Soal UAS Evaluasi Pembelajaran Kelas PAI 5 B

 


1.Andaikan Anda ditugaskan untuk mengembangkan instrumen asesmen (misalnya, tes atau rubrik) untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran Fiqh. Bagaimana Anda akan memastikan bahwa instrumen yang Anda buat memiliki validitas (ketepatan) dan reliabilitas (keandalan) yang tinggi? Jelaskan langkah-langkah konkret yang akan Anda lakukan, serta jenis-jenis validitas dan reliabilitas yang akan Anda uji.

2.Jelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian formatif dan penilaian sumatif dalam konteks pembelajaran. Berikan contoh konkret bagaimana masing-masing jenis penilaian ini dapat diterapkan dalam mata pelajaran yang Anda kuasai, serta bagaimana hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

3.Dalam pembelajaran, terdapat tiga ranah utama yang perlu dinilai: kognitif, afektif, dan psikomotor. Anda adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Berikan contoh konkret bagaimana Anda akan menilai masing-masing ranah tersebut dalam pembelajaran PAI, serta jenis instrumen penilaian apa yang akan Anda gunakan untuk setiap ranah tersebut.

4.Penggunaan teknologi (misalnya, aplikasi kuis online, platform e-learning) semakin populer dalam evaluasi pembelajaran. Analisislah dampak positif dan negatif penggunaan teknologi dalam evaluasi pembelajaran. Apakah teknologi selalu meningkatkan kualitas evaluasi pembelajaran, atau justru dapat menimbulkan masalah baru? Bagaimana cara memanfaatkan teknologi secara efektif dan bertanggung jawab dalam evaluasi pembelajaran?

5.Sebutkan dan jelaskan prinsip-prinsip utama dalam evaluasi pembelajaran. Mengapa prinsip-prinsip ini penting untuk diperhatikan dalam setiap kegiatan evaluasi? Selain itu, jelaskan arti penting evaluasi pembelajaran secara keseluruhan, baik bagi guru, siswa, maupun lembaga pendidikan.


3 komentar untuk "Soal UAS Evaluasi Pembelajaran Kelas PAI 5 B"

Muhammad Syarihikom 10 Januari 2026 pukul 19.53 Hapus Komentar
1. Langkah Konkret Memastikan Validitas dan Reliabilitas Instrumen (Fiqih)
Analisis Kurikulum dan Materi: a.Menyelaraskan instrumen dengan standar isi.
b.Penyusunan Kisi-kisi: Sebagai panduan agar soal terarah.
c.Validasi Kesesuaian Soal: Menyesuaikan soal dengan materi dan aspek berpikir kritis.
Melakukan Tes/Uji Coba: Untuk melihat konsistensi instrumen.
Jenis-Jenis Validitas dan Reliabilitas:
Validasi Isi: Memastikan butir soal mewakili seluruh materi yang diujikan.
Validitas Konstruk: Mengukur kerangka konsep materi.
Reliabilitas Alpha Cronbach: Digunakan untuk instrumen berbentuk uraian/rubrik.
2. Penilaian Formatif dan Sumatif
Penilaian Formatif: Dilakukan selama proses pembelajaran untuk memberikan umpan balik segera.
Contoh: Kuis akhir sesi tentang materi "Tata Cara Shalat".
Peningkatan Kualitas Guru: Guru mengetahui bagian mana yang belum dikuasai siswa sehingga mampu mengulang materi saat itu juga.
Penilaian Sumatif: Dilakukan di akhir semester untuk menentukan hasil belajar.
Contoh: UAS.
Peningkatan Kualitas Guru: Digunakan sebagai data evaluasi kurikulum.
3. Penilaian Tiga Ranah
Kognitif: (Contoh penilaian konkret) Pemahaman dalil naqli tentang kebersihan (Thaharah). Instrumen: Tes tertulis (Pilihan Ganda atau Esai).
Afektif: (Contoh penilaian konkret) Sikap sopan santun (adab) dan kedisiplinan shalat. Instrumen: Lembar observasi, penilaian diri, atau penilaian antar teman.
Psikomotorik: (Contoh penilaian konkret) Praktik menyembelih hewan kurban atau gerakan shalat. Instrumen: Rubrik penilaian praktik.
4. Dampak Evaluasi Digital
Dampak Positif: Efisiensi waktu (koreksi otomatis), data terorganisir, dan meningkatkan minat siswa (interaktif).
Dampak Negatif: Risiko kecurangan (copy-paste), ketergantungan pada sinyal, dan kurangnya interaksi manusia.
Apakah selalu meningkatkan kualitas? Tidak selalu. Jika hanya memindahkan soal kertas ke layar tanpa inovasi konten, kualitas evaluasi tetap sama. Masalah baru muncul jika terjadi kesenjangan digital (siswa yang tidak punya perangkat).
Cara Efektif: Menggunakan platform yang memiliki fitur "lockdown browser" untuk kejujuran, serta mengombinasikan tes online dengan observasi langsung (blended evaluation).
5. Prinsip Utama dan Urgensi Evaluasi
Prinsip Utama: Objektif, terpadu, holistik (menyeluruh), ekonomis, akuntabel, dan edukatif.
Tujuan: Agar penilaian adil, tidak subjektif, dan benar-benar menggambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya.
Arti Penting Evaluasi:
Bagi Guru: Sebagai cermin keberhasilan metode mengajar.
Bagi Siswa: Mengetahui kelemahan dan kekuatan diri dalam belajar.
Bagi Lembaga: Dasar untuk mengambil kebijakan kurikulum dan peningkatan mutu sekolah.
Anita Khomariyah 11 Januari 2026 pukul 05.45 Hapus Komentar
1.Validitas dan Reliabilitas Instrumen Berpikir Kritis
​Langkah Konkret:
​Analisis Kurikulum: Memetakan Kompetensi Dasar (KD) Fiqh dengan indikator berpikir kritis (seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi).
​Penyusunan Kisi-kisi: Membuat blue-print soal agar mencakup seluruh materi dan level kognitif yang diinginkan.
​Review Ahli (Expert Judgment): Meminta dosen atau guru senior untuk menelaah kesesuaian materi, konstruksi, dan bahasa.
​Uji Coba Terbatas: Melakukan tes pada sekelompok kecil siswa untuk melihat keterbacaan soal.
​Jenis Validitas & Reliabilitas yang Diuji:
​Validitas Isi (Content Validity): Memastikan soal benar-benar merepresentasikan materi Fiqh.
​Validitas Konstruk: Memastikan butir soal benar-benar mengukur kemampuan "berpikir kritis", bukan sekadar hafalan.
​Reliabilitas Alpha Cronbach: Mengukur konsistensi instrumen (biasanya menggunakan bantuan perangkat lunak statistik).
2. Penilaian Formatif vs. Sumatif
​Penilaian Formatif: Penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk memberikan umpan balik (feedback).
​Contoh (Mata Pelajaran: Fiqh): Memberikan kuis singkat atau tanya jawab lisan di tengah materi "Tata Cara Shalat" untuk melihat bagian mana yang belum dipahami siswa.
​Penilaian Sumatif: Penilaian yang dilakukan di akhir periode pembelajaran untuk mengukur pencapaian standar.
​Contoh: Ujian Akhir Semester (UAS) mengenai seluruh bab ibadah dalam satu semester.
​Peningkatan Kualitas: Hasil formatif digunakan untuk memperbaiki metode mengajar guru secara langsung, sedangkan hasil sumatif digunakan untuk penentuan nilai rapor dan evaluasi efektivitas kurikulum.
3. Penilaian Tiga Ranah dalam Pbh AI
​Sebagai guru PAI, saya akan menilai ketiga ranah dengan cara:
Kognitif,Pemahaman siswa tentang dalil dan hukum zakat mal,tes tulis pilihan ganda/esai
afektif:sikap sopan santun dan kedisiplinan siswa saat di kelas,lembar observasi,jurnal sikap /penilaian diri
psikomotor,praktik tata cara berwhudu'atau penyembelihan hewan kurban,lembar ceklist praktik atau rubrik kinerja
4. Penggunaan Teknologi dalam Evaluasi
​Dampak Positif: Efisiensi waktu (koreksi otomatis), data tersimpan rapi, dan meningkatkan motivasi siswa melalui elemen gamifikasi (seperti Kahoot! atau Quizizz).
​Dampak Negatif: Risiko kecurangan (copy-paste), ketergantungan pada koneksi internet, dan potensi kesenjangan bagi siswa yang tidak memiliki perangkat memadai.
​Apakah Selalu Meningkatkan Kualitas? Tidak selalu. Teknologi hanyalah alat. Jika soal yang dibuat tidak berkualitas, teknologi tidak akan membantu. Teknologi justru bisa menjadi masalah baru jika terjadi kendala teknis saat ujian.
​Cara Efektif: Menggunakan platform yang memiliki fitur anti-cheating (seperti Safe Exam Browser) dan tetap memberikan pendampingan karakter (integritas) kepada siswa.
5. Prinsip Utama Evaluasi dan Urgensinya
​Prinsip Utama: Objektif, Adil, Terpadu, Terbuka, Holistik (Menyeluruh), dan Berkesinambungan.
​Mengapa Penting? Tanpa prinsip ini, evaluasi akan bersifat subjektif dan tidak adil, sehingga tidak memberikan gambaran kemampuan siswa yang sebenarnya.
​Arti Penting Evaluasi Secara Keseluruhan:
​Bagi Guru: Sebagai cermin untuk memperbaiki cara mengajar.
​Bagi Siswa: Sebagai informasi tentang sejauh mana mereka menguasai materi dan bagian mana yang perlu ditingkatkan.
​Bagi Lembaga: Sebagai indikator keberhasilan program pendidikan dan dasar untuk pengambilan kebijakan (akreditasi).
Yuni susiati 11 Januari 2026 pukul 05.58 Hapus Komentar
​1.) Validitas dan reliabilitas instrumen fiqih untuk menjamin kualitas instrumen berpikir kritis dalam pelajaran fiqih.
​Langkah konkret: Menyusun kisi-kisi berdasarkan indikator berpikir kritis dengan melakukan telaah pakar dan melakukan uji coba lapangan.
​Jenis Validitas: Validitas isi (memastikan materi sesuai kurikulum) dan Validitas konstruk (memastikan soal benar-benar mengukur kemampuan berpikir kritis).
​Jenis Reliabilitas: Konsistensi internal (menggunakan rumus Alpha Cronbach untuk soal uraian).
​2.) Penilaian formatif dan sumatif
​Penilaian formatif: dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Contoh: tanya jawab atau kuis singkat di tengah materi "Haji". Hasilnya digunakan untuk memperbaiki cara mengajar guru secara langsung.
​Penilaian sumatif: Dilakukan pada akhir satuan waktu. Contoh: Ujian akhir semester. Hasilnya digunakan untuk penentuan nilai raport atau kelulusan siswa.
3.) Ranah penilaian PAI
Ranah kognitif: menilai aspek pengetahuan.
Contoh: Menjelaskan syarat sah puasa.
Menggunakan instrumen tes tulis (pilihan ganda atau esai).
Ranah Efektif: Menilai aspek sikap dan nilai.
Contoh: Kedisiplinan siswa dalam shalat.
Ranah psikomotorik: Menilai aspek keterampilan. Contoh: praktek menyembelih hewan kurban menggunakan instrumen tes kinerja atau rubrik praktek.
4.) Analisis Teknologi dalam Evaluasi
Teknologi memberikan dampak positif berupa efisiensi waktu dan keakuratan data, namun juga membawa dampak negatif seperti potensi kecurangan digital dan ketergantungan pada sinyal.
Teknologi tidak otomatis meningkatkan kualitas jika hanya memindahkan soal kertas ke layar.
Cara efektifnya adalah menggunakan platform yang mendukung analisis butir soal secara otomatis dan tetap melakukan pengawasan ketat untuk menjaga integritas, serta menggunakan fitur yang memiliki fitur anti-curang.
5.) Prinsip dan Urgensi Evaluasi
Prinsip utama evaluasi adalah Objektif (apa adanya), kontinu (berlanjut), komprehensif (menyeluruh), dan akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan). Prinsip ini penting agar hasil penilaian adil dan tidak berdasarkan subjektivitas guru.
Bagi guru: Sebagai cermin keberhasilan metode mengajar.
Bagi siswa: Sebagai cermin informasi kelebihan dan kekurangan diri dalam belajar.
Bagi lembaga: sebagai dasar untuk meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan.