di gua.
​Tawasul Asmaul Husna: Memohon kepada Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah sesuai kebutuhan doa (QS. Al-A'raf: 180).
​Tawasul Doa Orang Saleh (Hidup): Meminta orang saleh yang masih hidup untuk mendoakan kita karena doanya dianggap lebih mustajab (merujuk hadis tentang Abbas bin Abdul Muthalib dan orang buta yang meminta doa Nabi).
​III. Konsep Barokah (Keberkahan)
​Barokah didefinisikan sebagai Ziyadatul Khair (bertambahnya kebaikan) atau limpahan kebaikan ilahi yang tidak terhitung.
​Sumber Barokah: Utamanya dari Allah SWT (QS. Al-Mulk: 1), serta melalui wasilah Al-Qur'an, Rasulullah SAW, ketaqwaan, dan majelis dzikir seperti manaqib.
​Manifestasi: Terlihat dalam bentuk rezeki yang berkembang, ketenangan jiwa, kesehatan, harmoni keluarga, dan keberhasilan sosial.
​Motivasi: Individu menghadiri majelis manaqib didorong oleh motif spiritual untuk memperoleh barokah dan ampunan, serta motif sosial seperti gotong royong.
​IV. Debat Mengenai Selawat Nariyah
​Selawat Nariyah (Selawat Tafrijiyah) memicu perbedaan interpretasi di kalangan umat Islam.
​Pandangan Pro (Aswaja/NU): Memandangnya sebagai wasilah efektif untuk kelancaran rezeki dan hajat. Kata "bihi" dalam redaksinya diartikan sebagai "melalui perantara beliau (Nabi)", di mana kekuatan mutlak tetap milik Allah.
​Pandangan Kontra (Salafi/Wahabi): Mengkritiknya sebagai bid'ah karena tidak diajarkan secara tekstual oleh Nabi. Mereka mengkhawatirkan adanya unsur syirik dalam redaksi yang dianggap menyiratkan kekuatan independen pada Nabi SAW.
​Sikap Moderat: Sebaiknya menyikapi perbedaan ini dengan wasathiyah (moderat) dan saling menghormati tanpa takfir (mengkafirkan), karena inti selawat adalah cinta kepada Nabi SAW.
​V. Kontribusi Spiritual
​Majelis Manaqib membantu membersihkan jiwa dari kelalaian, menanamkan keyakinan pada kekuasaan Allah, dan meninggalkan peserta dengan kedamaian hati serta komitmen mengamalkan ajaran moral (futuwwah Qadiriyah).
Qurrota A'yun 10 Januari 2026 pukul 18.59 Hapus Komentar
​Nama: Qurrota A’yun
NIM: 2509648063
Prodi: PIAUD
Kelas: 1 E
​1. Struktur Acara dan Analisis Spiritual Manaqib
​Kegiatan ini memiliki tahapan yang disusun untuk mempersiapkan ruhani jemaah:
​Pembukaan (Penyiapan Ruhani)
​Tawasul: Sesi ini merupakan fondasi seluruh rangkaian acara. Jemaah diajak melakukan hadrah (lantunan selawat kepada Nabi). Bacaan utamanya adalah Surah Al-Fatihah yang ditujukan secara berantai kepada Nabi Muhammad SAW, Syeh Abdul Qodir Al-Jailani (sebagai shohibul waqt), para pendiri tarekat, hingga arwah orang tua jemaah.
​Pembacaan Kitab Manaqib (Lujainud Dani / Lubabul Ma’ani)
​Inti acara adalah pembacaan kitab ringkasan/syarah tertentu yang populer di Al-Qodiri.
​Isi Bacaan: Menceritakan silsilah, kelahiran, karomah, hingga wafatnya Syeh Abdul Qodir Al-Jailani.
​Dzikir (Istighosah)
​Meliputi pembacaan Istighfar, Tahlil, dan Asmaul Husna.
​Tausiyah (Mau’idzah Hasanah)
​Penyampaian pesan moral, bimbingan syariat, dan motivasi spiritual dari pengasuh.
​Doa Penutup (Doa Manaqib)
​Evaluasi Manaqib:
Kegiatan ini mendekatkan masyarakat pada nilai-nilai kewalian dan kesalehan. Manaqib dipahami sebagai "peta jalan" (perantara) menuju akhlak mulia dan ketenangan hati.
​2. Konsep Tawasul
​Tawasul adalah menjadikan sesuatu (amal atau sosok saleh) sebagai perantara agar doa dikabulkan oleh Allah SWT.
​Tawasul dengan Amal Sholeh
Berdasarkan Hadis Bukhari & Muslim tentang kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua karena pintu gua tertutup batu besar. Masing-masing bertawasul dengan amal ikhlasnya:
​Orang pertama: Berbakti kepada orang tua.
​Orang kedua: Menjauhi zina (menahan diri dari kemaksiatan).
​Orang ketiga: Kejujuran dalam menjaga amanah harta orang lain.
Hasilnya: Allah menggeser batu tersebut sedikit demi sedikit hingga mereka bisa keluar.
​Tawasul dengan Asmaul Husna
Ini adalah tingkatan tertinggi dan disepakati ulama.
​Dalil: "Hanya milik Allah Asmaul Husna. Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu" (QS. Al-A’raf: 180).
​Tawasul dengan Orang Sholeh yang Masih Hidup
Dilakukan dengan meminta doa kepada orang yang dianggap bertakwa.
​Dalil: QS. An-Nisa: 64, yang menjelaskan tentang umat yang datang kepada Rasulullah untuk memohon ampunan, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka.
​3. Konsep Barokah
​Barokah berarti bertambahnya kebaikan dan manfaat. Sumber barokah berasal dari Allah SWT yang disalurkan melalui waktu, tempat, amal shaleh, dan orang shaleh.
​Dampak dalam Kehidupan:
​Spiritual: Meningkatkan keimanan.
​Sosial: Mendorong sikap tawadhu’ (rendah hati).
​Ekonomi: Menumbuhkan etos kerja yang jujur dan penuh doa.
​Kesimpulan: Barokah tidak bersifat mistis semata, tetapi berimplikasi nyata bagi individu dan masyarakat.
​4. Diskusi Selawat Nariyah
​Terdapat perbedaan pandangan di masyarakat mengenai pembacaan Selawat Nariyah:
​Kelompok yang Mendukung: Umumnya dari kalangan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja), seperti Ulama Tasawuf, NU (Nahdlatul Ulama), dan Pesantren Tradisional/Salafiyah.
​Kelompok yang Tidak Mendukung: Kelompok Wahabi/Salafi, kelompok yang menolak praktik wirid dengan bilangan tertentu, serta sebagian kelompok modernis.
​Faktor Penyebab Perbedaan:
​Perbedaan pemahaman tentang tawasul, bid'ah, dan konsep syirik.
​Perbedaan pendekatan terhadap tasawuf.
​Sikap kehati-hatian dalam aqidah serta faktor sosial budaya keagamaan.
​Akar Permasalahan:
Perdebatan bersumber dari perbedaan metodologi pemahaman dalil. Pihak pro memandang tawasul sebagai sesuatu yang disyariatkan, sementara pihak kontra menganggapnya tidak memiliki dasar dalil yang shahih dan khawatir mengarah pada kesyirikan.
​Penutup:
"Ukhwah (persaudaraan) dan sikap saling menghormati lebih utama daripada mempertajam perbedaan."
Firly arifah 10 Januari 2026 pukul 19.09 Hapus Komentar
Tarbiyatul Manaqib
​Nama: Firli Arifah
NIM: 2509648067
Dosen Pengampu: Fikri Farikhin, M.Pd.I
​1. Pelaksanaan Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani
​Pelaksanaan dzikir ini, khususnya yang dipopulerkan oleh Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember di bawah asuhan KH. Muzakky Syah, memiliki struktur sistematis untuk membangun suasana spiritualitas yang mendalam. Berikut adalah analisis sistematis terhadap tahapan bacaan dalam susunan dzikir manaqib tersebut:
​Pembukaan dan Tawasul (Hadirat)
Acara dimulai dengan pembacaan Surat Al-Fatihah yang ditujukan (tawasul) kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, para wali khususnya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, hingga para guru dan orang tua.
​Kontribusi Spiritual: Membangun koneksi batin (rabithah) antara peserta dengan jalur transmisi keilmuan dan keberkahan (sanad). Ini menciptakan adab dan kerendahan hati sebelum memasuki inti dzikir.
​Pembacaan Istighfar dan Shalawat
Peserta melantunkan istighfar untuk memohon ampunan dan berbagai jenis shalawat Nabi secara berulang.
​Kontribusi Spiritual: Berfungsi sebagai pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dari dosa-dosa yang menghalangi masuknya cahaya Ilahi ke dalam hati.
​Pembacaan Inti Manaqib (Biografi dan Karamah)
Tahapan ini adalah pembacaan kitab Manaqib (seperti Lujain ad-Dani) yang berisi riwayat hidup, akhlak, dan karamah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Pembacaan biasanya dibagi dalam beberapa bab (fashl).
​Kontribusi Spiritual: Memberikan edukasi dan keteladanan. Peserta tidak hanya berdzikir, tetapi memahami ajaran kezuhudan, kedermawanan, dan keteguhan iman sang wali kutub. Ini memperkuat pemahaman bahwa inti dari tarekat adalah mengikuti syariat secara sempurna.
​Dzikir Nafi Isbat (Laa ilaha illallah)
Ini adalah puncak dari rangkaian acara. Dzikir dilakukan dengan ritme yang khas, sering kali dimulai dari tempo lambat menuju cepat secara kolektif.
​Kontribusi Spiritual: Menciptakan pengalaman transendental. Getaran suara kolektif membantu peserta mencapai konsentrasi penuh (fana) dan menanamkan tauhid yang kuat ke dalam lubuk hati terdalam.
​Istighosah dan Doa Bersama
Setelah dzikir, dilakukan pembacaan doa-doa khusus (istighosah) untuk memohon pertolongan Allah SWT atas berbagai hajat duniawi maupun ukhrawi.
​Kontribusi Spiritual: Menumbuhkan rasa ketergantungan total hanya kepada Allah (tawakkal). Di pesantren Al-Qodiri, sesi ini sering kali sangat emosional karena adanya tuntunan doa yang menyentuh hati.
​Penutup dan Mushafahah
Acara ditutup dengan doa penutup dan terkadang dilanjutkan dengan bersalam-salaman (mushafahah) jika hadir langsung.
​Kontribusi Spiritual: Memberikan rasa ketenangan dan optimisme bagi peserta saat kembali ke rutinitas sehari-hari, membawa semangat baru untuk mengamalkan ajaran kebaikan.
​Evaluasi Keseluruhan
​Struktur Manaqib Al-Qodiri menggabungkan tiga elemen kunci: Kognitif (melalui bacaan riwayat syekh), Afektif (melalui shalawat dan doa yang menyentuh perasaan), dan Psikomotorik (melalui pelafalan dzikir yang ritmis). Secara virtual maupun langsung, susunan ini efektif dalam menggiring peserta dari kondisi pikiran yang kacau menuju kondisi yang tenang dan fokus (khusyu').
Wardatul Hasanah 10 Januari 2026 pukul 19.10 Hapus Komentar
Nama : Wardatul Hasanah
NIM :2509648073
Mata kuliah : Tarbiyatul Manaqib
1 E
1. Susunan Acara Dzikir Manaqib
Membaca Istighosah
يا أرحم الراحمين
Sholat sunnah li birril walidain
- Membaca istighfar
-Membaca Al-Fatihah ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, para wali dan ulama’ dan lain-lain
-Melakukan muroqobah tiga kali dengan tawassul
-Membaca do’a
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
Membaca Surah Al-Ikhlas 100×
Membaca Manaqib
Sholat hajat
Melakukan muroqobah di awali dengan tawassul
Membaca sholawat munjiyat dan berdo’a sendiri
Membaca dzikir
لا إله إلا الله
محمد رسول الله
Membaca Nazham
Membaca kalimat tauhid (Tahlil)
Membaca do’a manaqib
Tujuan
Membaca istighosah
Memohon pertolongan dan perlindungan Allah, mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati dan menenangkan pikiran jiwa, menguatkan iman dan keyakinan, memohon kelapangan hajat & keselamatan, menghadirkan ketenangan.
Sholat sunnah li birril walidain
Sebagai bentuk bakti dan penghormatan kepada orang tua, memohon ampun dan rahmat Allah untuk ke-2 orang tua, menumbuhkan kesadaran akan kewajiban terhadap orang tua, mengharap ridho Allah melalui ridho orang tua.
Membaca istighfar
Memohon ampun kepada Allah, mensucikan hati sebelum memulai rangkaian.
2.3 Jenis Tawassul Utama yang Disepakati
Tawassul dengan amal shalih
Tawassul dengan amal shalih adalah memohon kepada Allah dengan menyebut amal kebaikan yang pernah dilakukan sebagai bentuk pendekatan diri kepada-Nya.
Tawassul dengan Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah
Dengan menyebut nama dan sifat Allah sesuai dengan permohonan yang diminta, seperti menyebut Ar-Rahman ketika memohon rahmat.
Tawassul dengan do’a orang shalih yang masih hidup
Yaitu meminta orang yang shalih untuk mendo’akan kita. Praktik ini telah dicontohkan para sahabat yang meminta do’a kepada Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para ulama setelahnya.
Dalam pelaksanaannya, tawassul harus dilakukan dengan adab yang benar, penuh keikhlasan, serta tetap meyakini bahwa Allah SWT adalah satu-satunya.
3. Barokah
Barokah adalah karunia Allah SWT berupa kebaikan yang terus bertambah dan membawa manfaat, baik secara spiritual maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Barokah tidak selalu dari banyaknya materi, melainkan dari kebermanfaatan, ketenangan, dan keberlanjutan nikmat.
Keyakinan terhadap barokah melalui Majelis Manaqib berdampak pada peningkatan keimanan dan ketakwaan, memperkuat ukhuwah sosial, jujur, dan penuh syukur dalam aspek ekonomi dan sosial.
4. Sholawat Nariyah Menimbulkan Perbedaan di Kalangan Umat Islam
Kelompok pendukung
Menganggap sholawat Nariyah sebagai amalan yang baik karena termasuk bentuk sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, memiliki kandungan do’a, serta diamalkan oleh para ulama. Mereka berpegang pada dalil umum perintah bersholawat kepada Nabi.
Kelompok penolak
Menilai sholawat Nariyah tidak dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dan dikhawatirkan termasuk bid’ah dalam ibadah. Mereka berpegang pada prinsip bahwa ibadah harus memiliki dasar yang jelas dari Al-Qur’an dan hadist.
5. Akar perdebatan sholawat Nariyah terletak pada perbedaan interpretasi dalil, pemahaman tentang bid’ah dan konsep tawassul.
Kelompok yang mendukung berpegang pada dalil umum perintah bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW serta memahami bid’ah sebagai bid’ah hasanah.
Sementara itu kelompok yang menolak beranggapan bahwa ibadah harus memiliki contoh langsung dari Nabi Muhammad SAW dan memandang bid’ah dalam ibadah sebagai suatu yang harus ditinggalkan.
Firly arifah 10 Januari 2026 pukul 19.11 Hapus Komentar
2. Tawasul
Secara bahasa berarti perantara atau sarana. Dalam terminologi syariat, tawasul adalah mengambil sarana agar doa lebih dikabulkan oleh Allah SWT. Tiga jenis tawasul berikut adalah yang disepakati kebolehannya oleh mayoritas ulama (jumhur):
Tawasul dengan Amal Saleh
Memohon kepada Allah dengan menyebutkan amal kebajikan yang telah dikerjakan secara ikhlas sebagai "perantara".
Dalil: Kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua karena tertutup batu besar (HR. Bukhari & Muslim), masing-masing bertawasul dengan amal salehnya (bakti orang tua, menjaga diri dari perzinaan, dan kejujuran amanah).
Adab: Amal harus benar-benar ikhlas sesuai syariat, bukan untuk pamer (riya).
Tawasul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah
Ini adalah tingkatan tawasul yang paling tinggi, yaitu memanggil Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia sesuai hajat.
Dalil: QS. Al-A'raf: 180.
Contoh: "Ya Razzaq, berilah aku rezeki yang berkah."
Tawasul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup
Meminta orang yang dianggap saleh untuk mendoakan kita kepada Allah.
Dalil: Kisah Umar bin Khattab meminta Al-Abbas (paman Nabi) berdoa minta hujan (HR. Bukhari).
Adab: Orang yang diminta harus masih hidup, tetap meyakini hanya Allah yang mengabulkan, dan tidak berlebihan mengkultuskan orang tersebut.
3. Konsep Barokah (Keberkahan)
Barokah didefinisikan oleh Imam Al-Ghazali sebagai ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).
Sumber Utama: Allah SWT. Mengalir melalui saluran seperti tempat suci, waktu istimewa (Ramadhan), amal saleh, dan sosok manusia yang dicintai Allah (Para Nabi dan Wali).
Manifestasi: Harta yang cukup meski sedikit, anak yang saleh, kesehatan untuk ibadah, dan waktu yang produktif.
Evaluasi Dampak Nyata (Sosiologi & Spiritual):
Dimensi Spiritual: Meningkatkan disiplin ibadah dan kesadaran akan kehadiran Tuhan.
Dimensi Sosial: Menjadi perekat sosial (social bonding) dan menumbuhkan empati melalui tradisi makan bersama.
Dimensi Ekonomi: Mendorong etos kerja yang berorientasi pada keberkahan (mencari yang halal).
Dimensi Psikologi: Memberikan ketahanan mental (resilience) menghadapi krisis.
4. Perbedaan Pandangan Mengenai Shalawat Nariyah
Terdapat perbedaan antara Kelompok Tradisional (Mendukung) dan Kelompok Penentang (Salafi/Pemurnian).
Argumen Pendukung (Mayoritas/Sufi):
Yakin sebagai kunci pembuka kebuntuan hidup (Fadhilah). Redaksi "tanhalu bihil 'uqad" (terlepasnya ikatan karena beliau) dipahami sebagai bentuk tawasul; Nabi adalah perantara, namun tetap Allah Sang Maha Pencipta.
Argumen Penentang:
Mengkritik redaksi tersebut karena dianggap mengandung unsur ghuluw (berlebihan) yang menyandarkan perbuatan Allah kepada makhluk, dikhawatirkan jatuh pada syirik.
Faktor Penyebab:
Konsep Bid'ah: Pendukung menggunakan pembagian bid'ah hasanah vs dhalalah, sedangkan penentang menggunakan definisi bid'ah yang ketat.
Konsep Tawasul: Pendukung membolehkan tawasul bi al-jah (kedudukan), penentang membatasi hanya pada amal sendiri atau orang hidup.
5. Kesimpulan Kritis dan Sikap Moderat
Diperlukan sikap Wasathiyah (moderat) agar ukhuwah Islamiyah tetap terjaga:
Saling Menghormati Manhaj: Memahami bahwa yang mengamalkan berniat mengekspresikan cinta Nabi, dan yang melarang berniat menjaga kemurnian akidah.
Keadilan dalam Berbahasa: Pengamal harus sadar manfaat datang dari Allah, bukan lafaz. Penentang sebaiknya tidak mudah melontarkan tuduhan syirik.
Prioritas Persatuan: Masalah shalawat masuk ranah furu'iyah (cabang), bukan ushul (pokok). Menjaga persatuan umat jauh lebih wajib.
Sikap terbaik: Mengamalkan apa yang diyakini benar tanpa merendahkan orang lain. Jika ragu, menggunakan Shalawat Ibrahimiyah adalah jalan tengah yang disepakati kesahihannya oleh semua pihak.
Nama : Ulfatul Hasanah NIM : 2509648091 1). Analisis Struktur Prosesi Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Susunan acara manaqib dirancang secara sistematis untuk membangun gradasi spiritu 10 Januari 2026 pukul 19.26 Hapus Komentar
1). Analisis Struktur Prosesi Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Susunan acara manaqib dirancang secara sistematis untuk membangun gradasi spiritual, dimulai dari penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) hingga bermuara pada permohonan doa yang khusyuk.

a. Pembukaan dan Tawasul: Inisiasi acara dengan pembacaan Al-Fatihah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, para wali, khususnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

b. Tilawah Al-Qur'an: Pembacaan ayat-ayat suci yang relevan dengan tema ketauhidan atau kemuliaan para kekasih Allah.

c. Pembacaan Kitab Manaqib (Biografi): Penelusuran riwayat hidup, kemuliaan akhlak, serta karamah Syekh Abdul Qadir sebagai sumber inspirasi.

d. Dzikir Kolektif dan Sholawat: Melantunkan kalimat thayyibah dan Sholawat Nariyah untuk menguatkan ikatan spiritual.

e. Doa dan Penutup: Pembacaan doa khusus manaqib guna memohon keberkahan dan rida Allah SWT.

2). Tiga Klasifikasi Tawasul yang Disepakati (Muttafaq 'Alaih)

a. ​Amal Saleh: Bertawasul melalui perantara amal kebajikan yang pernah dilakukan (Dalil: HR. Bukhari mengenai tiga orang yang terjebak di dalam gua).

b. Asmaul Husna: Memohon dengan menyebut nama-nama Allah yang relevan dengan hajat yang dipanjatkan (Dalil: QS. Al-A'raf: 180).

c. Doa Orang Saleh: Memohon bantuan doa dari orang saleh yang masih hidup (seperti ulama atau guru) agar mereka mendoakan hajat kita kepada Allah.

​3). Konsep Barokah dalam Islam

​Barokah didefinisikan sebagai Ziyadatul Khair (bertambahnya nilai kebaikan).

a. ​Sumber dan Manifestasi: Keberkahan bersumber dari Allah yang diletakkan pada tempat tertentu (Makkah), waktu tertentu (Lailatul Qadar), atau individu tertentu (Ulama). Manifestasinya tidak selalu berupa pertambahan kuantitas, melainkan peningkatan manfaat dan ketenangan batin.

b. Motivasi di Majelis Manaqib: Secara spiritual, jamaah mencari transmisi kesalehan dari figur Syekh. Secara sosial, mempererat ukhuwah Islamiyah. Secara ekonomi, menstimulasi pertumbuhan UMKM di sekitar lokasi majelis.

​4). Analisis Kritis Polemik Sholawat Nariyah

a. ​Kelompok Pro (Pendukung): Memandang diksi "bihi" (dengan dia) sebagai bentuk kausalitas wasilah. Nabi dipandang sebagai perantara agung bagi turunnya rahmat Allah. Landasannya adalah tawasul sebagai bagian dari syariat.

b. Kelompok Kontra (Penentang): Menganggap redaksi tersebut mengandung indikasi syirik karena seolah-olah mengatribusikan kemampuan melepaskan kesulitan kepada makhluk (Nabi), bukan kepada Allah. Landasannya adalah prinsip Sadd adz-Dzariah (menutup celah kemusyrikan).

​Kesimpulan Moderat: Perbedaan ini berakar pada penafsiran metafora (majas) bahasa Arab. Sikap yang bijak adalah menghormati praktisi sholawat sebagai bentuk mahabbah (cinta) kepada Nabi, sembari tetap menghargai kelompok yang bersikap hati-hati demi menjaga kemurnian tauhid.

​5). Analisis Kausalitas Perdebatan

a. Diksi yang Dianggap Berlebihan (Guluw)Fokus perdebatan terletak pada penafsiran frasa Arab: "تنحل به العقد وتنفرج به الكرب" (yang dengannya ikatan terurai dan kesusahan tersingkap).

b. Status Hukum Pengamalan: Perdebatan mengenai apakah amalan ini masuk dalam kategori bid'ah atau bid'ah hasanah.

c. Determinasi Jumlah Khusus: Pengamalan Sholawat Nariyah sering dikaitkan dengan angka spesifik (misal: 4.444 kali) untuk mencapai hajat tertentu, yang dianggap oleh sebagian kalangan tidak memiliki landasan normatif yang kuat.
inawaroh999@gmail.com 10 Januari 2026 pukul 19.35 Hapus Komentar
NAMA : SITI NUR AZIZAH
NIM : 2509648076
KELAS : 1 E
MATKUL : TARBIYATUL MANAQIB (Dosen Pengampu: Bpk Fikri Farihin M.Pd.I)

PART 1
1. Analisis Susunan Acara Dzikir Manaqib Syeh Abdul Qadir Al-Jailani
Dzikir Manaqib Syeh Abdul Qadir Al-Jailani di Pesantren Al-Qodiri umumnya disusun secara sistematis untuk memandu pengalaman spiritual peserta. Susunan acara ini dirancang untuk menghadirkan ketenangan hati, meningkatkan keimanan, dan meneladani akhlak mulia beliau.
Tahapan dan Bacaan Acara:
Pembukaan (Istighosah):
Bacaan: Dimulai dengan bacaan tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, Syeh Abdul Qadir Al-Jailani, dan para pendiri pesantren/ulama setempat.
Kontribusi Spiritual: Memfokuskan niat, menghadirkan rasa hormat, dan menghubungkan spiritualitas peserta dengan silsilah keilmuan dan keberkahan para ulama.
Bacaan Ayat Suci Al-Qur'an:
Bacaan: Melantunkan beberapa surat atau ayat pilihan dari Al-Qur'an.
Kontribusi Spiritual: Menciptakan suasana sakral, mengingatkan peserta kepada firman Allah SWT, dan membuka hati untuk menerima nasihat serta hikmah.
Inti Manaqib (Biografi dan Pujian):
Bacaan: Riwayat hidup, akhlak mulia, karomah, dan ajaran Syeh Abdul Qadir Al-Jailani dari kitab Nurul Burhan/yang sejenisnya.
Kontribusi Spiritual dan Pemahaman Ajaran: Menambahkan kecintaan kepada Aulia Allah, memotivasi untuk meneladani keshalihan, kezuhudan, dan keteguhan iman beliau.
Tahlil dan Dzikir:
Bacaan: Melantunkan kalimat thayyibah seperti Laa ilaha illallah, Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar.
Mau'idhoh Hasanah (Ceramah Agama):
Bacaan: Penyampaian nasihat, tafsir, atau penjelasan mendalam terkait ajaran Syeh Abdul Qadir Al-Jailani oleh seorang Kyai/Ulama.
Doa Penutup (Khutbah Khataman):
Bacaan: Doa bersama dan doa khusus manaqib berisi permohonan.
2. Penjelasan Tiga Jenis Tawassul Ulama
Tawassul adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan perantara. Tiga jenis tawassul berikut diterima oleh mayoritas ulama dan memiliki landasan syar'i:
A. Tawassul dengan Amalan Sholeh
Menyandarkan perbuatan baik yang telah dilakukan sebagai perantara berdoa kepada Allah SWT.
Dalil: Kisah seorang terperangkap di goa (Ashabul Kahfi) dalam hadist riwayat Bukhari Muslim.
B. Tawassul dengan Asmaul Husna dan Sifat-sifat Allah
Berdoa kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang indah (Asmaul Husna) atau sifat-sifat-Nya yang mulia sesuai dengan permohonan.
Dalil: Hanya milik Allah Asmaul Husna maka memohonlah kepada-Nya.
C. Tawassul dengan Doa Orang Sholeh yang Masih Hidup
Meminta orang yang dikenal sholeh, berilmu, bertakwa, atau waliyullah untuk mendoakan hajat kita.
Para sahabat meminta Nabi Muhammad SAW mendoakan mereka saat beliau masih hidup.
inawaroh999@gmail.com 10 Januari 2026 pukul 19.38 Hapus Komentar
NAMA : SITI NUR AZIZAH
NIM : 2509648076
KELAS : 1 E
MATKUL : TARBIYATUL MANAQIB (Dosen Pengampu: Bpk Fikri Farihin M.Pd.I)

PART 2
3. Analisis Konsep Barokah dalam Islam dan Majelis Manaqib
Konsep Barokah dalam Islam:
Barokah secara bahasa berarti Ziyadatul Khair (bertambahnya kebaikan) atau tepatnya kebaikan Ilahi di dalam sesuatu.
Barokah adalah karunia dari Allah yang membuat sedikit secara jumlah cukup dan manfaat.
Sumber-sumber barokah: Sumber utama barokah adalah Allah SWT, antara lain melalui iman dan takwa, membaca Al-Qur'an, dan Sholawat.
Manifestasi barokah dalam kehidupan: Barokah dilihat dalam kesehatan yang prima meskipun jarang ke dokter, rezeki cukup untuk kebutuhan, dan rumah tangga yang harmonis.
Dampak Nyata Keyakinan Terhadap Barokah:
Perilaku Spiritual: Meningkatkan semangat ibadah, dzikir, dan kepatuhan syariat.
Perilaku Sosial: Menumbuhkan sikap Qana'ah (merasa cukup).
Perilaku Ekonomi: Mendorong untuk mencari rezeki yang halal.
4. Perbedaan Pandangan Mengenai Sholawat Nariyah
Akar permasalahan perdebatan Sholawat Nariyah berakar dari perbedaan interpretasi dalil dan konsep keagamaan (Bid'ah dan Tawassul).
A. Alasan Kelompok Mendukung dan Penentang:
Kelompok Pendukung: Memandang sholawat secara umum sangat dianjurkan dalam Islam (Innalillaha wa malaikatahu yusholluna 'alan nabi). Sholawat Nariyah dianggap sebagai sighat (redaksi) sholawat yang mujarab/mustajab selama berabad-abad dalam mendatangkan keutamaan.
Kelompok Penentang: Menolak karena redaksinya tidak ditemukan secara eksplisit dalam hadist shahih (dianggap bid'ah).
B. Analisis Faktor Penyebab Perbedaan:
Faktor utama perbedaan pandangan adalah perbedaan metodologi pemahaman agama:
Konsep Bid'ah: Apakah setiap hal baru dalam ibadah adalah sesat (dhalalah) atau adakah perbedaan antara bid'ah yang baik (hasanah) dan yang buruk (sayyiah)?
Konsep Tawassul dan Syafaat: Perbedaan pandangan tentang siapa atau apa yang sah dijadikan perantara dalam berdoa kepada Allah.
Pendukung: Memandang redaksi Sholawat Nariyah yang menyebut nama Nabi Muhammad SAW adalah bentuk tawassul perantara.
Penentang: Memandang tawassul hanya sah dengan amal saleh atau Asmaul Husna saja.
Penerimaan Tajribah (Pengalaman Empiris): Kelompok pendukung seringkali bersandar pada manfaat yang dirasakan secara nyata, sedangkan kelompok penentang menuntut dalil tekstual yang kuat (nash) untuk setiap ibadah.
C. Kesimpulan Kritis Moderat dan Bijak:
Saling menghormati.
Fokus pada substansi.
Menghindari fanatisme.
Sikap bijak.
Ringkasan Akhir:
Akar permasalahan Sholawat Nariyah adalah perbedaan interpretasi dalil dan konsep keagamaan. Kelompok pendukung melihat Sholawat Nariyah sebagai amalan yang baik, sedangkan kelompok penentang melihatnya sebagai bid'ah. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan pemahaman terhadap konsep bid'ah, tawassul, dan syirik.
sitikholudah5678@gmail.com 10 Januari 2026 pukul 19.45 Hapus Komentar
Nama : Siti Kholudah
NIM : 2509698088
Kelas : IE

PART1
1. Analisis Susunan Acara Dzikir Manaqib
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

a. Tahapan Acara dan Bacaan yang Dilantunkan
– Pembukaan
Biasanya dimulai dengan bacaan Surat Al-Fatihah, diikuti tahlil, tahmid, dan takbir untuk membersihkan hati dan menyambut kehadiran keberkahan.
Beberapa acara juga membacakan Surat Al-Qadr atau Surat An-Nur sebagai simbol keagungan ketenangan dan cahaya ajaran tasawuf yang dibawa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

– Bagian Inti
Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani:
Dilantunkan puisi atau karangan yang menceritakan perjalanan hidup, ketawaan, dan ajaran beliau, seperti kesalehan, cinta kepada Nabi Muhammad SAW, serta konsep tauhid yang mendalam.

– Dzikir dan Istighfar
Bacaan dzikir seperti La ilaha illallah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar dilakukan secara berulang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Beberapa acara juga menyertakan sholawat nariyah atau sholawat khusus untuk Nabi dan para wali.

– Pembacaan Kitab Kuning
Bagian ini mungkin menyertakan petikan dari kitab ajaran Qadiriyah, seperti Al-Ghunyah li Thalibi Tariq Al-Haqq untuk memperdalam pemahaman peserta tentang ajaran beliau.

– Penutupan
Diakhiri dengan doa khusus yang meminta keberkahan, pemahaman terhadap ajaran, serta keselamatan bagi diri dan umat. Kadang juga disertai bacaan Surat An-Nas dan Surat Al-Falaq sebagai perlindungan dari gangguan negatif.

2. Kontribusi Elemen Acara pada Pengalaman Spiritual dan Pemahaman
– Pembukaan
Memberikan fondasi spiritual yang kuat dengan menyiapkan lingkungan dan hati peserta, sehingga mereka siap menerima pesan ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

– Bagian Inti
Manaqib membantu peserta mengenal sosok beliau secara lebih mendalam, membangkitkan rasa cinta dan kagum yang mendorong kesalehan.

Dzikir melatih konsentrasi dan kedalaman spiritual, mengantarkan peserta pada kondisi kedamaian hati serta pemahaman tentang kehadiran Allah SWT.

Kitab kuning memberikan landasan teoritis tentang ajaran Qadiriyah, sehingga pemahaman peserta tidak hanya bersifat emosional tetapi juga intelektual.

– Penutupan
Menguatkan harapan dan tujuan spiritual peserta serta mengintegrasikan ajaran yang dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, susunan acara dirancang untuk menyatukan aspek emosional, intelektual, dan spiritual, sehingga peserta tidak hanya merasakan pengalaman spiritual tetapi juga memahami esensi ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani sebagai landasan hidup yang penuh dengan berkah.
sitikholudah5678@gmail.com 10 Januari 2026 pukul 19.47 Hapus Komentar
Nama : Siti Kholudah
NIM : 2509698088
Kelas : IE

PART2
3. Tawassul dengan Amalan Saleh
Merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara melakukan amalan baik, yang kemudian dijadikan sarana untuk memohon berkah dan terkabulnya doa. Prinsipnya adalah amalan saleh sebagai “jembatan” yang menghubungkan hamba dengan Sang Khalik.

– Dalil Pendukung

QS. Al-Baqarah ayat 152
Artinya:
"Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Amalan saleh termasuk bentuk mengingat dan bersyukur kepada Allah yang akan mendatangkan pertolongan dan terkabulnya doa.

– Hadis Riwayat Abu Hurairah
Rasulullah bersabda:
"Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah daripada seorang hamba yang mengerjakan amalan sunnah setelah ia mampu mengerjakan amalan wajib."

Amalan saleh (baik wajib maupun sunnah).
Khusnul rofico 10 Januari 2026 pukul 19.51 Hapus Komentar
Nama: Khusnul rofico
Nim:2509648077
Kelas:1E
Dzikir manakib Syeikh Abdul Qadir Al-jailani di susun secara sistematis mulai pembukaan hingga penutupan.
Acara diawali dengan niat basmalah, dan tawasul kepada Rasulullah SAW, para sahabat dan para wali khususnya Syeikh Abdul Qadir Al-jailani.
Tahap ini bertujuan meluruskan niat dan memohon keberkahan kepada Allah SWT.
Selanjutnya dilakukan pembacaan zikir dan wirid seperti istighfar, tahlil, tahmid, dan shalawat.
Bacaan-bacaan ini berfungsi untuk membersihkan hati, menumbuhkan kesadaran spiritual, serta memperkuat kedekatan kepada Allah SWT.
Bagian inti adalah bacaan manaqib yaitu kisah keteladanan, perjuangan dan akhlak Syeikh Abdul Qadir Al-jailani.
Manaqib memberikan teladanan moral dan spiritual bagi jamaah serta menumbuhkan kecintaan kepada ulama dan ajaran tasawuf.
Acara ditutup dengan doa bersama memohon ampunan, rahmat dan barokah dari Allah SWT. Seluruh rangkaian zikir manakib berperan membentuk pengalaman spiritual rangkaian zikir manakib berperan membentuk yang mendalam serta memperkuat pemahaman peserta terhadap nilai keikhlasan, tawakal dan ketakwaan yang diajarkan oleh Syeikh Abdul Qadir Al-jailani.
2. Tiga jenis tawassul utama yang disepakati oleh mayoritas ulama.
Tawassul dengan amalan shalih yaitu berdoa kepada Allah dengan amal kebaikan seperti sedekah, sholat, puasa dan shalawat.
Hal ini berdasarkan hadist tentang tiga orang yang terjebak yang berdoa dengan menyebut amal shalih mereka masing-masing.
Tawassul dengan Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yaitu dengan menyebut nama dan sifat Allah sesuai dengan permohonan diminta, seperti menyebut “Ar-Rahman” ketika memohon rahmat.
Tawassul ini memiliki dasar dalam Al-Qur’an, yaitu ayat 180.
3. Tawassul dengan doa orang shalih yang masih hidup yaitu yang shalih untuk mendoakan kita. Praktik ini telah dicontohkan sahabat yang meminta doa kepada Rasulullah SAW dan oleh para ulama setelahnya.
Dalam pelaksanaannya, tawassul harus dilakukan dengan adab yang benar penuh keikhlasan, serta tetap meyakini bahwa Allah SWT adalah satu-satunya zat yang memberi manfaat dan mengabulkan doa.
3. Barokah adalah kebaikan yang bertambah dan berkelanjutan yang bersumber dari Allah SWT. Dalam Islam, barokah diperoleh melalui ketaatan kepada majelis manaqib diyakini sebagai salah satu sarana memperoleh barokah karena di dalamnya terdapat zikir, doa dan pengambilan teladan dari para wali Allah.
Motivasi mengikuti majelis manaqib adalah untuk mendapat ketenangan batin, kemudahan dalam urusan hidup serta peningkatan keimanan keyakinan terhadap barokah memberikan dampak positif, seperti meningkatnya kualitas ibadah, terbentuknya akhlak yang baik tumbuhnya sikap kebersamaan dalam masyarakat, serta munculnya perilaku hidup yang lebih jujur dan bertanggung jawab.
4. Shalawat Hariyah menimbulkan perbedaan pandangan di kalangan umat Islam.
.
Khusnul rofico 10 Januari 2026 pukul 19.51 Hapus Komentar
Kelompok pendukung menganggap shalawat Hariyah sebagai amalan yang baik karena termasuk bentuk shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, memiliki kandungan doa serta diamalkan oleh para ulama mereka berpegang pada dalil umum perintah bershalawat kepada Nabi.
Kelompok penolak menilai shalawat Hariyah tidak di contohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dan dikhawatirkan termasuk bid’ah dalam ibadah mereka berpegang pada prinsip bahwa ibadah harus memiliki dasar yang jelas dari Al-Qur’an dan Hadis.
Perbedaan pandangan ini disebabkan oleh perbedaan pemahaman tentang konsep bid’ah dan tawassul sikap yang tepat dalam menanggapinya adalah bersikap moderat, saling menghormati dan tidak saling menyalahkan, selama tidak bertentangan dengan ajaran tauhid.
5. Akar perdebatan shalawat Hariyah terletak pada perbedaan interpretasi dalil, pemahaman tentang bid’ah, dan konsep tawassul.
Kelompok yang mendukung berpegang pada dalil umum perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW serta memahami bid’ah sebagai bid’ah hasanah.
Sementara itu kelompok yang menolak beranggapan bahwa ibadah harus memiliki contoh langsung dari Nabi dan memandang bid’ah dalam ibadah sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan.
Selain itu perbedaan pemahaman tawassul juga menjadi faktor utama yaitu apakah tawassul di pandang sebagai wasilah yang di bolehkan atau di khawatirkan melampaui batas.
Perbedaan ini bersifat ijtihadiyah sehingga sikap yang tepat adalah bersikap bijak, dan saling menghormati demi menjaga persatuan umat Islam
Sri rahayu 10 Januari 2026 pukul 19.57 Hapus Komentar
Nama: Sri Rahayu
NIM: 2509648087
Kelas: 1E
1. Analisis Susunan Acara Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani
Susunan acara dzikir manaqib di Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember telah dilaksanakan sejak lama dan menarik banyak jamaah. Meskipun susunan acara spesifiknya bervariasi, pada umumnya majelis manaqib biasanya mencakup:
Pembukaan: Dimulai dengan salam dan pengantar dari pembawa acara.
Pembacaan Kalam Suci Ilahi (Al-Qur'an): Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Pembacaan Tahlil dan Doa: Membaca kalimat tauhid (tahlil) dan doa-doa tertentu.
Pembacaan Manaqib Jawahirul Ma'ani: Ini adalah inti acara, di mana kisah hidup, ajaran, dan karomah Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dibacakan untuk diambil hikmahnya.
Sholawat: Melantunkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani.
Penutup: Diakhiri dengan doa penutup dan salam.
2. Tiga Jenis Tawassul yang Utama
Tawassul adalah perantara dalam berdoa kepada Allah SWT. Tiga macam tawassul yang disepakati kebolehannya adalah:
Tawassul dengan Amalan Sholeh: Menggunakan amal baik yang pernah dilakukan sebagai perantara doa.
Dalil: Kisah 3 orang yang terperangkap dalam gua dan berdoa dengan menyebutkan amal saleh mereka (HR. Bukhari dan Muslim).
Contoh: Seseorang yang berdoa "Ya Allah, dengan sedekah yang hamba berikan tadi pagi, sembuhkanlah penyakit hamba."
Adab: Dilakukan dengan ikhlas, meyakini bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa, dan amal tersebut harus murni karena Allah.
Tawassul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah: Berdoa kepada Allah dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia.
Dalil: QS. Al-A'raf ayat 180: "Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu."
Contoh: Menyebut Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) saat meminta rahmat.
Adab: Memilih nama atau sifat yang sesuai dengan permohonan doa (Misalnya: As-Syafi saat meminta kesembuhan).
Tawassul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup: Meminta orang yang dianggap saleh dan bertaqwa untuk mendoakan kita.
Dalil: Kisah para sahabat yang meminta Nabi Muhammad SAW untuk mendoakan mereka.
Contoh: Meminta seorang Kyai atau Ustadz untuk mendoakan kelancaran rezeki.
Adab: Dilakukan dengan sopan dan penuh rasa hormat, meyakini bahwa orang tersebut hanyalah perantara, dan tetap berharap hanya kepada Allah.
Sri rahayu 10 Januari 2026 pukul 19.58 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Sri rahayu 10 Januari 2026 pukul 20.01 Hapus Komentar
Nama: Sri Rahayu
NIM: 2509648087
Kelas: 1E
1. Analisis Susunan Acara Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani
Susunan acara dzikir manaqib di Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember telah dilaksanakan sejak lama dan menarik banyak jamaah. Meskipun susunan acara spesifiknya bervariasi, pada umumnya majelis manaqib biasanya mencakup:
Pembukaan: Dimulai dengan salam dan pengantar dari pembawa acara.
Pembacaan Kalam Suci Ilahi (Al-Qur'an): Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Pembacaan Tahlil dan Doa: Membaca kalimat tauhid (tahlil) dan doa-doa tertentu.
Pembacaan Manaqib Jawahirul Ma'ani: Ini adalah inti acara, di mana kisah hidup, ajaran, dan karomah Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dibacakan untuk diambil hikmahnya.
Sholawat: Melantunkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani.
Penutup: Diakhiri dengan doa penutup dan salam.
2. Tiga Jenis Tawassul yang Utama
Tawassul adalah perantara dalam berdoa kepada Allah SWT. Tiga macam tawassul yang disepakati kebolehannya adalah:
Tawassul dengan Amalan Sholeh: Menggunakan amal baik yang pernah dilakukan sebagai perantara doa.
Dalil: Kisah 3 orang yang terperangkap dalam gua dan berdoa dengan menyebutkan amal saleh mereka (HR. Bukhari dan Muslim).
Contoh: Seseorang yang berdoa "Ya Allah, dengan sedekah yang hamba berikan tadi pagi, sembuhkanlah penyakit hamba."
Adab: Dilakukan dengan ikhlas, meyakini bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa, dan amal tersebut harus murni karena Allah.
Tawassul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah: Berdoa kepada Allah dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia.
Dalil: QS. Al-A'raf ayat 180: "Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu."
Contoh: Menyebut Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) saat meminta rahmat.
Adab: Memilih nama atau sifat yang sesuai dengan permohonan doa (Misalnya: As-Syafi saat meminta kesembuhan).
Tawassul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup: Meminta orang yang dianggap saleh dan bertaqwa untuk mendoakan kita.
Dalil: Kisah para sahabat yang meminta Nabi Muhammad SAW untuk mendoakan mereka.
Contoh: Meminta seorang Kyai atau Ustadz untuk mendoakan kelancaran rezeki.
Adab: Dilakukan dengan sopan dan penuh rasa hormat, meyakini bahwa orang tersebut hanyalah perantara, dan tetap berharap hanya kepada Allah.
3. Analisis Konsep Barokah dalam Islam
Definisi: Barokah (berkah) secara bahasa berarti bertumbuh, bertambah, atau langengnya kebaikan. Menurut Imam Al-Ghazali, berkah adalah bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair).
Sumber: Sumber utama barokah berasal dari Allah SWT semata.
Manifestasi: Barokah dapat termanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan: waktu yang terasa cukup, kesehatan yang baik, rezeki yang bermanfaat, keluarga yang harmonis, atau ilmu yang diamalkan.
Motivasi Mencari Barokah Melalui Majelis Manaqib: Individu termotivasi untuk menghadiri majelis manaqib karena keyakinan bahwa majelis tersebut, yang diisi dengan dzikir dan sholawat, merupakan tempat berkumpulnya kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara auliya.
Dampak Nyata: Keyakinan terhadap barokah mendorong individu pada perilaku positif, seperti lebih giat beribadah, bersedekah, menjaga hubungan sosial, dan optimis dalam mencari rezeki, karena meyakini bahwa segala kebaikan datang dari Allah.
Sri rahayu 10 Januari 2026 pukul 20.02 Hapus Komentar
4. Perbedaan Pandangan Mengenai Sholawat Nariyah
Kelompok yang Mendukung: Pihak yang mendukung Sholawat Nariyah (juga dikenal sebagai Sholawat Tafrijiyah) meyakini keutamaannya berdasarkan pengalaman ulama dan riwayat tertentu seperti dapat memperlancar rezeki, membuka pintu kebaikan, mengabulkan hajat, dan menjadi wasilah pemberi ketenangan. Mereka berargumen bahwa sholawat adalah amalan yang dianjurkan dalam Al-Qur'an dan Hadis, dan redaksi spesifiknya (Nariyah) bukanlah bid'ah, melainkan bentuk ijtihad yang dibolehkan serta bertawasul dengan Nabi adalah sah.
Kelompok Menentang: Kelompok yang menolak menganggap Sholawat Nariyah sebagai bid'ah (sesuatu yang baru dalam agama tanpa dasar syar'i). Alasan penolakan seringkali berakar pada kekhawatiran tentang redaksi sholawat yang dianggap berlebihan atau mengarah kepada pengkultusan Nabi SAW, serta pandangan bahwa tawasul (khususnya dengan orang yang sudah meninggal) adalah terlarang atau syirik.
5. Akar Permasalahan Perdebatan Sholawat Nariyah
Akar permasalahan utama yang menyebabkan Sholawat Nariyah menjadi perdebatan adalah perbedaan mendasar dalam interpretasi dalil dan konsep keagamaan, khususnya terkait hukum tawasul dan batasan bid'ah. Perbedaan mendasar tersebut meliputi:
Interpretasi Tawasul: Pihak pro memandang tawasul dengan kedudukan Nabi SAW sebagai sesuatu yang disyariatkan dan bermanfaat, sementara pihak kontra menganggapnya sebagai praktik yang tidak memiliki dasar kuat dalam dalil yang sahih atau bahkan mengarah pada syirik.
Konsep Bid'ah: Terdapat dua pendekatan berbeda dalam mendefinisikan bid'ah. Kelompok kontra cenderung menggunakan definisi yang lebih ketat, mengklasifikasikan segala sesuatu yang tidak dicontohkan Nabi secara langsung sebagai bid'ah yang tercela. Sebaliknya, kelompok pro menggunakan pendekatan yang membagi bid'ah menjadi hasanah (baik) dan sayyi'ah (buruk), di mana redaksi Sholawat Nariyah dianggap sebagai inovasi yang baik (bid'ah hasanah) karena sejalan dengan anjuran umum untuk bersholawat.
Faktor Perbedaan: Perbedaan pandangan ini terutama disebabkan oleh perbedaan mendasar dalam pemahaman terhadap:
Konsep Bid'ah: Apakah bid'ah mencakup segala sesuatu yang tidak dilakukan di zaman Nabi (pandangan sempit/literal) atau hanya perkara pokok ibadah yang tidak ada dasarnya sama sekali (pandangan luas/substansial).
Konsep Tawasul: Apakah tawasul hanya dibolehkan dengan amal saleh dan Asmaul Husna (pandangan ketat) atau juga dibolehkan dengan perantara zat/kedudukan Nabi dan orang saleh (pandangan lebih longgar).
Kesimpulan Moderat
Menyikapi perbedaan ini memerlukan sikap moderat dan bijak dengan mengakui adanya keragaman interpretasi dalam Islam. Umat Islam dianjurkan untuk fokus pada poin-poin persamaan aqidah, menghormati perbedaan pendapat yang masih dalam koridor khilafiyah yang mu'tabar (diakui), dan menghindari saling tuding sesat atau syirik.
Dhea Naysila belinda 10 Januari 2026 pukul 21.09 Hapus Komentar
Dhea Naysila Belinda
Kls:1e
Mapel: Tarbiyatul manaqib

1 susunan acara manaqib syekh abdul Qodir Jaelani di Al qodiri jember yaitu
1 pembukaan acara resmi majelis majelis manaqib
2 pembacaan Kalam suci ( Al Qur'an) membaca ayat-ayat Al Qur'an untuk keberkahan acara
3 tahlil dan doa pembacaan tahlil serta doa doa untuk pemimpin dan memohon keberkahan
4 pembacaan manaqib inti acara membacakan kisah syekh Abdul Qodir Jaelani
5 pembacaan sholawat seperti sholawat Bani Hasyim
6 penutup doa penutup dan salam
Dengan penekanan pada khidmat dan adab khusus seperti menjaga konsentrasi,bernafas sambil berzikir serta memegang hati untuk tahajjud kepada Allah SWT
Bacaan utamanya adalah جواهر المكاني
Secara ringkas manaqib di Al qodiri jember adalah perpaduan antara ritual keagamaan formal dan pengalaman spiritual mendalam yang menekankan akhlak,tawakal,serta hubungan batin dengan syekh Abdul Qodir Jaelani

2 a. Tawasul dengan amal shaleh (bersedekah, bersholawat) yaitu dengan memohon kepada Allah dengan menyebutkan amal ibadah yang telah di lakukan secara ikhlas sebagai perantara agar doa dikabulkan
Cara bertawassul dengan amal shaleh:
*Pahami konsep dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan amal Sholeh
*Amal shaleh ikhlas ingatlah amal yang benar-benar dilakukan karena mengharapkan ridho Allah ( bukan karena ria)
*Saat berdoa sebutkan amal shaleh tersebut sebagai perantara contohnya "ya Allah jika aku melakukan (amal shaleh) dengan ikhlas karenamu,maka kabulkanlah doaku"
Dalil
*Al Qur'an QS. Al maidah : 35
Artinya:"wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah untuk mendekatkan diri kepada-nya dan carilah wasilah (jalan), berjihadlah (berjuang) mengikuti tuntunan,dan jangan menggantungkan harapan
B tawasul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah adalah cara berdoa yang syariatkan(maha pengasih) saat memohon Rahmat karena Allah memerintahkan kita untuk berdoa dengan nama namanya yang terbaik (QS. Al-A'raf :180) dan ini termasuk cara tawasul kepada Allah yang paling utama dan dicintai Allah
" Cara tawasul dengan Asmaul Husnah
1.sesuaikan dengan hajat
2.sebut nama dan sifatnya
Dalilnya:
Al Qur'an "hanya milik Allah lah Asmaul Husna,maka bermohonlah kepadanya dengan menyebut Asmaul Husna"(QS. Al A'raf :180)
C tawasul(perantara dalam doa) melalui orang Sholeh yang masih hidup adalah praktik yang di perbolehkan oleh sebagian besar ulama terutama dari kalangan Asy'ariyah dan maturidiyah serta 4 Mazhab fiqih
Praktik ini dicontohkan pada masa nabi Muhammad Saw dimana para sahabat sering mendoakan umatnya, secara ringkas tawasul dengan orang Sholeh yaag mmassh hidup adalah cara yang baik untuk mencari kedekatan dengan Allah swt melalui perantara hamba hambanya yang Sholeh dan taat


Dhea Naysila belinda 10 Januari 2026 pukul 22.08 Hapus Komentar
Dhea Naysila Belinda
Kls : le
3 Definisi Barokah
Dalam bahasa Arab, barokah (بَرَكَة) berarti berkah, keberkahan, atau bertambahnya kebaikan yang bersifat spiritual dan material. Istilah ini tidak hanya merujuk pada sekadar “rezeki yang banyak”, melainkan kepada kebaikan yang bertambah dari Allah SWT yang dapat meliputi keberkahan waktu, hubungan, ilmu, anak, harta, maupun kualitas kehidupan secara keseluruhan

2. Sumber-Sumber Barokah

Beberapa sumber barokah menurut ajaran Islam antara lain:

a. Ketaatan kepada Allah SWT
b. Doa dan Istighfar
c. Ilmu dan Amal Shaleh
d. Perbuatan Baik terhadap Sesama
e. Keberkahan Orang Saleh

Banyak tradisi Islam klasik menyatakan bahwa dekat dengan orang-orang saleh, baik melalui majelis ilmu, ziarah (secara syar’i), atau perbuatan baik yang diniatkan karena Allah, dapat menjadi termasuk sebab datangnya keberkahan.
3. Manifestasi Barokah dalam Kehidupan

Barokah bukan sekadar bertambahnya materi atau kuantitas rezeki, tetapi berupa:

a. Kualitas Hidup yang Lebih Baik
b. Rezeki yang Lancar dan Berkualitas
c. Ilmu yang Membawa Kebaikan
d. Ketenteraman dan Kedamaian Hati

4. Motivasi Individu Mencari Barokah melalui Majelis Manaqib
a. Keyakinan terhadap Keutamaan
b. Rindu akan Kedamaian Spiritual
c. Harapan Pemberian Allah dalam Bentuk Fisik

5. Dampak Keyakinan terhadap Barokah terhadap Perilaku Sosial, Ekonomi, dan Spiritual

a. Dampak Sosial

Positif * Memperkuat solidaritas komunitas
*Meningkatkan rasa saling tolong-menolong

b. Dampak Ekonomi
Positif
*Motivasi untuk sedekah dan zakat meningkat
*Kepedulian terhadap kesejahteraan bersama tumbuh

c. Dampak Spiritual
Menguatkan Iman
Melalui dzikir, shalawat, dan praktik ibadah lainnya, individu memperoleh ketentraman batin dan hubungan lebih erat dengan Allah swt
4Pengantar: Shalawat Nariyah dalam Praktik Keagamaan

Shalawat Nariyah—sering pula disebut Shalawat Tafrijiyah—adalah salah satu bentuk shalawat yang populer di kalangan umat Islam, khususnya di dunia Muslim tradisional. Ia sering diamalkan secara individual maupun kolektif dengan keyakinan memiliki keutamaan spiritual seperti tafrij al-kurub (pelepasan kesusahan), pembuka rezeki, dan pengabul hajat.

Perbedaan pandangan terhadap shalawat ini mencerminkan keragaman metodologi beragama (manhaj al-fahm) dalam Islam, terutama terkait bid‘ah dan tawasul.
2. Alasan Kelompok Pendukung Shalawat Nariyah

Kelompok pendukung umumnya berasal dari tradisi Ahlussunnah wal Jama‘ah yang menekankan dimensi tasawuf, fiqh mazhabi, dan pengalaman spiritual.

a. Dasar Umum Anjuran Bershalawat
b. Konsep Tajribah Shalihah (Pengalaman Spiritual Kolektif)
c. Pemahaman Tawasul yang Inklusif

Kelompok ini memandang tawasul sebagai:
• Memohon kepada Allah dengan perantaraan Nabi Muhammad

Ini dianggap sah berdasarkan praktik sahabat dan ulama klasik.
3. Alasan Kelompok Penentang Shalawat Nariyah
a. Tidak Ada Dalil Spesifik dari Nabi ﷺ
b. Pemahaman Bid‘ah secara Restriktif
c. Kekhawatiran Penyimpangan Akidah

3 Faktor Penyebab Perbedaan Pandangan
a. Perbedaan Konsep Bid‘ah
b. Perbedaan Pemahaman tentang Tawasul
c. Perbedaan Metodologi Beragama

5. Kesimpulan
Perbedaan pandangan tentang Shalawat Nariyah bukanlah persoalan akidah pokok (ushul al-din), melainkan wilayah furu‘iyyah dan ijtihadiyyah.
Dhea Naysila belinda 10 Januari 2026 pukul 22.09 Hapus Komentar
Dhea Naysila Belinda
Kls :1e
5 Akar Utama Permasalahan: Perbedaan Manhaj dalam Beragama

Akar paling mendasar dari perdebatan Shalawat Nariyah bukan terletak pada teks shalawat itu sendiri, melainkan pada perbedaan cara umat Islam memahami, menilai, dan memvalidasi suatu amalan keagamaan

2. Perbedaan Mendasar dalam Interpretasi Dalil

A. Status Dalil: Umum dengan Spesifik
Kelompok Pro memandang:
• Tidak ada pembatasan bentuk, redaksi, maupun jumlah shalawat
• Selama makna shalawat benar dan tujuannya kepada Allah, maka sah

Kelompok Kontra memandang:
• Ibadah harus didasarkan pada dalil spesifik (taqyidi)
• Amalan yang tidak memiliki contoh eksplisit dari Nabi ﷺ tidak dapat dijadikan ibadah khusus
Inti perbedaan:
Apakah dalil umum boleh melahirkan praktik ibadah dengan bentuk khusus?

B. Pemahaman tentang Bid‘ah

Kelompok Pro:
• Menggunakan konsep bid‘ah hasanah
• Membedakan antara:
• Bid‘ah lughawiyyah (inovasi secara bahasa)
• Bid‘ah syar‘iyyah (penyimpangan akidah/ibadah)
• Menganggap Shalawat Nariyah sebagai inovasi dalam wasilah, bukan dalam tujuan ibadah

Kelompok Kontra:
• Menggunakan definisi bid‘ah yang universal dan restriktif
• Semua ibadah yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ dianggap tertolak

Inti perbedaan:
Apakah setiap hal baru dalam ibadah pasti sesat, atau sebagian bisa diterima bila mendukung maqasid?

C. Konsep Tawasul
Kelompok Pro:
• Tawasul dipahami sebagai cara berdoa, bukan objek doa
• Nabi ﷺ dijadikan perantara kemuliaan, bukan sumber kekuatan
• Tawasul dipandang sah secara teologis dan historis

Kelompok Kontra:
• Tawasul dibatasi pada:
• Asmaul husna
• Amal shalih
• Tawasul dengan dzat

Inti perbedaan:
Apakah tawasul bersifat luas (inklusif) atau harus dibatasi secara ketat?
3. Perbedaan dalam Memahami Otoritas Keagamaan

A. Peran Ulama dan Tradisi
• Kelompok Pro memberi bobot besar pada:
• Otoritas ulama mazhab
• Pengalaman spiritual kolektif (tajribah)
• Kelompok Kontra lebih selektif:
• Ulama dihormati tetapi tidak mengikat
• Tradisi harus selalu diuji ulang dengan hadis sahih


Inti perbedaan:

4. Dimensi Sosiologis dan Psikologis (Faktor Tambahan)

Selain faktor teologis, perdebatan ini juga dipengaruhi oleh:
1. Perubahan otoritas keagamaan
Dari ulama pesantren ke figur dakwah media
2. Kebutuhan kepastian religius
3. Identitas keagamaan
Sikap terhadap Shalawat Nariyah sering menjadi penanda afiliasi ideologis

Perdebatan sering kali bergeser dari diskursus ilmiah ke konflik identitas.

5. Sintesis Kritis: Apa Sebenarnya Masalahnya?

Akar masalah sesungguhnya adalah:

Perbedaan dalam mendefinisikan apa yang disebut “ibadah yang sah” dan bagaimana cara menjaga kemurnian agama.

6. Kesimpulan Moderat
1. Shalawat Nariyah berada dalam wilayah khilafiyyah ijtihadiyyah, bukan ushul al-din
2. Perbedaan pendapat adalah keniscayaan intelektual, bukan ancaman akidah
3. Sikap bijak menuntut:
• Pendukung tidak mengklaim kepastian fadhilah
4. Esensi shalawat adalah mencintai Nabi dan mendekat kepada Allah, bukan memenangkan perdebatan
Ayu Panca Yuni 10 Januari 2026 pukul 22.16 Hapus Komentar
Nama : Ayu Panca Yuni
Nim : 2509848070
Kelas / Prodi : 1 E / PIAUD
Mata Kuliah : Tarbiyatul Manakib Semester : 1
1.Dzikir Managib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani disusun secara sistematis mulai pembukaan hingga penutupan.
- Acara diawali dengan niat, basmalah, dan tawassul kepada Rasulullah SAW, para sahabat, dan para wali, khususnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Tahap ini bertujuan meluruskan niat dan memohon keberkahan kepada Allah.
- Selanjutnya dilakukan pembacaan dzikir dan wirid seperti istighfar, tahlil, tahmid, dan shalawat. Bacaan-bacaan ini berfungsi untuk membersihkan hati, menumbuhkan kesadaran spiritual, serta memperkuat kedekatan kepada Allah SWT.
- Bagian inti adalah bacaan managib, yaitu kisah keteladanan, perjuangan, dan akhlak Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Managib memberikan teladan moral dan spiritual bagi jama’ah serta menumbuhkan kecintaan kepada ulama dan ajaran tasawuf.
- Acara ditutup dengan doa bersama memohon ampunan, rahmat dan barokah dari Allah SWT. Seluruh rangkaian dzikir managib berperan membentuk pengalaman spiritual yang mendalam serta memperkuat pemahaman peserta terhadap nilai keikhlasan, tawakkal, dan ketaqwaan yang diajarkan oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

2.Tiga jenis tawassul utama yang disepakati oleh mayoritas ulama.
1. Tawassul dengan amalan shalih, yaitu berdoa kepada Allah dengan perantara amal kebaikan seperti sedekah, shalat, puasa dan shalawat. Hal ini berdasarkan hadis tentang tiga orang yang terjebak di gua yang berdoa dengan menyebut amal shalih mereka masing-masing.
2. Tawassul dengan Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah, yaitu berdoa dengan menyebut nama dan sifat Allah sesuai dengan permohonan yang diminta seperti menyebut “Ar-Rahman” ketika memohon rahmat. Tawassul ini memiliki dasar dalam Al-Qur’an, yaitu QS. Al-A’raf ayat 180.
3. Tawassul dengan doa orang shalih yang masih hidup, yaitu meminta orang yang shalih untuk mendoakan kita. Praktik ini telah dicontohkan para sahabat yang meminta doa kepada Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para ulama setelahnya.Dalam pelaksanaannya, tawassul harus dilakukan dengan adab yang benar, penuh keikhlasan, serta tetap meyakini bahwa Allah SWT adalah satu-satunya zat yang memberi manfaat dan mengabulkan doa.

3.Barokah adalah kebaikan yang bertambah dan berkelanjutan yang bersumber dari Allah SWT. Dalam Islam, barokah diperoleh melalui ketaatan kepada Allah, mengikuti sunnah Nabi, serta berdekatan dengan ulama dan orang shalih. Majelis managib diyakini sebagai salah satu sarana memperoleh barokah karena di dalamnya terdapat dzikir, doa dan pengambilan teladan dari para wali Allah.
Motivasi mengikuti Majelis managib adalah untuk mendapat ketenangan batin, kemudahan dalam urusan hidup, serta peningkatan keimanan. Keyakinan terhadap barokah memberikan dampak positif, seperti meningkatnya kualitas ibadah, terbentuknya akhlak yang baik, tumbuhnya sikap kebersamaan dalam masyarakat, serta munculnya perilaku hidup yang lebih jujur dan bertanggung jawab.
Nama    = Elok Faikotul Himmah NIM    = 2509648071 Program studi = PAUD Kelas    = IE Mata kuliah = TARBIYATUL MANAQIB Semester  = 1 (satu) Dzikir manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan amalan 10 Januari 2026 pukul 22.17 Hapus Komentar
Nama    = Elok Faikotul Himmah
NIM    = 2509648071
Program studi = PIAUD
Kelas    = IE
Mata kuliah = TARBIYATUL MANAQIB
Semester  = 1 (satu)

1.Dzikir manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan amalan rutin yang disusun secara sistematis untuk membentuk pengalaman spiritual yang mendalam bagi jamaah. Susunan acara ini tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga edukatif dan reflektif.
a. Pembukaan
Acara diawali dengan salam, niat, dan tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, ulama, serta khususnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Tahap ini berfungsi meluruskan niat dan membangun kesadaran spiritual jamaah bahwa dzikir dilakukan semata-mata karena Allah SWT.
b. Pembacaan dzikir dan sholawat
Pada sesi ini dilantunkan dzikir seperti istighfar, tahlil, dan sholawat. Bacaan-bacaan tersebut berperan dalam menenangkan hati, membersihkan jiwa, serta menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
c. Pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Bagian inti acara adalah pembacaan manaqib yang berisi riwayat hidup, keteladanan, serta karomah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
d. Doa dan munajat
Doa dipanjatkan secara bersama-sama dengan penuh pengharapan kepada Allah SWT. Tahap ini menjadi puncak pengalaman spiritual karena jamaah diajak bermunajat, memohon ampunan, keberkahan, dan keteguhan iman.
e. Penutup
Acara ditutup dengan doa penutup dan salam. Penutup dzikir berfungsi mengakhiri rangkaian dzikir dengan suasana tenang serta membawa nilai-nilai spiritual ke dalam kehidupan sehari-hari.
Evaluasi kontribusi susunan acara
Setiap tahapan dalam dzikir manaqib saling melengkapi. Pembukaan membangun niat, dzikir menenangkan jiwa, manaqib memperdalam pemahaman sejarah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, dan doa memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Secara keseluruhan, susunan acara ini efektif dalam meningkatkan pengalaman spiritual serta pemahaman jamaah terhadap nilai-nilai tasawuf dan keteladanan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

2.a. Tawassul dengan amalan sholeh
Tawassul ini dilakukan dengan menyebut amal kebaikan yang dikerjakan dengan ikhlas, seperti sedekah dan sholawat. Dalilnya adalah hadits tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua dan bertawassul dengan amal sholeh mereka (HR. Bukhari dan Muslim). Contoh praktis: seseorang berdoa kepada Allah sambil menyebut amal sedekah yang pernah ia lakukan dengan ikhlas. Adabnya: amal harus dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah dan tidak disertai riya.
b. Tawassul dengan Asmaul Husna dan sifat Allah
Tawassul ini dilakukan dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sesuai dengan permohonan doa. Dalilnya terdapat pada Al-Qur’an yang artinya “Dan Allah memiliki Asmaul Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut” (Q.S. Al-A’raf: 180). Contoh praktisnya: memohon ampunan dengan menyebut Allah sebagai Al-Ghafur atau meminta rahmat dengan menyebut Ar-Rahman. Adabnya: penuh keyakinan dan kesesuaian doa dengan Asmaul Husna.
c. Tawassul dengan orang sholeh yang masih hidup
Tawassul ini dilakukan dengan meminta orang sholeh yang masih hidup untuk mendoakan kita kepada Allah. Dalilnya hadits tentang Umar bin Khattab yang meminta Abbas bin Abdul Muthalib berdoa saat terjadi kemarau (HR. Bukhari). Terdapat pada Al-Qur’an tentang datang kepada Rasul untuk didoakan (Q.S. An-Nisa: 64). Contoh praktisnya: meminta doa kepada kiai, ustadz, atau guru yang sholeh. Adabnya: tetap berdoa sendiri kepada Allah dan tidak meyakini orang tersebut memiliki kekuatan gaib.
Ayu Panca Yuni 10 Januari 2026 pukul 22.17 Hapus Komentar
4.Shalawat Nariyah menimbulkan perbedaan pandangan di kalangan umat Islam.Kelompok pendukung menganggap shalawat Nariyah sebagai amalan yang baik karena termasuk bentuk shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, memiliki kandungan doa, serta diamalkan oleh para ulama. Mereka berpegang pada dalil umum perintah bershalawat kepada Nabi.Kelompok penolak menilai shalawat Nariyah tidak dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dan dikhawatirkan termasuk bid’ah dalam ibadah. Mereka berpegang pada prinsip bahwa ibadah harus memiliki dasar yang jelas dari Al-Qur’an dan Hadis.Perbedaan pandangan ini disebabkan oleh perbedaan pemahaman tentang konsep bid’ah dan tawassul. Sikap yang tepat dalam menyikapinya adalah bersikap moderat, saling menghormati, dan tidak saling menyalahkan, selama tidak bertentangan dengan ajaran tauhid.

5.Akar perdebatan shalawat Nariyah terletak pada perbedaan interpretasi dalil, pemahaman tentang bid’ah, dan konsep tawassul. Kelompok yang mendukung berpegang pada dalil umum perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW serta memahami bid’ah sebagai bid’ah hasanah. Sementara itu, kelompok yang menolak beranggapan bahwa ibadah harus memiliki contoh langsung dari Nabi dan memandang bid’ah dalam ibadah sebagai suatu yang harus ditinggalkan.Selain itu, perbedaan pemahaman tawassul juga menjadi faktor utama, yaitu apakah tawassul dipandang sebagai wasilah yang dibolehkan atau dikhawatirkan melampaui batas. Perbedaan ini bersifat ijtihadiyah, sehingga sikap yang tepat adalah bersikap bijak, moderat, dan saling menghormati demi menjaga persatuan umat Islam.
Nama    = Elok Faikotul Himmah NIM    = 2509648071 Program studi = PAUD Kelas    = IE Mata kuliah = TARBIYATUL MANAQIB Semester  = 1 (satu) Dzikir manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan amalan 10 Januari 2026 pukul 22.19 Hapus Komentar
3.Barokah adalah kebaikan yang bertambah dan berkelanjutan yang bersumber dari Allah SWT. Dalam Islam, barokah diperoleh melalui ketaatan kepada Allah, mengikuti sunnah Nabi, serta berdekatan dengan ulama dan orang sholeh. Majelis manaqib diyakini sebagai salah satu sarana memperoleh barokah karena di dalamnya terdapat dzikir, doa, dan pengambilan teladan dari para wali Allah. Motivasi mengikuti majelis manaqib adalah untuk mendapatkan ketenangan batin, kemudahan dalam urusan hidup, serta peningkatan keimanan. Keyakinan terhadap barokah memberikan dampak positif, seperti meningkatnya kualitas ibadah, terbentuknya akhlak yang baik, tumbuhnya sikap kebersamaan dalam masyarakat, serta munculnya perilaku hidup yang lebih jujur dan bertanggung jawab. Dengan demikian, konsep barokah dalam majelis manaqib berperan penting dalam membentuk kehidupan spiritual dan sosial yang lebih baik.
4.sholawat Nariyah menimbulkan perbedaan pandangan di kalangan umat Islam. Kelompok pendukung menganggap shalawat Nariyah sebagai amalan yang baik karena termasuk bentuk shalawat kepada Nabi Muhammad, memiliki kandungan doa, serta diamalkan oleh para ulama. Mereka berpegang pada dalil umum perintah bershalawat kepada Nabi. Sebaliknya, kelompok penolak menilai shalawat Nariyah tidak dicontohkan secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW dan dikhawatirkan termasuk bid’ah dalam ibadah. Mereka berpegang pada prinsip bahwa ibadah harus memiliki dasar yang jelas dari Al-Qur’an dan hadits. Perbedaan pandangan ini disebabkan oleh perbedaan pemahaman tentang konsep bid’ah dan tawassul. Sikap yang tepat dalam menyikapinya adalah bersikap moderat, saling menghormati, dan tidak saling menyalahkan selama tidak bertentangan dengan ajaran tauhid.
5.Akar perdebatan shalawat Nariyah terletak pada perbedaan interpretasi dalil, pemahaman tentang bid’ah dan konsep tawassul. Kelompok yang mendukung berpegang pada dalil umum perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW serta memahami bid’ah sebagai bid’ah hasanah. Sementara itu, kelompok yang menolak beranggapan bahwa ibadah harus memiliki contoh langsung dari Nabi dan memandang bid’ah dalam ibadah sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan. Selain itu, perbedaan pemahaman tentang tawassul juga menjadi faktor utama, yaitu apakah tawassul dipandang sebagai wasilah yang dibolehkan atau dikhawatirkan melampaui batas. Perbedaan ini bersifat ijtihadiyah, sehingga sikap yang tepat adalah bersikap bijak, moderat, dan saling menghormati demi menjaga persatuan umat Islam.
Nama    = Elok Faikotul Himmah NIM    = 2509648071 Program studi = PAUD Kelas    = IE Mata kuliah = TARBIYATUL MANAQIB Semester  = 1 (satu) Dzikir manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan amalan 10 Januari 2026 pukul 22.20 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
inawaroh999@gmail.com 11 Januari 2026 pukul 00.03 Hapus Komentar
Nama: Faizatul Hasanah Kelas: 1E P/AUD NIM: 2509648060

Part1
Dzikir manaqib syekh abdul qadir al-jailani dipesantren al-qadiri memiliki susunan acara yang terstruktur, dg tujuan untuk mendekatkan peserta kpda allah dan memper dalam pemahaman mereka tentang ajaran syekh abdul qadir al-jailani berikut adalah analisis mendalamnya: susunan acara dan bacaan.

pembukaan: biasanya diawali dg sholat hajat bersama oleh seluruh jama'ah.

pembacaan ayat suci al-quran.

pembacaan Tanbih

pembacaan tawassul

pembacaan manqib syekh abdul-qadir al-jailani berisi riwayat hidup, karomah dan ajaran syekh abd qadir

dakwah / tablighul islam.

penutupan yg dilakukan dg doa bersama untuk memohon keberkahan, keselamatan dan kemudahan dalam mengamalkan ajaran yg telah dipelajari

kontribusi pada pengalaman spiritual dan pemahaman peserta.

peningkatan ketakwaan melalui serangkaian bacaan dan doa.

pemahaman yg lebih mendalam

pembangunan karakter.

koneksi antar jama'ah.

Tawassul dg amalan shaleh merupakan upaya memohon kpd allah swt dg menjadikan amalan baik yg dilakukan karenanya sebagai perantara untuk mendapatkan ridho dan kabulnya doa.

dalil yg mendukung HR. bukhari, muslim dan ahmad yg menceritakan tiga orang mukmin bani israil yg terperangkap digua. mereka bertawasul dg amalan shaleh masing²

amalan spt bersedekah dan bersholawat juga memiliki dasar dalil tersendiri dan menjadikannya sbg tawasul merupakan bentuk menguatkan doa dg amalan yg dicintai allah.

contoh praktis

bersedekah sebelum atau setelah bersedekah berdoa dg menyebutkan bahwa doa tersebut ditujukan kpd allah

bersholawat setelah melantunkan sholawat kepada nabi muhammad

membaca al-quran

adab yang perlu diperhatikan.

amalan harus dilakukan dg niat murni karna allah bukan untuk tujuan duniawi semata.

amalan harus sesuai dg ajaran islam dan tidak melanggar syariat

tidak boleh menganggap bahwa amalan tersebut memiliki kekuatan sendiri u/ mengabulkan doa.

⇒ Tawasul dg asmaul husna dan sifat allah merupakan cara memohon kpda allah dg menyebut nama² allah dan sifat²nya. Dalil yg mendukung:

firman allah dalam Qs. al-a'raf ayat 180.

keterangan dari ulama spt al kalaa badzi yg menyatakan bahwa jika allah diseru dg namanya, dipuji dg sifatnya niscaya doa akan dikabulkan.

contoh praktis: meminta rahmat menyebut sifat allah sbg ar-rahman dan ar-rahim

meminta petunjuk: menyebut nama allah sebagai al-hadi

meminta keselamatan: menyebut nama allah sebagai al mu'min dan assalam

doa umum dg asmaul husna. menggunakan doa yg diajarkan nabi saw.

adab yg perlu diperhatikan

menyebut asmaul husna dan sifat allah dg benar sesuai dg ajaran islam.

memahami makna dari nama atau sifat yg disebutkan agar doa sesuai dg hakikat nama / sifat tsb

berdoa dg khusuk dan penuh keyakinan bahwa allah akan mengabulkan doa.

⇒ Tawasul dg doa orang shaleh yg masih hidup merupakan upaya meminta kpda allah dg cara meminta orang shaleh yg masih hidup u/ mendoakan diri sendiri dan orang lain dan menjadikannya perantara

dalil yg mendukung: riwayat shahih muslim bahwa para sahabat pernah tawasul kpda nabi untuk memohon hujan

riwayat shahih bukhari bahwa pada masa khalifah umar bin khattab ketika mengalami kemarau para sahabat tawasul kpd abbas bin abdul muthallib untuk memohon hujan

Hadits riwayat tirmidzi, an-nasa'i dan al-baihaqi

contoh praktis

meminta doa kepada ulama atau kyai

meminta doa kepada orang tua atau keluarga sholih

dalam acara keagamaan

adab yg perlu diperhatikan

memilih orang shalih yg benar² memiliki keimanan yang kuat

tidak menyembah atau menganggap orang shalih tersebut sebagai tuhan atau memiliki kekuatan sendiri

tidak meminta doa yg dilarang oleh agama.
inawaroh999@gmail.com 11 Januari 2026 pukul 00.05 Hapus Komentar
Nama faizatul Hasanah
Nim 2509648060

Part2
3). analisis konsep barokah dalam islam. definisi barokah merujuk pada keberkahan, kebaikan yang diberikan allah yang dapat menyertai segala aspek kehidupan baik materi maupun spiritual

sumber-sumbernya meliputi: 1) al-quran 2) Hadits 3) Ijma' dan Qiyas

manifestasi dalam kehidupan 1) spiritual 2) materi 3) sosial

evaluasi dampak keyakinan terhadap barokah melalui majelis manaqib

sosial: meningkatkan solidaritas antar anggota, mempererat tali silaturrahmi

ekonomi: beberapa anggota merasakan kelimpahan rezeki setelah mengikuti majelis baik melalui peluang usaha baru atau peningkatan produktivitas kerja.

spiritual: meningkatkan keimanan dan ketakwaan memperdalam cinta kepada rosulullah dan para sahabat

individu dan masyarakat: secara positif dapat menjadi sarana pembinaan akhlaq dan karakter.

4). Perbedaan pandangan tentang sholawat nariyah.

kelompok pendukung: menganggapnya sebagai amalan dengan keutamaan besar termasuk mendapatkan rezeki dan membuka pintu kebaikan serta berperan sebagai pelapis kesusahan.

kelompok penentang: menolaknya karena dianggap bertentangan dengan prinsip tauhid atau sebagai bentuk bid'ah.

faktor penyebab perbedaan pandangan:

perbedaan pemahaman terhadap konsep bid'ah.

perbedaan metode interpretasi

pengaruh tradisi lokal dan budaya

pemahaman tentang tawassul

5). akar permasalahan perbedaan tentang shalawat nariyah:

akar utama: permasalahan terletak pada perbedaan mendasar dalam interpretasi teks keagamaan dan pemahaman konsep inti ajaran islam terutama terkait dengan

sumber hukum islam: sejauh mana amalan harus memiliki dasar yg jelas dari al-quran dan Hadits serta bagaimana cara menentukan keabsahan sanad dan makna dari teks tersebut.

konsep tauhid: pemahaman tentang kesatuan allah swt yg berbeda menyebabkan penilaian yg berbeda terhadap apakah shalawat nariyah termasuk dalam praktik yg sesuai dg tauhid

konsep bid'ah: perbedaan definisi dan penilaian terhadap bid'ah yaitu apakah ada ruang untuk amalan baru yg dianggap bermanfaat.

Perbedaan interpretasi dan konsep keagamaan yang mendasari = pihak pro =

interpretasi teks: mengutip beberapa hadits dan ajaran tentang pentingnya mencintai nabi muhammad serta beramal dg cara yg dapat mendekatkan diri kepada allah yg dianggap sebagai dasar sholawat nariyah.

konsep keagamaan memandang bahwa amalan spiritual yang dilakukan dg niat baik dan berdasarkan cinta kepada nabi dapat menjadi sarana untuk mendapatkan berkah.

= pihak kontra =

interpretasi teks: menegaskan bahwa tidak ada dasar yang sahih dan jelas dari al-quran maupun hadits yang mutawatir yg menyatakan keabsahan shalawat nariyah sebagai amalan yang dianjurkan.

konsep keagamaan memegang prinsip bahwa setiap amalan ibadah harus sesuai dengan sunnah yang dilakukan oleh nabi muhammad dan para sahabat serta menganggap bahwa setiap bentuk bid'ah dapat membahayakan kesucian ajaran islam dan konsistensi pemahaman tauhid.
aminatun mirfaqoh 11 Januari 2026 pukul 16.26 Hapus Komentar
Nama : Aminatun Mirfaqoh
Nim : 250 964 8083
Mata kuliah : Tarbiyatul Manaqib
Dosen Pengampu : Bapak Fikri Farikhin, M.Pdi


1. Tata cara Dzikir manaqib :
1). Sebelum membaca dzikir manaqib diawali dengan membaca istighotsah.
2). Sholat sunnah libiril walidain.
3). Membaca istighfar untuk memintakan ampun dosa kedua orang tua, para guru dan kaum muslimin, khususnya untuk diri kita masing-masing.
4). Membaca Al-Fatihah ditunjukkan kepada Nabi Muhammad S.A.W, para wali dan ulama.
5). Melakukan muradabah tiga kali diawali dengan tawasul kepada Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, kepada Nabi Muhammad S.A.W.
6). Membaca doa.
7). Membaca surat Al-Ikhlas 100 kali.
8). Manaqib (Nurul Burhani) oleh seorang / dua orang yang lain dzikir
9). Sholat hajat.
10). Melakukan muradabah.
11). Membaca sholawat munjiat dan berdo’a sendiri.
12). Membaca Dzikir
13). Membaca Nadzham
14). Sholat witir
15). Membaca kalimat tahlil
16). Doa manaqib

2. 1. Pengertian tawasul dengan amal
Adalah memohon kepada Allah dengan menyebutkan amal kebaikan yang pernah dilakukan secara ikhlas sebagai perantara agar doa dikabulkan.
Dalil : Kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua yang tertutup batu besar (HR. Bukhori & Muslim).
Contoh Praktis : “Ya Allah, jika aku memberi sedekah kemarin murni karena mengharap ridha-Mu maka mudahkanlah urusanku hari ini.”

2. 2. Pengertian tawasul dengan asmaul husna
Adalah : Bentuk tawasul yang paling tinggi tingkatannya yaitu memuji Allah dengan nama-namanya yang mulia sesuai dengan hajat yang diminta.
Dalil Utama : “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna” (QS. Al-A’raf ayat 180).
Contoh Praktis : Ingin ampunan ya Ghaffar (Maha Pengampun), ampunilah dosaku.
2. 3. Tawasul dengan doa orang sholeh yang masih hidup.
Meminta orang yang dianggap dekat dengan Allah (soleh / bertakwa) untuk mendoakan kita kepada Allah.
Dalil Utama : Para sahabat meminta Nabi mendoakan agar turun hujan (istisqo’) HR. Bukhari.
Contoh Praktis : Mendatangi guru, orang tua, atau ulama dan berkata
“Mohon do’akan saya agar istiqomah dan lulus ujian.”
Adab-adab dalam bertawakal
1). Ikhlas dan tauhid
2). Kesesuaian amal
3). Menyebut Nama
4). Menghindari ghuluw / berlebihan
5). Kerendahan hati

3. Dampak sosial
• Solidaritas : Majelis manaqib menciptakan kohesi sosial, orang-orang dari berbagai kelas ekonomi duduk berdampingan, menciptakan rasa persaudaraan / ukhuwah.
• Filantropi : Budaya sedekah dalam majelis (seperti menyediakan makanan) menggerakkan sirkulasi sosial dimana yang mampu membantu yang membutuhkan.
Dampak Ekonomi
• Etos kerja : Meskipun terkadang disalah pahami sebagai fatalisme, konsep barokah yang benar justru mendorong etos kerja.
• Ekonomi lokal : Penyelenggaraan majelis besar seringkali menghidupkan UMKM disekitar lokasi (pedagang kaki lima, transportasi dll).
Dampak spiritual Individu cenderung memiliki tingkat resiliensi (ketahanan) yang tinggi.


4. Perdebatan mengenai sholawat Nariyah
merupakan salah satu dialektika paling klasik dan mendalam di nusantara. Akar permasalahannya bukan sekedar perbedaan “suka atau tidak suka”, melainkan berakar pada metodologi interpretasi tauhid dan batasan definisi ibadah.
Berikut analisis kritis mengenai akar permasalahan dan perbedaan mendasar diantara kedua belah pihak.
• Akar Permasalahan : Redaksi “tanhalul bihil uqod’”.
• Akar konfliknya ada pada penafsiran kata “bihi” (dengan-Nya / melalui-Nya).
• Pihak Kontra (Salafi / Wahabi).
• Pihak Pro (Nahdliyin / Sufi).

5. Dalam menyikapi perbedaan ini, diperlukan sikap tasamuh (toleransi) yang didasari oleh pemahaman yang luas:
1). Memahami akar bahasan
2). Menghindari vonis ekstrem
3). Prioritas umat
Sikap moderat yang paling bijak adalah menghormati pilihan masing-masing.
Silahkan mengamalkan bagi yang meyakini kebenarannya dengan tetap menjaga adab,
dan silahkan meninggalkan bagi yang merasa ragu demi kehati-hatian (wara’).
Tanpa harus saling menyesatkan.
inawaroh999@gmail.com 11 Januari 2026 pukul 21.15 Hapus Komentar
Nama : Siti kholudah
Nim : 2509648088

Part1
1. Analisis Susunan Acara Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani
1. Tahapan Acara dan Bacaan yang Dilantunkan
Pembukaan
Biasanya dimulai dengan bacaan Surat Al-Fatihah, diikuti Tahlil, Tahmid, dan Takbir untuk membersihkan hati dan menyambut kehadiran keberkahan.
Beberapa acara juga membacakan Surat Al-Qadr atau Surat An-Nur sebagai simbol keagungan kebenaran dan cahaya ajaran tasawuf yang dibawa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Bagian Inti
Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani: Dilantunkan puisi atau karangan yang menceritakan perjalanan hidup, keutamaan, dan ajaran beliau—seperti kesalehan, cinta kepada Nabi Muhammad SAW, serta konsep tauhid yang mendalam.
Dzikir dan Istighfar
Bacaan dzikir seperti La ilaha illallah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar dilakukan secara berulang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Beberapa acara juga menyertakan Shalawat Jibril atau shalawat khusus untuk Nabi dan para wali.
Pembacaan Kitab Kuning
Bagian ini mungkin menyertakan petikan dari kitab ajaran Qadiriyah, seperti Al-Ghunyah li-Thalibi Tariq Al-Haqq untuk memperdalam pemahaman peserta tentang ajaran beliau.
Penutupan
Diakhiri dengan doa khusus yang meminta keberkahan, pemahaman terhadap ajaran, serta keselamatan bagi diri dan umat. Kadang juga disertai bacaan Surat An-Nas dan Surat Al-Falaq sebagai perlindungan dari gangguan negatif.
2. Kontribusi Elemen Acara pada Pengalaman Spiritual dan Pemahaman
Pembukaan: Memberikan fondasi spiritual yang kuat dengan menyucikan lingkungan dan hati peserta, sehingga mereka siap menerima pesan ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Bagian Inti: Manaqib membantu peserta mengenal sosok beliau secara lebih mendalam, membangkitkan rasa cinta dan kagum yang mendorong kesalehan.
Dzikir: Melatih konsentrasi dan kedalaman spiritual, mengantarkan peserta pada kondisi kedamaian hati serta pemahaman tentang kehadiran Allah SWT.
Kitab Kuning: Memberikan landasan teoritis tentang ajaran Qadiriyah, sehingga pemahaman peserta tidak hanya bersifat emosional tetapi juga intelektual.
Penutupan: Menguatkan harapan dan tujuan spiritual peserta, serta mengintegrasikan ajaran yang dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari.
inawaroh999@gmail.com 11 Januari 2026 pukul 21.18 Hapus Komentar
Nama : siti kholudah
Nim : 2509648085

Part2
2. Jenis-Jenis Tawassul
a. Tawassul dengan Amalan Saleh
Merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menjadikan amalan baik sebagai sarana untuk memohon berkah dan kabulnya doa. Prinsipnya adalah amalan saleh sebagai "jembatan" yang menghubungkan hamba dengan Sang Khaliq.
Dalil Pendukung:
QS. Al-Baqarah ayat 152: "Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." Amalan shaleh termasuk bentuk mengingat dan bersyukur kepada Allah yang akan mendatangkan pertolongan.
Hadis Riwayat Abu Hurairah: Rasulullah bersabda, "Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah daripada seorang hamba yang mengerjakan amalan sunnah setelah ia mampu mengerjakan amalan wajib."
Contoh Praktis:
Berbuat sedekah sebelum memohon rezeki.
Melakukan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW secara berulang sebelum memohon kebaikan.
Melaksanakan ibadah sunnah seperti shalat tahajud atau puasa Senin-Kamis sebagai tawassul untuk mendapatkan kemudahan.
Adab yang Perlu Diperhatikan:
Amalan dilakukan dengan ikhlas hanya untuk keridhaan Allah.
Tidak menganggap amalan sebagai "jasa" yang dapat memaksa Allah.
Memastikan amalan sesuai dengan ajaran Islam (syariat).
b. Tawassul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah
Cara mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia sesuai yang diwahyukan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Dalil Pendukung:
QS. Al-A'raf ayat 180: "Dan Allah menyebutkan nama-nama-Nya yang mulia, maka beribadahlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu."
Contoh Praktis:
Memohon rahmat dengan menyebut "Ya Allah, karena Engkau adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, mohon limpahkan rahmat-Mu."
Memohon keselamatan dengan menyebut "Ya Allah, Engkau adalah As-Salam..."
Adab yang Perlu Diperhatikan:
Menyebut Asmaul Husna dengan makna yang benar.
Dilakukan dengan khusyuk dan penuh keyakinan.
Dalam keadaan suci dan niat yang benar.
c. Tawassul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup
Meminta bantuan orang saleh agar mendoakan kita kepada Allah SWT.
Dalil Pendukung:
Hadis Riwayat Abu Hurairah: "Doa seorang hamba saleh adalah berkah bagi dirinya dan bagi orang yang dia doakan."
Riwayat Anas bin Malik: Tentang seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah untuk meminta doa.
QS. An-Nisa ayat 64.
Contoh Praktis: Meminta doa kepada ulama, kiai, orang tua, atau teman yang dikenal saleh.
Adab yang Perlu Diperhatikan: Memilih orang yang benar-benar saleh, tidak menyembah orang tersebut, dan berbicara dengan sopan.
inawaroh999@gmail.com 11 Januari 2026 pukul 21.19 Hapus Komentar
Nama : Siti kholudah
Nim : 2509648088

Part2
2. Jenis-Jenis Tawassul
a. Tawassul dengan Amalan Saleh
Merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menjadikan amalan baik sebagai sarana untuk memohon berkah dan kabulnya doa. Prinsipnya adalah amalan saleh sebagai "jembatan" yang menghubungkan hamba dengan Sang Khaliq.
Dalil Pendukung:
QS. Al-Baqarah ayat 152: "Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." Amalan shaleh termasuk bentuk mengingat dan bersyukur kepada Allah yang akan mendatangkan pertolongan.
Hadis Riwayat Abu Hurairah: Rasulullah bersabda, "Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah daripada seorang hamba yang mengerjakan amalan sunnah setelah ia mampu mengerjakan amalan wajib."
Contoh Praktis:
Berbuat sedekah sebelum memohon rezeki.
Melakukan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW secara berulang sebelum memohon kebaikan.
Melaksanakan ibadah sunnah seperti shalat tahajud atau puasa Senin-Kamis sebagai tawassul untuk mendapatkan kemudahan.
Adab yang Perlu Diperhatikan:
Amalan dilakukan dengan ikhlas hanya untuk keridhaan Allah.
Tidak menganggap amalan sebagai "jasa" yang dapat memaksa Allah.
Memastikan amalan sesuai dengan ajaran Islam (syariat).
b. Tawassul dengan Asmaul Husna dan Sifat Allah
Cara mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia sesuai yang diwahyukan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Dalil Pendukung:
QS. Al-A'raf ayat 180: "Dan Allah menyebutkan nama-nama-Nya yang mulia, maka beribadahlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu."
Contoh Praktis:
Memohon rahmat dengan menyebut "Ya Allah, karena Engkau adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, mohon limpahkan rahmat-Mu."
Memohon keselamatan dengan menyebut "Ya Allah, Engkau adalah As-Salam..."
Adab yang Perlu Diperhatikan:
Menyebut Asmaul Husna dengan makna yang benar.
Dilakukan dengan khusyuk dan penuh keyakinan.
Dalam keadaan suci dan niat yang benar.
c. Tawassul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup
Meminta bantuan orang saleh agar mendoakan kita kepada Allah SWT.
Dalil Pendukung:
Hadis Riwayat Abu Hurairah: "Doa seorang hamba saleh adalah berkah bagi dirinya dan bagi orang yang dia doakan."
Riwayat Anas bin Malik: Tentang seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah untuk meminta doa.
QS. An-Nisa ayat 64.
Contoh Praktis: Meminta doa kepada ulama, kiai, orang tua, atau teman yang dikenal saleh.
Adab yang Perlu Diperhatikan: Memilih orang yang benar-benar saleh, tidak menyembah orang tersebut, dan berbicara dengan sopan.
inawaroh999@gmail.com 11 Januari 2026 pukul 21.24 Hapus Komentar
Nama : Siti kholudah
Nim : 2509648088

Part3
3. Analisis Konsep Barokah dalam Islam
Definisi Barokah: Merujuk pada keberkahan, kesuburan, dan kebaikan dari Allah yang menyertai hal baik di dunia maupun akhirat.
Sumber-Sumber Barokah: Al-Qur'an & Hadis, Orang-orang saleh, Tempat suci, Hari/Amalan khusus.
Manifestasi: Duniawi dan Rohani.
Motivasi Mencari Barokah (Majelis Manaqib): Rohani, Sosial, Duniawi.
Dampak Keyakinan: Sosial, Ekonomi, Spiritual.
inawaroh999@gmail.com 11 Januari 2026 pukul 21.25 Hapus Komentar
Nama : Siti kholudah
Nim : 2509648088

Part4
4. Analisis Perbedaan Pandangan Terhadap Shalawat Nariyah
Alasan Kelompok Mendukung:
Dasar Ajaran: Mengacu pada hadis keutamaan shalawat dan keyakinan bahwa shalawat mendekatkan diri kepada Allah.
Konsep Tawassul: Melihat shalawat sebagai bentuk tawassul melalui Nabi SAW.
Manfaat Praktis: Memberikan kedamaian psikologis dan mempererat silaturahmi.
Alasan Kelompok Menentang:
Definisi Bid'ah: Dianggap bid'ah karena tidak ada dasar mutawatir mengenai bentuk spesifiknya.
Pemahaman Tawassul: Berpendapat tawassul hanya boleh langsung kepada Allah.
Ketidakjelasan Asal-usul: Dianggap inovasi yang tidak dibenarkan karena tidak sesuai tradisi sunnah.
Faktor Penyebab Perbedaan:
Metodologi Penafsiran: Kelompok pro lebih fleksibel (riwayat khas), kontra lebih ketat (nash jelas/mutawatir).
Konsep Bid'ah: Adanya perbedaan antara Bid'ah Hasanah (pro) dan semua bid'ah sesat (kontra).
Konsep Tawassul: Langsung vs Melalui Perantara.
Pengaruh Budaya Lokal: Integrasi tradisi lokal memengaruhi variasi praktik.
inawaroh999@gmail.com 11 Januari 2026 pukul 21.26 Hapus Komentar
Nama : Siti kholudah
Nim : 2509648088

Part5
5. Analisis Akar Permasalahan dan Perbedaan Mendasar
Akar Permasalahan: Terletak pada ketidakjelasan dasar nash yang mendukung tujuan spesifik praktik ini, perbedaan paradigma memahami prinsip Islam, serta integrasi budaya lokal.
Interpretasi Dalil (Pro): Mengutamakan riwayat manfaat shalawat untuk solusi kesusahan; menggunakan Tafsir bi Al-Ra'yi (akal sehat) dan tematik; pemahaman kontekstual kebutuhan masyarakat.
Interpretasi Dalil (Kontra): Mengutamakan nash mutawatir bahwa shalawat adalah penghormatan, bukan alat kebaikan duniawi spesifik; menggunakan Tafsir bil Ma'thur dan harfiah.
Konsep Keagamaan (Pro): Mengakui Bid'ah Hasanah, menerima tawassul perantara, melihat Nabi sebagai perantara penuh berkah.
Konsep Keagamaan (Kontra): Semua bid'ah salah, tawassul hanya langsung kepada Allah, melihat Nabi sebagai teladan (uswatun hasanah) bukan perantara berkah langsung dalam praktik khusus